
“Mereka ada hubungan?” tanya Rangga penasaran.
“Nggak tahu.” Jawab Amila dan Nisa serempak. Sedangkan Hilya hanya diam saja, dia juga tak mau mendahului Aliza untuk bercerita. Biar orang bersangkutan saja yang menceritakan semuanya.
***
Sementara itu, Aliza terus mengikuti Wahyu meninggalkan kantin. Dia juga tidak tahu kemana Wahyu akan membawanya.
“Dia mau bawa gue kemana, sih?” Gerutu kesal Aliza dalam hati.
“Eh, perasaan ada yang aneh, deh..., Dia kok bisa ngenalin gue, ya? Kan wajah gue udah dirias kayak monyet, apa dia punya mata batin gitu kali. Bisa melihat wajah asli orang walaupun ditutupi make up tebal. Tau ah.” Batin Aliza yang kebingungan sendiri. Dia masih tetap mengikuti Wahyu di belakang.
Ternyata Wahyu membawa Aliza ke belakang perpustakaan. Setelah di rasa sampai, dia menoleh ke belakang. Namun ekspresi datarnya berubah menjadi ekspresi terkejut. Melihat ke kiri dan kanan, seperti mencari seseorang.
Ketika dia menoleh tadi, dia tak mendapati Aliza lagi di belakangnya.
“Kemana dia?” batin Wahyu.
Dia pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena merasa kebingungan. Berbagai asumsi pun muncul dipikirannya. “Apa dia punya kekuatan untuk menghilang, ya? Atau jangan-jangan dia tersesat tadi ya? Ah, tapi mana mungkin. Jarak kantin dan perpustakaan kan tidak terlalu jauh. Jalannya juga hanya lurus saja. Atau dia memang sengaja ninggalin gue? ” berbagai asumsi yang terus muncul di pikiran Wahyu.
Dia hanya mengembuskan napas kasar, karena merasa kesal jika asumsi yang terakhir benar. Dia pun kembali melangkahkan kakinya menuju kantin.
***
Di toilet,
__ADS_1
Aliza memandangi pantulan wajahnya di depan cermin toilet.
“Pantesan dia bisa ngenalin gue, make up nya luntur sih. Apa karena tadi kena keringat terus gue lap pake sapu tangan. Jadi, make up nya kebawa deh di sapu tangan. Ah biarlah.” Batin Aliza yang asih setia dengan posisinya. Menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
“Dia marah nggak, ya? Dia nyariin gue nggak, ya? Tapi gue nggak mau ketemu dan ngomong lagi sama dia. Apalagi berdua. Aduh bingung.” Aliza *******-*****-remas rambutnya.
Flashback on
Aliza yang masih setia mengikuti Wahyu di belakangnya.
“Gue nggak mau ngomong sama dia. Gue nggak mau lagi mengenang masa lalu yang berusaha gue lupain.” Di sepanjang perjalanan Aliza terus berpikir bagaimana caranya agar dia ngehindari Wahyu.
Ketika melewati toilet, munculah sebuah ide di kepala Aliza. awalnya dia memperhatikan Wahyu yang lumayan jauh di depannya. Karena dia memang sengaja memperlambat langkahnya tadi. Celingak-celinguk ke samping dan belakang. “lumayan banyak orang, dia nggak akan sadar kalau gue tiba-tiba ngilang.” Batin Aliza.
Akhirnya Aliza memutuskan untuk menghindar dari Wahyu. Wahyu yang terlalu fokus dengan langkah kakinya dan arah yang dituju, sehingga dia tidak menyadari Aliza yang berlari ke dalam toilet.
“Gue balik ke ruangan aja deh, dia pasti udah pergi.” Gumam Aliza pelan.
Sebelum ke luar dari toilet, terlebih dulu dia melihat ke kanan dan kiri. Setelah merasa aman, dia pun melangkah kakinya dengan sedikit berlari menuju ruangan kelompoknya.
***
Kantin
Wahyu mencari keberadaan Rio, setelah melihatnya dia pun menghampiri Rio.
__ADS_1
“Lo pesanin makanan buat gue nggak?” tanya Wahyu yang sudah mendudukkan bokongnya di hadapan Rio.
“Nggak. Pesan aja sendiri.” Ketus Rio sembari mengunyah makanan dalam mulutnya.
“Pelit amat lo.” Wahyu pun pergi memesan makanan untuknya. Karena tadi dia belum sempat memesan makanan.
Setelah memesan makanan, Wahyu kembali menghampiri Rio.
“Lo kemana tadi? Terus, cewek tadi siapa? Lo pacaran sama maba?” tanya Rio beruntun.
“Kok pertanyaan lo kayak lagi mergokin pacarnya yang selingkuh.” Celetuk Wahyu kesal.
“Gue kan Cuma nanya. Kok lo sensi gitu. Habis ditolak, ya?” Ucap Rio bercanda sembari tersenyum mengejek.
Jleb. Ngena banget di hati Wahyu. Belum apa-apa udah ditolak duluan. Wahyu hanya diam saja, dan tak menanggapi pertanyaan Rio.
Setelah beberapa menit menunggu, makanan yang di pesan Wahyu tadi datang.
Wahyu langsung melahapnya tanpa bicara apapun pada Rio. Dia berusaha mengalihkan rasa kesalnya, dengan hanya fokus mengunyah makanannya.
Rio menatap Wahyu dengan tatapan heran. Tumben sekali sahabatnya itu tak bicara ketika makan. Biasanya dia akan selalu membicarakan sesuatu walaupun hal yang tidak penting sekali pun. Sekarang dia hanya fokus menikmati makanannya.
***
Mohon like dan komen😊!
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca!