Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Berhasil


__ADS_3

Baru beberapa langkah memasuki kantin, pandangan Wahyu terkunci pada sosok yang beberapa hari ini dekat dengannya.


Aliza. Gadis itu nampak sedang asyik bercanda dengan teman-temannya. Saking asyiknya, gadis itu nampak tak memperhatikan mahasiswa yang lalu lalang masuk dan keluar kantin.


Biasanya, hari Sabtu dan Minggu semua mahasiwa tidak ada jadwal kuliah.


Berhubung di hari biasa ada dosen yang tidak bisa mengisi jadwal kuliah karena kesibukan lainnya, mereka akan mengganti dengan hari dimana jadwal mereka kosong. Bisa jadi itu di Hari Sabtu atau Minggu. Seperti hari ini, ada juga mahasiswa yang sedang kuliah.


Selain kuliah, biasanya mahasiswa datang ke kampus di akhir pekan karena ingin mencari tugas kuliah di perpus yang buka tiap hari. Walaupun di hari Sabtu dan Minggu tutup lebih cepat.


Ada juga yang datang ke kampus karena ada kegiatan ekstrakurikuler  atau ikut organisasi yang mengharuskan ikut rapat atau ikut kegiatan lainnya.


Selesai memesan makanan dan minuman, mereka berdua mengambil tempat duduk dengan jarak dua meja dari tempat Aliza dan teman-temannya.


Dari tempat duduknya Wahyu bisa leluasa melihat ke arah Aliza.


Sembari menunggu pesanan datang, Wahyu mengotak-atik ponselnya dan mengirim pesan singkat pada seseorang. Mengabaikan Rio yang sepertinya juga sedang memainkan ponselnya.


“Belum pulang?”


Pesan terkirim, tetapi orang yang menerima pesan mengabaikan ponselnya yang berdering sebentar. Saking asyiknya mengobrol.


“Hei!”


Pesan kedua terkirim, belum juga mampu menarik perhatian orang yang dikirimi pesan.


Makanan pesanan Wahyu dan Rio datang.


Wahyu masih asyik mengirimkan pesan. Akhirnya, di pesan ke enam yang dikirim berturut-turut dengan isi pesan yang sama, mampu mengalihkan perhatian gadis yang berjarak dua meja darinya.


Aliza meraih ponselnya yang ada di dalam tas. Mengabaikan sebentar temannya yang sedang bercerita. Membalas enam buah pesan yang datang hanya dengan satu pesan.


“Belum kak.” Kembali mengobrol bersama temannya.


Sementara di meja Wahyu. Sesudah mendapat balasan, dia kembali mengirimi pesan.


“Kenapa belum pulang.” Masih dengan isi pesan berupa pertanyaan.


“Makanan lo keburu dingin nanti.” Tegur Rio pada Wahyu yang masih sibuk dengan ponsel. Mengabaikan makanan pesanannya yang sudah datang. Entah dia mengetahui makanannya datang atau tidak, saking fokusnya pada ponsel.


“Oh, udah datang.” Melihat makanan yang kini ada di depannya. Mulai menyantapnya sambil melirik ke arah Aliza yang sedang mengetik di layar ponselnya.


“Nunggu teman kak.” Mengetik beberapa kata, tapi di hapus lagi. Mencoba mencari kata yang tepat. Akhirnya terkirim lah pesan ini.


“Lihat ke kanan.” Ketik Wahyu, setelah menghabiskan makanannya.


Aliza yang menerima pesan, sontak menoleh ke kanan sesuai isi pesan Wahyu.


Deg


Mata mereka saling terkunci. Wahyu menggerakkan kedua sudut bibirnya membentuk senyum. Begitu juga dengan Aliza, memunculkan senyum manis di bibirnya.


Rio yang memperhatikan Wahyu, sontak juga melirik ke arah tatapan mata Wahyu beredar.


Dia melihat gadis itu. Gadis yang berusaha di dekati sahabatnya ini. Dia menggelengkan kepala, merasa gemas melihat sikap Wahyu yang jatuh cinta berbeda dengan biasanya.


“Udah pacaran belum?” membuyarkan pandangan Wahyu.


Melirik Rio sekilas. Tanpa berniat menjawab.


Sementara di meja Aliza.


“Setelah kejadian itu, gue benar-benar takut pergi sekolah....” Hilya yang bercerita dengan antusias.


“Iya kan za?” mencari pembenaran dengan teman yang mengalami kejadian yang sama dengannya.

__ADS_1


Semuanya menatap ke arah Aliza yang bergeming. Gadis itu sedang fokus pada hal lain. lihatlah, matanya saja menatap ke arah lain. sontak mereka berempat menoleh serempak ke arah pandangan Aliza.


Menemukan dua orang senior mereka yang tak lain adalah sang ketua dan wakil ketua HIMA. Rio dan Wahyu juga melihat ke arah mereka. Lantas mereka menundukkan kepala, menyapa dari jarak jauh.


Aliza membuyarkan pandangannya. Merasa malu, karena bukan hanya Wahyu yang melihatnya, tetapi Rio juga sedang menatapnya.


Mengalihkan padangan ke arah teman-temannya.  Namun, pandangan semua temannya justru mengarah padanya.


“Kenapa?” tanyanya heran.


“Lo lihatin siapa tadi?” Sindir Amila


“Enggak lihat apa-apa.” Ucapnya sedikit canggung, seperti maling yang ketahuan mencuri


“Ayu belum selesai ya,” mengalihkan pembicaraan. Melirik jam di tangannya. Sudah empat puluh lima menit merek duduk di kantin


“Ngalihin pembicaraan nih.” Kesal Amila.


“Oh iya, lo jadi kemaren nanya sama ibuknya, ga?” menanyakan masalah Ayu pada Rangga. Lebih Baik membahas masalah lain, daripada membahas masalahnya. Tentunya tingkat kepo teman-temannya akan bertambah dan akan mengungkapkan seribu pertanyaan padanya.


“Jadi. Kata ibuknya boleh. Walaupun sempat marah, karena ganti kelompok. “ jelas Rangga. Mungkin dosen pengampu masih berbaik hati karena mereka yang mahasiswa baru yang belum terlalu mengetahui masalah perkuliahan.


“Gue hubungi Ayu dulu,” ucap Aliza.


Aliza menghubungi Ayu melalui panggilan telepon.


Ayu memberitahukan bahwa pekerjaannya belum selesai. Dia sudah meminta pada Aliza untuk pulang dulu. Tetapi Aliza menolaknya. Mereka semua sepakat akan menunggu Ayu. Lagipula, mereka tidak punya kesibukan lain.


Wahyu dan Rio sudah pergi dari kantin. Mereka kembali ke tempat mahasiswa baru yang sedang menjalankan hukuman.


Lima belas menit usai menelpon dengan Aliza, Ayu dan mahasiswa baru lainnya sudah menyelesaikan tugas mereka. Dia menemui Aliza dan teman lainnya yang masih ada di kantin kampus.


Sebelum pulang ke rumah masing-masing, mereka mengerjakan beberapa tugas yang belum rampung. Membagi materi presentasi agar saat presentasi mereka sudah siap akan materi yang disampaikan. Masing-masing


memperoleh materi yang berbeda.


***


“Lo bawa apa itu?” tanya Amila, melihat Aliza yang baru datang dengan membawa paper bag.


Dia menghampiri meja Aliza, melihat isi dalamnya.


“Lo bawa makanan? Martabak?” tanya Amila meminta pembenaran atas apa yang dia lihat. Ada satu kotak martabak dan air  minum di dalam paper bag.


Aliza mengiyakan. “Buat apa? Lo kan nggak suka martabak.”


“Ada deh, lo lihat aja nanti.” Serunya terlihat semangat.


Mereka kini berada di ruang kelas, karena beberapa menit lagi jadwal kuliah mereka akan mulai.


“Yang lain mana?” memperhatikan sekitar. Hilya, Nisa, Rangga belum terlihat. Hanya ada teman sekelas lainya yang juga sudah datang. Ayu sudah datang bersamanya tadi, tetapi dia pergi ke toilet dulu. Hari ini dia berangkat bareng Aliza. Biasanya Ayu akan menolak diajak berangkat bersama. Namun, hari ini Aliza benar-benar memaksanya.


“Biasa, lo kayak nggak tau mereka aja.” mengingatkan bahwa kedua sahabat mereka itu, Amila dan Nisa yang jarang datang tepat waktu.


***


Perkuliahan mereka kini sudah mulai, dosen pun sudah datang. Rangga memberikan makalah kelompok mereka dan paper bag yang dibawakan Aliza tadi.


“Ini makalah kelompok kami. Dan ini ada sedikit makanan dan minuman dari kami untuk ibuk. Mohon diterima buk, semoga ibuk suka.” Ucap Rangga dengan sopan, sembari meletakkannya di atas meja.


Ibuk Anita melihat isi paper bag, seketika matanya terlihat berbinar.


“Oke, silahkan mulai presentasinya!” perintah Ibuk Anita.


Kelompok Aliza memulai presentasinya dengan lancar. Dimoderatori oleh Rangga. Mereka semua menguasai materi. Dan mampu menjawab semua pertanyaan dari kelompok lain dengan lancar.

__ADS_1


Kelompok Sharen kesal. Bisa-bisanya saat tampil di kelompoknya, Ayu malah tidak sepandai hari ini. Dia merasa dipermainkan.


Presentasi mereka berjalan lancar dan mendapatkan pujian dari ibuk Anita.


Saat jam istirahat, teman-temannya bertanya alasan Aliza membawakan martabak. Aliza menceritakan bahwasanya dia dapat ide itu dari senior yang dikenalnya. Dia tidak menyebutkan nama senior tersebut. Tentu saja, mereka memuji Aliza yang mempunyai kenalan senior, sehingga mereka bisa mengetahui karakter tiap dosen dari senior yang dikenalnya.


***


Jadwal kuliah Aliza baru selesai sore hari.


Sepulangnya dari kampus, dia segera membersihkan diri. Merasa badannya lengket karena keringat. Hari ini jadwal kuliahnya penuh sampai sore.


“Kak, tadi presentasinya lancar. Cara spesial yang kakak berikan memang mujarab. Terima kasih banyak🙏.” Mengucapkan terima kasih pada Wahyu lewat pesan.


Selang beberapa menit, Wahyu langsung menelponnya.


“Halo kak,” sapa Aliza senang, saat panggilan sudah terhubung.


“Udah pulang?” tanya Wahyu


“Udah kak.”


“Gimana tadi presentasinya, berhasil kan?” tanya Wahyu ulang, walaupun Aliza sudah memberitahunya lewat pesan.


“Iya kak, berhasil. Ibuk Anita bahkan memuji kelompok kami.” Lihatlah antusias sekali Aliza saat menceritakannya dengan mata yang berbinar senang.


“Kamu nggak lupa sama janjinya kan?” mengingatkan janji yang ditawarkan Aliza jika cara yang diberitahu Wahyu berhasil.


“Janji? Janji yang mana?” Aliza pura-pura lupa. Lihatlah bibirnya seperti tertahan untuk senyum.


“Hei! kamu jangan pura-pura lupa ya.” Ucap Wahyu kesal.


“Hahaha,” keluar sudah tawa dari bibir Aliza, karena berhasil membuat Wahyu kesal.


“Kenapa tertawa?” sepertinya Wahyu masih kesal, dari nada bicaranya yang sedikit ketus.


“Enggak lupa kok kak.” Seloroh Aliza setelah menghentikan tawanya.


“Kapan mau tepatin janjinya?”


“Besok siang kakak bisa?” menanyakan jadwal kosong Wahyu terlebih dahulu.


“Siang nggak bisa, malam aja gimana?” Wahyu Teringat, jika siang hari dia ada jadwal  kuliah.


“Oke, enggak masalah.” Langsung menyetujui.


“Oh iya, kakak tau darimana ibuk Anita suka martabak?” langsung bertanya hal yang membuatnya penasaran sedari tadi, saat dia membeli martabak.


Wahyu pun mulai menceritakan asal muasal dia mengetahui ibuk anita yang suka martabak. Kala itu, Wahyu yang sedang menemani temannya membeli martabak. Dia melihat ibuk Anita yang juga membeli martabak. Memulai


pembicaraan dengan ibuk Anita, sampai akhirnya mengetahui ibuk Anita menyukai martabak.


Saat mengetahui fakta ibuk Anita yang pelit nilai, membuat Wahyu dan teman kelompoknya cemas. Ide itu muncul saja di pikiran Wahyu. Dengan keberanian penuh, saat kelompoknya presentasi Wahyu membelikan satu kotak martabak untuk ibuk Anita.


Hal ini dilakukan agar suasana hati ibuk Anita baik. Mereka mengharapkan ibuk Anita dapat memberikan nilai yang lebih baik dari kelompok sebelumnya. Dan itu berhasil. Kelompok mereka mendapatkan nilai yang paling tinggi dibanding kelompok lainnya. Tentu saja hal ini juga berkat, kepandaian Wahyu dan kelompoknya.


Memberikan martabak bukan cara utama mendapat nilai yang tinggi dari ibuk Anita. Tetapi itu hanya untuk meningkatkan suasana hati ibuk Anita sehingga dengan sukarela memberikan nilai tambahan selain nilai presentasi.


Ibuk Anita tipe dosen yang tegas. Dalam bahasa mahasiswa disebut “dosen killer”. Selain itu, dia juga terkenal dengan dosen yang pelit nilai. Sangat jarang sekali mahasiswanya mendapat nilai A. Kebanyakan nilai B-.


Wahyu menceritakan semuanya dengan detail. Cukup lama mereka mengobrol lewat ponsel. Sampai mereka sama-sama mengakhiri panggilan karena ada kesibukan lain.


***


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA

__ADS_1


SEMOGA SUKA....


__ADS_2