Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Pergi kencan?


__ADS_3

Di ruangan HIMA,


Selesai kuliah tadi pagi, Wahyu tidak langsung


pulang. Biasanya dia akan ke ruangan Hima. Sejak jadi ketua HIMA, ruangan HIMA


selalu menjadi tempat yang dituju jika ingin istirahat atau mengerjakan


beberapa tugasnya.


“Segitunya lihatin hp,” Sindir Rio pada Wahyu yangterus melirik ponsel di atas mejanya.


“Seandainya ya, mata lo ada kekuatan. Udah hancur tuh hp kayaknya.” Sambung Rio terus menggoda Wahyu.


Wahyu bergeming, tanpa mau menjawab ucapan Rio. Dia kembali menggerakkan tangannya untuk mengetikkan huruf-huruf pada laptop yang ada di depannya. Diselingi dengan mata yang juga melirik pada ponsel


di sebelah laptop.


Beberapa saat kemudian, dengan gerakan cepat tangannya segera menyambar ponsel yang berbunyi menandakan pesan masuk.


Senyuman terbit ketika meraih ponsel, beberapa detik kemudian senyumnya hilang digantikan dengan wajah yang nampak kecewa.


Senang karena orang yang ditunggu menghubunginya, tetapi isi pesan yang datang tidak sesuai dengan yang diharapkan.


Wahyu gagal lagi untuk bertemu Aliza. Dalam isi pesannya Aliza minta maaf tidak bisa menemui Wahyu dikarenakan kerja kelompok.


“Yo,” Akhirnya Wahyu buka suara setelah beberapa saat berbalas pesan dengan Aliza.


“Apa?” Jawab Rio sambil menoleh pada Wahyu yang ada di depannya.


“Lo pernah dekat sama cewek?” Tanya Wahyu.


“Ya, pernah lah. Apalagi waktu SMA, mantan gue banyak.” Jawab Rio menyombongkan diri.


“Oooh,” Wahyu ber-oh-ria.


Hening sesaat,


“Kenapa?” Tanya Rio. Tidak ada jawaban. “Lo mau deketin cewek?” Tanya Rio lagi.


“Nggak.”Jawabnya singkat.


“Alah, sok jaim lo.” Goda Rio. Kemudian tertawa


karena mendapat lirikan tajam dari Wahyu. “Mau gue bantu nggak?” tawar Rio.


“Nggak perlu,” tolak Wahyu.


“Eh, berarti benar dong mau deketin cewek,” Rio


tertawa lagi.


Tidak ada lagi jawaban dari Wahyu,


“Gue mau pulang dulu. Nanti tolong bilang sama yang lain, besok kita rapat HIMA.” ucap Wahyu sembari mematikan laptop.


“Buru-buru amat. Lo ada acara?” tanya Rio.


“Nggak, malas gue deket ama lo.” Beranjak dari


duduknya dan meninggal Rio sendirian di ruangan HIMA.


“Ditinggal gue,” ucap Rio menatap punggung Wahyu yang mulai menjauh darinya.


***


Aliza dan teman-temannya menyelesaikan tugas mereka pukul 17.30 WIB. Sebelum pulang mereka makan malam di rumah Hilya. Awalnya mereka akan berniat langsung pulang setelah menyelesaikannya, tetapi ternyata Mama dari Hilya yang bernama Mama Reni itu sudah menyiapkan makanan yang banyak


untuk makan malam bersama teman-temannya.


Mereka akhirnya ikut malam bersama Keluarga Hilya. Aliza, Amila, dan Nisa sudah biasa ikut makan malam bersama keluarga Hilya jika

__ADS_1


mereka menginap bersama di rumah Hilya. Berbeda dengan Rangga baru pertama kali


makan malam di rumah Hilya. Ada sedikit rasa canggung yang dirasainya.


Selesai makan malam, mereka berempat pamit untuk pulang dan mengucapkan terima kasih atas ajakan makan malamnya.


“Terima kasih atas makanannya Ma, masakan mama emang the best.” Ucap Aliza pada mama Reni.


Sejak SMP, tepatnya sejak berteman dengan Hilya. Aliza disuruh mama Reni untuk memanggil “Mama” juga pada nya, seperti panggilan Hilya. Begitu juga dengan Amila dan Nisa. Karena keakraban dan kedekatan Aliza,


Nisa, Amila, dan Hilya. Mereka akan ikut menggunakan panggilan yang sama pada


orang tua temannya.


“Nggak pernah mengecewakan pokoknya,” tambah Nisa.


“kapan-kapan kami boleh makan disini lagi kan ma?” Amila menimpali.


“Pujian dari anak-anak mama ini selalu bikin senang mama deh. Kapan pun boleh kalau kalian mau makan di sini. Makan pagi boleh,


makan siang boleh banget, makan malam juga boleh dong.” Ucap Mama Reni


diselingi senyum yang terlihat tulus.


“Mama memang terbaik!” Seru Amila sambil menunjukkan dua jari jempolnya ke arah Mama Reni.


“Udah sana cepat pulang!” Seru Hilya yang diam sedari tadi memperhatikan percakapan mama Reni dan teman-temannya.


“Yee, ngusir,” Balas Amila.


“Ma, kami pulang dulu ya.” Ucap Aliza lalu menyalami tangan mama Reni.


“Iya sayang, hati-hati di jalan,” jawab Mama Reni.


Setelah berpamitan pada Mama Reni dan Hilya, mereka berempat menuju mobil masing-masing dan mengendarainya sampai tiba di rumah.


***


Selesai membersihkan diri, Aliza meraih ponsel yang di-chargenya di atas meja belajar. Melepaskan penghubung charger, walaupun ponselnya belum penuh. Membawanya ke atas tempat tidur. Merebahkan diri, dan mulai


Ada beberapa pesan masuk. Menscroll layar ponselnya ke atas. Menemukan pesan yang sepertinya dia tunggu.


“Sudah pulang?” itulah isi pesan yang dibacanya.


Mulai mengetik beberapa kata untuk balasan dari isi pesan.


“Sudah kak. Maaf belum sempat ngabarin kakak.”~Aliza


Selesai mengerjakan tugas kelompok tadi, Aliza lupa mengabari wahyu. Dia baru teringat saat di dalam mobil menuju pulang.


Ponsel Aliza berdering menandakan ada panggilan, tanpa pikir panjang Aliza menekan icon hijau yang muncul pada layar ponselnya.


“Halo kak...” Aliza memulai pembicaraan.


“Besok sore kamu ada jadwal kuliah?” tanya Wahyu langsung.


Aliza mulai mengingat jadwal kuliahnya untuk besok.


“Nggak ada kak. Besok aku kuliah cuma sampai siang.” Jawab Aliza.


“Bagus lah.” Ucap Wahyu.


“Kenapa ya kak?” Tanya Aliza yang penasaran.


“Temanku punya 2 tiket untuk nonton bioskop. Sayangnya, dia tidak bisa pergi karena ada urusan mendadak. Dia memintaku untuk


menggunakan tiketnya. Jadi, aku..mau mengajak kamu ikut nonton pakai tiket ini.”


Jelas Wahyu panjang lebar.


Aliza terdiam sejenak, tidak ada salahnya juga dia menerima ajakan Wahyu. Menolak juga tidak enak hati. Tapi kalau diterima, berarti dia dan wahyu akan nonton bareng, dan hanya berdua. Seperti orang yang sedang kencan dengan pasangannya. Memikirkannya membuat jantung Aliza berdegup cepat.

__ADS_1


“Bagaimana? Angap aja ini sebagai bentuk permintaan maaf kamu.” Menggunakan kelemahan Aliza.


*“Kalau gini berarti gue nggak bisa nolak dong,” gerutu Aliza dalam hati.


“Tapi kak..” Nah kan kumat lagi, belum sempat Aliza meneruskan ucapannya, Wahyu segera menyelanya.


“Jangan bilang kalau kamu ada acara terus tidak bisa ikut.”


“Dengarkan dulu kak,” Kesal Aliza.


“Emang nanti pacar kakak tidak marah?” Melanjutkan ucapannya.


“tidak punya.“Jawab Wahyu santai.


“Tidak ada alasan untuk kamu menolak lagi. Besok aku jemput kamu ke rumah.“ Ucap Wahyu lalu mengakhiri panggilannya.


Aliza termenung setelah panggilannya terputus.


Ting, ponselnya berbunyi.


“Kirim alamat rumah mu juga, besok aku jemput pukul 4 sore.”Isi pesan dari Wahyu.


Aliza segera mengirimkan alamat rumahnya pada Wahyu. Setelah itu, dia menghubungi Hilya untuk meminta pendapat dari sahabatnya itu mengenai Wahyu yang mengajaknya pergi menonton bioskop


“Udah sampai za?”Tanya Hilya langsung setelah panggilannya terhubung.


“Udah,”


“Hil,” Panggilnya pada sahabatnya itu.


“Kenapa?”


Aliza menceritakan semua pembicaraannya dengan Wahyu, mulai dari Wahyu yang meminta ketemu untuk minta maaf sampai malam ini Wahyu yang mengajaknya pergi nonton bioskop berdua.


“Kak Wahyu suka ya ama lo.”Ucap Hilya setelah mendengar cerita sahabatnya itu.


“Ngaco lo.”


“Ya, gue cuma nebak aja sih. Tapi firasat gue, dia tu suka ama lo.” Meyakinkan Aliza.


“Lo jangan ngadi-ngadi ya.”


“Terserah lo deh, mau percaya atau nggak.” ucap Hilya.


“Udah kan. Gue mau tutup dulu.” tambahnya lagi.


“Eh, tunggu. Gue belum selesai ngomong.” Kesal Aliza.


“Menurut lo, nggak papa gue pergi nonton berdua sama kak Wahyu?”


“Ya, nggak papa. Kak Wahyu kan juga nggak punya pacar katanya. Apa salahnya? Anggap aja kak Wahyu lagi mau PDKT, kayak mantan-mantan lo sebelum kalian pacaran.” Jelas Hilya.


“Tapi gue canggung kalau berdua aja sama kak Wahyu.”


“Lo suka juga kan sama kak Wahyu?”Goda Hilya.


“NGGAK.” Ucap Aliza cepat.


*“Santai dong buk, jangan ngegas.”Hilya tertawa.


“Pertanyaan lo tu bikin gue naik darah tau nggak.” Ucap Aliza kesal.


“Haha, ya mana tau gue. Bisa aja kan lo juga suka sama kak Wahyu.” Ucap Hilya meledek Aliza.


“Hilya udah dong. Gue matiin. Bye. “


Aliza mengakhiri obrolannya dengan Hilya. Dia merasa malu mendengar pertanyaan Hilya tanpa disaring terlebih dahulu.


“Kak Wahyu suka gue? terus Gue juga suka kak Wahyu?” Isi pikiran Aliza.


“Ya ampun Hilya, nambah beban pikiran gue.” Rutuk nya pada Hilya yang tidak akan mendengarnya.

__ADS_1


***


Terima kasih sudah membaca!


__ADS_2