Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Ayo pacaran!


__ADS_3

Mematikan mesin mobilnya setelah sampai di parkiran samping rumah


“Ayok,” Ajak Aliza, saat mereka semua sudah keluar dari mobil. Tidak lupa menjinjing barang bawaan mereka dari rumah dan cemilan yang sudah mereka beli.


Sebelum beranjak dia melirik mobil yang terletak di sebelah mobilnya. Dia seperti mengenal mobil itu. Bukan. Itu bukan mobil mereka, dia tahu yang mana saja mobil-mobil yang ada di rumahnya.


“Ada tamu?” tanyanya dalam Hati.


Menyusul teman-temannya yang sudah duluan beberapa langkah.


Masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka.


“Kak Wahyu,” ucap Aliza tiba-tiba, saat melihat Wahyu sedang duduk di sofa ruang tengah, ditemani oleh mama Suci dan Zaki.


Wahyu melihat Aliza sembari tersenyum. Lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Aliza.


“Kenapa kak Wahyu ke sini?” tanya Aliza.


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Kan bisa lewat telepon.” Ucap Aliza yang seakan lupa bahwa dia beberapa hari ini tidak pernah mengangkat telepon atau pun membalas pesan Wahyu.


“Oh ya, pesan ku saja nggak pernah di balas. Jangankan menjawab telepon.” Sindir Wahyu.


Aliza diam tak berkutik, dia sudah kalah telak. Melirik teman-temannya yang kini menatap bergantian ke arah mereka berdua.


“Nggak bisa, aku lagi bareng teman.” Ujarnya sambil melirik teman-temannya.


“Benarkah? Boleh bicara dengan Aliza sebentar?” tanya Wahyu pada teman-teman Aliza yang sedari bergeming.


“Oh iya kak. Boleh.” Jawab Hilya.


“Mereka tidak keberatan,” ucap Wahyu yang tertuju pada Aliza.


Aliza diam sebentar.


“Kalian masuk aja ke kamar langsung. Gue mau bicara bentar sama kak Wahyu.”


“Oke,” Jawab temannya serempak.


Aliza membalikkan badannya. Mendahului Wahyu keluar rumah. Wahyu mengikutinya setelah pamit pada mama Suci.


“Ayo duduk dulu. kalian sudah makan? Kalau belum biar tante siapkan.” tanya mama Suci pada teman-teman Aliza.


“Makasih tante, kebetulan kami sudah makan. Tante nggak perlu repot-repot. Jihan mana tan?” Ujar Amila.


“Jihan lagi tidur,”


“Yaah, padahal mau main sama Jihan.”


“Masih bisa main nya nanti. Kalian nginap kan?” tanya mama Suci saat melihat bawaan teman-teman Aliza.


“Iya tante. Boleh kan tan?” tanya Hilya.


Walaupun hubungan Aliza dan mama Suci tidak baik, tetapi teman-temannya tetap bersikap baik dan sopan pada mama Suci.


 “Boleh dong,” kata mama Suci sembari tersenyum.


“Kami duluan ke kamar Aliza ya tan?” izin Hilya.


“Iya, silahkan. Kalau ada perlu sesuatu bilang aja sama tante ya.” Ujar Mama Suci.


Amila, Hilya, Nisa, dan Ayu menuju kamar Aliza, meninggal mama Suci dan Zaki di ruang tengah.


***


“Mau bicara apa?” tanya Aliza langsung saat mereka sudah di depan rumah.


“Bisa ikut aku sebentar. Kita bicara di tempat lain saja.”


“Gue,,,eh,,,aku nggak enak ninggalin teman-teman.”


“Mereka tadi membolehkan kok.” Wahyu tak mau kalah.


“Ayo,” menarik tangan Aliza. Membawanya ke parkiran. Aliza hanya pasrah mengikuti Wahyu yang menggenggam tangannya.


Wahyu mulai melajukan mobilnya. Mengendarainya tanpa tujuan.


“Kita mau kemana?” tanya Aliza.


“Kamu mau kemana?” jawab Wahyu dengan pertanyaan.


“Kok malah nanya aku, kan kakak yang ngajak tadi.”


“Mau ke kafe?” Usul Wahyu.


“Udah kenyang.” Jawab Aliza dengan nada cuek.


“Terus mau kemana?” tanya Wahyu lagi.


“Terserah.”


Wahyu membelokkan mobilnya ke restoran yang terdekat dari mobil mereka. Mengendarainya sampai parkiran restoran.

__ADS_1


“Kok kesini?”


“Tadi katanya terserah mau kemana aja.” membalikkan kata Aliza tadi.


“Ayo,” ajak Wahyu yang sudah melepaskan seat belt nya.


“Kakak aja, Aku tunggu di sini.”


Wahyu tidak jadi keluar. Mengembuskan napasnya pelan sebelum mulai bicara. Merasa beda dengan sikap yang Aliza tunjukkan saat ini.


“Kamu kenapa?” Ucap Wahyu sambil menatap Aliza.


“Nggak kenapa-napa. Aku baik-baik aja.”


“Kenapa menghindar?” menatap dalam Aliza yang kini juga tengah melihat ke arahnya.


“Nanti pacar kakak salah paham lagi.” Menghindari tatapan Wahyu. Lebih memilih melihat ke depan.


“Aku nggak punya pacar.” Seru Wahyu


“Terus yang datangi gue kemaren siapa?”ucapnya dengan nada yang kesal. Tanpa sadar mengatakan penyebab dia menghindar terus.


Wahyu tersenyum. Meraih tangan Aliza.


Aliza mencoba menarik kembali tangannya, namun Wahyu malah mempererat genggamannya.


“Dengarkan aku dulu,”


“Aku nggak punya pacar. Bahkan aku nggak pernah menjalani hubungan yang namanya pacaran.”


“Aku sedang menunggu seseorang. Dia pernah memberikan surat, meminta aku untuk jadi pacarnya.”


“Surat?” batin Aliza bertanya.


Sedetik kemudian, matanya  membesar . Wajahnya berubah pias.


“Kenapa gue bodoh banget waktu itu.” batinnya merasa malu.


“Apa hubungannya sama aku?” pura-pura lupa.


Wahyu lagi-lagi tersenyum.


“Melihat ekspresi kamu tadi. Sepertinya kamu mengingat sesuatu?” Pancing Wahyu.


Aliza bergeming.


“Hei, lihat aku.” Pinta Wahyu


“Nggak mau.” Menarik kasar tangannya dari genggaman Wahyu. menutup Wajah dengan kedua tangannya.


“Gue malu,” ucap Aliza yang merasa malu mengingat isi surat yang pernah diberikannya pada Wahyu. tanpa sadar, dia lagi-lagi menggunakan panggilan gue.


“Haha,” Wahyu tertawa puas melihat reaksi Aliza yang tanpa sadar mengaku.


“Jangan tertawa.”


Wahyu langsung menghentikan tawanya. Walaupun bibirnya masih terlihat menahan tawa.


Setelah beberapa saat saling diam. Aliza membuka kedua telapak tangannya. Menjauhkan dari Wajahnya.


“Ayo pulang!” ajaknya tanpa menatap Wahyu.


“Kita belum selesai bicara.”


“Aku nggak ada yang mau dibicarakan.”


“Aku ada.” Ujar Wahyu tegas.


“Apa surat kamu yang dulu masih berlaku?” tanya Wahyu tiba-tiba.


“Maksudnya?”


 “Kamu tidak ingat. Isi surat kamu waktu itu, yang meminta aku jadi pacar kamu.”


“Mana bisa berlaku, itu kan dulu.” jawabnya setelah diam beberapa saat.


Wahyu bergeming. “Ayo pacaran denganku!” ucap Wahyu tiba-tiba.


***


Flashback


Wahyu yang masih SMP nampak sedang membaca sebuah surat yang diberikan gadis kecil saat di sekolah tadi.



Wahyu tersenyum membaca isi suratnya.


“Bagaimana bisa gadis sekecil itu mengajak orang pacaran?” merasa aneh dengan Aliza yang baru kelas satu SMP, dan dengan beraninya mengajak dia pacaran.


“Tapi dia imut.” Tersenyum lagi saat mengingat wajah  Aliza yang nampak imut ketika memberikan surat.


“Wahyu,” Suara perempuan yang memanggilnya.

__ADS_1


“Iya mi, bentar. “ menyimpan surat ke dalam laci meja belajarnya. Segera mengganti pakaian sekolah dengan pakaian santai. Meninggalkan kamarnya menuju ruang makan.


***


Ke empat teman Aliza saat ini sedang berada di kamarnya. Mereka tiduran di atas karpet tebal yang ada di kamar Aliza.


“Gue penasaran nih, Aliza ada hubungan ya sama Kak Wahyu?” tanya Amila.


“Entahlah. Kok bisa ya kak Wahyu tahu rumah Aliza?” Ucap Nisa.


“Itu yang gue bingung. Nggak mungkin kan dia tau tanpa ada yang ngasih tahu.” Ucapnya menggebu. “ Lo lihat nggak tadi, dia juga kayak akrab banget sama Zaki.” ucap Amila mengingat saat masuk ke rumah, melihat Wahyu yang tengah bermain dengan Zaki.


“Hil, lo kok diam aja. Lo tahu sesuatu kan?” ucap Amila curiga pada Hilya.


“Nggak.” Hilya geleng-geleng kepala.


“Ayo ngaku, lo pasti tau kan? Kalau nggak gue gelitik nih.”


Hilya masih bungkam.


“Nis,” memberikan kode pada Nisa.


Nisa mendekat pada Hilya


“Hei, lo mau ngapain?” Berusaha berdiri. Namun terlambat, Nisa lebih dulu memeganginya. Amila menggelitik perut Hilya.


“Ayu tolong,” ucap Hilya yang kegelian. “Jangan dengerin dia yu. Awas aja kalau lo nolongin dia.” Amila masih menggelitik Hilya yang menggelinjang kegelian. Akhirnya, Ayu hanya diam memperhatikan mereka.


“Bilang nggak?”


“Iya, iya. Tapi lepas dulu.” ucapnya sambil ngos-ngosan


Amila berhenti menggelitiknya.


“Cepat bilang?”


“Mereka nggak pacaran kok.” Ucap Hilya setelah menetralisir napasnya.


“Terus, kenapa kak Wahyu bisa tau rumah Aliza.”


“Mereka sering jalan bareng.”


“Sering jalan bareng, tapi nggak pacaran. Lo bohong kan?” Amila yang tidak percaya.


“Serius. Gue nggak bohong. Aliza juga nggak bilang mereka pacaran.”


“Eh, tapi kak Wahyu punya pacar kan?” Ayu menimpali.


“Aliza nggak pelakor kan?” Tanya Nisa yang terkejut sendiri mendengar pertanyannya.


“Mana bisa jadi pelakor. Kak Wahyu kan belum nikah. Pelakor itu untuk orang yang sudah menikah.” Jelas Hilya.


“Tapi, Aliza nggak jadi orang ketiga diantara hubungan mereka kan? ” tanya Amila.


“Bisa jadi Aliza juga nggak tau kalau kak Wahyu punya pacar.” Ucap Ayu.


“Benar juga. Kalau gitu, kak Wahyu jahat dong. Mempermainkan perasaan sahabat kita.” Ucap Amila merasa sedih. “Eh tunggu, jadi cuma lo doang yang dikasih tahu sama Aliza.” Ucap Amila menunjuk Hilya. “Lo juga nggak tau kan nis,?”


Nisa menggelengkan kepalanya. “Ayu?”


“Gue nggak tau.” Jawab Ayu.


“Dasar ya anak itu. Awas aja kalau dia datang.” Amila yang merasa tidak terima karena Aliza tidak menceritakan kedekatannya dengan Wahyu.


“Aduh, kalian kenapa sih? jangan gitu dong.” Ujar Hilya


“Lo juga mau main rahasia-rahasia sama kita?” tanya Amila.


“Enggak,”


“Terus, kenapa lo juga sembunyiin dari kita?”


“Astaga, kok kalian malah kayak gini. Yang berhak cerita itu Aliza. Gue merasa nggak enak kalau cerita tanpa persetujuan dia. Mungkin Aliza punya alasan, makanya dia nggak cerita sama kalian.” Ucap Hilya meluruskan.


“Udah deh, gue mau mandi duluan.” ucap Hilya lalu bangkit dari duduknya menuju kamar mandi.


Beberapa saat kemudian


Mereka berempat sudah selesai mandi. Mereka kini asyik memainkan ponsel sembari menunggu Aliza. Hilya yang duduk disofa. Nisa yang duduk berselonjor di kasur, dis ampingnya Amila yang tiduran di atas kasur. Sedangkan Ayu, duduk berselonjor di atas karpet dan bersandar di pinggir tempat tidur.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aliza muncul dari luar dengan menjinjing satu paperbag.


Mereka berempat melirik sebentar, lalu kembali fokus pada ponsel masing-masing


Aliza menatap satu persatu temannya. Mereka semua nampak acuh. Tidak ada yang menyapanya.


“Gue bawa makanan.” Ucap Aliza tersenyum sambil memperlihatkan giginya yang rapi dengan tangan mengangkat paperbag tinggi-tinggi.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca!


Semoga Suka!


__ADS_2