Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Ajakan Nonton Bareng


__ADS_3

Selesai makan, Aliza mengantarkan Wahyu kembali ke kampus. Awalnya Wahyu berniat untuk


mengantarkan Aliza pulang ke rumah. Tapi Aliza merasa tak enak, karena nantinya


Wahyu akan naik taksi setelah mengantarkan Aliza dan mobilnya.


“Aku akan antar kamu pulang.” Ucap Wahyu.


“Jangan kak. Mmm.. maksudnya, kalau kakak ngantarin aku, terus pulangnya kakak naik


apa. Mobil kakak kan di kampus.”


“Aku bisa naik taksi, atau minta dijemput Rio.”


“Aku...aku mau ketemu teman dulu kak.”


Aliza tidak mau merepotkan Wahyu, apalagi nantinya akan merepotkan Rio jika Wahyu


jadi mengantarkan dia pulang. Bukan hanya takut merepotkan, dia merasa tak


nyaman kalau terlalu lama dalam mobil bersama Wahyu. Dia jadi merasa serba


salah, segan untuk menolak tetapi lebih nggak enak hati jika harus merepotkan


Wahyu.


Wahyu tak menjawab lagi, dia fokus mengemudikan mobilnya hingga sampai di kampus.


Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan pulang, Aliza mengemudikan


mobilnya untuk pulang ke rumah, bukan untuk bertemu teman. Karena itu hanya


alasannya saja untuk menolak Wahyu mengantarkan dia pulang.


Flashback off


***


Aliza melewati mahasiswa yang antri di depan ruangan HIMA, mencoba melihat siapa yang


ada di dalam ruangan HIMA melalui pintu yang terbuka. Dia bisa melihat


teman-temannya masih ada di dalam. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung masuk ke


dalam yang sebelumya tak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Permisi, kak” ucap Aliza sopan. Semua yang ada di dalam ruangan spontan menengok ke arah


sumber suara.


“Aliza..”


pekik Amila, seketika Hilya yang ada di sampingnya spontan menginjak kaki Amila


karena terkejut mendengar suara cempreng Amila.


Amila yang merasa sakit karena kakinya diinjak oleh Hilya, hanya bisa melotot ke arah


pelakunya yang juga menatapnya dengan tatapan yang tajam.


“Kak, ini teman kita yang izin sakit tadi.” Ucap Nisa.


“Oh, kenapa datang? Bukannya sakit?” ucap Shinta dengan sedikit menyindir.


“Maaf kak, tadi memang sakit. Tapi sekarang sudah baikan setelah minum obat.” Ucapnya


membela diri, walaupun berbohong. Daripada jujur, nanti teman-temannya kena


masalah karena dituduh berbohong. Berjalan mendekati teman-temannya.


“Syukurlah, daripada nanti bermasalah. Sekarang silahkan tanda tangan disini sebagai bukti


sudah mengumpulkan buku tanda tangan dan data senior pembimbing.” Ucap Lisa


tidak mau memperpanjang masalah, mengingat masih banyak mahasiswa baru yang


antri di luar.


Setelah semuanya selesai mengumpulkan buku tanda tangan dan data senior pembimbing,


mereka berlima segera meninggalkan ruangan HIMA. Mencari tempat duduk yang kosong


untuk mengobrol.


“Lo kok datang lagi? ” tanya Amila yang penasaran.


“Gue baru ingat kalau ini nggak boleh diwakilkan, daripada bermasalah sendiri,


mending gue balek ke sini.”


“Terus, datang bulan lo gimana?” tanya Amila lagi.


“Gue tadi beli pembalut di supermarket. ”


Rangga hanya bisa diam sambil memainkan ponselnya.


“Tadi nggak bermasalahkan?”


“Hampir bermasalah, tapi untung juga lo datang.” Jawab Hilya.


“Gue juga takut tadi,” balas Aliza


“Kok kalian nggak ada yang angkat telepon gue?” Mengeluarkan kekesalanya selama di


perjalanan tadi.

__ADS_1


“Gimana mau angkat bambang, dengar aja nggak. Ponsenya kan di silent. “ Jawab Amila.


“Kalian?”


menunjuk Hilya dan Nisa.


“Sama,”


jawab Hilya dan Nisa serempak sambil menunjukkan ponsel mereka yang memang menggunakan


model silent.


“Kita mau kemana lagi nih?” tanya Amila.


“Pulang.”


Jawab Aliza.


“Yah, kok pulang? Makan-makan, yuk!” ajak Amila.


“Gue capek. Mau pulang dulu.” Berdiri dari duduknya.


“Kalian?” tanya Amila menunjuk Hilya, Nisa dan Rangga.


“Pulang juga, mau nonton drakor.” Hilya ikut berdiri.


“Ish, kalian nggak seru.” Gerutu Amila.


Walaupun kesal karena tidak ada yang mau menerima ajakannya, dia juga memutuskan untuk pulang.


***


Wahyu yang sudah menyelesaikan urusannya dengan pak dekan yang menanyakan


perkembangan kegiatan mahasiswa baru terkait pengumpulan buku tanda tangan dan


data senior pembimbing. Memutuskan untuk kembali ke ruangan HIMA.


Di ruangan HIMA, masih ada mahasiswa baru yang mengumpulkan buku tanda tangan dan


data senior pembimbing, yang diurus oleh Shinta dan Lisa. Sedangkan Rio kembali


ke tempat semula, menyelesaikan pekerjaanya yang sempat tertunda.


Ia langsung menuju ruangan tempat dimana Rio sekarang berada, melewati para


mahasiswa baru yang sedang antri mengumpulkan buku tanda tangan dan data senior pembimbing.


“Udah datang? Ngapain aja tadi?” tanya Rio ketika melihat Wahyu masuk dan duduk di


tempatnya tadi.


“Kalau gue udah disini, berarti udah datang. Ngapain ditanya lagi?” gerutu Wahyu


“Ya elah, gitu aja marah. Itu kan bukti, kalau gue perhatian ama lo.” Goda Rio.


“Jijik gue.” Ucapnya geli sembari mendekap kedua tangannya di depan dada.


“Ngapain lo, meriang? Merindukan kasih sayang.” goda Rio lagi, mengundang kekesalan


Wahyu yang seketika melemparkan pulpen yang ada di atas mejanya ke arah Rio.


“Eh, gue ada kabar terbaru lo.”


Wahyu hanya melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaanya.


“Serius ini, lo tau nggak siapa yang lo bilang pura-pura sakit tadi.”


“Tau.”


Ucapnya tanpa menoleh.


“Emang siapa?”


“Lo, sakit otak.” Menyahut tapi masih setia dengan komputer yang ada.


“Mau tau atau nggak?” pancing Rio.


“NGGAK.”


Spontan menjawab.


“Yaudah,”


hening sesaat.


“Tapi karena gue teman yang baik, gue akan tetap beritahu lo.” Tidak ada sahutan.


“Aliza,”


Ajaib, wahyu langsung menghentikan gerakan tangannya yang kini sudah beralih


memegang ponsel.


“Apa?”


hanya itu yang keluar dari bibirnya, memastikan apa yang didengarnya tadi.


“Iya, yang lo pikir pura-pura sakit tadi, itu Aliza.”


Menatap dengan dahi yang berkerut, membutuhkan penjelasan lebih dari orang yang sudah membangkitkan rasa penasarannya.


“Tadi dia datang kesini. Nggak jadi sakit. Kayaknya lo benar deh, kalau dia memang


pura-pura sakit.” Menggoda Wahyu dengan membalikkan kata-kata yang sudah

__ADS_1


diucapkan Wahyu tadi.


Tidak ada balasan lagi yang keluar dari bibir Wahyu, kini dia sibuk dengan ponselnya.


Rio yang menunggu balasan Wahyu yang sepertinya tidak akan merespon, mencebikan


bibirnya ke arah Wahyu lalu fokus kembali pada komputer yang ada di depannya.


***


Sudah seminggu berlalu sejak pengumpulan buku tanda tangan dan data senior pembimbing.


Malamnya,


Mereka berempat nampak asyik bercerita melalui panggilan video call.


“Besok nonton, yuk! Ada film baru yang akan tayang.” Ajak Amila.


“Boleh juga tuh. Mau menghilangkan suntuk dulu karena tugas.” Jawab Hilya.


“Iya, kita ajak Rangga sama teman-temannya juga ya, biar ramai gitu.” Ajak Amila sumringah


“Bilang aja lo mau dekat-dekat sama teman-temannya Rangga.” Sewot Aliza


“Adek Aliza manis ini kok tahu sih.” tertawa sendiri karena ucapannya.


“Jam berapa mulai filmnya?” Tanya Nisa.


“Sore, jam 3 kita udah di sana.” Jawab Amila.


“Za bilang ya sama rangga.” Ucap Amila.


“Kok gue, lo aja.”


“Kan lo yang dekat sama Rangga.”


“Nggak dekat kok, biasa aja.”


“Please, adik manis jangan pelit-pelit” Amila memasang wajah sok imutnya.


“Jijik gue, iya iya.” memilih mengalah akhirnya.


“Kayaknya lo cocok deh sama Rangga, lo kan udah lama jomblo.” Timpal Hilya menggoda


Aliza.


“Apaan sih.” kesal Aliza.


“Gue tutup dulu ya, mau tidur.” Ucap Nisa.


“Gue juga, bye.” Aliza langsung mengakhiri panggilan video bersama teman-temannya.


Ting


Ting


Bunyi pesan masuk di ponselnya, Aliza langsung membuka pesan masuk yang ternyata dari Amila, sahabatnya yang rese' itu.


“Jangan lupa”


“Bilang sama Rangga”


Aliza memilih menghubungi Rangga melalui chat, dia merasa tak enak jika harus


menelpon malam-malam.


Aliza


*“Rangga,”  *


Rangga


“Iya Aliza, ada apa?”


Aliza


“Besok lo sibuk nggak? Rencananya


kami mau ajak lo sama teman-teman lo untuk nonton bareng, bisa nggak?”


Rangga


“Ok sip. Jam berapa?”


Aliza


“Jam 3 kita udah di sana. Lo nggak


tanya dulu sama yang lain?”


Rangga


“Tenang aja, kalau hal beginian mereka pasti mau.”


Aliza


“Oh oke, besok ketemu disana aja.


Night. ”


Rangga


“Oke, night too.”


Percakapan mereka diakhiri dengan pesan terakhir dari Rangga.

__ADS_1


__ADS_2