Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Suci


__ADS_3

Besok Aliza akan kembali menjalanai aktivitas kampusnya seperti biasa.


Malamnya, dia menanyakan jadwal kuliah kelas Nadia. Dia berencana akan menemui Suci, untuk meminta penjelasan. Dia tidak terima, ada orang asing yang bahkan tidak dikenal tiba-tiba membuat ulah.


Saat hari pertama dia libur kuliah, karena kondisi kakinya. Dia meminta tolong pada sahabatnya untuk mengintai Suci selama di kampus. Untuk menemukan hal yang tidak beres dan mencurigakan.


Jika memang benar Suci sengaja mencelakainya, pasti ada alasan. Dan dia sangat penasaran akan hal itu. Untuk mencari tahu itulah, dia meminta tolong pada keempat sahabatnya.


Keempat sahabatnya dengan senang hati menjadi detektif pada hari itu. Namun sayang, mereka tidak menemukan hal mencurigakan lainnya. Suci melakukan kegiatan kampus seperti biasanya. Mengikuti jadwal kuliah, makan siang di kantin, dan mengobrol bersama dua orang temannya.


Mereka bahkan mengirimkan foto teman Suci pada Aliza, untuk menanyakan apakah Aliza mengenal mereka berdua. Nihil, Aliza tidak mengenali mereka. Tidak ada petunjuk yang mereka temukan hari itu.


Sama seperti hari selanjutnya. Tidak ada yang mereka temukan. Mereka tidak bisa selalu mengawasinya tiap jam. Mereka hanya akan mengawasi Suci jika ada jam kosong sebelum kelas dimulai.


Karena tidak ada informasi yang membenarkan kecurigaannya, Aliza sempat putus asa. Apakah dia sudah berburuk sangka pada Suci.


Dia kembali menyusun memori atas kejadian yang dialaminya. Dia memutuskan untuk bicara dan menanyakan baik-baik pada Suci.


Aliza dan keempat sahabatnya menuju ruang kelas Suci.


“Hai,” Sapa Aliza, saat Suci baru keluar dari ruang kelas usai mengikuti kuliah.


Suci tersentak saat melihat keberadaan Aliza. Wajahnya pias.


“Masih ada jadwal kuliah?” tanya Aliza.


“Engak...nggak ada.” Suci ragu menjawab.


Aliza tersenyum. “Bisa ngobrol sebentar?”


“Gue,,,gue ada urusan.” jawab Suci gugup.


“Kok gugup gitu jawabnya. Bentar aja kok. 10 menit deh.”


Suci terdiam.


“Please.” Tutur Aliza dengan wajah memohon. Akhirnya Suci bersedia.


“Pinjam temannya bentar, ya.” ujar Aliza pada kedua teman Suci.


Aliza membawa Suci ke tempat yang sepi. Setelah menemukan tempat yang tidak banyak dilalui orang, Aliza membuka obrolannya.


“Lo apa kabar?”


“Baik.”


“Lo nggak nanya kabar gue gitu?” pancing Aliza.


“Oh iya, gimana kaki lo?” tanya Suci smebari melihat ke arah kaki Aliza yang dibalut sepatu sandal yang hanya menutupi bagian tumit dan jari kaki.


“Seperti yang lo lihat, lukanya udah sembuh.”


“Makasih ya,”


“Makasih untuk apa?” Suci keheranan.


“Bukannya waktu itu lo udah minta bantuan orang buat nolong gue?”


“Oh waktu itu ya. Gue....” Suci kehabisan kata-kata untuk menjawab.


“Oh iya, malam itu lo minta bantuan sama siapa?” tanya Aliza pura-pura polos.


Suci bungkam. “Lo minta bantuan sama teman kelompok?” pancing Aliza lagi.


Suci menelan ludahnya kasar. Mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Eh, Kalau lo memang minta bantuan ke kelompok, kok Ayu nggak tau ya?” menatap tajam Suci.  “Kenapa diam?” mengguncang pelan bahu Suci agar menatap padanya.

__ADS_1


Suci melirik jam di pergelangan tangannya.


“Maaf, gue harus pergi. Gue masih ada urusan.”


“Wait, pertanyaan gue masih belum lo jawab.” Menahan lengan Suci.


“Lo mainnya keroyokan ya.” Ucap Suci setelah terdiam beberapa saat.


“Apa? keroyokan? Gue nggak salah dengar.” Aliza tidak habis pikir mendengar ucapan Suci. Die melihat keempat sahabatnya yang menatap ke arah mereka. Menarik tangan Suci agar menjauh dari teman-temannya.


“Kenapa seakan-akan lo nyalahin gue yang udah buat kaki lo sakit?” mencari pembenaran.


“Lah, kapan gue nyalahin lo?”


“Terus, lo nanya ini itu buat apa?” Bentak Suci.


“Gue ingin tahu lah. Alasan lo, kenapa ninggalin gue sendirian di sungai yang gelap dan nggak ada minta bantuan sama sekali. Padahal gue udah nunggu lama dengan posisi kaki gue yang sakit dan berdarah.” Ucapnya berapi-api. Namun masih dengan nada yang normla, tidak ingin memancing perhatian orang lain.


“Itu kan salah lo sendiri yang injak kaca. Kenapa malah merepotkan orang?”


“Ha, gue nggak habis pikir deh. Ternyata hati lo nggak sesuci nama lo ya?” tersenyum miring. “Ini memperkuat firasat gue, kalau lo memang sengaja jatuhin pecahan kaca itu di depan gue.”


“Lo jangan asal nuduh ya. Emang lo punya bukti nya?” tantang Suci.


“Dari pembicaraan kita ini aja udah membuktikan. Seolah-olah lo memang sengaja membiarkan gue kesakitan. Makanya lo nggak ada minta bantuan orang. Tapi, untungnya gue masih beruntung hari itu. Saat itu, ponsel gue sangat berguna.”


Suci terdiam. Menatap Aliza tajam.


“Gue ada masalah apa sama lo?” tanya Aliza langsung


“Nggak ada,”


“Terus, kenapa lo lakuin ini?”


“Gue, nggak tau apa-apa. Jangan tanya gue.” mencoba pergi, namun Aliza sigap menahan tangannya.


“Oke, gue minta maaf, gue lakuin itu karena gue nggak suka sama lo. ini kan yang lo mau. Udah kan, gue mau pergi?”


“Lo bercanda ya, kita aja nggak saling  kenal. Darimana lo bisa menyimpulkan nggak suka gue?”


“Waktu ngobrolnya udah lewat sepuluh menit. Gue harus pergi.” Aliza kembali menahan lengannya, Namun kali ini Suci menepisnya.


Dia berlalu meninggalkan Aliza, yang masih menatap tajam ke arahnya.


Aliza kembali mendekati temannya.


“Gimana, dia ngaku?” tanya Hilya.


“Dia memang lakuin itu. Tapi alasannya, gue nggak percaya. Nggak banget menurut gue.” Ucap Aliza sambil menggelangkan kepalanya.


“Dia bilang apa? soalnya nggak terlalu jelas dari sini.” Ujar Amila. Aliza menceritakan semua isi percakapan dia dan Suci.


“Udah. Lupain aja hal itu. Semoga ini jadi pembelajaran buat kita semua agar lebih hati-hati sama orang baru.” Nasehat Hilya sembari mengusap pelan lengan Aliza.


***


Aliza dan teman-temannya saat ini berada di kantin. Mereka sedang menyantap makan siang, sebelum jadwal kuliah dimulai.


Terlihat Wahyu yang baru memasuki kantin. Tatapannya langung tepat sasaran. Dia tersenyum saat melihat Aliza yang sedang makan. Dengan langkah kaki yang semangat, dia memasuki kantin lebih dalam.


Saat sudah dekat dengan meja Aliza, dia mengacak gemas rambut gadis itu tanpa menghentikan langkahnya. Dia Melirik sekilas sembari tersenyum. Dengan entengnya, dia berlalu begitu saja.


Aliza akan meledak saat ada yang sengaja mengacak rambutnya. Dia melihat ke arah pelaku yang belum jauh dari mejanya. Saat pelaku itu meliriknya, kemarahannya jadi menguap. Hilang begitu saja. Hanya senyum yang terbit di bibirnya. Dia kembali fokus pada makanannya yang belum habis.


“Ehem, udah jadian nih?” ledek Amila. Aliza hanya tersenyum menanggapinya. Tidak ada kata mengiyakan atau bantahan yang keluar dari mulutnya. Dia hanya terus mengunyah makanannya yang tinggal sedikit.


Ada beberapa mahasiswa yang melihat hal itu. Mereka nyaris tidak percaya atas apa yang dilihat. Sepertinya, gosip baru akan segera rilis. Lihatlah, mereka kini sibuk membicarakan Wahyu dan gadis yang diganggunya tadi. Dengan mata mereka yang menatap tajam pada Aliza. Mata dan mulut mereka sangat kompak dalam mengurusi

__ADS_1


orang lain.


Termasuk Selly. Mata tajamnya menatap tidak suka pada Aliza. Ada kemarahan yang muncul dari matanya.


***


Suci terlihat sedang menunggu seseorang di sebuah restoran yang dekat dengan salah satu mall besar dikota itu.


 “Kak selly.” Panggilnya saat melihat orang yang ditunggu memasuki restoran.


Selly dan kedua temannya mendekati sumber suara.


“Ada apa?” tanya Selly sinis.


Tadi, Suci menghubunginya. Dia ingin membicarakan sesuatu yang penting. Selly meminta untuk bicara di telepon saja. Namun, Suci menolak. Dia ingin bicara secara langsung. Dia sempat mengusulkan untuk bertemu di kampus. Kali ini Selly yang menolak.


Bukan tannpa alasan dia menolak Suci untuk bertemu di kampus. Dia tidak ingin terlihat akrab atau berteman dengan orang yang jauh di bawahnya dalam segala hal. Termasuk dalam hal kekayaan. Selly, putri dari salah satu orang terkaya di kota itu. Sedangkan Suci yang hanya memiliki kehidupan sederhana. Tidak bergelimang harta, namun masih bisa mencukupi kebutuhannya dan keluarga.


“Kak, Aliza tadi nemuin gue. Dia udah curiga kalau gue sengaja lakuin itu.”


“Terus lo bilang apa?”


Suci menceritakan semua pertemuan dia dengan Aliza tadi.


“Jadi, gue harus gimana kak? Kalau dia masih nekat nemui gue, gue harus bilang apa?”


“Masa gitu aja lo nggak bisa. Gunain otak lo dong. Lo punya otak kan?”


 “Iya kak, tapi kan kakak yang nyuruh gue lakuin itu.”


“Terserah. Terserah lo mau bilang apapun itu sama dia. Asalkan jangan pernah sebut nama gue.”


Suci terhenyak. Dia merasa seperti dijadikan kambing hitam. Seakan semua itu adalah rencananya. Pelaku yang merencanakan semuanya malah lempar batu sembunyi tangan.


“Udah jelaskan?” tanya Selly. Suci mengangguk.


“Hari ini suasana hati gue lagi nggak bagus. Gue mau belanja sepuasnya. Karena lo udah berbaik hati nggak nyebutin nama gue, gua akan bayarin baju yang lo beli. Ingat, cuma dua baju.”


“Iya kak. Gue mau. Terima kasih.” ucap Suci antusias. Dia terlihat senang, karena akan membeli baju mahal lagi.


Sebelum ke mall, mereka terlebih dahulu makan di restoran tersebut.


“Awas aja. Gue bakal buat perhitungan sama lo Aliza.” batin Selly.


Hatinya kembali memanas saat mengingat kedekatan Aliza dan Wahyu. Dia merasa kesal, peringatannya waktu itu hanya dianggap angin oleh Aliza. Padahal dia sudah minta untuk menjauh dari Wahyu, namun gadis itu tidak menghiraukannya dan masih berhubungan dengan Wahyu.


Flashback


Selly sangat marah, saat Wahyu terang-terangan mengatakan kalau dia dan Aliza berpacaran. Selly berencana akan memberikan pelajaran pada gadis itu.


Saat mahasiswa baru akan melaksanakan kegiatan K3MB. Dia menggunakan kesempatan itu untuk mengerjai Aliza.


Dia berencana akan ikut kegiatan K3MB tersebut. Namun, HIMA tidak mengizinkannya. Hanya panitia HIMA saja yang diperbolehkan untuk memandu kegiatan.


Gagal satu rencana, tidak menyurutkan api kemarahannya. Dia mencoba mencari cara lain. Dia sengaja mencari tahu anggota kelompok Aliza. Siapa tahu, ada mahasiswa baru yang bisa dia perintahkan untuk memberikan pelajaran pada Aliza. Balasannya, dia akan memberikan uang dalam nominal yang besar. Zaman sekarang, siapa yang tidak menginginkan uang.


Dia menjelaskan semua rencana yang sudah disusun pada kedua temannya. Saat memperlihatkan anggota kelompok Aliza, kebetulan Lia mengenali satu nama diantara beberapa anak yang diperlihatkan Selly.


Suci, itulah nama mahasiswa baru yang dikenali Lia. Mereka satu SMA, sekaligus tetanggaan. Rumah Suci dan rumah Lia hanya berjarak dua rumah saja.


Akhirnya Selly memutuskan untuk menggunakan Suci dalam menjalankan rencananya.


***


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA!


SEMOGA SUKA!

__ADS_1


__ADS_2