Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Gosip


__ADS_3

Sesampainya di depan gerbang rumah Aliza, Wahyu menghentikan mobilnya.


Jihan sudah tertidur di pangkuan Aliza, begitu pun dengan Zaki yang tidur dengan posisi terlentang di kursi belakang.  Mungkin karena malam yang sudah menunjukkan pukul 21.55 WIB.


 “Biar aku antar dia ke dalam.” Wahyu menawarkan bantuan.


“Nggak usah kak, aku bangunin aja.”


“Zaki,” Aliza berusaha membangunkan Zaki dengan memanggil namanya. Namun, Zaki tak kunjung bangun.


“Ah, dia nggak bangun-bangun.” Kesal Aliza. Berniat turun dari mobil, ingin membangunkannya dengan mengguncang tubuh Zaki secara langsung.


“Tunggu,” Wahyu kembali menghidupkan mesin mobilnya, membelokkannya ke dalam rumah Aliza.


“Kak, nggak usah,” Tolak Aliza.


Wahyu tidak menghiraukan penolakan Aliza, dia tetap melajukan mobilnya sampai di depan rumah Aliza.


Membunyikan klakson mobil, agar penjaga rumah Aliza membukakan gerbang.


Melajukan mobilnya sampai depan rumah Aliza.


Wahyu keluar dari mobil. Membukakan pintu mobil di samping Aliza duduk. Karena belum terbiasa, Aliza nampak kesulitan saat menggendong Jihan yang sedang tidur.


Wahyu menggendong Zaki yang tertidur, mengikuti langkah Aliza menuju pintu rumah.


Membuka pintu rumah yang belum terkunci. Biasanya, mereka akan mengunci pintu rumh, jika semua penghuni sudah ada di rumah.


Mama Suci masih terjaga. Dia menunggu anak-anaknya pulang dengan duduk resah di sofa ruang tengah. Pandangannya selalu tertuju pada pintu rumah.


Saat melihat pintu terbuka, mama Suci lalu menghampiri dua sosok manusia yang sedang menggendong anak-anaknya.


“Ya ampun, mereka tidur?” mama Suci mengambil alih Jihan dari gendongan Aliza.


“Bisa tolong sekalian mengantar Zaki ke kamarnya?” Ucap mama Suci pelan pada Wahyu.


“Bisa tante,” jawab Wahyu.


Wahyu dan Aliza mengikuti langkah Mama Suci menuju kamar Zaki. Sesampainya di sana, Wahyu lalu menidurkan Zaki di kasurnya.


 “Terima kasih banyak ya. Maaf sudah merepotkan. Tante buatin minum ya!” ujar Mama Suci dengan Jihan yang masih terlelap digendongannya.


“Nggak usah tante. Saya mau langsung pulang aja, takut kemaleman pulangnya.” Tolak Wahyu dengan sopan.


“Oh ya udah. Kapan-kapan ke sini lagi ya.” Mama Suci tersenyum hangat pada Wahyu.


“Ayo kak,” Aliza menarik lengan Wahyu, untuk mengajaknya keluar dari kamar Zaki.


“Saya pamit pulang dulu ya tante,” pasrah mengikuti Aliza yang menarik tangannya.


Aliza menarik tangan Wahyu mendekati mobilnya yang berada di halaman rumah.


Setibanya di dekat mobil, Aliza langsung melepaskan tangannya dari lengan Wahyu.


Mereka saling menatap dalam diam dengan posisi tubuh yang berdiri saling berhadapan.


“Kakak nggak pulang?” akhirnya Aliza memulai pembicaraan.


“Di usir nih?” celetuk Wahyu.


“Bukan, eh.. maksudnya tu,,,” Aliza terlihat salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


“Nggak ditawarin minum lagi” Wahyu memasang mimik wajah kesal.


“Kakak mau minum?” Aliza spontan bertanya.


Wahyu hanya tersenyum menaggapinya. “Aku pulang dulu,” mengacak gemas rambut Aliza. Kemudian masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan Aliza yang menunggu sampai mobil Wahyu hilang dari pandangannya.

__ADS_1


***


“Ehem,” Lisa berdehem saat Wahyu dan Rio masuk ke ruangan HIMA.


Wahyu mengabaikannya. Dia memilih duduk, diikuti oleh Rio. Hari ini mereka akan rapat HIMA kembali. Masih ada program dengan mahasiswa baru yang harus mereka laksanakan.


Sudah ada beberapa anggota HIMA yang datang, namun masih ada juga yang belum datang. Rapat akan dimulai jika anggota HIMA sudah lengkap.


“Shin, lo tau nggak tadi malam gue ketemu siapa?” ucap Lisa sambil sesekali menatap ke arah Wahyu yang nampak bergeming.


“Mana gue tahu, emang siapa?” tanya Shinta sambil menatap Lisa di sampingnya.


Lisa tersenyum. “Nggak apa-apa nih ketua, kalau gue sebarin.” Celetuk Lisa yang bercanda.


Wahyu nampak tak peduli. Dia hanya mengangkat kedua bahunya, sebagai isyarat terserah.


“Nanti para fans lo nangis tuh dipojokan.” Ucap Lisa bercanda.


“Ada apa sih”? Shinta mulai penasaran.


“Wahyu ternyata udah punya istri,” celetuk Lisa.


Ucapan Lisa kali ini menarik perhatian Wahyu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Lisa.


Bukan hanya menarik perhatian Wahyu, tetapi juga anggota HIMA lainnya yang berada di tempat yang sama dengan mereka.


“Bukan,” jawab Wahyu.


“Jawab juga kan lo.” Lisa tertawa. “Eh, tapi anak kecil tu siapa?”


“Kalian lagi ngomongin apa sih?” tanya Shinta bingung.


“Tadi malam gue ketemu Wahyu di mall. Tapi yang buat gue kaget, dia bareng cewek.” Lisa yang antusias menceritakan orang yang sekarang berada dihadapannya.


Lebih baik menceritakan orang di depannya langsung atau di belakangnya ya?


“Ketua kita nggak jomblo lagi,” ucap Lisa heboh. Selama mengenal Wahyu yang satu kelas dengannya, dia belum pernah melihat Wahyu dekat dengan perempuan.


Flashback


“Wahyu,” ucap seseorang yang melihat keberadaan orang yang dikenalnya. Dari suaranya seperti suara perempuan.


Aliza dan Wahyu menoleh ke arah sumber suara.


Perempuan itu tersenyum, karena orang yang di panggilnya memang orang yang dikenalnya.


Mereka berpapasan di lantai dua. Sepertinya perempuan itu selesai memberi baju, dilihat dari paper bag yang di jinjingnya. Kebetulan tempat baju yang dibelinya dengan dekat eskalator yang akan digunakan Wahyu dan Aliza untuk turun ke lantai dasar.


“Lisa,” Sapa Wahyu.


Lisa tersenyum sembari menatap ke arah Aliza. “Siapa nih?” tanyanya langsung pada Wahyu.


“Lo sama siapa?” Wahyu mengalihkan dengan pertanyaan lain.


“Gue sama kakak, dia masih di dalam.” Menunjuk ke dalam toko baju.


“Gue duluan ya.” Pamit Wahyu.


“Oh iya, hati-hati.” Ujar Lisa sembari membalas senyuman Aliza.


Dia menatap kepergian Wahyu dan Aliza dengan mimik wajah bingung. Bagaimana tidak bingung, dia habis melihat Wahyu lagi jalan sama cewek dan itu pun sedang menggedong anak balita.


“Wahyu belum nikah kan? Perasaan gue sih belum. Tapi anak kecil tadi siapa?”batinnya bertanya-tanya.


Flashback end


“Anggota yang lain mana?” tanya Wahyu tegas, dia tidak membantah ucapan Lisa. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan. “Coba tanya di grup!” perintah Wahyu. kalau sudah beginu, mereka semua akan langsung melaksanakannya.

__ADS_1


Setelah anggota HIMA sudah berkumpul semua, rapat pun dimulai. Mereka akan membahas program kerja mereka yang masih berhubungan dengan kegiatan mahasiswa baru.


***


Gosip Wahyu yang berpacaran sudah menyebar cepat. Para pengagumnya dibuat penasaran akan sosok perempuan yang berhasil menaklukan hati Wahyu itu. Tidak perlu heran siapa orang yang menyebarkan gosipnya. Anggota HIMA sekaligus juga pengagum Wahyu, yang saat itu ada di ruangan HIMA. Dia mendengarkan semua obrolan Lisa. Menceritakan ke teman-temannya yang lain, hingga berujung gosip Wahyu memiliki pacar.


“Serius? Lo tahu dari mana?” tanya salah seorang mahasiwa pada temannya.


“Iya, gue juga kaget. Gue tau dari teman, katanya dia lihat Wahyu sama ceweknya lagi jalan.” Jawab temannya.


“Lo tau siapa ceweknya?” tanyanya lagi.


“Gue juga nggak tau.”


“Gue sedih,”


“Gue juga,”


Mereka kini berpelukan saling menguatkan. Begitu banyak mahasiswa yang mengagumi Wahyu. Namun, mereka hanya bisa mengagumi secara diam. Ada saingan mereka yang lebih berkuasa, daripada mereka yang hanya remahan peyek.


***


“Lo Aliza Syafira kan?” Selly menghadang Aliza dan teman-temannya yang akan pulang.


“Iya kak,” Aliza mengiyakan, walaupun dia merasa bingung kenapa orang ini mengetahui namanya. Dia berpikir mungkin orang ini seniornya, jika dilihat dari gayanya yang sok berkuasa.


Cih. Selly berdecih, tersenyum miring seperti meremehkan Aliza.


“Kenapa ya kak?” tanyanya hati-hati, tidak ingin memancing keributan. Mereka kini jadi pusat perhatian beberapa mahasiswa yang melewati mereka.


“Lo ada hubungan apa sama Wahyu?” tanya Selly to the point.


“Oh kak Wahyu. Dia senior saya kak, seperti kakak. Senior saya juga kan.” Ucapnya sopan dengan senyum terpaksa.


Dia seperti mengerti akan maksud perempun di hadapannya ini. Ingin melabrak seseorang yang dekat dengan orang disukainya. Sungguh cara yang kuno, pikir Aliza.


“Gue pacar Wahyu,” Ujar Selly dengan wajah yang tak bersahabat.


“Ooh, kalau begitu kami pamit pulang dulu ya kak.” Memilih pergi daripada meladeni orang egois seperti ini.


Selly kesal melihat Aliza yang tidak memperdulikannya.


“Tunggu, “ Selly menarik kasar tangan Aliza yang baru berjalan beberapa langkah. Setelah berhadapan dia langsung melepaskannya dengan kasar, untungnya teman-teman Aliza sigap memeganginya.


“Aw,” Aliza mengaduh kesakitan, karena kuku panjang selly mengenai kulit tangannya.


Aliza menarik napasnya pelan, mencoba meredam emosinya yang mulai muncul. Dia melirik teman-temannya yang juga nampak marah. Dia memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya, agar teman-temannya tidak perlu ikut campur.


“Ada apa lagi ya kak? atau ada yang bisa saya bantu?” berbicara sesopan mungkin. Dia masih mahasiswa baru di sini, terlalu cepat jika harus berurusan dengan masalah.


“Gue pacar Wahyu.” tekan Selly lagi.


“Iya kak,  tadi kakak juga udah bilangkan.” Masih berusaha tersenyum, walaupun terpaksa.


“Gue mau lo jauhin Wahyu,”


“Maaf sebelumnya kak. Memangnya kami sedekat apa sehingga kakak harus meminta saya menjauhi kak Wahyu?”


***


Kok si Selly udah tau kalau Aliza lagi dekat sama Wahyu?


Tunggu kelanjutan di episode berikutnya ya,


Terima kasih sudah membaca!


Semoga suka...

__ADS_1


__ADS_2