
Aliza yang baru sampai di rumah, langsung menuju dapur. Karena tadi buru-buru, Aliza tidak sempat makan. Bi Mauli membawa makanan yang sudah disiapkan untuk Aliza kembali ke dapur.
Seharusnya dia tidak perlu buru-buru, jarak rumahnya dengan kafe hanya sekitar tujuh menit. Namun, dia tak enak hati jika harus membuat orang menunggu, padahal dia yang minta ketemu. Walaupun maunya bukan hari ini.
Ketika melihat Aliza masuk dapur, bi Mauli yang sedang mencuci piring menghampirinya, lalu menanyakan apa yang dibutuhkan Aliza. Setelah memberitahu bahwa dia ingin makan, bi Mauli kembali menyiapkannya. Karena makanan yang sudah disiapkannya tadi sudah dimakan mama Suci yang kebetulan belum makan siang.
Daripada membuang makanan yang belum disentuh, lebih baik dia yang memakannya. Masih banyak orang di luar rumah yang tidak bisa makan setiap hari. Dia selalu mengingat nasihat yang di berikan orang tuanya dulu.
***
Sudah tiga hari sejak pertemuan Wahyu dan Aliza di kafe 01. Semenjak itu mereka belum pernah bertemu untuk bicara kembali. Padahal mereka sering berpapasan ketika di kantin dan perpustakaan. Tapi, Aliza memilih diam dan menghindar dulu. Dia juga merasa tak enak hati, karena pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Wahyu.
Saat itu dia bingung harus menjawabnya bagaimana, dia lebih memilih untuk pergi dan menghindar dulu sampai dia siap untuk meminta maaf. Kekanakan. Memang begitulah sifat Aliza kekanakan, dia memilih menghindar dulu sampai dia benar-benar siap menghadapinya.
Pengumpulan tanda tangan dan biodata senior pembimbing tinggal dua hari lagi. Untuk tanda tangan, dia sudah mendapatkan cukup banyak. Tapi untuk senior pembimbing, dia ragu apa Wahyu masih bersedia jadi senior pembimbingnya. Ucapannya di kafe waktu itu masih teringat di pikirannya. “Kalau kakak tidak lagi bersedia jadi senior pembimbingku, tidak apa-apa”. Kalimatnya seperti menolak Wahyu untuk jadi senior pembimbingnya. Dia merasa tak enak hati, untuk menanyakan kesediaan Wahyu lagi.
Untuk mencari senior pembimbing lain rasanya malas sekali. Untuk mencari pun belum tentu masih ada yang belum jadi senior pembimbing, mengingat waktu pengumpulan dua hari lagi. Pasti mereka sudah diminta untuk jadi senior pembimbing. Apalagi jumlah senior laki-laki yang sedikit dibanding senior perempuan.
Berulang kali dia berpikir untuk menghubungi Wahyu, tapi selalu di urungkan nya. Hari ini, dia berinisiatif untuk langsung bicara pada wahyu dan minta maaf padanya.
Setelah pulang kuliah, dia mengirim sebuah pesan untuk mengajak Wahyu ketemuan di kafe dekat kampus. Karena jadwal yang beda, dia harus menunggu Wahyu sampai kelasnya selesai.
Selama menunggu, dia meminta Hilya untuk menemaninya. Berbagai macam rayuan dia gunakan agar Hilya mau menemaninya. Sampai pada rayuan untuk membelikannya album terbaru grup band korea favoritnya. Akhirnya dengan rayuan itulah, dia luluh. Kalau masalah uang Hilya sanggup untuk membelinya, tapi begitulah hobinya lebih suka jika dibelikan oleh orang lain terlebih orang-orang yang dekat dengannya.
***
“Gue bosan, nih.” Rengek Hilya. Mereka sudah lama menunggu Wahyu di kafe yang sudah dijanjikannya tadi.
“Sebentar lagi, ya!” bujuk Aliza.
Bagaimana tidak bosan, mereka sudah duduk di kafe hampir satu jam. Dari tadi Aliza terus mendengar rengekan bosan Hilya. Tapi dia masih berusaha membujuknya.
Satu jam lamanya menunggu, akhirnya Wahyu datang dan menghampiri tempat duduk mereka. Setelah melihat kedatangan Wahyu, Hilya memilih untuk pulang, daripada harus jadi obat nyamuk.
“Gue pulang dulu, ya!” bisik Hilya. Dibalas anggukan oleh Aliza.
“Kak Wahyu, saya pulang duluan. ” Pamit Hilya pada Wahyu.
Wahyu duduk berhadapan dengan Aliza.
Mereka hanya bertatapan dan saling diam. Setelah beberapa menit saling diam, aliza membuka suaranya.
“Maaf!” ucap Aliza.
__ADS_1
“Untuk apa?” Wahyu mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Aliza yang tiba-tiba minta maaf.
“Maaf karena pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Kakak.” Aliza menundukkan kepalanya.
“Tidak apa-apa. Aku juga tidak menuntut kamu untuk menjawabnya.” Ucap Wahyu.
Mereka berdua kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. Hanya suara pengunjung kafe yang membuat keadaan tidak terlalu hening.
“Apa hanya minta maaf?” tanya Wahyu
“Ha? Apa?” Aliza tersadar dari lamunannya.
“Apa kamu mau bertemu hanya untuk mengatakan maaf?”
“Tidak, aku juga... mau.... minta tolong.” Ucap Aliza malu-malu sembari menundukkan wajahnya.
“Apa?” tanya Wahyu kembali.
“Apa kak Wahyu masih mau jadi senior pembimbingku?” tanya Aliza grogi sambil menatap Wahyu.
Wahyu tersenyum mendengar tawaran Aliza. “Ada syaratnya!”
“Syarat?” tanya Aliza memastikan pendengarannya tidak salah.
“Iya.” Jawab Wahyu singkat.
“Tidak mau?” Wahyu tersenyum melihat ekspresi kebingungan di wajah Aliza.
“Nggak mau! Kalau gue jawab itu, terus gue nggak ada senior pembimbing, dong. Gue nggak mau dihukum.” Batin Aliza.
“Mau, kak.” Jawabnya setelah berperang dengan pikirannya.
“Apa syaratnya kak?” tanya Aliza.
“Nanti.” Jawab Wahyu singkat.
“Nanti? Maksudnya, kak?”
“Kapan waktunya tiba aku akan menagih syaratnya.”
“Kenapa tidak sekarang aja, kak?” mencoba membujuk agar Wahyu mengatakan syaratnya.
“Waktunya belum tepat.” Jawab Wahyu.
__ADS_1
“Kalau kamu tidak mau___”
“Aku mau kok, Kak.” Jawab Aliza cepat.
“Kenapa tidak sekarang aja, sih. Nanti kalau dia minta aneh-aneh?” batin Aliza yang menerka-nerka syarat dari Wahyu. Bahkan dia berpikiran akan dijadikan pelayannya, seperti di drama-drama yang ditontonya.
“Bagus,” ucap Wahyu.
“Apa kamu tidak mau foto bersama?” tanya Wahyu.
“Foto? Buat apa, kak?” Tanya Aliza bingung karena Wahyu yang menawarkan foto bersama.
“Bukannya para maba disuruh foto dengan senior pembimbing.” Ucap Wahyu yang langsung mengingatkan Aliza akan dirinya yang pelupa.
Dia melihat sekeliling. Ramai. Tidak mungkin foto di tempat seperti ini. Tapi kalau bersama sahabatnya, dimana pun dan kapanpun mereka tidak akan tau malu. Kalau dengan Wahyu, akan terlihat canggung, apalagi fotonya akan dikumpulkan.
“Memangnya boleh selfie, kak? Bukannya fotonya harus formal?” tanya Aliza.
Sebelumnya mereka sudah diberitahu untuk foto bersama senior pembimbing. Bukan foto-foto selfie alay. tapi foto yang sedikit formal.
“Kalau begitu besok saja.” Jawab Wahyu.
“Iya, kak. Besok saja.” Ucap Aliza.
Mereka kembali terdiam. Aliza meneguk jus yang sudah dipesannya tadi ketika bersama Hilya. Setelah meletakkan gelasnya ke posisi semula, dia teringat sesuatu.
“Kakak mau minum apa?” ucap Aliza yang lupa menawarkan minum pada Wahyu.
“Tidak perlu, Kita pulang saja. Ayo, aku akan mengantarmu!” seru Wahyu.
“Tidak usah, Kak. Aku bawa mobil sendiri.” Tolak Aliza.
Mereka pun meninggalkan kafe, dengan mengendarai mobil masing-masing. Wahyu yang sempat menawarkan diri untuk mengantar Aliza, langsung ditolak olehnya.
Bukan hanya karena dia bawa mobil, tapi dia masih merasa canggung berduaan dengan Wahyu. Apalagi dalam mobil yang sama. Wahyu yang menerima alasan Aliza, pun menyetujuinya. Dia juga tidak mau memaksakan kehendaknya, karena mereka yang tidak memiliki hubungan apapun dan hanya sebatas senior-junior di kampus. Jadi untuk sekarang dia mengalah dulu.
*
*
*
Terima kasih sudah membaca!
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen!
Maaf, slow update.