Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Kantin


__ADS_3

Di parkiran, seorang laki-laki nampak keluar dari mobil sport yang dikendarainya. Dia adalah Wahyu. Wahyu memang datang terlambat ke kampus. Dia datang ketika para maba sudah berkumpul di ruangan kelompok masing-masing.


Setelah turun dari mobilnya, dia melangkahkan kakinya menuju ruangan HIMA.


“Kok lo terlambat sih, yu?” tanya Rio merasa penasaran karena wahyu yang datang terlambat.


“Tadi pagi gue ada urusan sebentar.” Jawab Wahyu sembari mendudukkan bokongnya di dekat Rio.


“Bilang aja lo masih molor,” Rio yang tertawa dengan perkataannya sendiri.


“Tu lo tau. Masih nanya lagi!” gerutu Wahyu kesal.


“Kok lo sendirian aja di sini?” tanya Wahyu karena hanya melihat Rio di ruangan HIMA.


“ Yang lain kan ada tugas,” jawab Rio sembari memainkan ponselnya.


“Sinta sama Lisa mana?” tanya Wahyu.


“Katanya sih tadi mau ke kantin, mau beli minum,” jawab Rio yang masih setia dengan kegiatannya.


“Catatan pembagian kelompok mereka lo taro dimana?” tanya Wahyu sembari membalikkan kertas yang ada di atas meja.


“Gue lupa...”


“Tapi waktu itu sempat gue foto sih,” Jawab Rio yang terlihat berpikir.


“Lihat gue!” Wahyu menyodorkan tangannya untuk mengambil ponsel Rio.


“Emang buat apaan sih?” Rio penasaran sembari memperhatikan Wahyu yang tengah menggeser layar ponselnya. Wahyu hanya diam saja tanpa merespon pertanyaan Rio.


“Jadi dia kelompok A,” Gumam Wahyu dalam hati sembari tersenyum senang.


“Lo nyari apaan sih, kok senyum-senyum sendiri. Kayak orang lagi dapat harta karun aja.” Rio merebut ponselnya dari tangan Wahyu dan melihat apa yang membuat Wahyu tersenyum. Tapi dia hanya menunjukkan ekspresi kebingungan karena tak mengetahui alasan Wahyu tersenyum.


“Tadi lo udah ngumumin masalah mengenai tanda tangan dan senior pembimbing, kan?” tanya Wahyu.


“Udah.” Jawab Rio singkat.

__ADS_1


“Nanti kita lihat mereka latihan, yuk!. Sambil ngasih motivasi.” Ajak Wahyu.


“Oke, tadi gue juga mau ajak lo. Eh tau nya keduluan deh sama lo.” Jawab Rio.


Saking asyiknya mengobrol, Rio dan Wahyu tak menyadari kedatangan Sinta dan Lisa.


“Hai!” ucap Sinta dan Lisa yang baru masuk secara bersamaan.


“Hai!” balas Wahyu dan Rio serempak.


“Kalian lagi ngobrol apa sih, kok serius gitu,” Tanya Lisa sembari duduk di sofa depan Wahyu dan Rio, diikuti oleh Sinta.


“Itu, kita nanti mau nengok adik-adik latihan. Kalian juga ikut, ya!” jawab Rio.


“Oke!” imbuh Lisa.


“Oh iya, gue mau nanya nih, untuk penutupan besok apa aja yang harus kita siapin?” tanya Sinta. Jabatan Sinta adalah sebagai sekretaris HIMA.


“Nanti, kita adain rapat sama panitia lainnya.” Ucap Wahyu.


“Tapi ada bagusnya juga kita diskusi dulu sekarang. Nanti baru kita sampaikan ketika rapat. Agar menghemat waktu.” Seru Sinta dan diangguki oleh Rio, Wahyu, dan Lisa tanda setuju.


***


“Sin, ke kantin, yuk!” ajak Lisa dan dijawab anggukan oleh Sinta.


"Gue sama Sinta duluan ke kantin, ya!" ucap Lisa. dan di diangguki oleh Rio dan Wahyu.


Mereka bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan HIMA.


“Wahyu....” seru Rio sembari menatap Wahyu yang sibuk membaca kertas.


“Apa?” tanya Wahyu tanpa menoleh ke arah Rio.


“Ke kantin juga, yuk! Gue lapar!” ucap Rio sembari memegang perutnya. Tanpa menjawab Wahyu meletakkan kertas yang tadi dipegangnya dan bangkit berdiri. Dia berjalan mendahului Rio.


***

__ADS_1


Ketika ingin memesan makanan, tanpa sengaja pandangan Wahyu mengarah pada Aliza yang sedang Asyik mengobrol dengan teman-temannya.


“Gue tinggal bentar, ya!” pamit Wahyu pada Rio yang berdiri di sampingnya. Belum sampai Rio menjawab, Wahyu sudah melangkahkan kakinya menuju tempat duduk Aliza. Meninggalkan Rio yang menggerutu kesal, karena ditinggalkan.


Wahyu tak mengetahui kenapa dia tiba-tiba ingin menghampiri Aliza dan membicarakan sesuatu hal yang penting menurutnya. Hatinya merasa memerlukan suatu jawaban atas pertanyaan yang selama ini ada dihatinya.


“Aliza,” Wahyu memanggil nama Aliza.


Aliza yang merasa di panggil pun menoleh ke sumber suara. Ketika melihat siapa yang memanggilnya dia pun terkejut, begitu juga dengan teman-temannya.


Hal itu juga menarik perhatian beberapa mahasiswa yang jarak duduknya dekan dengan meja Aliza dan temannya.


Rio dan beberapa penghuni kantin lain hanya bisa menatap adegan itu dengan penuh tanda tanya. Heran melihat Wahyu yang duluan mendekati maba, jika mengingat sifat cueknya selama ini.


Apa Wahyu dan cewek yang dipanggilnya itu ada hubungan. Begitulah isi pikiran mereka.


Aliza bengong kenapa Wahyu mencarinya. Amila, Nisa, dan Rangga saling bertukar pandang dan kadang melihat Aliza dan Wahyu bergantian. Merasa bingung dengan situasi yang terjadi sekarang ini.


Kenapa seorang ketua HIMA mencari Aliza. Itulah yang dipikirkan mereka saat ini. Kecuali Hilya, yang memang mengetahui hubungan Wahyu dan Aliza. Eh, bukan ada hubungan sih, sekedar sesuatu yang melibatkan perasaan mereka di masa lalu. Belum sampai tahap hubungan, sih.


“Kak Wahyu,” Gumam Aliza tanpa mengeluarkan suara. Dia tetap bengong sembari menatap Wahyu yang berdiri di samping Rangga.


“Bisa bicara sebentar?!” tanya Wahyu dengan menatap Aliza. Aliza terdiam sejenak untuk mencerna pertanyaan Wahyu.


“Bisa, Kak. Mau bicara apa?!” jawab Aliza dengan pertanyaan kembali.


“Ikut saya sebentar!” ajak Wahyu yang ingin bicara berduaan dengan Aliza.


Aliza menoleh pada yang lainnya. Untuk meminta pendapat. Dia sendiri bingung apa yang sebenarnya diinginkan Wahyu. Apa masih mau menanyakan hal yang ditanyakan nya kemaren. Seakan mengerti dengan tatapan Aliza, teman-temannya pun mengangguk-angguk kepala mereka. Kecuali Rangga, dia hanya diam menatap Aliza.


Aliza berdiri dan menghampiri Wahyu .


“Ayo, Kak. Mau bicara dimana?” tanya Aliza yang sudah berada di samping Wahyu.


Tanpa menjawab pertanyaan Aliza, Wahyu langsung melangkah kakinya. Aliza pun mengikutinya di belakang. Teman-temannya pun melihat Aliza dan Wahyu yang berjalan manjauhi tempat mereka.


***

__ADS_1


Mohon Like dan Komen!


Terima kasih sudah membaca!


__ADS_2