
Aliza nampak mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumah. Belum terlalu jauh dari kampus, Aliza membelokkan mobilnya ke sebelah kiri, dan mematikan mesin mobilnya. Ya, dia berhenti di depan sebuah supermarket yang letaknya tak jauh dari kampus.
“Untung ada supermarket. Supermarket kau pahlawanku.” Batin Aliza. Membuka seal beat di tubuhnya, lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam supermarket.
Sebelum mencari apa yang dibutuhkan, sebelumnya Aliza bertanya pada pegawai supermarket dimana letak dari barang yang dibutuhkannya.
Pegawai itu pun menuntun Aliza untuk menuju barang tersebut. Setelah melihat barang tersebut, tak lupa Aliza mengucapkan terima kasih kepada pegawai supermarket.
Aliza juga membeli sebotol minuman, karena sedari tadi tenggorokannya terasa kering. Setelah membayar belanjaannya, Aliza menanyakan letak toilet yang ternyata ada disamping supermarket.
Selesai dengan urusannya, Aliza kini sudah berada di dalam mobilnya. Meneguk sedikit demi sedikit minuman yang sudah dibelinya.
“Gue pulang atau kembali ke kampus ya?” pikir Aliza. mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, mencari kontak dengan nama Amila.
Menekan tombol untuk memanggil, tersambung tetapi tidak diangkat sang pemilik nomor. Sudah ketiga temannya yang dihubungi, tapi tak satupun yang menjawabnya.
“Kok nggak ada yang angkat telepon gue.” Kesal Aliza.
Ketika asyik dengan ponselnya, Aliza teringat sesuatu. Menepuk jidatnya sendiri dengan
tangan kanannya. “Ya ampun, kok gue lupa.”
Menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya ke arah kampus. Dia teringat kalau
sebelumya sudah diberitahu, pengumpulan buku tanda tangan tidak boleh diwakilkan karena disertai dengan tanda tangan.
“Mending gue balek kampus, daripada gue sendiri yang bermasalah.” Ucapnya sembari menyetir mobil ke arah yang sudah dilewatinya tadi.
***
“Sesuai.......”
Belum sempat Wahyu menjelaskan, seseorang mengetuk pintu Ruangan HIMA.
“Permisi...”
Ucapnya sambil mengetuk pintu.
Mereka seketika menoleh ke arah orang yang telah menghentikan pembicaraan Wahyu.
“Mohon antri ya, soalnya masih ada yang di dalam” ucap Shinta.
“Oh, bukan itu kak. Saya cuma mau menyampaikan kalau Kak Wahyu dipanggil pak dekan. Katanya di suruh langsung ke ruangan dekan.” Ucap orang itu. Beranjak pergi
setelah Wahyu mengiyakannya.
“Karena saya terburu-buru dan tidak bisa menjelaskan panjang lebar. Jadi, buku tanda tangan milik teman kalian biar dia sendiri yang datang menemui dan mengumpulkannya pada kami.” Jelas Wahyu.
“Gue ke ruangan dekan dulu, tolong lo urus.” Ucap Wahyu pada Rio yang hanya bisa
mengiyakan karena memang tugasnya sebagai wakil ketua HIMA.
Wahyu meninggalkan ruangan HIMA, untuk memenui panggilan pak dekan.
***
Aliza yang sudah sampai di parkiran kampus, tanpa membuang waktu langsung menuju
ruangan HIMA yang sudah didatanginya tadi.
Ketika sudah dekat di ruangan HIMA, dia melihat Wahyu yang baru keluar dari ruangan
HIMA dan terlihat buru-buru. Dia menghentikan langkah dan mengamati punggung
Wahyu yang menjauh dari pandangannya.
Wahyu tidak melihatnya, karena arah yang
menjadi tujuan Wahyu yaitu ruangan dekan berbeda dengan arah Aliza yang baru
datang.
__ADS_1
Setelah melihat Wahyu, kejadian ketika mereka makan siang bersama kembali
muncul dipikirannya. Menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
Menggelengkan kepalanya berulang untuk membuyarkan lamunannya, dan fokus pada
tujuannya untuk ke ruangan HIMA menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa baru.
***
Flashback on
Aliza dan Wahyu menuju restoran yang berada tak jauh dari kampus, dengan mengendarai
mobil Aliza. Tanpa meminta izin terlebih dulu, wahyu langsung meminta kunci
MOBIL Aliza dan mengendarainya.
Setelah menempuh waktu lebih kurang lima belas menit, Wahyu dan Aliza akhirnya sampai
di restoran yang tak jauh dari kampus.
Mereka berdua keluar setelah Wahyu
memarkirkan mobilnya di antara mobil pengunjung lainnya yang memenuhi parkir di
depan restoran. Mobil-mobil yang terparkir tidak menggangu keindahan restoran,
karena area depan restoran yang terbilang cukup luas dan mobil yang berjejer
rapi di parkiran sesuai arahan dari tukang parkir restoran.
Masuk ke dalam restoran, memilih tempat duduk yang kosong diantara tempat duduk yang
sudah dipenuhi banyak orang karena memang sudah jadwal makan siang.
Restoran ini cukup terkenal dengan makanan yang enak dan berkualitas. Banyak para
pengunjung dari kalangan atas seperti pejabat dan pengusaha untuk makan siang
Seorang pelayan restoran mendatangi mereka berdua yang masih berada di dekat pintu dan
masih melihat sekeliling restoran mencari tempat yang kosong, dan mengarahkan
mereka menuju tempat duduk kosong yang berada jauh dari pintu masuk restoran.
“Silahkan tuan, nona” Ucap pelayan tersebut ramah.
“Terima kasih.” Ucap Aliza lalu memilih kursi yang berhadapan dengan Wahyu.
“Silahkan menunya tuan, nona.” Ucap pelayan sambil menunjuk menu yang ada di atas meja.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Wahyu yang akhirnya membuka suara, setelah mereka berdua yang lebih memilih diam selama di dalam mobil.
“Aku pesan spagheti sama jus jeruk kak.” Ucap Aliza sembari membolak bail menu yang
ada ditangnnya.
“Disamain aja pesanannya mbak.” Ucap Wahyu pada pelayan perempuan yang masih setia di
samping mereka.
“Baik tuan, apa masih ada yang mau dipesan tuan, nona?” tanya pelayan.
“Itu aja mbak, terima kasih.” Jawab Aliza.
Setelah mendengaar jawaba Aliza, pelayan pun pergi untuk menyampaikan pesanan mereka pada koki yang ada di dapur restoran.
***
“Bagaimana kuliahnya?” tanya Wahyu menatap Aliza, agar keheningan tidak lagi melanda
__ADS_1
mereka seperti ketika berada di dalam mobil.
“Lancar kak.” Balas Aliza yang juga menatap Wahyu.
“Kalau ada kesulitan dan tugas yang tidak dimengerti, kamu boleh hubungi aku.” Ucap
Wahyu lembut dengan mata yang masih tak lepas menatap Aliza.
“Ah iya kak, terima kasih.” Balas Aliza tersenyum.
“Tidak usah sungkan, itu sudah menjadi tugasku karena pernah menjadi senior kamu di
SMP dan juga senior pembimbing kamu di kampus.”
Belum sempat Aliza menjawab, pelayan datang mengantarkan makanan yang sudah mereka pesan
sebelumnya.
Selesai meletakkan makanan di atas meja, pelayan tersebut
mempersilahkan pelanggannya makan lalu permisi untuk melanjutkan pekerjaan
lainnya.
Mereka berdua pun mulai menyantap makanan masing-masing.
“Setelah lulus SMP, aku pindah dan melanjutkan sekolah ke luar kota ikut orang tua yang
mengurus bisnis di sana. Sedangkan bisnis disini, diserahkan pada kakakku.“
Jelas Wahyu sembari mengaduk-aduk spagheti dengan garpu, padahal Aliza tidak
meminta penjelasan apapun, mengenai kabar Wahyu setelah lulus SMP.
Aliza yang mendengarnya, spontan menatap Wahyu. Dahinya yang berkerut mendengar itu,
dapat dipahami baik oleh Wahyu mengenai raut wajah Aliza yang bingung.
“Kamu memang tidak membutuhkan penjelasan ini. Dengarkan saja aku bercerita, agar
kamu tidak salah paham.” Tambah Wahyu sembari tersenyum, lalu kembali
melanjutkan makannya.
“Salah paham? Maksudunya apa coba?”
batin Aliza sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
“Setelah lulus SMA, aku lebih memilih melanjutkan kuliah di sini dan meninggalkan kedua
orang tua ku yang masih menjalankan bisnis di luar kota.”
“Aku pindah kesini untuk membantu kakakku mengelola perusahaan kalau ada waktu setelah kuliah. Aku juga kembali kesini untuk memastikan sesuatu ” Tambahnya lagi panjang lebar dengan menatap dalam
mata Aliza yang juga menatapnya.
“Sesuatu?” tanya Aliza penasaran, yang akhirnya membuka suaranya setelah setia mendengar Wahyu bercerita.
“Iya, nanti kamu juga akan tahu. “ jawab Wahyu dengan senyum yang tak lepas dari
bibirnya.
Setelah ucapan Wahyu yang terakhir, mereka kembali diam dan melanjutkan untuk
menghabiskan makanan masing-masing.
***
Halo semuanya!!
Aku kembali lagi!
__ADS_1
Semoga suka dan dapat mengisi waktu luang kalian.
Terima kasih yang sudah mau mampir dan membaca novel saya.