Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Tersedak


__ADS_3

Di ruangan makan,


Papa Ridwan, Mama Suci, dan Zaki nampak sedang makan malam.


“Dimana Aliza?” tanya papa Ridwan, karena lagi-lagi tidak mendapati Aliza ikut makan malam.


“Aliza sedang pergi keluar bersama temannya.” Jawab Mama Suci.


“Anak itu sekarang jarang sekali ikut makan malam di sini.” Ucap Papa Ridwan sedikit marah. mengingatAliza yang lebih sering menghabiskan makan malamnya di kamar.


“Sudahlah mas, tidak-apa-apa. Aliza masih butuh waktu.” Ucap mama suci, sembari tersenyum hambar.


Papa Ridwan menghela napas, agar mengurangi emosi yang mulai menguasainya.


“Kalau Aliza pulang, suruh dia menemuiku di ruang kerja.” Papa Ridwan menghentikan makannya yang belum habis. “Tolong bawakan buah-buahan ke ruanganku.” Ucap Papa Ridwan meminta tolong pada mama Suci.


“Iya mas,” jawab Mama Suci.


“Kakak Aliza kemana, ma?” tanya Zaki.


“Mama tidak tau sayang, kak Aliza pergi bersama temannya.” Jawab mama Suci sembari tersenyum. “Ayo lanjutkan lagi makannya,” ucap mama Suci.


Mama Suci meminta tolong pada Bik Mauli untuk memotongkan beberapa buah untuk Papa Ridwan.


***


Mereka mulai menikmati bakso yang masih panas. Terasa enak, didukung dengan cuaca yang dingin karena hujan


“Kak,” ucap Aliza setelah menelan bakso pertamanya.


“Apa?” jawab Wahyu dengan mulut yang masih mengunyah.


Aliza berniat ingin bertanya pada Wahyu mengenai Ayu yang pindah ke kelompoknya, sedangkan Ayu sudah pernah tampil presentasi dengan kelompok sebelumnya.


“Kalau masalah itu aku kurang tahu, lebih baik tanya langsung sama dosen yang bersangkutan. Takut nanti kelompok kalian juga kena imbasnya.” Jelas Wahyu setelah Aliza menceritakan semuanya.


“Iya, Rangga juga bilang begitu tadi.” ujar Aliza.


“Rangga siapa?” tanya Wahyu dengan mimik wajah berubah masam.


Aliza merasakan perubahan raut wajah Wahyu.


“Ketua kelompok kami.” Ucap Aliza lirih, tapi masih bisa di dengar Wahyu.


“Kak, kata orang sama ibuk tu susah dapat nilainya.” Adu Aliza. memasukkan kembali bakso ke dalam mulutya.


“Iya, ibuknya memang seperti itu. Semuanya harus sempurna kalau mau nilai tinggi.”


“Kalau kakak dulu dapat nilai berapa dari ibuknya?” tanya Aliza.


“Nggak terlalu tinggi. Cuma dapat A.” Ucap Wahyu merendah.


“Cuma? Dapat A? Kakak bilang nggak terlalu tinggi?” Aliza sedikit kesal mendengar pernyataan Wahyu.


“Haha,” Wahyu tertawa senang melihat mimik wajah Aliza yang kesal.


 “Kata teman-teman, jarang ada yang dapat Nilai A sama ibuknya,” ujar Aliza, mengingat perkataan teman sekelasnya.


“Mau tau caranya nggak?”  tanya Wahyu. setelah menghabiskan baksonya.


“Cara dapat nilai A kak?” tanya Aliza memastikan. Mempercepat makan baksonya, karena melihat bakso Wahyu yang sudah habis.


“Nggak menjamin dapat nilai A, tapi dapat nilai di atas rata-rata.” Jawabnya setelah minum setengah gelas air.


“Serius ada caranya kak? Kalau ada, mau.” Aliza terlihat antusias.


“Caranya ya sama seperti mata kuliah lainnya. Rajin bertanya, rajin jawab pertanyaan, menguasai materi ketika presentasi.” Jelas Wahyu menahan senyum.


“Ih kakak, itu kan memang harus. Setiap mata kuliah kan harus begitu.” Jawab Aliza merengut. Dia pikir ada cara lain yang dilakukan untuk mendapatkan nilai A. Semua cara yang dikatakan Wahyu, juga sudah diterapkannya disetiap mata kuliah.


“Cara spesialnya juga ada.”


“Apa kak?” Ucap Aliza antusias.


“Tapi ada syaratnya.”


“Syarat? Kok pake syarat kak?” tanya Aliza heran,


“Mau nggak?” Tawa Wahyu.


“Iya deh mau, syaratnya apa?” ucap Aliza menyetujui syarat Wahyu.


“Jangan pernah menghindar lagi ya,” Wahyu terdengar memohon.


Aliza yang sedang minum, tersedak mendengar penuturan Wahyu. Berusaha untuk meredakan batuk akibat tersedak.


“Hei, kenapa?” Wahyu memberikan segelas air agar meredakan batuk Aliza.


Aliza menerima dan segera meminumnya.


“Wahyu,” Suara seorang laki-laki terdengar memanggil nama Wahyu.


Aliza dan Wahyu menoleh ke arah sumber suara.


“Ngapain lo disini?” ujar teman Wahyu.

__ADS_1


“Lo lihat lagi apa?” Kesal Wahyu.


“Makan bakso. Boleh gabung kan?” Padahal dia sudah duduk disamping Wahyu. diikuti teman perempuannya yang duduk di sebelah kursi Aliza.


“Udah punya cewek lo sekarang,” ucap Andre teman Wahyu tanpa filter sembari menatap Aliza.


Wahyu bergeming.


“Lo ngapain ke sini? Tanya Wahyu mengalihkan pembicaraan.


“Lagi neduh. Sekalian makan bakso. Iya kan sayang?” Mencari pembenaran pada pacarnya yang duduk di sebelah Aliza.


“Namanya siapa?” Andre mengulurkan tangannya ke depan Aliza, bermaksud untuk berkenalan.


Belum sempat Aliza mengulurkan tangannya, Wahyu segera menjauhkan tangan Andre dari jangkauan Aliza.


Andre bingung. Belum sempat protes terhadap tindakan Wahyu, Andre kembali mengalihkan pandangan karena mendengar jawaban Aliza.


“Aliza kak,” jawab Aliza.


Bakso milik Andre dan pacanya sudah datang.


“Makan lagi yuk,” ucap Andre, sembari memasukkan saos dan kecap pada baksonya.


“Udah kenyang,” jawab Wahyu.


Aliza terlihat tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Dia melirik Wahyu yang ternyata juga sedang melihatnya.


Wahyu melirik ke arah luar, Hujan sudah mulai reda. Walaupun masih ada gerimis yang jarang turun. Kembali menatap Aliza, seperti meminta persetujuan.


Aliza yang seakan paham, mengedipkan kedua matanya.


“Gue pulang dulu” ucap Wahyu lalu beranjak dari duduknya, diikuti Aliza yang juga beranjak dari duduknya.


“Oh oke, hati-hati di jalan.” Ujar Andre sambil mengunyah baksonya.


Sesampainya di dekat motor,


“Langsung pulang?” tanya Wahyu memastikan. Aliza menganggukan kepalanya.


Setelah mereka berdua duduk di atas motor, Wahyu kemudian mengendarai motornya ke arah rumah Aliza.


Setelah sampai di depan gerbang rumahnya, Aliza kemudian memberikan helm yang dipakainya pada Wahyu.


“Kak,” ucap Aliza.


Wahyu menatap Aliza yang berdiri di sampinya.


“Cara spesialnya apa?” tanya Aliza yang penasaran, karena tadi Wahyu belum sempat mengatakannya.


Wahyu tersenyum. “Nanti aku telepon, sekarang masuklah.”


“Masuklah, di sini dingin. Hujan juga masih ada.”


Setelah Aliza menghilang dari pandangannya, Wahyu kemudian melajukan kembali motornya untuk pulang ke rumah.


***


Aliza yang baru masuk ke dalam rumah, mendapati mama Suci dan Zaki di ruang tengah. Dia nampak menemani Zaki mengerjakan tugasnya.


Mendengar suara Pintu yang terbuka, mengalihkan perhatian mama Suci ke arah sumber suara. “Liza, sudah pulang?” Tanya mama Suci sambil melihat Aliza.


Aliza hanya bergeming.


“Liza, tunggu dulu.” Menghampiri Aliza yang menghentikan langkahnya.


“Kamu ditunggu papa di ruang kerja nya.” Ucap mama Suci hati-hati, takut salah bicara. Belum selesai mama Suci bicara, Aliza segera pergi menuju ruangan kerja papa Ridwan.


Setelah sampai di depan ruang kerja papa Ridwan, Aliza menarik napas pelan. Dia yakin papa Ridwan pasti ingin memarahinya.


Membuka pintu, mendapati papa yang sedang memeriksa beberapa dokumen di depannya.


“Pa,” Sapa Aliza.


“Duduklah,” ucap Papa Ridwan sembari menujuk sofa dengan dagunya.


Aliza menuruti perintah papanya.


“Dari mana kamu?” Tanya papa Ridwan sembari berjalan mendekat ke arah Aliza. duduk di sofa depan Aliza.


“Dari luar pah,” ucap Aliza dengan polosnya.


“Iya, papa tahu kamu dari luar. Maksudnya kamu ke luar pergi kemana?” ucap papa Ridwan lembut.


“Cari angin pa,” sahut Aliza.


“Sudah makan?” tanya papa Ridwan lagi, sembari menatap Aliza di depannya.


“Udah pa, tadi makan bakso di jalan.” Jawab Aliza.


“Kamu tahu kenapa papa panggil kamu ke sini?”


“Karena keluar malam?” tebak Aliza.


“Papa perhatikan kamu jarang sekali ikut makan malam bersama kami. Kenapa?”

__ADS_1


“Papa tahu alasannya,” jawab Aliza sembari menundukkan kepalanya.


Terdengar papa Ridwan menghela napasnya.


“Aliza kamu,,,”


Aliza menyela ucapan papahnya.


“Maaf pa, Aliza nggak akan pernah bisa menerima kehadirannya. Mama nggak bisa digantikan oleh siapapun itu.” ucapnya dengan suara bergetar.


“Aliza, mama kamu udah meninggal.” Mulai terbawa emosi.


“Terus, kalau mama udah meninggal. Dia bisa seenaknya ngambil posisi mama di rumah ini?” Ucap Aliza sedikit mengeraskan suaranya, seiring dengan emosinya yang mulai memuncak.


“Aliza,” bentak papa Ridwan. Aliza kaget mendengar bentakan papa Ridwan yang seakan menggetarkan hatinya.


“Apa papa juga akan menggantikan posisi liza dengan anaknya itu?” ucap Aliza dengan air mata yang mulai menggenang.


“Aliza, kamu benar-benar membuat papa marah.” Ucap papa Ridwan emosi. “Kalau begini terus, kapan kamu bisa dewasa?” menurunkan nada bicaranya.


“Diam, dengarkan papa bicara!” seru Papa Ridwan menyela Aliza yang terlihat akan membuka suara. Aliza bergeming.


“Mengertilah, papa sudah menikah dengannya. Sekarang dia juga mama kamu. Anaknya juga jadi anak papa dan adik kamu. Papa juga menikah demi kamu.” Jelas papa Ridwan lembut.


“Aliza nggak pernah minta papa untuk menikah lagi,” ucapnya dengan suara lirih tapi masih bisa terdengar.


“Aliza,,,”


“Maaf pah. Sudah Aliza katakan, kalau Aliza nggak akan pernah menganggap dia sebagai mama. Mama Aliza cuma satu, mama Elsi. Aliza juga nggak punya adik. Aliza anak satu-satunya dari mama Elsi.“ tutur Aliza, lalu beranjak dari duduknya, meninggalkan papa Ridwan yang terus memanggil namanya.


Membuka handle pintu. Terkejut mendapati mama Suci di depan pintu dengan wajah sendu. mengabaikannya, meneruskan langkah kakinya menuju kamar. Meninggalkan Mama Suci yang terus melihat ke arahnya.


Air mata mulai membanjiri pipi mama Suci. Buru-buru mengusapnya. Kembali menemani Zaki di ruang tengah.


***


Hari Sabtu, Aliza tidak memiliki jadwal kuliah. Tetapi, dia tetap datang ke kampus karena para mahasiswa baru disuruh untuk kumpul.


Di sinilah para mahasiswa baru sekarang, di tengah lapangan tempat mereka sebelumnya berkumpul saat OSPEK.


Wahyu terlihat sedang memberikan arahan di depan para mahasiswa yang nampak tenang dan diam memperhatikan.


“Sebelumnya, kami sudah menyampaikan pada kalian semua. Bahwasanya mahasiwa yang tidak memiliki senior pemibimbing dan tanda tangan senior yang kurang akan mendapatkan sanksi.” Ucap Wahyu lantang menggunakan mic.


Mahasiswa baru nampak heboh setelah mendengarkan penuturan Wahyu.


“Kita semua aman kan?” tanya Aliza pada kelima temannya. Mereka semua mengiyakan. Kecuali Ayu yang terlihat sedih.


“Ayu gimana?” tanya Aliza, karena Ayu hanya diam dan tidak merespon pertanyaannya.


“Gue nggak punya senior pembimbing.” Ucap Ayu lirih. Mereka berempat terkejut mendnegar penuturan Ayu.


“Semoga hukumannya nggak berat ya,” Hilya mengusap pelan punggung Ayu.


Mahasiswa kembali tenang mendengar arahan Wahyu.


Wahyu mengumumkan mahasiswa yang mendapatkan julukan raja dan ratu sosial karena mendapat tanda tangan senior paling banyak. Mereka dipersilahkan maju ke depan untuk menerima hadiah dan sertifikat. Hal ini tentunya diabadikan oleh panitia yang bertugas sebagai dokumentasi.


Setelahnya, Wahyu mengumumkan nama-nama mahasiswa yang akan kena sanksi, karena tidak memenuhi tugas sebagai mahasiswa baru untuk mendapatkan senior pembimbing dan tanda tangan senior.


“Nama-nama yang saya sebutkan tadi, tetap kumpul di sini dan tidak boleh bubar. Mahasiswa lainnya boleh bubar.”


Para mahasiswa yang tidak disebutkan namanya pun keluar dari barisan, begitu juga dengan Aliza dan teman-temannya, kecuali Ayu.


“Ayu, kami duluan ya. Maaf nggak bisa bantu lo.” Ucap Aliza sedih.


“Iya, nggak papa.” Ayu berusaha tersenyum.


Setelah pamit pada Ayu, mereka meninggalkan barisan.


Aliza melirik ke arah Wahyu yang terlihat bicara dengan Senior lainnya.


“Kita mau kemana nih?” tanya Nisa.


“Pulang?” tanya Hilya.


“Kita ke kantin aja yuk, siapa tahu hukumannya nggak lama. Jadi kita bisa nunggu Ayu.” Ujar Aliza memberi saran.


Semua temannya menyetujui saran dari Aliza. Mereka mengarahkan langkah kaki ke kantin kampus.


***


Mahasiswa yang tidak memenuhi tugas, dihukum dengan membersihkan toilet fakultas, ruangan HIMA, dan memungut sampah yang berserakan di lingkungan kampus.


“Gue ke kantin dulu, mau beli minum.” Ucap Wahyu pada Rio yang ada di sebelahnya. Mereka kini sedang mengawasi mahasiswa yang sedang memungut sampah.


“Gue juga.” Mengikuti Wahyu, meninggalkan para mahasiwa yang sedang menjalankan hukuman. Ada yang pasrah dan tentu saja ada mahasiwa yang merasa tidak terima.


Terus mengomel dan mengoceh kata-kata kotor, mengeluarkan keluh kesahnya. Terik matahari yang menyengat kulit, menjadi saksi kekesalan para mahasiswa baru yang sedang menjalankan hukuman.


*


*


*

__ADS_1


Terima Kasih sudah membaca!


Semoga suka...


__ADS_2