Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Kapan?


__ADS_3

Setelah mengucapkan terima kasih pada Wahyu dan Rio. Aliza menyuruh teman-temannya untuk istirahat.


Aliza kembali ke posisi duduknya seperti tadi. Sedangkan Wahyu dan Rio masih tak bergeming dari situ. Hingga teman dance Aliza mendekati mereka.


“Kak Wahyu, apa saya boleh bertanya sesuatu?” ucap Ani teman dance Aliza.


“Iya, ada apa?” ucap Wahyu langsung. Dia melirik Ani sekilas, lalu beralih menatap Aliza yang nampak sedang memejamkan matanya.


“Apa Kak Wahyu mau jadi senior pembimbing saya?” ucap Ani berani.


“Saya sudah jadi senior pembimbing Aliza.” Ucap Wahyu percaya diri.


Sontak Ani langsung melihat Aliza, yang kini sedang membuka matanya lebar dengan mulut ternganga seakan tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Dari tadi dia bisa mendengar apa saja yang dibicarakan Wahyu dan Ani walaupun matanya yang terpejam.


“Aliza? Itu gue kan? Kapan gue minta dia jadi senior pembimbing? Bagaimana mungkin gue mau dia jadi senior pembimbing? Gue aja nggak mau dia jadi senior pembimbing gue. Gila!” Batin Aliza penuh pertanyaan. Dia menelan salivanya dengan susah payah, sembari melihat ekspresi setiap orang. Penuh keterkejutan dan pertanyaan.


“Kak, saya__” belum sempat Aliza meneruskan ucapannya langsung dipotong oleh Wahyu.


“Kalau sudah pulang, tunggu saya di taman!” ucap Wahyu berlalu pergi meninggalkan Rio yang masih jadi patung bingung. Setelah mendapatkan kesadaranya, dia menyusul Wahyu yang ternyata sudah sampai pintu ruangan.


Ani yang dari tadi diam, menghampiri Aliza.


“za, kapan lo minta Kak Wahyu jadi senior pembimbing lo?” tanya Ani yang kini duduk di sebelah Aliza.


“Kapan? Aduh, mana gue tahu. Kak Wahyu benar-benar gila!” gerutu Aliza dalam hati.


“Tadi.” Ucap Aliza setelah berpikir sebentar.


“Lo kenal ya sama Kak Wahyu?” tanya Ani lagi.


“Nggak. Gue baru kenal Kak Wahyu saat hari pertama OSPEK.” Jawab Aliza bohong.

__ADS_1


“Kalau kalian nggak saling kenal sebelumnya, kok dia bisa semudah itu ya, mau jadi senior pembimbing lo? Kata orang, minta Kak Wahyu jadi senior pembimbing itu susah.” ucap Ani.


“Nggak tau.” Ucap Aliza singkat. Padahal dia sendiri juga bingung.


“Apa gue harus bersyukur ya? Seorang Wahyu yang kata orang susah untuk diminta jadi senior pembimbing. Malah begitu mudah, bukan mudah deh, kan gue belum coba. Sangat-sangat sangat tidak mungkin. Dia langsung menunjuk dirinya sebagai senior pembimbing tanpa gue minta. Apa karena kita saling kenal?“ batin Aliza.


“Kalau emang susah, kok lo nawarin ke dia jadi senior pembimbing lo.” ketus Aliza.


“Sebenarnya gue tadi nyoba-nyoba aja. Kayak uji nyali gitu. Penasaran. Apa memang susah untuk minta dia jadi senior pembimbing? Kalau emang dia nggak mau, gue sih nggak masalah. Rencana gue mau langsung minta sama Kak Rio, kalau dia nggak mau.” Seru Ani percaya diri.


***


“Lo sakit, yu?” Rio menyentuh kening Wahyu yang kini sedang bersandar di sofa sembari memejamkan matanya.


“Apaan sih lo.” Wahyu menepis tangan Rio.


“Gue tadi nggak salah dengar, ya?” Rio masih membayangkan adegan yang langsung disaksikannya dengan mata dan kepalanya sendiri.


“Jawab apa?” Wahyu yang tak kalah kesal. Kini dia sudah membuka matanya dan menatap Rio tajam.


“Pertanyaan gue tadi!”


“Pertanyaan yang mana? Kan lo ngajuin dua pertanyaan?” tanya Wahyu dengan nada kesal.


“Yang kedua.” Jawab Rio.


“Apa?” tanya Wahyu lagi.


“Apa? Maksud “Apa” itu apa?” Rio semakin kesal.


“bunyi pertanyaan lo tadi, begok.” Gerutu Wahyu kesal.

__ADS_1


“Bilang dong dari tadi.”


“Tadi waktu di ruangan A, gue nggak salah dengar, kan?” lanjt Rio.


“Telinga lo ada masalah nggak?” jawab dengan pertanyaan.


“Apa hubungannya dengan telinga gue. Telinga gue baik-baik aja kok.”Rio meninggikan nada bicaranya.


“Kalau telinga lo baik-baik aja. berarti lo NGGAK SALAH DENGAR.” Ucap Wahyu dengan menekan setiap katanya.


“Sejak kapan lo mau jadi senior pembimbing?” tanya Rio yang penasaran.


Semenjak mereka jadi senior, Wahyu tak pernah mau jadi senior pembimbing para juniornya. Padahal banyak yang memintanya untuk jadi senior pembimbing mereka. Waktu itu dia sempat ditegur, tapi dia selalu punya alasan untuk membela diri. “kita kan nggak harus mau” begitulah alasan yang selalu dilontarkan Wahyu.


“Sejak tadi.” Ucap Wahyu ketus.


“Emangnya kapan dia minta lo jadi senior pembimbing? kita kan selalu bareng.” Ucap Rio. Di kampus mereka memang selalu bersama kemanapun dengan teman yang lainnya. Bahkan di luar kampus pun, mereka kadang terlihat bersama untuk sekedar pergi bersantai atau beberapa kepentingan.


“Kok lo banyak tanya sih? Emangnya lo siapa? Pacar gue? Bokap atau nyokap gue? Asisten gue? Pengawal gue yang setiap saat ada dimana pun?” ucap Wahyu kesal.


“Gue kan sahabat terganteng lo. Sekaligus wakil ketua HIMA.” Rio penuh percaya diri.


“Tau ah, gue capek.” Wahyu kembali menyandarkan badannya di sofa dan memejamkan mata. Rio pun mengikuti apa yang dilakukan Wahyu. Percuma saja dia masih terus bertanya, palingan nanti dikacangin lagi.


*


*


*


Jangan lupa like dan komen!

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca!


__ADS_2