Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
King Queen Ratu Terlambat


__ADS_3

Aliza yang baru tiba di kampus, langsung menuju ruang HIMA. Hari ini adalah hari yang sudah ditentukan untuk mengumpulkan tanda tangan dan biodata senior pembimbing. Agar tidak berdesakan dan berebutan, jam pengumpulan tiap kelasnya berbeda. Kelas Aliza mendapatkan giliran ketiga, tepatnya pada waktu siang.


Amila sudah menunggu di depan ruang HIMA.


“Mil, udah lama?” tanya Aliza sembari duduk di samping Amila.


“Udah,” jawab Amila ketus. Dia kesal karena sudah lama menunggu teman-temannya.


“Marah nih, kayaknya?” ledek Aliza.


“Ya marahlah. Gue udah nunggu dari tadi. “ sewot Amila.


“Lo aja yang kerajinan. Waktunya aja baru lewat 15 menit.” Aliza tak mau kalah.


“Hilya sama Nisa aja belum datang.” Lanjutnya.


“Kalau mereka emang ratunya terlambat.” Ucap Amila sembari tertawa. Aliza pun ikut tertawa.


“Gue mau ke toilet dulu. Kebelet. Titip tas, ya.” Seru Aliza.


“Udah cepat sana. Gue nggak mau dekat sama orang bau pup.” Ledek Amila. Aliza hanya membalas dengan melototkan matanya, lalu beranjak dari duduknya untuk pergi ke toilet.


***


“Kok datangnya sekarang, sih. Pantas aja perutnya sakit dari tadi.” Gumam Aliza berdiri di depan pintu toilet dengan kedua tangan berada di pinggangnya.


Selesai mencuci tangan, Aliza melangkahkan kakinya menuju Ruangan HIMA, tempat Amila menunggunya.


Sesampainya di depan ruangan HIMA, dia langsung mendekati Amila sedang mengobrol dengan Rangga.


“Rangga kapan datang?” tanya Aliza pada Rangga yang sedang menatapnya.


“Barusan.” Jawabnya sambil tersenyum.


“Mil, sini deh.” Aliza menarik lengan Amila agar berdiri.


“Rangga bentar, ya.” Lanjutnya.


“Ada apa?” Amila yang keheranan karena ditarik Aliza menjauhi Rangga dan kumpulan mahasiswa lainnya.


“Gue titip buku tanda tangan sama data senior pembimbing, ya?” pintanya dengan wajah memelas.


“Lah, emang lo mau kemana?” tanya Amila dengan mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Gue mau pulang. Gue lagi datang bulan. Nggak bawa pembalut. Tolong, ya!” Jelas Aliza dengan suara pelan agar tak ada yang mendengarnya.


“Makanya kalau datang bulan pakai pembalut, dong.” Celetuk Amila tanpa memelankan suaranya. Mahasiswa lain yang mendengarnya spontan melihat ke arah mereka.


“Lo kalau ngomong di rem, dong. Bikin malu aja.” Kesel Aliza sembari menatap tajam Amila yang cengengesan.


“Gue aja baru tahu tadi waktu di toilet. Gimana mau pake pembalut, coba?” lanjutnya.


“Ooo,” Amila hanya membalasnya dengan ber-oh-ria.


“Gue nitip, ya. Nanti bilang aja sama seniornya gue lagi sakit. Oke?” pinta Aliza.


“Oke.” Jawab Amila pasrah.


Aliza memberikan buku tanda tangan dan data senior pembimbing dari dalam tas, dan menyerahkannya pada Amila.


Setelah pamit pada Rangga dengan alasan ada urusan, Aliza akhirnya pulang duluan. Walaupun banyak pertanyaan yang hingga di kepalanya, tapi Rangga lebih memilih diam dan tak banyak bertanya.


***


Nisa yang baru datang, langsung menghampiri Amila dan Rangga yang masih setia menunggu mereka di depan ruangan HIMA.


“Hai Rangga!” sapanya pada Rangga, dan dibalas Rangga dengan senyuman.


“Dia mau pulang,” jawab Amila.


“Pulang? Cepat amat. Dia kok nggak nungguin kita dulu?” tanyanya dengan nada sedikit kesal.


“Dia lagi datang bulan,” jawab Amila tanpa melihat sekeliling.


Rangga yang mendengar obrolan mereka, hanya bisa tersenyum malu. Akhirnya dia tahu juga alasan Aliza pulang duluan.


“Lah, pulang cuma gara-gara datang bulan?” tanya Nisa heran.


“Kalau lo kepo mending tanya langsung sama Aliza, deh. Gue lagi malas ngobrol sama ratu terlambat”. Ucapnya ketus.


Nisa yang mendengar ucapan Amila pun tertawa.


“Wih, ratu rajin marah nih. “ ucap Nisa yang masih tertawa.


“Kalau gue ratu terlambat, berarti Hilya king queen ratu terlambat, dong.” Lanjutnya.


“Wah, benar juga, lo.” Amila pun ikut tertawa mendengar julukan yang diberikan Nisa.

__ADS_1


“Tuh, orangnya datang.” Ucap Nisa menunjuk Hilya yang baru datang dengan dagunya.


“Hai, king queen ratu terlambat,” ledek Amila. Yang diledek hanya mengerutkan keningnya, bingung.


“Aliza mana?” tanya Hilya, karena tak melihat keberadaan Aliza diantara para sahabatnya itu.


“Woi, sapaan orang balas dulu, dong.” Ucap Amila kesal karena diabaikan.


“Basi.” Ucap Hilya ketus


.


“Aliza belum datang, ya?” tanyanya sembari menatap Rangga, agar menerima jawaban yang dikehendakinya. Percuma nanya sama kedua sahabatnya itu.


“Aliza tadi udah datang. Tapi karena lagi ada urusan, dia pulang duluan.” Jawab Rangga, yang lebih memilih alasan yang dikatakan Aliza, daripada membuat dirinya malu. Karena menguping pembicaraan perempuan.


Walaupun, bukan salahnya sih menguping. Mereka aja yang ngobrolnya terlalu kuat. Tanpa memperdulikan orang-orang disekeliling.


“Urusan?” Hilya yang makin penasaran.


“Kalau lo kepo, mending tanya langsung sama orangnya.” Ucap Amila.


“Udah ah, tanya-tanyanya nanti aja. Mending kita ngumpulin buku tanda tangan. Tuh, orang aja udah banyak yang selesai.” Ucap Nisa, sembari menunjuk kumpulan mahasiswa yang berlalu meninggalkan ruangan hima.


“Yee, kita kan terlambat gara-gara nungguin


kalian si ratu terlambat.” Ucap Amila kesal.


“Heheh, sorry.” Ucap Nisa dengan wajah tanpa dosa.


Mereka pun memutuskan untuk segera mengumpulkan buku tanda tangan, sebelum jadwal untuk kelas mereka habis. Sebelumnya, mereka harus antri terlebih dahulu, dengan mahasiswa yang masih ada di ruangan HIMA.


*


*


*


Terima kasih sudah membaca!


Maaf baru bisa Update!


jangan lupa like dan komen!

__ADS_1


😘😘


__ADS_2