
Kelas terakhir baru saja usai. Kini, Aliza dan temannya berjalan beriringan menuju parkir.
“Lo beneran nggak ikut za,” tanya amila setelah mereka tiba di parkiran.
“Iya, gue lagi ada urusan.” Jawab Aliza.
“Sok sibuk banget sih lo. Kalau bertiga kan nggak seru. Rangga juga nggak bisa ikut.” Amila terlihat merajuk.
Saat di ruang kelas tadi, Amila mengajak teman-temannya untuk pergi karaoke. Aliza tentu saja tidak bisa ikut, karena sudah ada janji dengan Wahyu. Rangga pun sama, tidak bisa ikut. Dia juga sudah ada janji dengan temannya pergi main basket.
***
“Pakai baju yang mana ya?” Aliza terlihat memperhatikan baju-baju yang ada di dalam lemarinya. Mengambil dress hitam lengan pendek selutut. Menempelkan di depan tubuhnya. Meneliti di cermin lemari, untuk melihat cocok atau tidak untuk dikenakan.
“Nggak banget,” melempar ke atas tempat tidur. Mengambil dress warna lilac lengan panjang di bawah lutut.
“Berlebihan”. Melempar lagi ke atas tempat tidur
Sudah 5 pakaian yang dicoba, Aliza belum juga menemukan yang cocok menurutnya.
“Nggak tau mau pakai yang mana.” Bingung sendiri.
Dia bingung, kenapa jadi ribet untuk memilih pakaian saja. Biasanya, jika pergi menonton bareng teman-temannya, dia akan langsung memakai apa saja yang terlihat oleh matanya.
Melirik jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 14.30 WIB. Wahyu akan menjemputnya pukul empat sore. Sisa satu setengah jam lagi untuk bersiap-siap. Mengambil handuk, dan memilih untuk mandi terlebih dahulu.
Usai mandi, Aliza kembali memilih pakaian yang akan dikenakannya.
Pilihannya jatuh pada sweater rajut lengan panjang warna coklat susu. Dipadukan dengan celana jenas panjang warna biru muda. Mengingat mereka akan menonton sampai malam, kemungkinan udaranya akan sedikit dingin.
Selesai memakai baju, Aliza menuju meja rias. Memoleskan beberapa perawatan wajah. Merias wajahnya hanya menggunakan bedak dan sedikit memoleskan lipstik di bibirnya.
Kini Aliza sudah siap. Dua puluh menit lagi wahyu akan menjemputnya.
***
Ponsel Aliza berdering
“Halo kak,” ucap Aliza setelah pangilan terhubung.
“Aku udah di depan gerbang,”ucap Wahyu.
“Tunggu di situ kak,” ucap Aliza, lalu mematikan telepon.
Aliza keluar dari kamar. Melangkahkan kakinya ke dapur untuk mencari bi Mauli. Biasanya jam segini bi Mauli pasti sudah di dapur untuk menyiapkan makan malam.
“Bi,”Panggilnya pada Bi Mauli yang membelakanginya.
“Iya non,” Bi Mauli berbalik untuk melihat anak majikannya itu.
“Liza mau pergi nonton bareng teman. Nanti bilang sama papa ya, bi. Mungkin pulang malam.” Pamit Aliza.
“Iya non, hati-hati.” Jawab Bi Mauli.
Sesampainya di depan gerbang, Aliza melirik ke kiri kanan mencari mobil Wahyu. Ketemu.
Wahyu keluar dari mobil setelah melihat Aliza yang mulai mendekat ke arahnya. Mengitari mobil, dan membukakan pintu di sebelah kemudi.
“Masuklah,” ucapnya lembut setelah berhadapan dengan Aliza.
“Terima kasih kak.” Ucap Aliza tersenyum, kemudian masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan Wahyu.
Wahyu mulai mengendarai mobilnya ke tempat yang akan mereka tuju.
***
Di kafe,
“Aliza kemana ya?” tanya Nisa.
__ADS_1
“Tau tuh, katanya ada urusan. Dia ada bilang nggak sama lo Hil?” tanya Amila.
“Nggak,” Jawab Hilya setelah diam sesaat.
“Biasanya kalau dia ikut, dia tuh paling heboh nyanyi.”
“Lo juga sama,” ledek Hilya.
“Ya, gue cuma sedikit kok. Lebih banyak Aliza hebohnya.”
“Kalian mau dikenalin sama cowok nggak?” tanya Amila antusias.
“Nggak, gue mau fokus kuliah.”
“Iya deh, anak pintar.” Ucap Amila sambil mengusap kepala Hilya.
“Gue bukan anak lo,” Hilya menepis tangan Amila dari kepalanya.
“Lo ketemu cowok dari mana lagi mil?” Tanya Nisa.
“Teman SMP gue. Ketemu di sosial media.” Ucapnya memberitahu.
“Iya deh, ratu sosmed.” Hilya menimpali.
“Pulang yuk, udah sore. Tugas gue belum siap.” Ucap Nisa.
“Bukan lo aja, gue juga belum. “ seru Amila.
Selesai membayar tagihan, mereka pulang dengan mengendarai mobil masing-masing.
***
Selama dalam perjalanan keduanya sama-sama diam. Tidak ada yang mau membuka obrolan, untuk mencairkan suasan yang nampak sunyi.
Mobil yang dikendarai Wahyu dan Aliza sudah tiba di parkiran mall X. Mereka berdua sama-sama keluar dari mobil.
Aliza sedikit terkejut dengan perlakuan Wahyu, dia hanya bisa diam dan membiarkan Wahyu menarik tangannya.
“Kak, aku mau beli popcorn.” Ucap Aliza menghentikan langkahnya saat mereka melewati beberapa penjual makanan.
Usai membeli popcorn dan dua minuman, mereka mencari tempat duduk smebari menunggu pintu bioskop dibuka.
Beberapa menit menunggu, pintu bioskop akhirnya terbuka. mereka menuju tempat duduk sesuai yang ada di tiket.
“Film horor kak?” tanya Aliza setelah film mulai ditayangkan. Aliza bahkan tidak tau film yang akan mereka tonton. Wahyu hanya mengajaknya saja tanpa memberitahukan judul film yang akan ditonton.
“Iya, kenapa?” tanya Wahyu.
“Kakak suka film horor juga ya?” tanya Aliza sembari tersenyum. Merasa senang karena memiliki teman yang juga suka film horor. Amila, Nisa, dan Hilya tidak ada yang menyukai film horor.
“Iya,,,sedikit..” jawab Wahyu sedikit Ragu.
“Sama kak, aku juga suka.” ucap Aliza senang.
Setelah mengatakan itu, Aliza kini fokus menatap layar di depannya sambil memakan popcorn yang sudah dibelinya.
Berbeda dengan Aliza yang sangat menikmati, Wahyu nampak tegang saat adegan demi adegan yang cukup menakutkan muncul.
Saat adegan jump scare, hantu yang tiba-tiba muncul dengan bentuk menyeramkan membuat wahyu yang terkejut reflek memegang tangan Aliza. Wajahnya nampak pias.
Bukan hanya Wahyu yang terkejut, para penonton lainnya juga. Bahkan ada yang berteriak saking kagetnya.
Aliza juga terkejut dengan adegan tersebut, tapi lebih terkejut lagi saat ada tangan yang tiba-tiba memegang tangannya.
Dia lantas melirik orang yang punya tangan. Pria itu terlihat memejamkan mata.
“Kak,” Panggilnya pada Wahyu yang wajahnya kini nampak pucat.
Wahyu menolah.
__ADS_1
“Kakak takut?” tanya Aliza, setelah melihat perubahan wajah Wahyu.
“Nggak, cuma kaget.” Ucapnya, lalu mengalihkan pandanganya ke depan.
Tangannyamsemakin erat memegang tangan Aliza. Aliza membiarkannya. Dia bahkan tersenyum melihat wajah Wahyu yang tegang.
Wahyu tidak terlalu fokus menonton. Dia lebih banyak menatap gadis cantik yang ada di sampingnya. Jika ketahuan, dia akan segera mengalihkan pandangannya ke depan.
Tentu saja Aliza tahu, jika Wahyu terus saja memperhatikannya. Dia bisa melihat Wahyu dari sudut matanya. Wahyu bahkan tidak melepaskan tangannya.
***
Film sudah usai. Kini mereka sedang berada di sebuah restoran yang ada di mall. Wahyu mengajak Aliza untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang
Chicken teriyaki dan Beef Steak sudah terhidang di atas meja mereka. Berdampingan dengan dua minuman Es thai tea.
Mereka mulai menyantap makanan mereka. Tanpa ada obrolan.
Selesai makan dan membayar tagihan. Wahyu kemudian mengantarkan Aliza pulang. Sebelumnya Wahyu sempat menawarkan jika Aliza ingin membeli sesuatu atau mampir ke suatu tempat. Aliza meminta untuk langsung pulang.
Sesampainya di depan gerbang rumah Aliza,
“Kak, berhenti di sini aja.” ucap ketika mereka di depan gerbang.
Wahyu menghentikan mobilnya.
“Nggak papa?” tanya Wahyu.
“Iya, terima kasih ya kak. Aku masuk dulu.” ucap Aliza, lalu keluar dari mobil.
Berdiri di depan gerbang. Menunggu sampai Wahyu meninggal rumahnya.
Tiga menit kemudian,
Wahyu masih berada dalam mobilnya dan belum beranjak meninggalkan rumah Aliza. Aliza kembali menghampiri mobil Wahyu. Mengetuk kaca mobilnya.
“Kakak kenapa belum pergi?” bertanya langsung, setelah Wahyu menurunkan kaca mobilnya.
“Aku menunggu kamu masuk.” Jawab Wahyu dari dalam mobil.
“Ya ampun,” Aliza menepuk jidatnya.
“Kamu, kenapa belum masuk?” Wahyu yang juga penasaran karna melihat Aliza hanya berdiri di depan gerbang, dan tidak masuk. Dia pikir Aliza ingin mengatakan sesuatu.
“Aku menunggu sampai kakak pergi.” Jawabnya sedikit kesal. Mereka seperti orang bodoh yang saling menunggu. Dia bahkan berdiri selama tiga menit. Dia mana tahu jika Wahyu menunggunya sampai masuk rumah.
“Ya udah, kakak pergi aja dulu.” Ucapnya.
“Masuk dulu, baru aku pergi.” Jawab Wahyu.
“Aku kan udah sampai rumah kak.” Lebih memilih berdebat daripada mengalah.
“Tapi kamu kan belum masuk. Aku harus memastikannya aman dulu, baru pergi.” Wahyu juga masih kuat pendirian.
“Aku kan udah aman kak. Udah sampai rumah. Tuh, rumah ku.” Tunjukknya pada rumah yang terlihat dari luar gerbang.
“Belum aman namanya kalau belum masuk rumah. Kalau tiba-tiba ada penjahat gimana?”
“Ni orang keras kepala juga ya.” batin Aliza.
“Ya udah, aku masuk dulu. Kakak hati-hati di jalan.” Akhirnya memilih mengalah.
Masuk ke rumah, setelah satpam yang berjaga membuka gerbang.
Setelah Aliza tidak terlihat lagi di pandangannya, Wahyu mulai mengendarai mobilnya untuk pulang. Di sepanjang perjalanan pulang, Wahyu terus menyungingkan kedua sudut bibirnya. Membentuk senyum tipis. Mengingat hal yang dilaluinya bersama Aliza tadi. Walaupun cuma pegangan tangan. Itu pun tangannya yang lebih aktif.
Terima Kasih sudah membaca
semoga suka..🥰
__ADS_1