
Wahyu menepati janji untuk ikut bersama teman-temannya pergi menonton bioskop. Di
sinilah mereka sekarang, di sebuah ruangan dengan layar lebar terpampang di depan mereka. Menampilkan adegan dari film yang sudah dinantikan sejak di promosikan di televisi.
“Di sebelah ada cewek cantik tuh,”ujar Rio ke arah Wahyu.
“Hmm,,,” Balas Wahyu yang masih setia menatap layar lebar di depannya.
“Nggak mau lihat nih, kayaknya lo kenal deh,” ucap Rio lagi sembari menatap gadis di
seberangnya.
“Nggak.” Jawabnya Singkat.
“Lihat dulu..” Kesal Rio melihat wahyu yang nampak acuh.
Wahyu hanya bergeming tanpa mau menjawab Rio. Dengan kesal Rio memutar kepala Wahyu
ke sebelah kiri, tempat dimana cewek cantik yang dimaksud Rio duduk. Wajah yang
awalnya kesal atas perlakuan Rio, sedikit terhenyak ketika melihat siapa cewek
cantik yang dimaksud temannya itu.
Setelah menatap beberapa detik, Wahyu meminta untuk tukar posisi duduk dengan Rio.
“Nggak.” Tolak Rio langsung. “Oke, oke.” Ucap Rio akhirnya, setelah melihat tatapan Wahyu seperti pemangsa yang
akan memakan buruannya.
Wahyu terus menatap gadis di seberangnya yang terlihat sangat menikmati film yang ada
di depannya.
Setelah beberapa saat, gadis itu menoleh ke arahnya. Wahyu mengeluarkan ponsel yang ada
di saku celananya. Menunjukkan ponsel yang dipegangnya di hadapan gadis yang masih menatapnya. Seperti memberi isyarat untuk melihat ponselnya.
Semenit saling bertatapan, gadis itu kembali memutar kepalanya ke depan.
Setelah filmnya selesai dan waktunya untuk keluar, Wahyu kehilangan jejak gadis itu,
karena banyaknya penonton menghalangi pandangannya.
***
Aliza sampai di rumah ketika jam menunjukkan pukul 20.15 WIB. Langsung menuju kamar,
menghiraukan orang yang ada di ruang tamu. Mama Suci dan kedua anaknya nampak
sedang bermain. Papa Ridwan mungkin sedang ada di ruang kerjanya. Karena jam
makan malam sudah berakhir.
Melemparkan tas yang sedari tadi dibawanya ke atas tempat tidur. Mengambil baju tidur dari
dalam lemari, dan menunju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, Aliza sudah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi. Duduk di
tepi tempat tidur. Mengambil tas yang dilemparnya tadi, dan mengeluarkan ponsel
canggihnya dari dalam tas.
Membuka aplikasi chatting. Melihat beberapa pesan masuk. Satu pesan menjadi pusat
perhatiannya.
“Kenapa tidak pernah dibalas?”isi pesannya.
Bingung. Aliza bingung bagaimana untuk membalas pesan dari Wahyu. Dia kembali teringat kejadian saat di dalam bioskop.
Wajahnya yang semula ceria, menjadi sedikit tegang ketika melihat tatapan wahyu yang
seakan sedang mengintimidasinya. Wajahnya datar, tetapi matanya terlihat berbicara.
Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menggerak-gerakkan ponsel dengan tangannya. Seperti punya indra ke enam, Aliza seakan mengerti atas apa yang dilakukan Wahyu.
Tebakannya benar. Pria itu mengisyaratkan untuk membaca pesannya. Seperti saat ini, pria
itu kembali mengiriminya pesan.
“Balas apa?” tanyanya bingung. Mengembuskan napasnya pelan. Mulai merangkai beberapa kata di layar keyboardnya.
“Maaf kak. Bukan tidak mau membalasanya. Hanya saja, saya baru melihat pesan dari kakak. Maaf, ya kak.”
Akhirnya menggunakan alasan yang umum digunakan oleh kebanyakan orang. Terkirim dan dua centang biru.
Bukannya balasan yang didapat, tetapi nada dering hp yang berbunyi memberitahukan bahwa nomornya sedang ditelepon oleh seseorang dengan nama kontak Ketua Hima.
Aliza Kaget. Sedikit menjauhkan ponsel dari hadapannya. Sedang asyik berbalas pesan
dengan para sahabat, ponselnya tiba-tiba mengeluarkan nada dering yang biasa
digunakan untuk pertanda ada yang menghubunginya.
Menimang sebentar, dengan cekatan Aliza menekan ikon hijau pada layar ponselnya.
Mendekatkan ponsel ke telinga.
“Halo,”ucap pria di seberang sana.
__ADS_1
“Halo kak,” balas Aliza
“Kenapa pesannya baru dilihat?”Tanya Wahyu lagi
Aliza memejamkan matanya sebentar, sampai akhirnya menjawab.
“Pesannya tenggelam kak sama pesan lainnya. Maaf ya kak,” Aliza terdengar memohon.
“Kalau maafnya nggak diterima?” tanya Wahyu.
Aliza mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Wahyu, diam tanpa menjawab pertanyaan Wahyu.
“Halo, aku masih bicara sama Aliza kan?” tanta Wahyu karena tidak mendapat jawaban dari Aliza.
“Iya kak, masih.”Aliza memijit pelan pelipisnya.
“Kenapa diam? Besok kamu kuliah?”
“Kuliah kak,” jawab Aliza sembari mengangguk, padahal anggukannya tidak akan dilihat Wahyu.
“Kamu mau dimaafkan?”tanya Wahyu, dengan menyunginggkan satu sudut bibirnya.
“Iya kak, mau. Maaf ya kak. Nggak sengaja kok.” bohong Aliza.
“Aku akan maafkan, tapi minta maafnya harus secara langsung.” Ucap Wahyu menahan senyumnya.
Aliza heran dengan maksud perkataan wahyu, bukannya sekarang dia yang langsung minta
maaf padanya. Dan tidak melalui orang lain.
Sedetik kemudian terlintas dibenaknya, kalau maksud perkataan wahyu secara langsung
adalah berhadapan langsung dengan Wahyu, dengan artian bertemu dengannya. Aliza
menepuk pelan dahinya, merasa membenarkan isi pikirannya.
“Maksud kakak?” lebih baik bertanya langsung.
“Besok kabari kamu kosongnya jam berapa!” seru Wahyu.
Setelah mengiyakan ucapan Wahyu, mereka akhirnya sama-sama mengakhiri percakapan.
Aliza merebahkan tubuhnya, melanjutkan obrolan via chat grup dengan para sahabatnya.
***
Kabar Wahyu sang ketua HIMA yang bersedia menjadi senior pembimbing salah satu
mahasiswa baru sudah menyebar. Tentu saja hal ini juga menyebar di telinga para
mahasiswa yang menaruh hati atau sekedar mengagumi sosok Wahyu.
“Kalian tahu siapa orangnya?” tanya salah seorang gadis pada kedua temannya.
“Iya, kita baru dengar itu aja.” Tambah teman lainnya.
“Ah payah,,,” Ucap gadis itu, lalu beranjak dari duduknya.
“Selly mau kemana?” tanya temannya.
“Mau ketemu Shinta.” Ucap gadis yang bernama Selly.
“Tunggu, kami ikut.” Kedua temannya juga beranjak dari duduk dan menghampiri Selly.
***
Selly dan kedua temannya menemui Shinta di kantin, setelah menghubungi untuk menanyakan keberadan orang yang akan ditemuinya itu.
“Kenapa?” tanya Shinta pada Selly yang sudah duduk dihadapannya.
“Yah biasa, cuma mau memastikan gosip yang sedang beredar.” Jawab Selly.
“Hahaha, benar kok. Gue juga awalnya heran.” Ucap Shinta.
“Lo kenal nggak siapa orangnya?” tanya Selly lagi.
“Gue lupa-lupa ingat deh. “ jawab Shinta kemudian mengambil ponselnya yang
tergeletak di atas meja kantin.
Selly nampak kecewa dengan jawaban Shinta.
“Emang kenapa lo mau tau siapa orangnya?” tanya Shinta dengan mata masih menatap
ponsel yang dipegangnya.
“Pengen tau aja sih. Secantik dan sehebat apa dia, sampai-sampai Wahyu bersedia menjadi
senior pembimbingnya.” Jawab Selly menampilkan raut wajah kesal. Mengingat
Wahyu, orang yang selama ini di sukainya, tiba-tiba bersedia menjadi senior
pembimbing salah satu mahasiswa baru. Padahal di tahun sebelumnya dia tidak
pernah bersedia.
“Lo masih aja cemburuan,” goda Shinta.
Hampir semua mahasiswa angkatannya mengetahui bahwa Selly menyukai Wahyu. Hal itu juga menyebar pada mahasiswa tingkat lainnya. Jika ada mahasiswa yang bilang menyukai Wahyu, teman mereka akan langsung mengingatkan “Awas nanti berurusan sama Selly lo.”
Pernah satu kejadian, Selly dengan berani melabrak mahasiswa yang terang-terangan juga menyatakan suka pada Wahyu. Bukannya takut, wanitu itu malah menantang Selly.
__ADS_1
Tentu saja wanita yang memiliki sifat egois tinggi itu tidak mau mengalah. Dengan
menyalahgunakan kekuasaanya sebagai keponakan pemilik kampus, Selly mengancam
akan mengeluarkan gadis tersebut dari kampus yang baru satu tahun jadi tempatnya menimba ilmu. Bukan hanya itu saja, dia juga menjebak gadis itu dan mempermalukkanya di kampus.
Selly sudah keterlaluan. Tetapi dia tidak akan bisa terus melawannya, mengingat sifat
Selly yang tidak mau mengalah. Dia juga tidak bisa meninggalkan kampus yang akan berakibat kekecewaan orang tuanya. Dengan susah payah dia bersangin dengan calon mahasiswa lainnya dan akhirnya diterima di kampus terkenal ini.
Lebih baik dia menyerah saja, lagi pula masih banyak pria di dunia ini. Jangan hanya karena pria yang belum tentu berjodoh, dia merusak masa depannya.
Setelah kejadian itu, gadis itu tidak lagi pernah mendekati Wahyu. Dengan menebalkan
muka dan telinga, dia menjalani kehidupan kampusnya seperti sedia kala.
Walaupun teman-teman banyak yang meninggalkannya karena terhasut fitnahan dari Selly. Tapi tidak mengapa, karena dia masih mempunyai sahabat yang selalu setia
mendukunya.
“Nih ketemu, data-data mahasiswa baru.” Ucap Shinta, lalu menyerahkan ponselnya pada
Selly.
Dengan senang hati Selly menerimanya.
“Tapi lo jangan aneh-aneh ya, dia masih mahasiswa baru.” Shinta memperingati.
“Iya, tenang aja. Selama dia nggak cari masalah sama gue. Gue cuma penasaran dong
kok.”
“Fotonya ada?” tanya Selly sambil memperhatikan layar ponsel Shinta. Di layar tersebut terlihat data berbentuk tabel yang memperlihatkan nama mahasiswa, pembagian kelas mahasiswa, nama dosen pembimbing akademik, dan nama senior pembimbing.
“Nggak ada deh kayaknya di situ. Itu cuma data pembagian kelas. Kalau foto dia yang sama Wahyu itu ada di ruangan HIMA.” Jelas Shinta, lalu menyeruput minuman yang tinggal sedikit.
“Lihatin dong,”Selly memelas.
Ponsel yang ada di tangan Selly bergetar, dia lalu menyerahkan pada sang pemiliknya.
“Halo...” jawab Shinta
“......”
“Oke, gue ke sana.” Ucap Shinta lalu mengakhiri panggilannya.
“Gue pergi dulu ya, gue masih ada jadwal.” Ucap Shinta pada Selly.
“Nanti kalau dapat fotonya kabarin gue ya.”
“Oke, gue pergi dulu.” Shinta meninggalkan Selly dan kedua temannya.
***
Di ruangan kelas, para mahasiswa nampak sedang merapikan meja masing-masing karena
jam perkuliahan telah usai. Begitu juga dengan Aliza dan keempat temannya. Ini adalah jadwal kuliah terakhir mereka hari ini.
Mereka nampak jalan beriringan meninggalkan ruang kelas.
Sepulang dari kampus, mereka akan kerja kelompok di rumah Hilya.
Mereka mengendarai mobil masing-masing ke rumah Hilya.
Sebelum melajukan mobilnya, Aliza terlebih dahulu memberi kabar pada Wahyu bahwa Hari
ini dia belum bisa menepati janjinya untuk bertemu Wahyu.
“Kak, Maaf. Hari ini aku belum bisa ketemu langsung sama kakak. Aku ada tugas kelompok
bareng teman-teman.” Ketik Aliza pada layar ponsel.
Terkirim, dan langsung dibaca.
“Kapan selesainya?” ~ Wahyu
Mulai saja belum, sudah ditanya kapan selesai. Begitulah isi pikiran Aliza.
“Belum tau kak. Kemungkinan sebelum malam."~ Aliza
“Oke, nanti kabari ya.”~ Wahyu
“Baik kak.”~ Aliza
Aliza pun mulai melajukan mobilnya ke rumah Hilya, tempat mereka akan melaksanakan kerja
kelompok.
Dia orang yang terakhir tiba di rumah Hilya. Sesampainya, dia langsung masuk ke
ruang tamu tempat temannya sudah berkumpul, setelah sebelumnya memberikan salam pada Mama Hilya yang ada di rumah. Mereka mulai mengerjakan tugas, ditemani 3
Laptop di atas meja dan beberapa cemilan. Mereka mengerjakan di atas karpet
depan sofa, agar lebih mudah untuk berdiskusi.
*
*
*
__ADS_1
Terima Kasih sudah membaca!