Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Putri Rahayu


__ADS_3

Tadi malam Selly kembali menghubungi Shinta untuk menanyakan foto maba yang berhasil membuat Wahyu bersedia menjadi senior pembimbing. Tetapi Shinta lupa.


Shinta janji, besok dia akan mengambil fotonya. Dan di sinilah mereka sekarang, Shinta meminta Selly datang langsung ke kantin untuk menunjukkan fotonya.


“Gimana, ada kan fotonya?” tanya Selly langsung sembari duduk di depan Shinta.


“Ada, nih.” Shinta Memberikan ponselnya pada Selly. “Gimana menurut lo?” tanya Shinta setelah ponsel berpindah ke tangan Selly.


“Biasa aja.” Ucapnya setelah melihat foto yang ada di layar ponsel Shinta. “Ni cewek kegatelan kayaknya, nempel banget sama Wahyu.” Memperlihatkan foto Aliza dan Wahyu yang berdiri dengan lengan saling menempel.


“Tapi dia cantik juga Sel,” ucap temannya yang bernama Lia.


“Mata lo rabun ya, masih cantikan gue kok.” Tekan Selly. Kesal mendengar ucapan Lia.


“Iya, lo paling cantik.” Ucap Lia lirih


“Jadi lo mau ngapain nih?” tanya Shinta.


“Kalau dia macam-macam, baru gue bertindak. Untuk sekarang, gue diam.” Jawab Selly.


“Udah lah, Sel. Lupain aja Wahyu. Banyak lo, cowok lain yang suka ama lo.” Nasehat Shinta.


“No. Gue punya prinsip. Apa yang gue suka, itu harus jadi milik gue. Terserah gue harus lawan siapapun itu. Gue nggak takut.”


“Sel, lihat itu. Itu bukannya gadis yang ada di foto.Yang pake baju Abu-abu.” Tunjuk Sisil pada sekumpulan empat wanita dan satu pria yang terlihat akan meninggalkan kantin.


“Permisi kak.” Ucap Aliza berbarengan dengan teman-temannya ketika melewati meja Shinta.


“Sial, dia lebih cantik aslinya.” Batin Selly.


***


Setibanya di ruangan kelas, para mahasiswa nampak mengerubungi sesuatu. Membuat Aliza dan teman-temannya keheranan. Mereka lantas mendekat, untuk mencari tahu apa yang terjadi.


“Kenapa?” tanya Aliza pada seorang teman sekelasnya.


“Gue juga nggak tau. Gue baru masuk, udah ramai aja.”


Amila mencoba untuk menerobos kerumunan.


“Hei, kenapa?” Amila sedikit emosi ketika melihat salah satu teman sekelasnya menjambak rambut seorang gadis yang juga teman sekelasnya. Gadis berkacamata yang sedang duduk di kursinya sambil menangis menahan sakit.


Sharen, nama gadis yang menjambak rambut gadis berkacamata.


“Bukan urusan lo.” Tangan Sharen masih setia menjambak rambut gadis itu.


“Tapi jangan main hakim seenaknya dong.” Aliza melepaskan dengan paksa tangan Sharen dari rambut gadis itu.


“Lo pikir main kekerasan fisik bisa menyelesaikan masalah. “Aliza terbawa emosi, ketika melihat jari tangan Sharen ada gumpalan rambut yang terlepas dari kepala gadis itu.


“Lo nggak usah ikut campur, kalau nggak tau apa masalahnya. “ Sharen terlihat marah pada Aliza.


“Apapun masalahnya, kekerasan fisik itu tidak dibenarkan.” Tekan Aliza.


“Ah, benar-benar. Lo tau nggak, gara-gara gadis bodoh ini, nilai kelompok kami bermasalah.” Ucapnya marah dengan mendorong kasar kepala gadis itu dengan telunjuknya.


“Udah Ren. Sabar.” Ucap teman Sharen berusaha menenangkannya.


“Dengar, mulai sekarang lo keluar dari kelompok gue.” ucap Sharen pada gadis itu, lalu beranjak meninggalkan kerumunan menuju kursinya.


Kerumunan sudah bubar. Tinggal Aliza, Amila, Hilya, Nisa dan Rangga masih berdiri di dekat gadis yang masih meneteskan air matanya.

__ADS_1


Belum sempat Amila mendekat, teman sekelasnya mengatakan dosen yang mengampu kuliah datang. Mereka pun mencari tempat duduk yang kosong.


***


Jadwal kuliah hari ini sudah selesai. Aliza dan teman-temannya bersiap untuk pulang.


Amila mendekati tempat duduk gadis berkacamata tadi. Aliza yang melihat pun menyusulnya begitu juga dengan Hilya dan Nisa.


“Lo nggak papa kan?” tanya Amila.


“Iya, gue baik-baik aja. Terima kasih udah nolong gue tadi. “


“Nama lo siapa?” tanya Aliza


“Nama gue Putri Rahayu. Kalian bisa panggil gue Ayu.”


“Maaf ya yu, bukan maksud gue sombong, tapi gue susah ingat nama orang. Apalagi kita belum sebulan genap jadi teman sekelas.”


“Jangan sedih lagi ya, lo bisa masuk ke kelompok kita kok. Iya kan?” tanya Amila melirik Nisa, Hilya, dan Aliza. memberi kode dengan matanya agar mereka menyetujui apa yang dia ucapkan.


“Iya,” balas mereka bertiga serempak.


“Beneran boleh?” tanya Ayu memastikan.


“Iya, boleh. Jangan sedih lagi ya.” Hilya mengusap lembut lengan Ayu.


“Terima kasih banyak, kalian baik sekali.” Ucap Ayu dengan suara bergetar menahan tangis.


“Jangan Nangis. Sekarang kita semua teman lo. Lo mau kan temanan sama kami?” Ucap Nisa tulus.


“Iya, gue mau.” Ayu mengangguk-anggukkan kepalanya senang.


Aliza mengusap lembut punggung ayu untuk menghiburnya.


“Ya udah, pulang yuk!” Ajak Amila.


Mereka semua beranjak meninggalkan ruang kelas.


Rangga mendekati mereka. Sebelumnya dia memilih duduk di kursinya sambil memperhatikan.


“Lo pulang naik apa?” tanya Hilya pada Ayu, saat mereka sedang di lorong menuju luar kampus.


“Gue naik taksi”


“Rumah lo dimana?” tanya Nisa.


“Gue tinggal di jalan Y.”


“Itu daerah rumah gue. Kalau lo mau bareng gue aja.” ajak Aliza.


“Gue naik taksi aja. Gue nggak mau ngerepotin kalian lagi.”


“Gue nggak merasa direpotin kok. Rumah kita juga searah.” Bujuk Aliza.


Akhirnya Ayu bersedia untuk ikut pulang bersama Aliza.


***


“Gue boleh tanya sesuatu nggak?” tanya Aliza saat mereka sedang diperjalanan pulang.


“Iya boleh za.”

__ADS_1


“Maaf, bukan maksudnya gue mau ikut campur. Kita kan kelompok pilih-pilih sendiri, kayak gue sama teman-teman. Lo sama kelompok Sharen temenan juga?”


“Nggak.”


“Terus, kok lo bisa sekelompok bareng mereka?”


“Awalnya nggak ada yang mau sekelompok sama gue. Karena masing-masing udah punya kelompok sendiri.” Menghela napas.


“Gue minta tolong sama dosen. Dosen meminta gue untuk masuk kelompok Sharen.”


“Ooh, oke gue ngerti sekarang.” Hening sebentar.


“Lo jangan masukin ke hati ya perkataan Sharen tadi. Gue paham kok, tugas kuliah kita memang sulit. Lo jangan patah semangat. Berusaha dan belajar terus.” Nasehat Aliza.


Dia paham mungkin Sharen kecewa karena nilai kelompok mereka rendah. Saat presentasi kelompok Sharen tadi, Dia melihat bahwa Ayu memang kesulitan saat menjelaskan materi dan menjawab pertanyaan.


“Sebenarnya, itu bukan sepenuhnya salah gue.”


“Maksudnya?” tanya Aliza heran.


“Gue udah ngerjain tugas bagian gue. Bahkan gue juga udah ngerjain tugas bagian Hani. Waktu tugasnya udah selesai, gue langsung kirim ke Hani.” Menghela napas sebelum melanjutkan kembali ceritanya.


“Tadi waktu presentasi, mereka ngasih gue materi bukan bagian yang gue cari. Materinya bahkan gue belum baca. Mereka nggak ngasih gue materi lengkapnya. Begitu juga dengan pertanyaan, mereka ngasih gue tanggung jawab


untuk menjawab pertanyaan yang bahkan gue nggak ngerti. Karena nggak sesuai dengan materi yang gue cari. “


“Kenapa seperti itu?” tanya Aliza.


“Gue juga nggak tahu. Selesai presentasi, Sharen nuduh gue nggak ada kerja kelompok sama sekali. Padahal gue udah kerjain dan udah gue kirim ke Hani.” Ayu kembali menangis.


“Jangan nangis lagi dong, yu.” Aliza menepikan mobilnya. Mengelus lengan Ayu lembut.


“Setelah dengar cerita lo, gue jadi curiga sama Hani.”


Ayu memeluk Aliza.


“Jujur, gue takut banget tadi. Gue bahkan minta tolong sama Hani, tapi dia diam saja. Bahkan memutarbalikkan fakta seakan gue nggak ikut ngerjain tugas kelompok.”


Aliza menepuk pelan punggung Ayu untuk menenangkannya.


“Maaf,” ucap Ayu setelah merasa tenang. Dia merasa canggung karena tiba-tiba memeluk Aliza.


“Nggak papa. Udah tenang?”


Ayu menganggukan kepalalnya.


“Terima kasih banyak udah mau percaya sama gue.” ucap Ayu sambil membersihkan kacamatanya yang terkena air mata.


“Iya, sama-sama. Sekarang kita temanan ya.” Aliza menyodorkan tangannya ke arah Ayu.


Ayu menyambutnya dengan tersenyum senang.


Aliza kembali melajukan mobilnya ke arah rumah Ayu. Selesai mengantar Ayu, dia pun langsung mengendarai mobilnya pulang.


 


 


***


Terima kasih sudah membaca!

__ADS_1


Semoga suka..


__ADS_2