
Hari ini Aliza tidak ada jadwal kuliah. Tapi, dia tetap datang ke kampus untuk memenuhi tugasnya sebagai maba. Bukan tugas kuliah. Yah, dapat dikatakan tugas yang gampang, tapi bisa jantungan. Eits, bukan penyakit. Hanya saja jantungnya berdetak terlalu cepat. Seperti lirik lagu, “Berdebar, hatiku berdebar”.
Semalam dia sudah memberitahu Wahyu kalau hari ini dia tidak ada jadwal kuliah. Awalnya, Wahyu memaksa akan datang ke rumah Aliza atau ke kafe kemarin untuk foto bersama, tapi dengan cepat Aliza menolaknya. Gila aja, hanya gara-gara foto dia ngerepotin orang. Walaupun heran dengan sikap Wahyu yang memaksa untuk datang ke rumahnya.
Sekarang Aliza sedang menunggu Wahyu di belakang perpustakaan. Di situlah tempat yang aman dan sepi dari tatapan orang-orang yang akan menyebarkan gosip yang tidak benar.
Menunggu sembari duduk di bangku yang disediakan di bawah pohon pelindung yang nyaman dan cukup besar melindunginya dari panas.
“Aliza,” Wahyu berjalan dan mendekati Aliza, diikuti Rio di belakangnya.
Aliza yang mendengar namanya dipanggil, mengalihkan perhatian dari ponselnya ke arah sumber suara.
“Kak Wahyu.” Ucapnya, berdiri sambil tersenyum.
“Sudah lama?” tanya Wahyu yang kini sudah berhadapan dengan Aliza.
“Belum, kak. Baru datang.” Mengalihkan pandangan ke arah Rio yang berdiri di samping Wahyu.
“Kak Rio.” Sapanya sambil tersenyum. Yang disapa membalasnya dengan tersenyum.
“Pakai ponsel aku atau kamu?” imbuh Wahyu.
“Apa?” Aliza yang kebingungan dengan ucapan Wahyu.
Bukan hanya dia saja yang kebingungan, “aku kamu" batin Rio sembari menahan tawanya. Selama berteman dengan Wahyu baru kali ini dia mendengar Wahyu memakai embel-embel “aku-kamu”.
“Untuk ambil fotonya pakai ponsel aku atau kamu?” ulang Wahyu
“Pakai ponsel aku aja, kak.” ucapnya sembari memperlihatkan ponselnya.
Tanpa meminta izin, Wahyu mengambil ponsel dari tangan Aliza. Memberikan pada Rio yang sudah ditugaskan untuk mengambil foto mereka. Itulah tujuan awal membawa Rio menemui Aliza.
Awalnya Rio tidak mau, tapi tawaran yang diberikan Wahyu tidak bisa ditolak. Tawaran untuk ikut menonton ke bioskop bersama teman lainnya. Film yang ditunggunya akan segera tayang.
Dengan Wajah sedikit di tekuk, Rio menerima ponsel yang disodorkan Wahyu.
Wahyu dan Aliza mengambil posisi. Berdiri berdampingan dan agak berjauhan satu jengkal.
__ADS_1
“Sudah.” Ucap Rio setelah mengambil foto mereka dengan kamera ponsel, lalu menyerahkan ponsel pada Wahyu.
“Sekali lagi.” Imbuh Wahyu, karena merasa tak puas dengan hasil foto yang diambil Rio.
Wahyu lebih mendekat pada Aliza, hingga lengan mereka bersentuhan. hasil foto yang diambil Rio tadi bagus, hanya saja Wahyu tidak suka melihat posisi mereka yang berjauhan di foto tadi.
Deg. Jantung Aliza seketika berdegul tambah cepat. Awal foto tadi saja sudah berdetak cepat, ditambah lagi dengan posisi mereka yang berdekatan.
“Jantung....” batin Aliza menjerit.
Selesai mengambil foto kedua, Rio kembali menyerahkan ponsel pada Wahyu.
“Bagus.” Imbuh Wahyu.
“Pakai foto yang ini aja. Lebih bagus.” Lanjutnya, sembari memperlihatkan foto kedua pada Aliza.
“Ah iya, Terima kasih, kak.” Balas Aliza sembari mengambil ponsel yang diserahkan Wahyu.
“Kak Rio terima kasih.” Ucap Aliza diiringi senyuman manisnya..
“Sama-sama.” Sahut Rio yang juga tersenyum.
“Belum, kak. Ini mau pulang.” Jawab Aliza sambil melihat jam pada ponselnya.
“Makan di restoran dekat kampus aja. Aku juga belum makan" Ucap Wahyu.
“Kakak kan lagi kuliah.” Jawab Aliza.
“Sudah selesai.” Balas Wahyu.
“Baiklah, Kak.” Jawab Aliza.
“Baiklah untuk apa?” mencoba mematikan jawab Aliza yang ambigu.
“Makan di restoran dekat kampus.” Ucap Aliza pelan sembari menundukkan wajahnya.
Mendengar jawaban Aliza, Wahyu seketika menarik kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
Mereka berdua menuju restoran yang berada tak jauh dari kampus, dengan mengendarai mobil Aliza. Tanpa meminta izin terlebih dulu, wahyu langsung meminta kunci Mobil Aliza dan mengendarainya.
Rio? Dimana?
Rio tak jadi pergi makan dengan mereka, setelah mendengar ancaman Wahyu untuk membatalkan niatnya ikut pergi nonton. Begitulah Wahyu, biasanya dia akan malas menghabiskan waktunya nonton bioskop walaupun pergi bersama teman-teman lainnya.
Untuk kali ini, karena ada maunya dia terpaksa ikut gabung pergi nonton bersama yang lainnya.
“Gue juga lapar. Ayo!” Ajak Rio ketika mereka masih di belakang perpustakaan.
“Mau kemana?” tanya Wahyu pada Rio.
“Mau makanlah.” Balas Rio.
“Makan aja di kantin.” Jawab Wahyu cuek.
“Yuk..” ajaknya pada Aliza
Aliza pun berjalan lebih dulu. Di belakangnya Wahyu dan Rio masih berdebat. Walaupun mendengar apa yang mereka berdua debatkan, Aliza hanya diam sambil terus berjalan.
“Gue makan bareng kalian lah.” Ucap Rio.
“Makan aja di kantin. Kata lo tadi kan lapar.” Balas Wahyu tak ingin kalah.
“Terserah gue dong mau makan dimana.” Ucap Rio sewot.
“Makan di restoran atau gagal nonton.” Wahyu memberikan pilihan.
"Sialan lo, sama teman doang pelit amat.” Ucap Rio kesal.
Akhirnya dia lebih milih makan di kantin.
*
*
*
__ADS_1
jangan lupa lika dan komen!
terima kasih sudah membaca!