
Selesai melakukan senam pagi, para maba masuk ke dalam ruangan kelompok masing-masing.
Ruangan kelompok A
Para maba nampak sedang duduk di atas lantai dalam dua barisan ke belakang dan sepuluh barisan ke samping. Aliza duduk di barisan pertama dan di sebelahnya ada Rangga.
Kak Farhan, Kak Anggi, dan Kak Dila ada di depan barisan. Kak Farhan membuka pembicaraan setelah para maba terlihat tenang.
“Perlombaan bakat akan dilaksanakan besok. Bagaimana persiapan dari kalian?” tanya Kak Farhan.
“Kalau dance, kami baru setengah yang hafal gerakan kak. Masih kurang latihan kak.” Sahut Aliza sembari mengangkat tangannya.
“Hari ini kalian fokus latihan saja! Kalau bagian yang lain bagaimana?” Tanya Kak Farhan.
“Bagian puisi sudah siap kak, tadi malam saya juga sudah banyak latihan di rumah. Kalau ada waktu nanti saya mau nunjukin ke teman-teman dan minta tanggapannya jika ada yang masih kurang tepat. “ Sahut Alya.
“Bagus, yang lain?” tanya Kak Farhan lagi.
“Drama masih kurang latihan, Kak.” Rangga juga angkat bicara. Kebetulan Rangga iku Drama dan berperan sebagai Pangerannya. Rangga memang laki-laki yang lebih tampan di banding laki-laki yang ada di kelompok A.
“Bagian nyanyi kami baru Hafal liriknya saja, kak. Nanti saya dan Clara akan latihan.” Imbuh Aldi. Aldi memegang bagian nyanyi dan akan berduet dengan Clara.
__ADS_1
“Baiklah. Jadi, hari ini kalian fokus latihan saja, nanti saya, Dila, Anggi, akan membimbing kalian selama latihan. Dan persiapkan semuanya dengan matang. Kalah dan menang itu soal biasa. Kita jangan memprioritaskan kemenangan, tapi bakat yang ada pada diri kita lah yang kita fokuskan untuk dikembangkan. Sebagai seorang mahasiswa dan berpendidikan, kita harus mampu menunjukkan bakat yang kita miliki. Kita harus tetap semangat. Oke, apa semuanya siap?” Kak Farhan memberikan motivasi dengan mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke atas setinggi kepala.
“SIAP!” Serentak para maba dengan semangat dan mengikuti gerakan yang dilakukan Kak Farhan.
***
Ketika jam istirahat, Aliza dan Rangga menuju kantin untuk makan siang.
Di kantin.
“Aliza mana?” Tanya Amila yang baru sampai di kantin dan duduk di sebelah Hilya.
“Belum datang,” jawab Nisa singkat.
“Haaah, capek.” Aliza melipatkan ke dua tangannya di meja lalu membenamkan wajahnya pada kedua lengan yang terlipat.
“Lo habis ngapain, kayak habis perang aja.” Celetuk Amila.
“Iya, gue habis perang.” Lirih Aliza dengan kondisi membenamkan wajahnya.
“Dia kenapa?” tanya Hilya pada Rangga.
__ADS_1
“Dia capek karena habis latihan dance tadi.” Jelas Rangga sembari tersenyum melihat Aliza.
“Biasanya lo nggak pernah ngeluh karena capek. Kok...” ucapan Hilya dipotong langsung oleh Aliza.
“Kan beda sayang. Ini acaranya besok, jadi latihannya harus extra. Biasanya kalau gue ikut dance kan latihannya seminggu atau lebih. Waktu istirahatnya juga nggak mepet.” Ucap Aliza dengan mengangkat wajahnya dan menatap Hilya.
“Pesenin gue makanan dong, gue lapar nih.” Cerocos Aliza sembari memegang perutnya. Karena dari tadi mereka malah ngobrol tanpa memesan makanan terlebih dahulu.
“Biar gue pesenin. Kalian mau apa?” Ucap Rangga.
“Kami pesan Nasi Goreng pake telor mata sapi. Minumannya Teh es aja ya?” tanya Nisa pada temannya. Dan di acungi jempol oleh Aliza, Hilya, dan Amila. Kebiasaan mereka memang memilih menu makanan yang sama.
“Oh, oke.” Rangga hanya bisa menunjukkan wajah kebingungan melihat kebiasan Aliza dan teman-temannya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesanan mereka datang. Mereka pun langsung melahap makanannya sampai habis dan diselingi dengan sedikit obrolan dan canda tawa.
“Aliza,” seorang laki-laki tiba-tiba memanggil nama Aliza. Aliza yang merasa di panggil pun menoleh. Ketika melihat siapa yang memanggilnya dia pun terkejut begitu juga dengan teman-temannya.
***
Jangan lupa like dan koment😊😊!
__ADS_1
Terima Kasih sudah membaca!