
Taman Kampus,
Akhirnya Aliza memutuskan untuk bicara berdua dengan Wahyu. Dia juga ingin memperjelas masalah senior pembimbing tadi.
Sudah sepuluh menit lebih, Aliza menunggu Wahyu di taman sesuai apa yang dikatakannya tadi. Sedangkan temannya yang lain sudah banyak yang pulang, hanya tinggal beberapa saja yang masih stay di kampus.
Wahyu yang tadi lupa jika ada rapat HIMA, menyesal karena sudah membuat janji dengan Aliza. Ketika rapat dia terlihat gelisah. Namun dia tak bisa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja. Dalam pikirannya hanya terngiang Aliza, dan sama sekali tak fokus terhadap rapat yang diselenggarakan.
“Apa dia masih nungguin gue? Gue juga nggak bisa menghindar dari tanggung jawab.” Wahyu yang terlihat resah, terus memperhatikan jam di tangannya.
“Yu, lo kenapa sih?” bisik Rio yang berada di samping Wahyu, yang merasa aneh melihat ekspresi Wahyu seperti kucing yang takut ikannya hilang.
“Diam!” perintah Wahyu dengan merapatkan giginya kesal.
***
Sementara itu, Aliza yang duduk di kursi taman, terus melihat ke arah jam di tangannya dan terus menoleh ke arah gedung. Tapi nihil, dia tak melihat Wahyu datang sesuai janjinya. Dia sudah menunggu selama dua puluh lima menit.
“Lima menit lagi deh.”
“Kalau dia nggak datang juga, mending gue pulang dan istirahat. Dari pada nungguin seseorang yang tak pasti.” Aliza menghela napas berat. Merasa kesal. Kerena dipermainkan Wahyu.
Lima menit berlalu, tapi Wahyu belum muncul juga. Dia menguatkan hatinya. Kemudian beranjak menuju parkir kampus. Lalu mengendarai mobilnya pulang ke rumah.
Lima belas menit setelah kepergian Aliza, rapat HIMA selesai. Wahyu yang dari tadi gelisah, langsung menuju taman kampus.
Namun dia harus menahan rasa kecewa sekaligus lega. Kecewa, karena Aliza yang tak menunggunya. Lega, karena Aliza tidak merasa capek karena harus menunggunya. Wahyu langsung menuju parkir kampus dan langsung pulang ke rumahnya.
***
Rumah Aliza,
Aliza yang baru selesai mandi, langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Seketika moodnya menjadi buruk, setelah merasa bahwa dia dipermainkan oleh Wahyu. Dia mengambil ponsel dalam tas yang ada di atas kasurnya, tepat di sampingnya. Mencari kontak Hilya dan menghubunginya.
“Hilyaaaa,” rengek Aliza.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Hilya dengan suara seperti mengunyah sesuatu.
“Lo lagi makan?” tanya Aliza.
“Iya, lagi ngemil. Sambil nonton video oppa eunwoo.” Jawab Hilya yang masih mengunyah cemilannya.
“Gue mau bilang sesuatu sama lo.” Aliza berganti posisi menjadi duduk.
“Apa? Tentang Kak Wahyu, ya?” tanya Hilya.
“Iya.” Jawab Aliza lesu.
Aliza menceritakan semua yang terjadi hari ini tentang dia dan Wahyu. Mulai dari kantin sampai ketika latihan dan janjinya Wahyu untuk menunggunya di taman.
“Terus bagaimana?” tanya Hilya yang masih setia dengan aktivitasnya.
“Kok lo malah nanya ke gue sih, kan gue yang harusnya nanya sama lo. Ah, bikin kesel aja.” Gerutu Aliza kesal.
“Ye, gitu aja udah kesal buk.” Ledek Hilya. Hilya menghentikan aktivitas ngemilnya.
“Oke, kalau lo memang butuh saran dari gue.” Hilya menarik napasnya lalu membuangnya perlahan. Dan dilakukan berulang kali.
“Lo kenapa? Mau lahiran?” Tanya Aliza heran.
“Sebelum gue memberikan nasehat yang bijak, gue harus pemanasan diri dulu.”
“Oke. Yang pertama, lo tetap ngehindar. Yang kedua kalian bicara baik-baik. Lo pilih yang mana?” Tanya Hilya bijak.
“Gue maunya si menghindar.” Ucap Aliza pelan dan masih bisa di dengar Hilya.
“Kalau lo milih menghindar, itu sama aja lo nggak bakal nyelesaian masalah.” Hilya yang masih dengan nada bijaknya.
“Kami kan nggak ada masalah, mbing.” Gerutu Aliza kesal.
“Terus tadi apa? Apa itu misalah atau masilah kembaran dari masalah. Waktu dia mau ajak lo bicara, lo malah sembunyi. Itu artinya lo bikin masalah, yang bikin dia kecewa. Karena lo nggak mau bicara baik-baik sama dia. Terus dia tiba-tiba mau jadi senior pembimbing, itu berarti dia ingin bicara baik-baik ama lo. Terakhir, dia ngajak lo ketemuan di taman, itu juga artinya dia mau bicara baik-baik ama lo. Jadi inti masalahnya adalah bicara baik-baik tapi lo selalu menghindar.” Hilya kembali menarik napasnya dan membuangnya perlahan.
__ADS_1
“Oke, gue udah nasehatin lo. Sekarang gue serahin semuanya sama lo.” Lanjutnya.
“Kalau lo yang jadi posisi gue gimana?” tanya Aliza yang masih bingung apa yang harus dilakukannya.
“Kan bukan gue, mbing.” Celetuk Hilya yang kembali makan cemilannya.
“Woi, orang bijak tadi pergi kemana. GUE KAN BILANG “KALAU”. Lo tau kan artinya kalau. “MISALNYA, LO YANG ADA DIPOSISI GUE SEKARANG BAGAIMANA, BEGO.” Aliza yang sudah meninggikan nada bicaranya.
“Gue kan bercanda, nyet. Gitu aja marah.” Ledek Hilya.
“Bercandaan lo tu nggak lucu!” Seru Aliza Marah.
“Lo kalau patah hati jangan marah-marah dong.” Celetuk Hilya yang juga kesal, karena Aliza yang marah-marah.
“Tau ah, “ Aliza langsung mematikan ponselnya.
“Yee, ni anak. Patah hati, marahnya sama orang.” Ucap Hilya. Lalu kembali memutar Laptop yang ditontonya tadi.
Tapi masih ada yang menggangu pikirannya, sehingga dia kembali mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu.
“Mending lo bicara baik-baik aja sama Kak Wahyu. Dan tanya apa yang mau disampaikan Kak Wahyu. Siapa tahu hal yang penting. Lupain egois lo. Kalau lo memang udah lupain perasaan lo, harusnya lo bisa bicara baik-baik sama Kak Wahyu. Jangan bikin masalah baru, yang malah bikin lo tambah kacau. Oke, pahamkan anakku sayang?” isi pesan Hilya untuk Aliza.
“Oke, gue udah putuskan. Gue akan bicara baik baik sama dia.” Setelah membaca pesan dari Hilya, akhirnya Aliza memutuskan untuk bicara berdua dengan Wahyu.
“Makan dulu ah, lapar.” Aliza beranjak meninggalkan kamarnya menuju ruang makan.
****
terima kasih untuk pembaca yang udah mau mampir ke novel pertama saya,
mudah2an kalian suka.
mohon like dan komennya kakak semua!
saya juga butuh saran dari kalian semua. saya yang masih tahap belajar menulis, dan baru pertama kali bikin novel, butuh saran untuk kemampuan saya dalam menulis kedepannya.
__ADS_1
Maaf jika ini seperti menuntut, sekali lagi saya ucapkan terima kasih. karena sudah mau membaca cerita saya.😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚.