Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Curiga


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Rio tiba di kampus. Mereka lebih dulu sampai dibandingkan bus yang membawa mahasiswa baru lainnya.


Semuanya akan turun di kampus, dikarenakan mobil para mahasiswa masih ada di kampus.


Hilya keluar dari mobil Wahyu setelah pamit pulang pada Aliza. Dia juga sudah mengatakan akan datang ke rumah Aliza setelah membersihkan diri dan merapikan perlengkapan yang dibawanya. Begitu juga dengan Rio. Dia juga duluan keluar dari mobil, meninggalkan Wahyu dan Aliza.


“Tunggu sebentar di sini. Aku harus mengurus sesuatu dulu. Nanti aku akan antar kamu pulang.”


“Tapi, mobil ku kak..”


“Aku akan minta Rio untuk mengantarnya ke rumah. Mana kunci mobilnya?” Aliza memberikan kunci mobilnya ke tangan Wahyu.


“Kak, aku nggak enak sama kak Rio.” Keluh Aliza.


“Nggak papa. Dia orang baik. Aku keluar dulu.” mengusap pelan kepala Aliza.


Sembari menunggu, Aliza memilih memainkan ponselnya. Membuka beberapa pesan dari teman-temannya, yang ikut cemas menanyakan keadaannya. Mereka bahkan sepakat menginap di rumah Aliza, tentunya kecuali Rangga. Akan tetapi, nanti dia akan tetap ikut datang ke rumah Aliza untuk menjenguknya.


Beberapa saat kemudian,


Semua bus sudah tiba di kampus. Urusan Wahyu pun sudah selesai dia laksanakan. Dia kembali ke dalam mobil untuk mengantar Aliza pulang.


“Mau beli sesuatu?” tanya Wahyu saat mereka sedang diperjalanan ke rumah Aliza.


“Nggak ada kak.” Aliza sudah pindak duduk di samping kemudi.


“lapar nggak?”


“Nggak selera makan kak. Lagian kalau makan di luar nanti susah duduknya.” Mengingat luka di bawah telapak kakinya. Tempat duduknya saat ini sengaja dimundurkan agar tubuhnya setengah berbaring, dengan tambahan bantal peninggi jok sehingga kakinya sedikit menjuntai dan tidak menyentuh lantai mobil.


“Tadi pagi udah sarapan?”


“Udah. Tapi nggak enak. Cuma kemakan dua sendok.” Lirih Aliza. Menerawang sarapan tadi pagi yang tidak mengunggah seleranya.


“Kamu sakit? Kenapa lesu gitu jawabnya?”


“Lagi nggak enak badan kak. Tapi demamnya udah turun kok.” Ucap Aliza sembari meraba tengkuknya. Dengan sebelah tangan, Wahyu memegang dahi Aliza.


“Makan ya, biar cepat sembuh.” Bujuk Wahyu, setelah meraba dahi Aliza yang masih panas. Apalagi sekarang sudah hampir jamnya makan siang.


“Mau makan di mobil?” saran Wahyu.


“Boleh,” ujar Aliza tidak semangat.


“Mau makan apa?”


“Hmm, terserah kakak aja.” Bingung ingin memakan apa. Tidak ada makanan yang mengunggah seleranya.


“Nggak ada makanan yang ingin kamu makan?”


“Apa ya?” berpikir keras sambil melihat jalan di depan. “Oh, pesan di K*FC aja kak.” Melihat papan nama K*FC dari jarak yang lumayan dekat dari tempat yang mereka lalui sekarang.


“Pesan apa?” tanya Wahyu saat sudah tiba di depan KFC.


“KFC cream soup.”


“Oke, tunggu bentar ya.” Mengusap lembut kepala Aliza. Lalu keluar dari mobil untuk membeli makanan yang akan mereka santap di dalam mobil.


Beberapa menit kemudian, Wahyu keluar membawa satu kantong makanan.


"Makanlah!” mengeluarkan KFC cream soup pesanan Aliza.


Mereka mulai menyantap hidangan masing-masing.


“Enak?” tanya Wahyu yang dijawab anggukan kepala Aliza.


“Kakak pesan apa?”


“Rice box rasa bento barbeque.” Memperlihatkan makanan yang dipesannya tadi.


“Mau coba?” tawar Wahyu.


“Boleh?” tanya Aliza memastikan. Dengan senang hati Wahyu mengiyakannya. Dia menyuapkan langsung ke mulut Aliza menggunakan sendok yang sama dengan yang dipakainya.


“Enak,” puji Aliza. “Kakak mau coba punyaku?” menawari makanan miliknya. Tentu saja Wahyu langsung mengiyakannya. Aliza pun menyuapi Wahyu dengan pelan-pelan, agar Cream soupnya tidak tumpah.


Mereka menikmati makan siang kala itu dengan saling menyuapi makanan masing-masing. Aliza memakan hidangannya, sambil sesekali menyuapi Wahyu. Begitu juga dengan yang dilakukan Wahyu pada Aliza.


Sebelum pulang wahyu membelikan beberapa buah-buahan untuk aliza.


***


Sementara itu, di tempat lain lebih tepatnya di depan rumah Aliza. Rio sudah menunggu mereka selama beberapa menit. Dia yang saat ini mengendarai mobil Aliza untuk mengantarkannya kepada pemilik mobil.


Menunggu sambil menggerutu kesal. “Kemana itu dua bocah. Perasaan mereka duluan berangkat. Tapi nggak nyampe-nyampe. Malah gue yang duluan sampai. Masih hidup mereka?”


“Bertiga bareng mereka, gue dijadiin patung yang nggak dianggap. Eh, nggak bareng mereka gue masih sial juga. Dijadiin pengangkut barang. Nasib. Nasib. Habis ini gue mau cari pacar aja deh. Capek dijadiin nyamuk mulu.” Gerutunya.


Selang beberapa menit, akhirnya mobil Wahyu muncul juga di di depan matanya. Dia lantas mengikuti mobil Wahyu yang masuk ke rumah Aliza melewati gerbang yang sudah dibuka penjaga.


“Aku gendong nggak apa-apa kan?” izin Wahyu sebelum menggendong Aliza menuju rumah.


Aliza hanya mengangguk. Dia juga tidak enak merepotkan Wahyu. Tapi mau bagaimana lagi, kakinya sakit kalau dipaksa jalan.


Wahyu minta tolong pada Rio untuk membawakan barang Aliza yang ada di mobilnya.


Aliza menekan bel rumahnya.


Sambil menggendong Jihan, mama Suci membukakan pintu.


“Permisi tante,” sapa Wahyu.


Mama suci keheranan melihat Aliza yang digendong. Pandangannya tidak sengaja menangkap kaki Aliza yang dibalut perban.


“Kaki Aliza kenapa?” tanya mama Suci. Ada raut cemas yang muncul di wajahnya.


“Kena pecahan kaca tante. Boleh antar Aliza ke kamarnya tante?”

__ADS_1


“Iya, masuklah.”


Mama suci membukakan pintu kamar Aliza.


Rio mengikuti dari belakang sambil menjinjing tas Aliza dan kantong plastik yang berisi buah-buahan.


“Istirahatlah. Kami pulang dulu.” tutur Wahyu.


“Makasih banyak kak.”


“Kak Rio, makasih juga udah mau antar mobil Aliza.” ujar Aliza tulus.


“Iya, sama-sama. Ini kunci mobilnya.” Rio menyerahkan kunci mobil pada pemiliknya.


Sebelum keluar, Wahyu mengusap lembut kepala Aliza. Entah sejak kapan, hal itu menjadi kebiasaannya.


Mama Suci mengantar Wahyu dan Rio keluar dari kamar Aliza. Dia sempat menawarkan untuk minum dan makan dulu sebelum pulang. Tetapi Wahyu menolak, dengan alasan masih ada urusan mendesak yang harus dia lakukan.


Setelah memastikan mobil Wahyu dan Rio meninggalkan halaman rumah, mama Suci kembali ke kamar Aliza.


“Aliza butuh sesuatu? Biar mama siapkan.”


“Nggak ada.”


“Kalau butuh sesuatu langsung panggil mama aja ya.”


Saat tangan mama Suci sudah meraih handel pintu, Aliza menghentikannya.


“Tolong panggil Bi Mauli.”


“Iya, tunggu sebentar. Mama akan panggilkan Bi Mauli.”


Tidak berapa lama, Bi Mauli masuk ke kamar Aliza sembari membawakan jus jeruk.


“Non, butuh sesuatu? Ini bibi bawakan jus jeruk.”


“Bi, Liza mau mandi. Soalnya dari kemaren belum mandi. Bantuin Liza ya!” pinta Aliza.


“Baik non, sini bibi pegangin.” Memapah Aliza ke kamar mandi.


“Bi, gimana caranya biar kakinya nggak kena air? Kata dokter belum boleh kena air.”


“Non duduk aja mandinya. Nanti bibi Ambilkan kursi kecil untuk menyangga kaki non.”


Setelah beberapa menit berkutat di kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah dua hari tidak mandi. Akhirnya, dengan bantuan Bi Mauli, Aliza merasa kini tubuhnya terasa lebih segar.


Sore hari, teman-teman Aliza datang menjenguknya. Mereka bahkan sudah membawa baju dari rumah untuk keperluan ke kampus besok. Rangga pun ikut menjenguknya.


Mereka menanyakan rincian kejadian yang menyebabkan Aliza terluka. Dia menceritakan semua kejadian yang dialaminya.


“Menurut kalian, dia mencurigakan nggak sih?” meminta pendapat temannya setelah menceritakan semua kejadian yang dia alami tanpa ada yang dilewati.


“Firasat gue memang ada yang nggak beres. Setelah gue dengar cerita lo, yang paling menguatkan kecurigaan gue itu pas kaki lo kena kaca. Lo kan bilang kalau sebelumnya nggak ada kaca di situ, terus pas lo lewat situ tiba-tiba ada kaca. Kayak disengaja banget nggak sih?” Prediksi Amila.


“Menurut lo gimana Ga? Gur mau nanya pendapat lo dulu. Siapa tahu, isi pikiran lo beda sama gue.”


“Iya juga sih.” Nisa menimpali.


“Oh iya Yu, Waktu Suci ke tenda, dia ada minta bantuan nggak?” tanya Aliza.


“Gue nggak tau Suci yang mana za. Gue belum kenal nama semua teman kelompok kita. Waktu lo ke sungai aja gue nggak tau.”


“Iya lah, lo asyik banget kayaknya waktu itu.”


“Maaf,” Ayu merasa bersalah.


“Iya, nggak apa-apa. Wajar sih lo nggak lihat gue. Soalnya gue duduk belakang paling pojok.” Terkekeh pelan.


“Tunggu dulu, menurut gue dia nggak ada minta bantuan tuh.” Ejek Amila.


“Iya juga, seharusnya kalau dia ada minta bantuan ke kelompok, Ayu pasti tau apa yang terjadi sama lo.” Tambah Hilya. Menerawang saat Ayu yang terlihat kaget saat dia menceritakan kejadian yang dialami Aliza.


“Iya, dia memang nggak ada minta bantuan. Gue aja kaget waktu diceritain Hilya.”


“Lo ada masalah sama dia za?” tanya Nisa.


“Gue nggak kenal sama dia, Nis. Gue aja heran waktu dia tiba-tiba ngajak gue ngobrol dan minta ditemani ke sungai.”


“Permisi, tante bawakan kue dan minuman. Dimakan ya!.” Ucap mama Suci mengantarkan kue dan minuman dibantu Bi Mauli.


“Iya, makasih tante.” Jawab mereka serempak.


“Tante keluar dulu, silahkan lanjutkan lagi ngobrolnya.”


“Yu, lo berani nggak nanya siapa yang kenal suci sama teman kelompok?”


“Bentar, gue tanya dulu.” tutur Ayu sembari mengirimkan pesan pada temannya. “Katanya kenal za. Mereka teman sekelas.”


“Coba telpon yu.”


Mereka menelpon Nadia, teman sekelas Suci. Ayu sengaja menekan loud-speaker agar yang lain bisa mendengar percakapan mereka.


“Kenapa yu?” suara Nadia setelah panggilan terhubung.


“Sebelumnya maaf, gue nggak ada maksud apa-apa. Gue sama teman-teman cuma penasaran tentang Suci. Malam itu...” Ayu menceritakan semua yang didengarnya dari Aliza.


“Gimana sekarang keadaan Aliza?” tanya Nadia setelah mendengarkan cerita Ayu. Aliza meminta ponsel Ayu, dia ingin langsung bicara dengan Nadia.


“Gue baik-baik aja Nad. Tapi lukanya masih sakit sih.” Aliza terkekeh pelan.


“Lo lagi bareng Ayu?” Aliza mengiyakan. “Gue dengar kaki lo kena pecahan kaca kan?” Aliza lagi-lagi mengiyakan.


“Gue mau bilang sesuatu. Tapi gue nggak tau juga informasi ini berguna buat lo atau nggak. Gue juga nggak bermaksud untuk mengadu domba. Setelah dengar cerita Ayu tadi, gue jadi ingat sesuatu.”


“Apa Nad?”


“Waktu itu, pas kita selesai masak. Gue lihat Suci pecahin botol sirup yang udah habis. Terus dimasukin dalam plastik. Waktu itu gue nggak mikir apa-apa, gue cuma tanya itu buat apa, katanya sih untuk di buang agar tempat sampah nggak terlalu penuh karena ukuran botol yang besar. Tapi waktu ganti baju, gue lihat plastik yang sama dengan yang digunakannya untuk tempat pecahan kaca. Dia nyimpannya di dalam tas. Gue juga nggak tau pasti, dalam plastik itu pecahan kaca atau nggak. Warna plastiknya gelap. Jadi, nggak bisa lihat isinya.” Jelas Nadia panjang lebar.

__ADS_1


“Menurut gue informasi ini berguna banget Nad. Makasih ya. Oh iya, Suci itu orangnya kayak mana sih?”


“Gue juga nggak tau gimana sifat aslinya. Gue sama dia cuma sekedar teman sekelas lah. Nggak terlalu akrab. Circle kami beda.”


*Circle: Kelompok pertemanan


Setelah menanyakan jadwal kuliah kelas Nadia dan mengucapkan terima kasih, Aliza mengakhiri panggilan.


“Guys, besok bantuin gue ya?”


***


Sebelum hari mulai gelap, Rangga sudah meninggalkan rumah Aliza.


Aliza saat ini masih di dalam kamar bersama teman-temannya.


Usai makan malam di bawah bersama orang tua Aliza, mereka kini kembali menemani Aliza yang makan malam di kamar ditemani Bi Mauli.


Seseorang mengetuk pintu. Aliza mempersilahkannya masuk.


Papa Ridwan muncul dari balik pintu.


“Za, kita ke bawah ya. Mau main sama Jihan.” Ujar Amila tiba-tiba. Dia sengaja melakukannya, untuk memberikan waktu agar ayah dan anak itu bisa ngobrol dengan leluasa.


“Oke,” sahut Aliza. Teman-temannya pun meninggalkan dia berdua dengan Papa Ridwan.


“Apa yang terjadi?” tanya papa Ridwan saat sudah duduk di tepi ranjang.


“Ada kecelakaan sedikit.”


“Udah diobati kan? Apa kata dokter.”


“Udah pa. Dokter cuma bilang minum obatnya teratur biar lukanya cepat sembuh.”


“Kata teman-teman kamu lukanya dijahit.”


“Iya pa,” Aliza membenarkan.


“Lain kali, berhati-hatilah. Jangan ceroboh, sehingga membahayakan diri sendiri.” Aliza hanya mengangguk. “Papa keluar dulu, pekerjaan papa masih banyak.” Papa Ridwan bangkit berdiri.


“Bahkan sekarang papa sudah lupa kebiasaan yang akan papa lakukan saat anaknya terluka.” Ucap Aliza dengan suara bergetar.


“Aliza jangan memancing emosi papa. Teman-teman kamu ada di bawah.” Tutur papa Ridwan dengan menekan setiap katanya.


Sebelum meraih ganggang pintu, papa Ridwan mengembuskan napasnya kasar.


“Ma, papa benar-benar sudah berubah.” Air mata mulai membasahi pipinya.


Ponsel Aliza berdering. Memutuskan lamunannya. Kata “Ketua Hima” tertera di layar ponsel. Wahyu menelponnya.


Senyum terbit di bibirnya. Aliza segera mengangkat panggilan Wahyu.


Wahyu memulai panggilan dengan menanyakan keadaan Aliza. Panggilan berlangsung selama beberapa menit. Obrolan mereka mengalir begitu saja.


“Besok aku boleh ke rumah?”


“Mau ngapain kak?” spontan bertanya.


“Mau jenguk pacar sakit.” Celetuk Wahyu. Aliza tersenyum dibuatnya.


“Pacar? siapa pacar kakak? Memangnya dia tinggal di rumahku?” ujar Aliza bercanda lalu terkekeh pelan.


“Ha, kamu ini.” Wahyu pura-pura kesal. Aliza lantas tertawa.


Obrolan yang mengalir dengan lancar dan saling melemparkan candaan. Membuktikan bahwa Aliza sudah membuka hatinya untuk Wahyu. Dia bisa merasakan perhatian yang diberikan Wahyu. Tatapan hangat Wahyu yang menggetarkan hatinya. Sentuhan lembut tangan Wahyu yang memberikan kenyamanan.


***


Wahyu menepati apa yang dikatakannya tadi malam. Dia datang kembali untuk menemui Aliza. Selesai jam makan siang, Wahyu tiba di rumah Aliza.


Aliza yang duduk di sofa ruang tamu sedang memainkan ponselnya. Karena bosan di kamar terus, dia memanggil Bi Mauli untuk membantunya turun ke ruang tamu.


Zaki dan Jihan sedang bermain di dekatnya. Sesekali dia juga ikut bermain untuk menyenangkan hati kedua adiknya. Mama Suci tahu, Aliza tidak akan nyaman di dekatnya. Dia terpaksa meninggalkan anaknya yang ingin bermain dengan Aliza dan istirahat di kamar.


Bi Mauli membukakan pintu saat ada yang menekan bel. Muncullah Wajah tampan Wahyu dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Dia mendekati Aliza yang sedang berselonjor di sofa. Bi mauli menyiapkan cemilan dan minuman untuk Wahyu.


Memulai obrolan dengan menanyakan kabar Aliza. Zaki terlihat senang dengan kedatangan Wahyu. Dia terus mengajak Wahyu untuk ikut bermain. Begitupun dengan Jihan, dia tidak kalah heboh dari Wahyu. Merasa gembira dan senang memiliki banyak teman bermain.


Aliza hanya diam memperhatikan mereka, sambil sesekali tertawa melihat ekspresi konyol Wahyu saat bermain dengan Zaki.


Setelah satu setengah jam di rumah Aliza, Wahyu akhirnya pamit. Dia akan kembali lagi ke kampus. Karena masih ada jadwal kuliah sore.


“Aku pamit dulu. Cepat sembuh.” Mengusap pelan kepala Aliza. Kemudian, dia juga pamit pada kedua adik Aliza.


“Hati-hati kak.” Ujar Aliza diselingi senyuman yang melengkung di bibirnya.


***


Setelah seminggu penuh libur dari kegiatan kampus. Akhirnya, hari ini Aliza dapat merasakan kembali aroma khas kampus yang dirindukannya. Walaupun jalannya masih sedikit pincang belum normal seperti biasanya, namun semangatnya tidak memperdulikan itu.


Seminggu hanya di rumah membuatnya sangat bosan. Dia merasa senang luka di kakinya sudah mengering, sehingga dia bisa mengikuti jadwal kuliah seperti biasanya.


“Hai!” sapa Aliza saat Suci baru keluar dari ruang kelasnya.


*


*


*


Terima kasih sudah membaca!


semoga suka!


kalau suka, jadiin favorit ya!🥰

__ADS_1


__ADS_2