
“Gue mau lo jauhin Wahyu,” Perintah Selly.
“Maaf sebelumnya kak. Memangnya kami sedekat apa sehingga kakak harus meminta saya menjauhi kak Wahyu?” tanya Aliza sambil tersenyum. Dia mencoba memancing dari mana senior ini mengetahui kedekatannya dengan Wahyu.
Selly terdiam dengan wajah menahan marah.
“Gue nggak tahu kalian sedekat apa. Gue cuma mau peringatin lo, jauhin pacar gue. Kalau gue masih lihat lo dekat-dekat sama Wahyu, gue nggak akan tinggal diam lagi.”
“Kakak tenang saja, saya nggak punya hubungan spesial sama kak Wahyu. Kami hanya sebatas junior dan senior,”
“Gue pegang kata-kata lo.”
“Baik kak, kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan. Kami permisi.” Aliza dan teman-temannya mulai menjauhi Selly.
Selly menatap kepergian Aliza dengan mata yang menyimpan kebencian. Dia mengingat kembali saat dia akhirnya mengetahui gadis yang dekat dengan Wahyu.
Flashback
“Kalian nemu bukunya nggak?” Tanya Hilya.
Saat ini mereka sedang berada di perpustakaan kampus. Dosen memberikan tugas untuk mencari sebuah buku. Penjelasan dalam bukunya lengkap dan sesuai dengan materi perkuliahan mereka.
Tugas makalah kelompok harus mempunyai daftar pustaka dari buku tersebut, dan harus dibawakan saat presentasi. Beberapa hari lagi kelompok mereka akan tampil presentasi. Namun sayangnya, stok buku tersebut sedikit, sehingga sulit untuk menemukannya.
Jika tidak di temukan di perpustakaan, kemungkinan ada di tangan mahasiswa lainnya. Dengan kata lain, mereka harus menanyakan pada setiap mahasiswa jika ada yang mempunyai buku tersebut.
“Kayaknya kita udah keduluan deh sama kelas lain.” Ucap Nisa.
“Za, coba tanya sama senior yang dekat sama lo itu. Siapa tahu dia punya bukunya.” Amila mengingat kembali ucapan dosen yang mengatakan kemungkinan para senior juga mempunya bukunya.
“Oh iya ya, bentar. Gue tanya sama dia dulu.” mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Menjauh dari jangkauan teman-temannya.
Aliza memilih mengirimkan pesan dari pada menelpon langsung Wahyu. Takut menggangu Wahyu yang sedang kuliah.
Tidak sia-sia Aliza menghubungi Wahyu. Keberuntungan masih berpihak pada mereka. Wahyu memiliki bukunya, dan itu buku asli bukan hasil foto kopi. Aliza merasa senang, seketika rasa cemas yang sempat dirasakannya tadi melebur.
Dia kembali mendekati teman-temannya. Memberitahukan bahwa senior yang dihubunginya tadi memiliki buku tersebut.
Keesokan harinya,
Wahyu baru sempat menyerahkan bukunya saat di kampus. Rencananya kemaren malam mereka akan bertemu, sayangnya Wahyu ada urusan yang harus diselesaikan.
Hari ini, mereka janjian ketemu di belakang perpustakaan. Aliza yang memintanya, karena ingin menghindari keramaian. Dia tahu, bahwa orang yang dekat dengannya saat ini sangat populer di kampus. Hampir tiap hari, dia selalu mendengar para mahasiswa perempuan bergosip mengenai Wahyu.
Bahkan akhir-akhir ini, dia mendengar gosip bahwa Wahyu sudah punya kekasih hati. Dia memang tidak mengetahui kebenarannya, namun dari lubuk hati yang paling dalam ada sedikit rasa kecewa. Tetapi, dia ingat kembali ucapan Wahyu yang mengatakan bahwa dia tidak mempunyai pacar.
Selama dekat dengan Wahyu, tidak ada yang mencurigai darinya. Bahkan mereka sering saling kirim pesan bahkan telepon. Jika memang memiliki kekasih, seharusnya pacarnya akan marah mengigat Wahyu yang sering menghubunginya.
Saat melewati perpustakaan, dia melihat Wahyu berdiri tidak jauh pintu perpustakana sambil melihat ke arahnya. Aliza heran kenapa Wahyu tidak langsung ke belakang perpustakaan.
Ternyata, Wahyu menunggunya. Akhirnya, mereka jadi jalan beriringan ke belakang perpustakaan. Walaupun Aliza menambah jarak mereka agar tidak terlalu berdekatan.
Wahyu bahkan mengajaknya bicara saat sedang di jalan lorong. Sekedar menanyakan jadwal kuliah Aliza.
Wahyu yang selalu menjadi pusat perhatian para mahasiswi. Seperti saat ini, saat mereka melewati lorong tidak terlepas dari tatapan mata dan bisikan orang-orang. Aliza bahkan sampai harus berjalan di belakang Wahyu, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Saat mereka berdua melewati lorong toilet, bertepatan dengan Selly dan kedua temannya yang keluar dari toilet.
“Sel itu Wahyu kan?” tanya Sisil melihat Wahyu yang berjalan melewati mereka.
“Mau kemana dia?” Selly bertanya-tanya.
“Eh, tapi itu cewek kok kayak ngikutin Wahyu ya?” Lia menimpali. Dia memperhatikan Aliza yang terus dibelakang Wahyu sedari tadi mereka melihatnya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Selly langsung beranjak untuk mengikuti mereka berdua. Sahabat Selly pun langsung siaga mengikuti Selly.
Saat sudah tiba di belakang perpustakaan, Aliza dan Wahyu berdiri saling berhadapan.
“Mana bukunya kak,” menengadahkan tangan.
“Nih, tapi ada syaratnya.” Seloroh Wahyu.
“Kok pake syarat lagi kak.” Ucap Aliza tidak terima. “Ya udah deh, aku tanya sama senior lain aja.” Membalikan badannya, pura-pura ngambek.
“Eh, iya iya.” Spontan menarik tangan Aliza. Menyandarkan tubuh Aliza di dinding belakang perpustakaan.
“Aduh,” seru Aliza saat punggungnya membentur dinding langsung.
“Sakit?” tanya Wahyu cemas.
“Nggak, cuma kaget. Hehehe.” Ucap Aliza diakhiri dengan tertawa.
Wahyu tersenyum, sembari mengusap rambut Aliza.
“Aku punya hadiah untuk kakak.”
“Serius?”
“Iya, ada di dalam tas.”
“Mana?”
“Bukunya dulu?” menengadahkan tangannya kembali. Kali ini Wahyu menyerahkan bukunya. “terima kasih,”
“Hadiahnya mana?” Wahyu yang tidak sabar.
“Bentar,” Memasukkan buku ke dalam tas. Mengeluarkan kotak makanan warna biru.
“Nih,” menyerahkannya pada Wahyu.
“Itu sebenarnya hadiah dari Zaki. Katanya kakak sekarang udah jadi temannya.” Ujar Aliza sembari tersenyum mengingat kelakukan Zaki yang menyukai Wahyu. Dia bahkan meminta mama Suci untuk membuatkan kue untuk Wahyu.
“Wah, benarkah? Haruskah kita ajak mereka jalan-jalan lagi,” mengambil satu kue almond. “Boleh dimakan sekarang kan?”. Aliza mengganggukan kepalanya tanda mengiyakan.
Wahyu menikmati satu kue almond sembari bersandar di dinding perpustakaan tepat di sebelah Aliza. “Enak. Nanti bilangin ucapan terima kasih dariku.” Menutup kembali kotak makanan. “Aku lanjut makan di rumah,” Memasukkannya ke dalam tas.
“Pergi yuk kak, aku masih ada kuliah.” Melirik jam tangannya.
“Tunggu. Itu belakang baju kamu ada yang nempel, warna putih. Kayaknya cat dindingnya nempel di bajumu.” Ucap Wahyu saat Aliza membelakanginya. Dia melihat ada noda putih di baju Aliza yang berwarna hitam.
Aliza segera menepuk bajunya, berharap cat yang menempel hilang.
“Itu masih ada, di sebelah kanan.” Ucap Wahyu
“Tolong bersihin kak, soalnya kakak yang bisa lihat mana yang belum bersih.” Wahyu mulai membersihkannya dengan menepuk pelan punggung Aliza.
“Coba lihat punggung kakak. Kakak tadi nyandar juga kan.” Wahyu membalikkan tubuhnya membelakangi Aliza.
Aliza menepuk baju belakang Wahyu yang terdapat noda putih cat.
“Udah,” Setelah melihat tidak ada lagi noda putih yang menempel.
Aliza mendekati dinding, mengusapkan jarinya di dinding. Benar saja, noda putih yang menempel di baju mereka berasal dari cat dinding tersebut.
“Benar kak, catnya membekas.” Aliza menunjukkan jari-jarinya yang terdapat noda putih cat.
“Itu di wajah kakak ada yang nempel, sini aku bersihin.” Aliza mengoleskan jarinya yang terdapat noda putih ke pipi Wahyu.
__ADS_1
Wahyu terperangah saat merasakan tangan Aliza di pipinya.
Aliza tertawa. "Aku duluan kak,” memperlihatkan jarinya yang sudah bersih, lalu berlari pelan meninggalkan Wahyu. Kini cat nya sudah menempel di pipi Wahyu.
Wahyu akhirnya tersadar, Aliza mengerjainya. Dia mengusap pipinya, melihat jarinya yang kini berwarna putih. Mengusap pipinya kembali sambil tersenyum. “Gadis itu,” ucapnya tersenyum sembari mengingat kembali Aliza yang tertawa karena mengerjainya.
Sedangkan di tempat lain yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, Selly nampak sangat marah menyaksikan adegan romatis yang baru saja dilihatnya. Mengepalkan tangan menahan amarah.
“Itu maba yang berhasil buat Wahyu jadi senior pembimbing kan. Gue masih ingat wajahnya” tanya Lia.
“Mereka pacaran?” Sisil juga ikut menimpali.
“Diam kalian,” bentak Selly marah. Dia tidak habis pikir. Aliza, maba yang berhasil membuat Wahyu bersedia menjadi senior pembimbing. Ternyata memiliki hubungan spesial dengan Wahyu. Dia meyakini itu, orang lain juga akan mengira jika Aliza dan Wahyu berpacaran melihat kearaban dan kemesraan mereka tadi.
Flashback end
***
Teman-teman Aliza pun langsung bertanya perihal senior yang mendatangi mereka tadi.
Mereka bahkan merasa kebingungan saat senior itu mendekati mereka, menanyakan hubungan Aliza dengan Wahyu yang tentunya mereka kenal. Bahkan mengaku sebagai pacar Wahyu.
“Za, lo ada hubungan ya sama kak Wahyu?” tanya Amila
“Nggak ada, cuma sebatas senior sama junior aja. Dia kan senior pembimbing gue. Mungkin kakaknya salah paham.” Itulah jawaban Aliza saat ditanya teman-temannya.
“Ooh, mungkin kakaknya orang yang cemburuan. Lihat matanya tadi, kayak marah banget sama lo.” Nisa menimpali.
“Yang penting lo nggak salah. Terserah dia mau marah atau nggak. Asal jangan keterlaluan aja.” jelas Amila.
Aliza hanya bergeming, tidak merespon apapun.
Gosip Selly yang melabraknya, walaupun tidak ada adegan cakar-cakaran sudah menyebar luas ke mahasiswa lainnya.
Aliza bahkan mendengar langsung mahasiswa lain membicarakan dia di depannya sendiri. Beruntungnya mahasiswa tersebut tidak mengetahui wajah Aliza.
Namun, ada juga mahasiswa yang mengenalinya. Para pengagum Wahyu yang mengetahui wajahnya secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan mereka. Sekarang dia hampir dikenali satu fakultas.
Sejak Selly yang memperingatinya, Aliza tidak lagi pernah membalas pesan ataupun mengangkat telepon dari Wahyu.
Aliza sebenarnya ragu, antara percaya atau tidak. Jika yang dikatakannya benar, Aliza akan sangat merasa kecewa karena Wahyu yang berbohong dengan mengatakan dia tidak punya pacar.
Seharusnya dia langsung bertanya pada Wahyu. Tetapi dia tidak mau, dia merasa takut jika hal itu benar. Wahyu yang ternyata sudah memiliki pacar.
Perasaan kecewa ini muncul begitu saja. Dia merasa bingung, kenapa dia merasa kecewa jika Wahyu memang memiliki pacar. Seharusnya dia bersikap biasa saja, dan membicarakan hal ini baik-baik dengan Wahyu agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Beberapa hari ini, dia bahkan selalu menghindari Wahyu. Saat berselisih pun dia segera memalingkan wajah, menghindari tatapan Wahyu.
Hal ini tentu saja membuat Wahyu bingung. Biasanya Aliza akan membalas senyumnya. Berbeda dengan sekarang, seakan Aliza tidak mau melihatnya.
***
“Lo kenapa? Gue perhatiin lo akhir-akhir ini kelihatan murung.” Tanya Rio.
Wahyu bergeming.
“Nama maba itu Aliza kan?” ucapan Rio kali ini memancing Wahyu, dia segera mengalihkan pandangannya ke arah Rio.
“Lo udah dengar gosip belum?”
***
Sampai sini dulu, nantikan kelanjutannya di part berikutnya ya...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca...
Semoga suka...