
“Kak Liza mau kemana?” tanya Zaki saat Aliza baru turun dari dari tangga dengan pakaian yang rapi dan bagus.
“Eh zaki. kakak mau keluar bentar?”
“Sama kak Wahyu ya? Boleh ikut?” Aliza terdiam sebentar. Dia melirik sekilas mama Suci yang sedang memberi Jihan makan.
“Zaki, jangan nganggu kakak Liza.” Sergap Mama Suci.
“Maaf ya, kakak nggak bisa bawa Zaki sekarang. Kakak mau ngerjain tugas sama teman-teman. Besok-besok, kalau kakak mau pergi jalan kakak pasti bawa Zaki.”
“Yaahh,” Zaki kecewa.
“Zaki, kakaknya kan mau bikin tugas.” Bujuk Mama Suci.
“Oke deh,” Zaki menggangguk walaupun kecewa.
“Kakak pergi dulu ya anak baik.” Mengusap lembut kepala Zaki. Dia berlalu meninggalkan rumah menuju mobil Wahyu yang sudah menunggunya di depan rumah.
“Kak, maaf lama.” Ucapnya saat sudah masuk kedalam mobil.
“Enggak apa-apa. Jalan sekarang?” Aliza mengiyakan.
Malam ini mereka akan jalan-jalan ke pasar malam. Wahyu sebelumnya yang duluan mengajak Aliza jalan-jalan. Dengan senang hati Aliza mengiyakan dan merekomendasikan pasar malam sebagai tujuan mereka kali ini.
Kesempatan ini juga akan digunakan Aliza untuk memberikan sesuatu pada Wahyu.
Saat mereka tiba di tempat tujuan, sudah banyak pengunjung lain yang berdatangan. Memenuhi beberapa permainan yang disediakan.
Tangan mereka terus bertautan saat menyelusuri semua arena di pasar malam.
“Kak, masuk rumah hantu yu. Kayaknya seru deh.”
Wahyu tertegun mendengar permintaan Aliza. Dia teringat saat menonton film horor berdua dengan Aliza. Dan itu sedikit mengagetkan menurutnya. Dia tidak takut hantu, hanya kaget saja. Walaupun ada juga sedikit takut sih.
Menolak dengan alasan takut juga tidak mungkin bagi Wahyu. dia pasti merasa gengsi. Tidak ada salahnya mencoba, anggap saja uji nyali. Begitulah pikiran Wahyu.
“Ayok!”
“Beneran? Aku pikir kakak takut lo.” Aliza tidak percaya bahwa Wahyu menurutinya. Padahal dia hanya berniat mengerjai Wahyu. Dia menerawang saat ekspresi Wahyu yang nampak pias setelah menonton horor kala itu.
“Nggak takut kok.”
“Heheh, ya udah yuk. Beli tiket dulu.” menarik tangan Wahyu.
Setelah antri, akhirnya kini giliran mereka masuk ke rumah hantu.
Baru masuk beberapa langkah, suasananya terasa mencekam.
Wahyu menggenggam erat tangan Aliza.
Mereka mulai berjalan menyelusuri ruangan. Wahyu merapatkan tubuhnya pada Aliza saat melihat gambar hantu di dinding.
“Aaa,” Saat hantu bohongan tiba-tiba muncul dan mengagetkan membuat mereka berdua refleks berpelukan. Karena kaget, Aliza lantas berteriak. Berbeda dengan Wahyu, walaupun kaget hanya ekspresi wajahnya yang berubah.
“Kak, detak jantung kakak cepat banget.” Tutur Aliza saat kepalanya yang bersandar di dada Wahyu.
Aliza mendongakkan kepalanya ke atas, tanpa melepaskan pelukan. “Haha, kakak takut ya. Wajah kakak pucat banget.” Tertawa senang saat melihat wajah Wahyu yang pucat karena kaget.
Wahyu meneggelamkan kembali kepala Aliza di dadanya. Mendekatkan bibirnya ke kepala Aliza. “Udah ya, keluar yuk.” Bisiknya di telinga Aliza. Aliza tersenyum.
“Oke,” sahut Aliza. Wahyu belum juga mengurai pelukannya. Aliza membiarkannya. Lima menit berlalu. Posisi mereka masih saling berpelukan. Untungnya tidak ada yang melihat mereka. Kalau tidak pasti disangka berbuat mesum.
“Kak, kita nggak jadi keluar?”
“Jadi,” ucap Wahyu masih di posisinya.
“Ayok. Lepas dulu pelukannya.” Menjauhkan tangan Wahyu dari tubuhnya.
Wahyu hanya tersenyum menaggapinya.
Mereka berbalik arah, dan memilih meninggalkan rumah hantu. Di sepanjang perjalanan kembali, Wahyu terus melingkarkan tangannya di tubuh Aliza.
Mereka memutuskan untuk membeli minum terlebih dahulu.
Aliza kini mengajak Wahyu untuk naik wahana bianglala. Dia sibuk selfi dan memotret pemandangan dari atas. Mengamati semua foto yang sudah diambilnya. Kemudian, melirik Wahyu yang duduk di sebelahnya. Menatapnya sebentar, seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Kenapa?” tanya Wahyu yang juga menatapnya.
Aliza melipat bibirnya. “Nggak ada,”
Wahyu melirik gambar-gambar yang di potret Aliza tadi. “Kamu tidak mengajakku?”
“Apa?” tanya Aliza heran.
“Foto,”
“Beneran kakak mau foto?” tanya Aliza semangat. Tadi dia ingin mengajak Wahyu foto berdua. Tapi dia merasa segan. Takut Wahyu menolaknya.
Wahyu mengiyakannya. Wahyu merapatkan tubuhnya. Aliza pun mengambil foto selfi mereka dari berbagai sudut. Terkadang dia meminta Wahyu yang memegang ponselnya dan mengambil foto.
Dia bahkan meminta tolong pada Wahyu untuk mengambil fotonya sendiri dengan berpindah duduk di bangku lain.
“Kenapa ekspresi kakak selalu sama?” ucap Aliza saat mengamati semua foto mereka.
“Itu ekspresi terbaikku.”
“Tapi kakak lebih tampan kalau tersenyum.” Lirih Aliza tanpa sadar. Wahyu yang mendengar lantas tersenyum lebar mendengar pujian Aliza.
“Sini, kita ulang.” Mengambil alih ponsel Aliza.
Mereka kembali foto selfi, namun dengan ekspresi Wahyu yang berbeda. Tadi dia selalu memasang wajah datar saat berfoto, tapi sekarang dia berfoto dengan bibir yang tersenyum.
“Kan bagus.” Puji Aliza. Wahyu tersenyum lagi.
“Lihat ini, kakak kelihatan lucu di sini.” Wahyu mendekat. Merendahkan tubuhnya agar lebih jelas melihat foto.
Aliza menolehkan pandangannya ke Wahyu karena tidak ada tanggapan dari Wahyu.
Tuk
__ADS_1
Jidat mereka beradu. Hal itu terjadi begitu saja karena wajah Wahyu yang begitu dengan Aliza. “Aw,” Aliza memundurkan sedikit tubuhnya sembari memegang dahinya.
Mereka saling bertatapan. Wahyu menatap dalam mata Aliza.
Aliza tersentak, saat tiba-tiba Wahyu semakin mendekatkan wajahnya. Hingga jarak mereka tinggal 5 cm lagi.
“Kak,” Aliza mendorong dada Wahyu, saat dia merasakan pergerakan bianglala semakin melambat, dan berhenti.
Waktu mereka sudah habis. Aliza segera menarik Wahyu keluar dari bianglala. Mereka berdua masih berdiri di sekitar bianglala.
“Mau naik apa lagi?” tutur Wahyu memecahkan keheningan. Sedaritadi Aliza hanya diam.
“Udah itu aja.”
Wahyu meraih tangan Aliza. Mendekati permaianan lempar bola yang berhadiah boneka.
“Kakak mau main itu?” tanya Aliza.
“Iya, aku jago kalau main ini.” Ucapnya sombong.
Pertama kali main, Wahyu hanya berhasil memasukkan tiga bola. Namun, dia tidak menyerah. Dia ikut lagi untuk kedua kalinya. Usaha yang membuahkan hasil. Wahyu sukses memasukkan kelima bolanya.
Penjual memberikan boneka sebagai hadiah Wahyu. Wahyu menerimanya, baru beberapa detik di tengahnya, Wahyu mengarahkan boneka ke arah Aliza.
"Ini untukmu," memberikan boneka untuk Aliza. Tentunya, dengan senang hati Aliza menerimanya. Senyum bahagia terukir di bibirnya yang pink.
"Mau kemana lagi?" Tanya Wahyu.
"Cari makan?" Tanya Aliza. Wahyu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Mereka beranjak dari pasar malam menuju mobil yang akan membawa mereka ke tujuan.
"Mau makan apa?" Tanya Wahyu saat mereka sudah di dalam mobil.
"Mmm, apa ya?" Memikirkan makanan yang menggugah seleranya. "Bakso. Tempat yang waktu itu. Pas kita kehujanan." Usul Aliza.
Wahyu menanggapinya dengan senyuman.
***
"Bentar kak," Aliza merogoh isi tas nya. Mengeluarkan sebuah amplop surat warna coklat.
"Ini untuk kakak," mengulurkan surat ke depan Wahyu.
"Surat?" tanya Wahyu saat amplop sudah berada di tangannya.
"Jangan dibuka sekarang. Bukanya di rumah aja." Memegang tangan Wahyu untuk menghentikan niatnya yang akan membuka surat.
Wahyu mengusap lembut kepala Aliza. Mengingat momen dia pertama kali menerima surat Aliza saat masih duduk di sekolah menengah pertama,"Oke, Adik kecilku." Ucap Wahyu.
Aliza kesal dengan panggilan Wahyu. "Jangan panggil adik kecil," melepaskan tangan Wahyu dari kepalanya.
Wahyu tersenyum melihat muka masam Aliza. Tanpa kata, Aliza membuka pintu mobil dan keluar meninggalkan Wahyu yang termangu menatapnya.
"Aliza," panggil Wahyu, dia pun ikut keluar dari mobil.
"Mana suratnya?" Menengadahkan tangan, meminta kembali surat yang sudah diberikannya.
"Di dalam mobil, kenapa?" jawab Wahyu.
Tanpa pikir panjang, Aliza membuka mobil. Mencari surat yang sudah diberikannya.
"Mana? Kok nggak ada." Tidak menemukan keberadaan surat.
"Untuk apa?" Tanya Wahyu.
"Aku mau ambil lagi, nggak jadi untuk kakak."
"Loh, kenapa mau di ambil lagi?" Tanya Wahyu heran.
Aliza diam, masih sibuk mencari amplop coklat di beberapa sudut mobil.
"Kakak simpan dimana suratnya?" Tanya Aliza saat sudah keluar dari mobil. Kini dia sudah berhadapan dari Wahyu.
"Kenapa diambil lagi?" Mengulang pertanyaan sama.
Aliza hanya diam sembari menatap Wahyu kesal.
Wahyu meraih tangan Aliza, menggenggamnya erat.
"Hei, kenapa?"
"Aku nggak suka panggilan itu," Akhirnya bicara, setelah diam beberapa saat.
"Panggilan Adik kecil?" Tanya Wahyu memastikan, yang kontan membuat Aliza melirik masam padanya.
"Oke, maaf. Nggak akan panggil begitu lagi," menyadari kesalahannya. " Kenapa nggak suka?" Mencoba bertanya.
"Kakak anggap aku adik?"
"Maksudnya?" Tanya Wahyu. " Dilihat dari umur, kamu memang di bawah ku kan."
"Jadi kakak anggap aku adik karena umur kakak lebih tua gitu?" Selidik Aliza.
Wahyu terdiam menerawang maksud perkataan Aliza. "Bukan, bukan adik seperti itu maksudnya."
"Tau ah," melepaskan tangan Wahyu yang menggenggam tangannya. Memasuki area rumahnya meninggalkan Wahyu yang termangu di samping mobil.
"Kenapa dia kelihatan marah gitu," menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah memastikan Aliza tidak nampak di pandangannya, dia kembali masuk ke dalam mobil.
Mengeluarkan amplop surat yang di sembunyikan di saku celananya. Tersenyum mengingat wajah kesal Aliza yang tidak menemukan surat di dalam mobil.
Wahyu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Aliza.
***
Saat sedang asyik bermain ponsel, sebuah panggilan muncul di layarnya. Aliza yang masih merasa dongkol sengaja menolak panggilan itu hingga beberapa kali.
__ADS_1
Walaupun masalahnya sepele, hanya karena tidak suka panggilan "adik kecil" yang dilontarkan Wahyu. Tapi entah kenapa Aliza merasa suasana hatinya sangat jelek sehingga mudah kesal dan marah karena masalah kecil.
Bahkan orang yang memanggilnya mengirimi pesan perintah untuk menjawab panggilan tersebut.
Setelah belasan kali menolak panggilan tersebut, akhirnya Aliza memutuskan untuk menekan tombol hijau yang muncul di layar sebagai tanda menjawab sebuah panggilan.
"Halo," suara Wahyu dari seberang telepon.
Aliza hanya diam tidak menanggapi.
"Masih marah?" tanya Wahyu
"Aliza," masih tidak ada sahutan.
"Jangan seperti ini, aku tidak suka." Ucap Wahyu dengan suara lirih.
"Sayang,"
Aliza membulatkan matanya mendengar panggilan Wahyu. Seketika jantungnya berdetak tidak karuan.
"Ap..pa?" Tidak bisa berkata-kata.
"Akhirnya kamu bicara juga,"
"Sayang," panggil Wahyu lagi karena tidak ada tanggapan.
"Kenapa panggil seperti itu?" Tanya Aliza yang sudah duduk sambil memegang dadanya yang berdebar.
"Ada yang salah?" Tanya Wahyu.
"Iya, salah." Ketus Aliza.
"Dimana salahnya? Kita kan pacaran sekarang!"
"Siapa yang bilang?"
"Surat. Surat dari kamu tadi."
"Oh, surat tadi. Lupain aja isi suratnya. Kita kan kakak adik. Kakak juga lebih suka panggil aku adik kecil." Sindir Aliza.
"Hei, bukan seperti itu. Kamu masih marah?"
"Nggak, nggak marah kok. Ngapain marah sama kakak sendiri." Celetuk Aliza.
"Aliza, jangan seperti ini." Kesal Wahyu.
"Kakak yang duluan tadi."
Terdengar helaan napas dari seberang telepon. "Maaf, nggak akan panggil kamu seperti itu lagi." Ucap Wahyu dengan suara mengiba.
Aliza kontan tersenyum. Dia dengan sengaja mengerjai Wahyu.
"Oke, maaf diterima." Jawaban Aliza yang spontan memunculkan senyuman di bibir Wahyu.
"Kita pacaran kan sekarang?"
"Terserah kakak, kakak maunya gimana? Kalau kakak nggak mau juga nggak papa. Aku masih punya gebetan lain."
"Mau. Jangan cari yang lain."
Mereka terdiam beberapa saat.
"Aku sayang kamu," ucap Wahyu tiba-tiba.
Aliza diam, tapi senyum terus menghiasi bibirnya.
"Aku mencintaimu," seru Wahyu, pria yang baru pertama kali mengungkapkan perasaanya pada seorang gadis.
Gadis kecil yang sudah tumbuh dewasa. Gadis yang mulai menetap dihatinya saat pertemuan pertama kali mereka ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Perpisahan beberapa tahun pun tidak menghapus posisi gadis itu di hatinya.
Pertemuan kembali diumur yang berbeda, menyirami rasa yang sempat layu karena putus asa tidak akan pernah bertemu dengan pujaan hati. Menumbuhkan rasa suka menjadi rasa cinta dan ingin memiliki seorang diri.
**Tamat**
*
*
*
Terima kasih yang sudah bersedia membaca novel yang penuh kekurangan ini.
Maaf, sudah satu bulan tidak update episode terbaru.
Selama sebulan ini saya sedang disibukkan. dengan kehidupan nyata. Memperbaiki revisi skripsi saya, mempersiapkan sidang skripsi, Revisi setelah sidang, dan mempersiapkan syarat pendaftaran wisuda tahun ini.
Saya juga mohon doa untuk di lancarkan semuanya.
Untuk season 1 saya tamatkan dulu. sebelumnya saya sudah merancangnya untuk menamatkan novel ini saat mereka sudah pacaran.
Maaf, jika novel ini tidak sesuai ekspetasi kalian.
Tetapi novel ini belum tamat sepenuhnya ya, masih ada season 2.
Di season 2 nanti akan menceritakan perjalanan cinta mereka setelah pacaran dan rencana jahat Selly. Menceritakan sesuatu yang belum di bahas di season 1.
Saya hanya berharap, semoga kalian masih setia menunggu novel ini!
Saran dan kritikan juga saya terima dengan senang hati!
terima kasih sudah membaca!
semoga suka!
Sampai ketemu di season selanjutnya!!
🥰🥰
__ADS_1