Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Tanda tangan


__ADS_3

Sebelum menutup acara OSPEK, terlebih dulu Wahyu memberikan pengumuman. Meminta para maba untuk tidak pulang dulu, dan diberi tugas untuk meminta tanda tangan pada senior. Para maba diberikan buku khusus tanda tangan. Jadi mereka tinggal meminta tangan saja, tanpa harus menyiapkan buku.


Setelah penutupan OSPEK selesai, semuanya keluar dari ruangan. Ada yang ke kantin, dan ada juga yang langsung minta tanda tangan pada senior.


***


Kantin,


Aliza dan teman-temannya tak terkecuali Rangga, yang kini sudah akrab dengan mereka, sedang menyantap makanan masing-masing. Mereka lebih memilih mengisi perut terlebih dahulu.


“Nanti kita jadikan nongkrong di tempat biasa?” tanya Amila sembari menelan makanan yang ada dimulutnya.


“Gue sih, yes.” Sahut Aliza


“Gue juga,” sahut Hilya.


“Oke, tapi lo yang traktir ya, mil!” seru Nisa.


“Sip. Tenang aja. Karena hari ini mood gue lagi bagus, gue traktir deh,” ucap Amila.


“Emangnya kemaren-kemaren mood lo rusak, ya?” ejek Aliza.


“Yee, bilang aja lo iri. Karena kelompok kami juara satu,” Amila memeletkan lidahnya.


“Cih, siapa juga yang iri. “ celetuk Aliza kesal.


“Ehem,” Rangga berdehem.


“Oh iya, nanti lo mau ikut nggak bareng kami?” tanya Aliza, yang merasa sungkan jika tidak mengajak Rangga.


“Boleh, tapi gue boleh bawa teman-teman gue, nggak?” tanya Rangga.


“Wah, boleh banget, ga.” Amila yang terlihat semangat, dan mendapat tatapan jengah dai Aliza, Hilya, dan Nisa.


“Boleh, nggak papa. Biar rame.” Jawab Aliza tersenyum, dan dijawab “ setuju” oleh Hilya dan Nisa.


Karena diselingi ngobrol dan bercanda, tanpa terasa mereka sudah menghabiskan makanan di piring masing-masing.


“Kita minta tanda tangan bareng, yuk!” ajak Amila.


“Gue sama Rangga disuruh ngumpul dulu tadi.” Sahut Aliza.


“Ngumpul dimana?’ tanya Amila.


“Ngumpul anggota kelompok A. Kami duluan, ya.” Ucap Aliza, lalu berdiri dan beranjak meninggalkan kantin bersama Rangga.

__ADS_1


Ketika keluar dari Kantin, Aliza dan Rangga berpapasan dengan Wahyu dan teman-temannya. Aliza menatap Wahyu sekilas.


“Permisi, Kak!” ucap Aliza dan Rangga sopan pada seniornya, dan dibalas senyuman oleh para seniornya. Kecuali satu orang, yang kelihatan masam ketika melihat Aliza dan Rangga. Siapa lagi kalau bukan Wahyu. Dari raut wajahnya, nampak ada ketidaksukaan melihat kedekatan Aliza dan Rangga.


***


Ruangan kelompok A,


Mereka sedang asyik mengobrol, sembari menunggu kedatangan para seniornya. Dan ada yang berselfi, seperti tidak mau meninggalkan momen sedikitpun. Beberapa menit menunggu, akhirnya Kak Farhan, Kak Dila, dan Kak anggi datang.


Para senior mengucapkan selamat atas kemenangan yang diraih para juniornya. Walaupun juara 2. Tapi mereka sangat senang dan bangga. Setelah itu, mereka berfoto bersama. Untuk dijadikan kenang-kenangan. Banyak sekali foto yang mereka ambil. Semanya sangat eksis dengan gaya masing-masing.


Tidak lupa, anggota dance juga berfoto bersama, anggota drama, dan pasangan duet yang luar biasa.


Setelah acara berfoto-foto selesai, mereka dipersilahkan bubar untuk menjalankan tugas yang diberikan. Tapi sebelum bubar, mereka terlebih dulu meminta tanda tangan pada Kak Farhan, Kak Dila, dan Kak Angga.


“Kita kemana nih, ga?” tanya Aliza. mereka kini sudah meninggalkan ruangan.


“kesana aja, yuk!” ajak Rangga sambil menunjuka ke arah kumpulan para maba yang sedang meminta tanda tangan.


Mereka pun juga ikut-ikutan gerombolan orang-orang yang meminta tanda tangan tersebut. Tidak mau melewatkan kesempatan.


“Senior-senior di sini, baik-baik, ya!” seru Aliza tersenyum, setelah mendapatkan tanda tangan dari senior perempuan tadi. Angga pun membalasnya dengan tersenyum.


“Itu kayaknya senior deh. Kesana, yuk!” ajak Aliza.


Ketika menghampiri dua orang senior laki-laki tadi. Mereka langsung memperkenalkan diri, dan mengutarakan niatnya untuk meminta tanda tanga. Tapi?


“Kalian mau tanda tangan kan? Tapi ada syaratnya?” ucap Kak Dika sambil tersenyum jahil.


“Apa Kak?” sahut Aliza dan Rangga berbarengan.


“Kalian pasangan?” tanyanya lagi. Dan dijawab gelengan oleh Aliza.


“Oke, kamu bisa menggombal, nggak? Kalau kamu mau, kami bisa langsung ngasih tanda tangan sama kalian berdua.” Ucap Kak Andre sembari menatap Aliza.


Aliza dan Rangga saling bertatapan. Sama-sama menunjukkan ekspresi bingung.


“Selain itu, Kak?” pinta Rangga.


“Nggak ada. Kami maunya itu.” Mereka masih tesenyum jahil menatap Aliza dan Rangga.


“Ayo, sebelum banyak yang datang ke sini!” lanjut Kak Andre.


Aliza terlihat memikirkan sesuatu. Dia pun memutuskan untuk menerima syarat dari mereka.

__ADS_1


“Kakak, mau nggak jadi selimut untuk saya?” ucap Aliza menundukkan pandangannya.


“Lihat ke depan. Coba lebih serius gitu. Nggak usah tegang. Nggak usah formal. Kami nggak makan cewek cantik kok. Tunjukkin juga ekpresinya!” perinta Kak Dika.


“Ya ampun, pengen gue sumpel mulut mereka pake kaus kaki. Bikin kesel aja. Emangnya kalian pikir gue mau syuting sinetron.” Gerutu Aliza dalam hati.


Menarik napas dan mengembuskan pelan, menghilangkan kekesalannya.


“Kakak, mau nggak jadi selimut untuk aku?” gombal Aliza sembari menampilkan senyumnya yang manis. Dika dan Andre terkesima melihat senyuman Aliza. Begitu juga dengan Rangga.


“Mau, memangnya untuk apa?” balas Kak Dika dengan nada suara manja.


“Biar merasa hangat jika di dekat kakak.” Jawab Aliza dengan terus menampilkan senyumnya.


“hahaha, bagus!” mereka tertawa mendengar gombalan Aliza sembari bertepuk tangan.


“Sekali lagi!” pinta Kak Dika.


“Kan udah, kak!” ucap Aliza yang tidak terima jika harus menggombal lagi.


“Kami di sini kan berduan. Jadi gombalannya, harus dua juga!” Seru Kak Andre


“Biar saya aja, Kak.” Sahut Rangga, yang dia sedari tadi.


Kak Dika dan Kak Andre tertawa kencang mendengar tawaran Rangga.


“Nggak bisa, masa cowok mau gombalin cowok.” Ucap Kak Andre yang masih tertawa.


Aliza yang sudah menampakan wajah kesal. Dia pun memutuskan untuk menggombal sekali lagi. Kalau minta lagi, awas. Aliza masih menggerutu dalam hatinya.


“Jika aku dekat kunang-kunang pada malam hari yang gelap, dia akan menerangiku dengan cahaya di tubuhnya. Tapi jika aku dekat Kak Andre, kakak akan selalu menjadi cahayaku siang dan malam.” Gombal Aliza, dan masih menampakkan senyumnya. Walaupun dengan keterpaksaan.


Andre dan Dika meresponnya dengan tertawa, karena merasa senang menjahili juniornya. Tapi mereka tetap memuji kemampuan gombal Aliza dan keberanian Aliza. Mereka pun memberikan tanda tangannya.


“Kalau mau minta bantuan jangan sungkan! Kami akan berusaha membantu, selagi masih dalam batas kemampuan kami.” Seru Kak Dika ramah sembari menyerahkan buku yang sudah ditanda tanganinya.


“Ah iya, Kak. Terima kasih banyak. Kalau begitu kami permisi dulu.” Ucap Aliza sopan, sembari menerima buku yang diberikan kak Dika. Aliza dan Rangga beranjak pergi setelah mengucapkan terima kasih.


Mereka berlalu meninggalkan kak Dika dan kak Andre, yang masih setia dengan posisi duduknya.


****


Terima kasih sudah membaca!


jangan lupa like dan komen!

__ADS_1


😊😊😊


__ADS_2