Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Kejadian di sungai


__ADS_3

"Kenapa kamu terus memaksaku pergi?"


Aliza menggigit bibirnya, bingung menjawab pertanyaan Wahyu. Dia tidak berniat untuk memaksa Wahyu pergi. Dia hanya teringat tugas Wahyu sebagai ketua HIMA untuk mengawasi kegiatan K3MB.


“Kakak bukannya harus mengawasi kegiatan K3MB?”


“Sekarang jam istirahat.” Jawab Wahyu.


Aliza ber-oh-ria menanggapi Wahyu.


“Kak, boleh nanya?


“boleh, mau nanya apa?”


“Setelah K3MB, apa masih ada kegiatan maba lainnya?”


“Ini yang terakhir.” Ujar Wahyu. Aliza mengangguk paham.


“Kakak masih marah?”


“Marah kenapa?” tanya Wahyu heran.


“Itu,,,dua hari yang lalu kakak terlihat marah.”


Wahyu tersenyum, mengingat kejadian dua hari lalu saat Aliza menolak pacaran dengannya.


“Bukan marah. Tapi sedikit kecewa.” Wahyu menyelipkan rambut Aliza ke belakang telinganya.


“Maaf,” ucap Aliza sembari menatap dalam Wahyu.


“Kenapa minta maaf?” menggenggam tangan Aliza.


“Beri aku waktu untuk menjawabnya.”


“Bukannya udah kamu jawab,”


“Oh iya ya, waktu itu kan gue langsung nolak dia.”Batin Aliza


“Lupakan jawaban itu, waktu itu aku belum memikirkannya matang-matang. Untuk sekarang berikan aku waktu untuk memikirkannya kembali.”


“Kalau jawaban yang kamu berikan tetap sama, gimana?” pancing Wahyu. Aliza bungkam.


“Apa kamu punya jaminan untuk memberikan jawaban berbeda?”


“Kak, aku...”Aliza bingung untuk menanggapi ucapan Wahyu.


“Jangan terlalu memaksakan perasaan kamu. Biarkan dia mengalir dengan sendirinya. Asalkan kamu, memberikan aku kesempatan untuk terus menunjukkan perasaanku. Izinkan aku untuk terus berada di sisimu. Sampai akhirnya hati kamu mantap untuk menerima ku.”


Aliza terdiam mendengar perkataan Wahyu.


“Istirahatlah,” tutur Wahyu sembari mengusap lembut kepala Aliza. “Boleh cium?”


“Ha?” Aliza kaget mendengar permintaan Wahyu.


Wahyu menunduk, lalu mencium puncak kepala Aliza.


Aliza memejamkan matanya saat bibir wahyu menyentuh kepalanya.


“Istirahatlah,” Wahyu bangkit berdiri dan meninggalkan Aliza.


 Aliza menyentuh kepalanya yang dicium Wahyu. Menarik bibirnya dan tersenyum senang. Sedetik kemudian, senyum di bibirnya lenyap.


“Astaga. Gue dari kemaren belum keramas.” Mengingat selama K3MB, tubuhnya belum pernah tersentuh air sama sekali. Bukan hanya dia, semua mahasiswa baru pun belum ada yang mandi. Memang seperti itu peraturan yang diberikan. Tidak ada yang boleh mandi, kecuali mengganti pakaian.


“Rambut gue pasti bau.” Lomba kemaren cukup membuatnya berkeringat banyak. Menutup wajah dengan kedua tangannya. Merasa malu, karena Wahyu yang mencium rambutnya saat sedang bau.


Untuk tidak ada mahasiswa lainnya yang ada di tenda.


Bukan hanya Aliza yang sakit, ada juga beberapa mahasiswa baru lain yang kondisi fisiknya lemah dan gampang sakit. Mereka akan diperiksa dan diberikan obat sesuai gejala yang dialami. Lalu kembali ke tenda kelompok dan beristirahat di sana.


***


Tadi, saat membuka ponselnya dan melihat isi pesan yang memenuhi grup. Aliza membacanya satu persatu pesan yang dikirim. Takut ada sesuatu pengumuman yang penting. Dia kaget mendapati fotonya dan Ayu yang terpampang di grup. Mereka bahkan mengira dia dan Ayu hilang.


Aliza tertawa, merasa lucu karena kesalahpahaman ini. Mereka mengira dia hilang, padahal dia sedang enaknya tidur di tenda kesehatan.


Malamnya,


Aliza merasa keadaannya sudah membaik. Dia memutuskan untuk kembali ke tenda kelompok.


Kegiatan pun sudah selesai dilaksanakan. Besok mereka semua akan pulang, kembali ke rumah masing-masing.


“Lo udah baikan?” tanya Ayu.


“Udah,” jawab Aliza.


Ini malam terakhir mereka tidur di tenda. Kesempatan ini mereka gunakan untuk saling bercerita dan bercanda yang mengundang gelak tawa.


“Za, temanin gue pipis.” Pinta teman kelompok yang duduk di sebelahnya.


Tumben sekali teman kelompoknya ini mengajak dia bicara. Selama K3MB, dia bahkan tidak mengetahui nama semua teman kelompoknya, termasuk gadis yang meminta tolong padanya saat ini.


“Kebetulan gue juga mau pipis. Bentar, gue panggil Ayu dulu,”


“Jangan...eh maksudnya nggak usah. Kita berdua aja. Ayu tadi udah ke sungai sama yang lainnya.” menahan tangan Aliza.


“Oh ya udah. Yuk.” Bangkit berdiri. “Gue ambil senter dulu,”


“Nggak perlu, pakai senter gue aja,” menunjuk senter yang ada di tangannya.


“Sandal gue mana ya?” mencari sandal miliknya di antara banyaknya sandal yang berbaris di depan tenda.

__ADS_1


“Nggak usah pake sandal. Sandal gue juga nggak tau kemana. Kita nyeker aja.” mengarahkan senter ke kakinya yang tidak memakai alas kaki.


“Oh, oke.”


“Oh iya, nama lo siapa? Maaf gue nggak ingat.” jujur Aliza.


“Gue Suci. Iya nggak papa. Kita juga baru kenalan 2 hari. Wajar kalau lo belum hapal.”


Saat mereka berjalan menuju sungai, nampak beberapa senior dan mahasiswa baru laki-laki yang sedang berkumpul. Sepertinya mereka juga menghabiskan waktu untuk mengakrabkan diri dengan teman-teman.


“Gue pipisnya duluan ya. Tolong pegang senternya. Tapi jangan senterin gue. Gue malu.”


“Iya,” Aliza terkekeh pelan. Membelakangi Suci. Mengarahkan senter ke arah lain.


Setelah melihat Aliza membelakanginya, Suci mulai menuntaskan sesuatu yang sudah ditahannya sedari tadi.


“Udah?” tanya Aliza.


“Belum,” jawab Suci cepat.


“Gue udah siap. Sini gue pegangin senternya.” Mengambil alih senter dari tangan Aliza.


Aliza menjauhi suci, mendekat ke tepi sungai.


“Akh,” jerit Aliza pelan.


“Kenapa za?” Suci yang membelakanginya Spontan berbalik.


“Gue kayak keinjek sesuatu. Sakit banget. Tolong senterin.”


Suci mendekat. Mengarahkan cahaya senter ke kaki Aliza.


“Berdarah za. Lo nginjek pecahan kaca.” Menyoroti kaca yang menempel di sudut telapak kaki Aliza.


“Sini, kita bersihin darahnya.” Menarik lengan Aliza ke tepi sungai.


Byur


“Maaf...Maaf za. Nggak sengaja. Gue kepeleset. Batunya licin.” Ucapnya pada Aliza yang terduduk di sungai. Seluruh badannya sudah basah saat terjatuh tadi.


“Lo tunggu di sini. Gue cari bantuan dulu.” berlari meninggalkan Aliza yang masih terduduk di sungai.


Aliza menatap tajam Suci yang meninggalkannya.


“Kuat banget ngedorong nya,”


“Auh, sakit.” Aliza mencoba bangkit berdiri dengan satu kaki. Meraba saku di celana training yang dikenakannya. Mengeluarkan ponsel dari saku. Ponsel anti air yang sengaja dibeli untuk memudahkan jika dalam kondisi seperti ini. Menghidupkan senter untuk menerangi langkahnya menjauhi sungai. Beruntung dia menyimpan ponselnya tadi di saku celana.


“Gimana nih? Nggak berani ngambil kacanya.” Ucap Aliza dengan suara bergetar.


“Suci lama.”


Akhirnya dia mencoba menelpon Hilya. Walaupun jaringan tidak penuh seperti di kota, tetapi masih terhubung jika menelpon seseorang.


“Tolongin gue,” Pintanya dengan suara bergetar menahan sakit.


“Lo kenapa?”


“Kaki gue nginjek kaca. Gue sendirian di sungai. Buruan sini, tolongin gue.”


“Kok bisa sih. Bentar, gue ke sana.”


Hilya belum mematikan sambungan teleponnya, terdengar dia meminta bantuan teman untuk menemainya.


“Aliza,” panggil Hilya untuk memastikan orang yang dilihat adalah Aliza.


“Hilya.” Sahut Aliza.


Hilya dan kedua temannya mendekati Aliza.


Mereka tidak ada yang berani mencabut pecahan kaca yang tertancap di kaki Aliza.


Mereka akhirnya memapah Aliza, dan membawanya ke tenda kesehatan. Melewati mahasiswa laki-laki yang sedang asyik bercanda. Saat melihat Aliza yang dipapah, mereka bertanya.


“Kenapa?”


“Kakinya kena pecahan kaca kak.” Sahut teman kelompok Hilya.


Mereka yang penasaran memutuskan untuk mengikuti Aliza ke tenda kesehatan.


Perawat yang belum tidur dimintai tolong untuk menangani Aliza. Darah masih terus mengalir dari kaki Aliza. Usai mengeluarkan pecahan kaca dan memberikan pertolongan pertama, perawat menyarankan untuk dijahit karena lukanya yang terlihat dalam.


Ada beberapa pecahan kaca yang mengenai telapak kaki Aliza. Satu pecahan kaca yang lebih besar diantara lainnya mengakibatkan luka robek yang dalam di sudut kakinya. Sedangkan pecahan kaca yang lebih kecil menacap di telapak kaki.


Banyak mahasiswa yang masih terjaga, mereka mengelilingi tenda untuk melihat. Perawat memutuskan untuk membawa Aliza ke puskesmas terdekat. Peralatan yang dibawa tidak lengkap untuk menjahit luka di kaki Aliza.


Sebelumnya dia meminta tolong untuk mengambilkan pakaian ganti untuk baju Aliza yang basah.


Hilya dengan cepat menuju tenda kelompok Aliza. Mengambil tas Aliza yang berisi pakaian dan barang lainnya. Dia langsung membawa semuanya, takut nanti ada barang lainnya yang diperlukan Aliza.


Ayu sempat bertanya saat Hilya masuk ke tenda mereka. Dia langsung menjelaskan apa yang terjadi pada Aliza. Seketika, semua teman kelompok Aliza bergegas melihat ke tenda kesehatan.


Wahyu yang saat itu berkumpul bersama teman-temannya, melihat seorang mahasiswi dipapah oleh dua temannya. Temannya bertanya pada ketiga mahasiswi tersebut.


Usai mendengar jawaban mahasiswi tersebut, dia dan teman-temannya bergegas mengikuti mereka. Sebagai ketua HIMA, dia merasa harus bertanggung jawab atas apa yang di alami oleh mahasiswi tersebut. Karena selama kegiatan K3MB, dia memiliki tanggung jawab penuh terhadap semuanya.


Saat melihat mahasiswi yang terkena pecahan kaca, dia sontak kaget. Dia mengenali mahasiswi tersebut. perasaan cemas muncul seketika.


Dia bisa melihat Aliza yang nampak menahan sakit. Ketika mendengar Aliza akan dibawa ke puskesmas terdekat, dia langsung meminta tolong pada Rio untuk menyiapkan mobil miliknya yang dibawa dari kota.


“Biar gue aja,” ucap Wahyu saat teman-temannya mendekat untuk membawa Aliza ke dalam mobil.

__ADS_1


Wahyu menggendong Aliza. Membawanya pada mobil yang sudah disiapkan Rio. Hilya mengikuti Wahyu dari belakang dengan membawa tas Aliza.


“Sakit kak,” adu Aliza dengan berbisik di telinga Wahyu. Dia tambah erat memeluk leher Wahyu. Menyembunyikan wajahnya di leher Wahyu.


Mendengar bisikan Aliza, Wahyu tambah erat memeluk Aliza dalam gendongannya.


Merek berempat menuju puskesmas terdekat. Aliza duduk di belakang dengan Hilya yang menemaninya.


Sebelum memilih lokasi tersebut untuk melaksanakan kegiatan K3MB. Panitia HIMA terlebih dahulu mencari daerah yang dekat dengan puskesmas atau rumah sakit. Agar lebih memudahkan jika terjadi kecelakaan yang mengharuskan untuk ditangani segera jika kondisinya parah dan perlengkapan perawat di tenda tidak memadai.


***


Usai ditangai pihak puskesmas, Aliza mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian yang dibawa Hilya. Dengan bantuan Hilya, tubuhnya kini sudah tidak kedinginan karena memakai baju yang basah.


“Masih sakit?” tanya Hilya.


“Iya, perih banget.” Menatap kakinya yang sudah diperban. “Kak Wahyu mana?”


“Di luar,”


“Lo temanin gue di sini ya?” pinta Aliza.


“Iya,” Hilya menggangguk setuju.


“Tadi lo sendirian ke sungai?” tanya Hilya penasaran.


“Nggak, waktu pergi gue berdua bareng teman.” Diam sejenak sebelum lanjut bicara, menerawang kejadian yang baru dialaminya. “Dia pergi mau minta tolong, tapi lama banget. Makanya gue nelpon lo. Untung lo belum tidur.”


“Gue belum tidur, soalnya teman kelompok gue heboh banget.”Terkekeh pelan mengingatcanda tawa teman kelompoknya.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


“Gue buka pintu dulu,” menuju ke arah pintu yang memang sengaja dikunci saat Aliza ganti pakaian. Tidak ada pasien lain di ruangan Aliza. Makanya Hilya berani mengunci pintu ruangan.


Wahyu dan Rio masuk ke dalam ruang perawatan Aliza.


“Gimana? Masih sakit?” tanya Wahyu.


“Nggak sesakit tadi,” jawab Aliza.


“Apa kata dokternya tadi?”duduk di tepi ranjang Aliza.


“Dokternya bilang udah boleh pulang. Tapi, saat tau nginap di tenda. Dokter lebih menyarankan nginap di sini, dan besok pulang.” Jelas Aliza. Dokter lebih menyarankan untuk menginap, agar lebih cepat ditangani jika ada keluhan.


Aliza mengalihkan pandangannya ke baju kaos lengan panjang yang di pakai Wahyu.


“Kak, bajunya basah.” Tutur Aliza saat memegang dada Wahyu. Dia teringat, Wahyu menggendongnya saat bajunya masih basah.


Wahyu menggenggam tangan Aliza di dadanya. “Nggak apa-apa.”


“Ehem,” deheman Rio memutuskan kontak mata Aliza dan Wahyu. “Ada orang lain di sini,” sindir Rio.


Aliza menarik tangannya yang digenggam Wahyu.


“Istirahatlah, kami kembali ke tenda dulu.” mengusap pelan kepala Aliza. “Besok aku jemput lagi ke sini.”


Aliza mengganguk paham. Wahyu dan Rio meninggalkan mereka berdua.


Malam ini Hilya menginap di rumah sakit menemani Aliza. Dia tidur di atas brankar lainnya. sebelumnya dia sudah memberitahu Amila, Nisa, dan Rangga di grup mengenai kondisi Aliza.


***


Besoknya,


Setelah pengumuman pemenang lomba, kegiatan K3MB resmi selesai. Mereka kini sedang bersiap-siap untuk kembali pulang. Membereskan semua perlengkapan yang dibawa dan merapikan kembali tenda yang dibuat.


“Demam lo udah turun,” ujar Hilya setelah menempelkan tangannya di dahi Aliza.


Saat tengah malam, Aliza merasa kedinginan dan badannya terasa lemah. Dia mengeluh pada Hilya, untuk meminta tolong memanggilkan dokter.


Kala itu, Hilya memegang dahinya yang terasa panas. Kemudian, dia memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Aliza.


Awalnya dokter mengukur suhu badan Aliza menggunakan termometer yang menunjukkan angka 39 derajat dan memeriksa bagian vital lainnya. Dokter memberikan obat yang sesuai dengan gejala yang di alami Aliza. Pagi


ini, demam yang dialaminya tadi malam sudah turun. Penyebab demam yang dialaminya, kemungkinan karena tubuhnya terkena air sungai yang dingin saat malam hari.


Wahyu kembali ke puskesmas tempat Aliza di rawat dengan membawa tas berisi barang Hilya.


Sebelumnya, Hilya meminta tolong pada teman kelompoknya untuk membereskan barang-barang miliknya dan menyerahkannya pada Wahyu agar dibawa ke puskesmas.


Ketika barang sudah berada di tanganya, Hilya memilih membersihkan diri di kamar mandi yang ada di ruang perawatan Aliza.


Wahyu mengajak Aliza untuk ikut pulang bersamanya dan Rio menggunakan mobil miliknya. Awalnya Aliza menolak. Namun, Wahyu terus membujuknya dengan Alasan agar Aliza lebih mudah istirahat mengingat kondisi kakinya yang terluka.


Aliza menolak karena dia merasa terus merepotkan Wahyu. Selain itu, dia  malu jika hanya perempuan satu satunya. Akhirnya Aliza luluh. Dia meminta izin Wahyu untuk mengikutsertakan Hilya pulang satu mobil bersama mereka. Wahyu tidak keberatan dan menyetujuinya.


Sebelum pulang, Wahyu terlebih dahulu membayar tagihan kamar dan perawatan Aliza, juga menebus bebrrapa resep obat yang diberikan dokter.


Wahyu kembali menggendong Aliza saat menuju mobil. Menempatkan Aliza duduk di bangku kedua bersama Hilya. memperbaiki posisi kursi yang nyaman bagi Aliza.


Setelah semua urusan selesai dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal, mereka berempat mulai meninggalkan desa yang beberapa hari ini mereka tempati untuk melaksanakan kegiatan K3MB.


.


Rio yang duduk di belakang kemudi melajukan mobil dengan kecepatan normal. Membelah jalanan yang nampak sepi. Bus yang ditumpangi yang lainnya juga sudah berangkat menuju kota.


*


*


*

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA!


SEMOGA SUKA....


__ADS_2