
"Sebelumnya kami sudah peringatkan kepada kalian. Siapa yang tidak membawa perlengkapan OSPEK akan diberi sanksi. Bagi kalian tidak melengkapi, akan tetap dihukum juga. Dan mendapatkan hukuman yang sama.” seru Wahyu tegas.
“Yaaah! kenapa seperti itu, kak?” seru salah seorang maba. Dia hanya memakai kalung nama saja. Tapi tidak memakai topi koboi.
“Iya memang harus seperti itu. Walaupun kalian membawa salah satu. Artinya kalian tetap saja tidak melengkapi perlengkapan OSPEK. Memangnya apa alasan kalian sehingga tidak membawa perlengkapan?” seru Wahyu marah.
“Sekarang saya ingin tanya kalian satu-satu, kenapa kalian tidak membawa perlengkapan OSPEK. Saya ingin tahu alasan apa saja yang akan kalian sampaikan untuk membela diri kalian. Kamu yang barisan depan maju kesini!” ucap Wahyu seraya menunjuk salah satu maba barisan depan untuk berdiri di dekatnya. Maba perempuan tersebut maju dan mendekat ke arah Wahyu.
“Maaf, kak! Saya tidak memakai perlengkapan OSPEK, karena ketinggalan berita. Kemarin ponsel saya sempat rusak kak. Jadi saya tidak tahu pengumuman terbaru.” jawab mahasiswa tersebut seraya menatap Wahyu.
Para maba bergiliran di suruh maju ke depan untuk menyampaikan alasannya. Berbagai alasan disampaikan oleh mereka. Bahkan ada yang bilang karena lupa maupun ketinggalan di rumah.
Hingga tiba giliran Aliza untuk menyatakan alasannya. Awalnya Aliza ragu untuk maju ke depan. Tapi karena desakan dari para senior, mau tidak mau dia pun maju ke depan dan mendekat ke arah Wahyu.
Aliza maju menghampiri Wahyu sembari menundukkan kepalanya. Dia juga bingung harus respon apa, jika Wahyu mengenalinya.
“Maaf kak! Saya tidak melengkapi perlengkapan OSPEK. Karena tadi kalung nama saya hilang. Pad....” ucap Aliza yang terpotong oleh Wahyu.
“Apa kau tidak punya sopan santun untuk menatap orang ketika bicara?” seru Wahyu sedikit membentak. Aliza sedikit terkejut hanya bisa menelan salivanya.
“Maaf, kak!” seru Aliza seraya menatap Wahyu.
__ADS_1
Mata mereka saling bertemu. Wahyu terdiam. Dia seperti memikirkan sesuatu. Setelah terdiam sejenak, Wahyu kembali membuka suaranya.
“Jelaskan kenapa kamu tidak memakai kalung nama?” tanya Wahyu sembari menatap Aliza.
“Apa dia nggak ngenalin gue ya? Tapi bagus deh kalau gitu," batin Aliza sembari senyum dengan pandangan yang masih menatap Wahyu.
“Kalung nama saya tiba-tiba hilang kak. waktu ngumpul tadi masih ada kak. Sepertinya kalung nama saya terjatuh. Tapi saya tidak tahu dimana, kak.” jawa Aliza.
“Tunggu, tadi teman saya menemukan kalung nama. Apa itu punyamu?” tanya wahyu sembari memanggil Aliza yang sudah beranjak beberapa langkah.
“Benarkah kak?! apa saya boleh melihatnya sebentar? siapa tahu itu punya saya." tanya Aliza antusias.
“Tunggu sebentar!” seru Wahyu sembari berjalan menjauhi Aliza.
Begitulah yang dipikirkan Aliza
Wahyu mendekati Sinta yang berdiri tak jauh dari barisan.
“Sin, kalung nama yang lo temuin tadi. Dimana sekarang?” tanya Wahyu
“Tadi gue bawa ke ruangan HIMA, emang kenapa? Apa kalung itu punya dia?” Jawab Sinta sembari melirik ke arah Aliza
__ADS_1
“Iya,” seru Wahyu singkat sembari kembali ke depan barisan.
“Kalau gitu biar gue aja yang ambilkan!” ucap Sinta sembari ingin beranjak. Namun di cegah cepat oleh Wahyu
“Biar gue aja sama dia!” seru Wahyu. Sinta hanya bisa menganggukkan kepalanya kebingungan.
“Sini ikuti saya!” ucap Wahyu setelah kembali mendekati Aliza
Tanpa pikir panjang Aliza pun mengikuti Wahyu.
“Tolong lo urus mereka! Gue mau ke ruangan HIMA dulu sebentar.” Seru Wahyu sedikit berbisik pada Rio.
Rio hanya mengangguk. Padahal dia sendiri bingung. Tumben Wahyu mau mengantarkan junior mereka hanya untuk mengambil barangnya. Padahal dia bisa minta tolong untuk mengambilkannya pada senior yang lainnya.
Rio menepiskan pikirannya. Dan langsung kembali memimpin barisan untuk memberitahukan hukuman mereka. Sebelumnya dia meminta alasan pada maba yang terakhir.
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen!
Terima kasih sudah membaca!