Pahit Dan Manis

Pahit Dan Manis
Episode 11 - Wanita tegar nan tangguh


__ADS_3

Mereka kebingungan dengan ketidakhadiran Sierra, "Kita harus menemuinya usai sekolah," Ujar Luke yang hari ini mengenakan tongkat kaki untuk membantunya berjalan. Memaksakan diri untuk sekolah karena tak mau ketinggalan materi yang harus di pahami untuk ujian kelulusan pekan depan. "Yeah aku ikut." Ucap Ozgur. "Begitu pun denganku," Tambah Pooja yang hari ini kebetulan membawa mobil ibunya ke sekolah.


Sementara ketiga temannya yang sedang menyelesaikan kelas terakhir di sekolah, Sierra harus membawa makanan untuk bibinya di rumah sakit. "Terimakasih banyak ma'am telah menemaninya, aku sangat cemas semalaman memikirkan keadaannya." Gadis itu sangat berterimakasih pada Mrs. Emily yang sudah berbaik hati menemani Daisy dari sejak kemarin, "Tenang saja, kita harus menolong sesama bukan?" Dengan tersenyum. "Baiklah aku pergi sekarang, kabari saja aku jika kau membutuhkan bantuanku sayang."


Tubuhnya yang lemah itu membuat Sierra tak berani untuk mengamatinya lebih lama, Daisy tersenyum kepadanya. "Gadis baik kesayanganku, aku tahu kau tidak masuk sekolah hari ini, tapi besok kau harus sekolah." Suaranya yang serak itu mengingatkannya akan hari kemarin yang tak mau mengatakan apapun padanya. Sejenak gadis itu terdiam, "Kau membawakan itu untukku?"

__ADS_1


"Ya, tentu saja ini untukmu, hanya untukmu." Sierra pun menghampiri bibinya itu dengan mengusir pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya. "Makanlah yang banyak."


Sebenarnya dengan melihat sikapnya seperti itu Daisy mengetahui bagaimana perasaan Sierra yang telah melihatnya dalam keadaan buruk itu, "Apa kau tak mau memberiku pelukan???" Mendengarnya bertanya seperti itu tentu saja Sierra langsung memeluknya dengan menahan tangis, "Aku baik-baik saja sayang, jangan cemaskan bibimu ini lagi ya, ini semua memang harus terjadi karena takdir tuhan." Jelasnya tegar. "Aku menyayangimu Dz."


Wanita kaya yang memberikan tempat tinggal pada Daisy itu memberikan senyuman tulus padanya yang hendak meninggalkan ruangan, Sierra hanya berharap agar pekerjaan bibinya baik-baik saja setelah kejadian buruk yang telah terjadi. Gadis itu menunggu di luar ruangan dengan rasa gelisah, tiba-tiba ponselnya bergetar. Luke menghubunginya karena ingin mengetahui alasan kenapa ia tak datang ke sekolah hari ini. Pikirnya Scott hanya memberitahu staf absensi, "Aku baik-baik saja, aku tak sakit hanya saja... Bibiku yang sakit." Ketiga temannya itu memaksa untuk bertemu dengannya di rumah sakit, dan wajar saja mereka merasa khawatir padanya karena baru kali ini ia tak masuk sekolah tanpa memberi kabar apapun pada mereka.

__ADS_1


Tak lama setelah ia mengakhiri panggilan dari Luke, Mrs. Madison sudah selesai berbicara dengan bibinya. Wanita itu masih memberinya senyuman, "Kau gadis yang baik, jagalah bibimu itu ya, sampai nanti." Ia pun berlalu pergi dengan langkah anggun yang cocok dengan sikapnya yang lembut. "Hati-hati,"


"Pergi saja dengan mereka sayang." Sembari menunggu kedatangan teman-temannya, Sierra menemani bibinya yang sedang menghabiskan makan siang. "Aku tak terburu-buru, tenang saja." Gumamnya sembari memberikan segelas minum pada Daisy. "Mrs. Madison? Apa yang ia katakan?" Tanya gadis itu. "Dia sangat memahami keadaanku ini, tentu saja dia adalah orang yang sangat baik padaku, untuk sementara ini aku di istirahatkan," Belum sempat menyelesaikan ucapannya Sierra langsung menimpal. "Kau di pecat???" Bibinya itu tertawa kecil. "Oh Sierra, dengarkan dulu perkataanku yang belum selesai ini sayang... Tentu saja tidak, aku tak di pecat, ia memberikanku bantuan untuk menyelesaikan kasus ini dengan mengandalkan pengacara terbaiknya, bahkan Mrs. Madison memberiku biaya perawatan ini sampai aku pulih nanti."


Sierra di buat tenang dan juga bersyukur setelah mendengarkan penjelasan bibinya itu. "Oh syukurlah," Ia menggenggam tangan Daisy.

__ADS_1


__ADS_2