Pahit Dan Manis

Pahit Dan Manis
Episode 20 - Bersikap seperti biasanya


__ADS_3

Alex menyeretnya menuju mobil yang terparkir di halaman itu, tapi kemudian lelaki itu merintih kesakitan karena kakinya masih belum pulih dengan sempurna.


"Kau tak menggunakan tongkat kaki huh?" Alex menatapnya, "Kau sialan!" Kesalnya yang membuat Sierra tertawa, "Aku sialan huh? Lalu kau apa? ********? Alex si brengsek? Atau si pecundang? Apa!" Gadis itu membuatnya bungkam,


"Sial Alex, tak sadarkah kakimu masih terasa sakit? Mengapa kau berani menghadapiku dengan keadaan seperti ini? Aku tak akan melawanmu bung maafkan aku." Jelasnya, gadis itu merebut kunci mobil milik Alex,

__ADS_1


"Hey! Kembalikan padaku." "Masuklah biar aku yang mengemudi, lihat kakimu itu apa mampu menginjak pedal dan rem dengan baik huh?" Sierra benar-benar membuatnya kebingungan, Alex menatapnya dengan heran "Baiklah, aku minta maaf padamu karena telah membuat kaki dan tanganmu menjadi sakit, ayo masuk." Pemuda itu tak menyangka dengan sifat yang berbeda dari gadis itu, terlihat ramah dan baik.


Tiba-tiba Scott muncul dan membuat mereka terkejut, "Sierra???" Sapaan itu membuat Alex keheranan. "Scott? Hey bung kau tinggal disini?" Tanya Alex, "Yeah Alex, aku dan Sierra bertetangga." Jujurnya. "Baiklah kawan-kawan kita bisa terlambat sekolah, kita pergi bersama dan aku yang mengemudi."


Sikap Sierra terlihat seperti biasanya, tak ada ekspresi apapun yang dilihat Scott setelah kejadian semalam. "Mengapa kau tiba-tiba baik padaku huh?" Alex yang kini duduk di sampingnya terus mengoceh, "Apa? Masalah kita selesai, tak ada masalah apapun lagi sekarang karena dengan kekalahanmu itu sudah mengakhiri semua penderitaan Luke, bahkan anak-anak lain." Jawabnya serius dengan fokus pada kemudi yang di kendalikannya. Scott tersenyum mendengarnya berbicara keren seperti itu, "Persetan dengan yang kau katakan itu, aku tidak kalah, lebih tepatnya aku mengalah." Alex menjaga reputasinya, "Uhuh? Terserah padamu bung."

__ADS_1


"Apa yang baru saja kulihat itu Poo?" Luke terkejut melihat Sierra menggandeng Alex memasuki ruangan kelas. "Astaga." Pooja tak mempercayainya. "Ozgur dan yang lainnya harus melihat ini."


Tim softball yang pekan depan akan mengalami pensiun karena kelulusan mereka itu, kini sedang menikmati ruangan khusus tim yang beraroma keringat. Kostum softball yang berjajar itu terlihat keren meskipun tak tertata rapih, "Aku akan merindukan ruangan ini." Gumam Nick. "Keren bukan? Kita sudah melewati semua ini dengan bersama, tak terasa." Sambung Ozgur. "Semua pertandingan yang pernah kita menangkan tahun lalu adalah suatu kebanggaan bagi diriku sendiri, jika aku memiliki mesin waktu, akan ku putar ulang saat-saat itu." Timpal sanchez dengan mengunyah permen karetnya, Thompson hanya tersenyum mendengarkan semua curahan kawan-kawannya itu.


"Kini tak ada lagi yang akan kita hadapi selain ujian kelulusan dan, prom." Ucap Nick tertawa. "Oh bung, itu lebih mengerikan di bandingkan dengan pertandingan terakhir kita." Ozgur tak mementingkan acara lebay itu karena ia sudah tenang karena sahabatnya lah Pooja yang akan menjadi pasangannya saat di prom nanti.

__ADS_1


"Siapa gadis yang akan menemanimu nanti?" Tanya Thompson pada Sanchez. "Si junior Paula jika bisa." Jawabannya itu membuat ketiga kawannya tertawa terbahak-bahak, padahal yang sedang di pikirkannya adalah Sierra bukan Paula. "Aku hanya bergurau."


__ADS_2