Pahit Dan Manis

Pahit Dan Manis
Episode 14 - Rasa khawatir yang berkurang


__ADS_3

Selama perjalanan kembali, ketiga temannya itu sangat berisik. "Kau sangat hebat! Aku tak menyangka semua itu akan terjadi!" Luke terus memujinya. "Kau membuatku terdiam Sierra, darimana kau bisa bela diri?" Ozgur pun sangat tak mempercayai apa yang telah di lihatnya, karena ia mengenal Sierra sebagai gadis pemarah yang pendiam dan tak mempedulikan hal apapun.


"Pamanku dulu yang mengajarinya." Dan kepalanya terasa sakit setelah menendang Alex sepuas hatinya. "Sierra, kau sangat marah sehingga berhasil membuatnya takut padamu." Pooja sama halnya terus memuji kemampuan bela dirinya itu yang walaupun sudah lama sekali tak ia teruskan sejak kepergian paman Theo. "Itu sudah lama sekali, tapi entahlah kenapa aku masih mengingat setiap gerakan tadi." Gumamnya dengan mengingat senyuman pamannya yang selalu membuatnya tertawa saat dulu. "Kau menemaniku sampai akhir paman," Ucapnya dalam hati.


Semalaman ia tak bisa tidur karena setiap ruangan rumah sakit tak akan pernah membuatnya merasa nyaman, tambah lagi dengan sekujur tubuhnya yang terasa sakit akibat gerakan yang di lakukannya siang tadi. Bibinya sudah tertidur dengan nyenyak, gadis itu terus berdoa akan segala harapan baik bagi bibinya itu.

__ADS_1


Cahaya matahari yang menembus jendela ruangan itu membuatnya bangun, "Hey." Bibinya terlihat siap di pagi itu, "Kenapa kau sudah bangun???" Tak lama seorang perawat masuk dengan membawa kursi roda, "Jemputanmu sudah berada di luar." Ucap perawat itu. "Baiklah, ayo kita pulang Sierra." Karena Daisy akan menjalani perawatan di rumah seperti permintaannya pada Mrs. Madison yang baik hati itu. "Tapi kau masih..." Sambil membantunya untuk duduk di kursi roda. "Ayolah jangan banyak bertanya, kau ingin kembali ke rumah atau tidak huh???"


Perawat yang bernama Timothy itu membawa Daisy masuk ke dalam rumah, ia akan tinggal di rumah itu melakukan perawatan sampai Daisy benar-benar kembali sehat. Sierra masih berada di luar dengan membawa tas berisi pakaian kotor bibinya, "Terimakasih banyak sir." Sierra berterimakasih pada pria yang telah mengantarkan mereka sampai ke rumah. "Ini sudah pekerjaanku, Mrs. Madison memberiku tugas untuk menjaga kalian di rumah ini sampai Daisy kembali pulih." Mendengar hal itu Sierra merasa kaget karena ini benar-benar berlebihan, "Aku bisa menjaganya, itu tak perlu." "Tapi ini adalah pekerjaanku, aku harus menuruti perintah majikanku itu nak."


"Kau pergilah sekolah, tak usah khawatir." Ujar Mr. Erwin. "Baiklah, kumohon jaga dia dengan baik." Pintanya. "Sampai jumpa Sierra!" Teriak bibinya. "Yeah! Cepatlah sembuh Dz!"

__ADS_1


"Aku sangat tak percaya dengan apa yang telah kudengar, apa itu benar?" Scott benar-benar tak hadir di gubuk kemarin itu, "Yeah." Dengan dinginnya Sierra menjawab. "Apa yang terjadi huh? Apa kau bodoh sehingga berani menyerangnya?" Lelaki itu merasa aneh padanya karena tak ada orang yang berani menghadapi Alex selain Thompson seorang.


"Aku hanya memberinya peringatan." "Peringatan? Apa yang kau lakukan?" Gadis itu tertawa kecil mengingat ekspresi Alex yang mendapat tendangan mautnya kemarin, "Aku menendangnya."


Namun kini buktinya tak hanya Thompson yang mampu menghadapi Alex, ada orang kedua yang bisa juga melawannya yaitu Sierra. "Sial! Kau bergurau? Kau menendangnya???" Scott tak mempercayainya.

__ADS_1


"Hanya itu yang kulakukan, dan dia pun kalah di hadapan semua temannya, dia seorang yang payah Scott."


"Kau gila Sierra, bagaimana dengan hari ini? Dia tak akan melepaskanmu." Scott selalu saja menganggap Alex adalah orang yang tak akan membiarkan targetnya lolos begitu saja. "Apakah dia akan datang ke sekolah dengan tangan dan kaki yang tak bisa bergerak???"


__ADS_2