Pahit Dan Manis

Pahit Dan Manis
Episode 46 - Tersadar akan mimpinya yang nyata


__ADS_3

Semua mata tertuju padanya, dengan itu membuatnya tak merasa nyaman. "Oh sial..." Jeritnya dalam hati dan merasa marah kepada bibi dan perawatnya itu karena telah meriasnya dengan sangat berlebihan. "Sierra!!!" Pooja berteriak dengan senyuman lebar. "Jangan tatap aku seperti itu kumohon."


Sanchez tak bisa mengedipkan matanya lagi setelah melihat gadis itu dengan penampilannya yang cantik melebihi seorang Carly maupun Paula.


Sepatu haknya sederhana saja namun dengan mengenakan gaun pendek yang cantik berwarna perak itu sangat cocok untuknya. Di tambah lagi dengan rambutnya terurai di salah satu bahunya menambah kesan elegan dan seksi karena memiliki leher yang indah.


Acara pun di mulai, "Kau mau mengajaknya lagi???" Tanya Thompson pada Sanchez.


Band aliran rock itu pun memulai suasana ramai dengan alunan musik yang mereka mainkan. "Bersoraklah!!!" Suara vokalis tampan itu menambah keseruan mereka.


Sierra berjalan menyusuri kerumunan orang itu untuk mengasingkan diri bersama para kru di balik layar, Sanchez hanya mengamatinya dari kejauhan.

__ADS_1


"Anne!" Mereka harus saling berteriak karena suara musik dari band rock itu sangat keras. "Sierra??? Kenapa kau berada disini???" Heran gadis tomboy itu. "Kau cantik sekali Anne!"


"Kau juga! Menurutku kau yang paling menarik di mata semua orang!" Anne berkata jujur karena melihatnya sendiri ketika Sierra menjadi pusat perhatian tadi.


"Baiklah lupakan saja kecantikanku ini! Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu disini???" Sierra memanfaatkan dirinya sendiri untuk menjauhi keramaian di luar layar itu. "Apa??? Kau tak boleh disini! Pergilah kau harus berdansa!" Pinta Anne padanya karena akan ada sesuatu yang penting akan terjadi.


"Tapi aku ingin berada disini!" Gadis itu sangat bingung harus berbuat apa jika berada di tengah aula. "Untuk apa kau berpenampilan cantik seperti ini??? Pergilah kesana! Aku tak menerima bantuanmu untuk ini! Maaf!!!" Anne mengumpatkan senyumannya. Dan ia menyuruh seorang junior untuk membawa pergi Sierra dari balik panggung itu.


"Sial Oz!" Kesalnya.


Alunan keras dari band rock itu pun perlahan berakhir, karena setelah ini adalah waktunya berdansa. Sierra berdiri sendiri di depan meja makanan, sementara teman-temannya sedang bersiap di lantai dansa.

__ADS_1


Seorang Sanchez pada akhirnya menghampiri gadis itu, "Hey Sierra?" Suara laki-laki itu terdengar pelan. "Sanchez, hey lihatlah kau keren sekali." Padahal Sierra merasa dalam situasi tak aman karena pasti laki-laki itu akan mengajaknya lagi.


"Kalian siap berdansa???" Kali ini teriakan itu dari vokalis band yang berbeda. "Yeah! Ayolah!" Teman-temannya begitu bersemangat.


Tiga gitaris itu memulai kunci-kunci nada yang mengalunkan musik romantis, dan membuat Sierra tak bisa berkutik setelah melihat mata Sanchez yang menatapnya dengan penuh arti. "Sierra? Maukah kau berdansa denganku???" Dan terucaplah ajakan itu.


Sanchez mengulurkan tangannya, "Raihlah tanganku," Pintanya.


Sejenak Sierra terdiam karena tersadar akan mimpinya dan mengingatkannya akan suara seorang lelaki yang tengah berharap pegangan tangannya seperti pemuda ini, Sierra tak bergerak sedikitpun karena entahlah ada apa yang menahan tangan gadis itu.


Namun tiba-tiba seorang gadis berteriak sangat keras mengejutkan keduanya, "Sanchez!!! Kau sudah berjanji padaku untuk berdansa denganku!"

__ADS_1


__ADS_2