
"Hey lihatlah siapa gadis ini..." Daisy tersenyum melihatnya. "Apa kau baik-baik saja jika aku pergi?" Gadis itu menjatuhkan diri ke pelukan bibinya di sofa, Mr. Erwin terlihat sangat baik pada Daisy.
Sementara Timothy si perawat harus pergi ke rumah sakit mengambil alat maupun obat-obatan yang di perlukan untuk merawat Daisy, wanita yang sangat ramah itu juga memang merawatnya dengan baik. "Tentu saja aku baik-baik saja sayang, jangan khawatirkan aku lagi, tenang saja karena semua masalah sudah teratasi." Sambil mengecup pipi keponakannya itu.
Di dalam kepalanya Sierra memikirkan tentang apa yang telah ia lakukan pada Alex, ia tak mau menutup-nutupi masalahnya itu karena pikirnya akan lebih baik jika ia memberitahu hal itu pada bibinya. "Aku melakukan hal yang sangat jahat, kau tahu? Sangat sulit menceritakannya padamu Dz." Mulainya.
"Apa yang terjadi???" Bibinya mulai cemas. "Luke, dia di tindas oleh anak-anak nakal di sekolah sampai kakinya tak bisa berjalan dengan baik dan membutuhkan tongkat kaki untuk membantunya berjalan," Sierra menelan ludah.
"Dan aku tak mau melihatnya menderita karena anak-anak nakal itu, jadi aku..." Putusnya karena merasa ragu. "Teruskan, aku mendengarkanmu." Pinta Daisy. "Aku berusaha untuk bersikap baik pada mereka untuk berhenti melakukan kenakalan itu, tapi tak ada cara lain lagi selain menggunakan kemampuan karate yang di ajarkan paman Theo." Di akhir katanya ia menyelipkan senyum tipis.
__ADS_1
Ekspresi Daisy pun berubah, "Oh astaga Sierra, dan apa yang terjadi padanya? Apa yang kau lakukan itu?" Daisy menutupi mulutnya dengan mata yang melototi keponakannya itu.
"Aku, aku membuatnya jadi seperti Luke, tangan kanan dan kakinya hampir patah, oh maksudku hanya terkilir."
Mr. Erwin tertawa mendengarkan cerita dari gadis itu, "Kau bertindak benar nak, kau membela orang yang lemah, itu adalah tujuan utama dari bela diri." Untungnya penjaga itu memahami dan meyakinkan bibinya bahwa yang di lakukannya hanyalah untuk membebaskan Luke.
"Ah yeah Mr. Erwin, itu memang benar." Sierra tersenyum pada pria tinggi itu. "Baiklah, aku memang tak mengerti tentang hal semacam itu, tapi kau memang bertindak benar, dan bibimu ini akan selalu percaya padamu." Gadis itu tak melepaskan pelukannya.
Mr. Erwin membuka pintu, "Nak! Temanmu disini!" Pria itu menerima buku-buku yang di berikan Scott padanya. "Tolong berikan padanya nanti." Tak lama terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa ke arah pintu itu. "Baiklah, aku pergi." Teriak Sierra, Scott tak mengedipkan matanya. "Berhati-hatilah!"
__ADS_1
Sierra terlihat berbeda dengan rambut yang terurai indah dan mengenakan gaun pendek berwarna hitamnya, terlihat keren dan cantik. "Ayo." Ajak gadis itu, namun Scott masih terdiam.
"Kingston? Ayolah!" Sierra tak menyadari akan tatapan tetangganya itu, "Yeah tunggu aku." Dalam hatinya ia merasakan hal yang aneh dan berbeda dari sebelumnya, "Ayo cepat."
Mereka pun menaiki bus yang akan membawanya ke acara pameran malam.
Di dalam bus Sierra menceritakan apa yang telah ia lakukan, "Tebak apa?" "Apa???" Scott tersenyum lebar. "Bibiku terkejut saat aku memberitahunya tentang tendangan yang ku lakukan pada Alex." Sambil tertawa kecil, Sierra terus bercakap menceritakan hal itu dengan tawa yang mengiringi setiap ucapannya itu.
Sementara Scott Kingston mengabaikan apa yang di dengarnya itu, ia hanya menggunakan indera penglihatannya untuk terus mengamati setiap senyum dan tawa gadis yang selalu di ejeknya itu, dan bertanya-tanya di dalam benaknya setelah sekian lama kenapa baru sekarang ia menyadari kebaikan dan kecantikan dari tetangganya ini, bahkan Anne tak terpikirkan lagi di dalam kepalanya.
__ADS_1
"Oh persetan dengan yang kurasakan kini!" Teriaknya dalam hati.