
"Kemana saja kau? Baru kali ini aku melihatmu membolos di kelas terakhir!" Pooja memarahinya. "Ah tak usah khawatirkan aku." Pintanya. "Kau tak boleh melakukannya lagi Sierra, kau ini memiliki nilai yang bagus." Timpal Ozgur yang kini meluangkan waktunya untuk bersamaan dengan dua temannya itu. "Baiklah aku tak akan melakukan itu lagi... Bagaimana tadi saat orangtua Luke menjemputnya?" Sierra masih mencemaskannya.
"Ibunya hampir menangis, tapi Luke masih bisa tersenyum." Jawab atlet softball itu yang membuat Sierra tersenyum mendengarnya, "Si bodoh itu..." Di dalam bus sekolah itu mereka membicarakan hal-hal lucu yang di lakukan Luke selama di sekolah, pertemanan mereka memang menyenangkan di bandingkan dengan kekacauan yang di lakukan oleh kelompok pembuat keonaran. Itu tak bisa di bandingkan.
"Sampai jumpa!" Teriak Pooja padanya saat keluar dari bus itu. Tepat di pemberhentian bus yang tak jauh dari rumahnya, hanya membutuhkan waktu lima menit saja untuk sampai ke rumah. Seseorang memanggilnya dari arah belakang,
__ADS_1
"Hey!" Namun gadis itu tak menoleh dan sudah tahu siapa orang itu, "Hey Pikachu!" Scott berlarian menyusul langkahnya dengan nafas yang berat. "Kenapa kau tak menjawabku?" Gadis itu tetap mengabaikannya.
"Sierra!" Gadis itu berhenti melangkah karena terkejut mendengar lelaki itu memanggil namanya dengan jelas setelah sekian lama mereka bertetangga. "Sierra? Tunggu dulu," Ia pun menoleh karena tak adil jika seseorang berlarian hanya untuk berbicara padanya walaupun sebenarnya hatinya masih kesal. "Apa?" Tanya gadis itu dengan ekspresi dingin. "Hey, apa kau baik-baik saja?" Scott merasa bersalah padanya akan kejadian saat di sekolah. Di tambah lagi gadis itu pernah membantunya saat malam dimana ia sedang mabuk,
"Jawab aku, kumohon." Pintanya, Sierra hanya terdiam karena merasa aneh dengan perubahan sikapnya, gadis itu kembali berjalan tanpa menjawab pertanyaan Scott. "Maaf!" Teriaknya yang masih berdiri mematung. Sierra tersenyum mendengarnya dan menoleh lagi ke arahnya, "Ayo." Ajak gadis itu.
__ADS_1
Gadis itu sangat terkejut saat melihat bibinya di dapur yang tengah terduduk lemas di lantai, "Ada apa ini? Kenapa kau menangis???" Segera ia membantunya untuk berdiri, namun sangat sulit karena tubuh Daisy gemetar hebat dan membuatnya lemas. "Dz! Apa yang terjadi???" Keponakannya itu sangat cemas melihatnya seperti itu, ia menangis tanpa berbicara apapun. "Bibi?" Kini Sierra bertanya dengan suara lembutnya. Kemudian Daisy memeluknya dengan erat, "Kumohon bicaralah padaku." Jantungnya berdegup kencang karena sangat cemas dan ketakutan melihat bibinya itu. "Berhentilah menangis, dan ceritakan padaku apa yang terjadi???" Gadis itu terus memintanya jawaban. Daisy pun menghentikan tangisnya dan bangkit dengan bantuan keponakannya itu, ia melangkah menuju kamarnya tanpa meminta gandengan tangan Sierra. Namun bibinya itu masih tak mengatakan apa-apa, Sierra sungguh kebingungan dengan apa yang telah di alami bibinya itu. Saat Daisy sedang berjalan menuju kamarnya, Sierra mulai tersadar akan sesuatu yang di lihatnya, gadis itupun mengikuti langkah sang bibi untuk memastikan apa yang ia lihat itu.
Ritsleting baju yang terletak di punggung Daisy terbuka bahkan bajunya itu sobek dan juga terlihat luka lebam di lengannya, di tambah lagi jantung Sierra terasa berhenti berdetak setelah melihat kekacauan yang ada di dalam kamar Daisy. Ranjangnya sangat berantakan dengan barang-barang yang berserakan di lantai.
Menduga apa yang telah terjadi,
__ADS_1
"Sierra!" Scott berteriak memanggilnya dari luar rumah.