
Di setiap harinya Sierra hanya membutuhkan bus sekolah untuk mengantar jemputnya, karena bibinya Daisy tak memiliki tabungan yang cukup untuk membeli sebuah kendaraan. Mereka hidup bersama di rumah milik Mrs. Madison yang menjadi bos Daisy selama belasan tahun lamanya, tempat tinggal yang cukup besar untuk dua orang itu sudah cukup bagi mereka, karena kendaraan yang mereka butuhkan untuk berpergian sudah tersedia seperti bus sekolah yang kini di naiki gadis itu untuk pulang ke rumah. Sedangkan anak-anak yang memiliki kekayaan di sekolahnya memiliki mobil yang saling mereka pamerkan satu sama lain.
__ADS_1
Daisy tak ada di rumah karena pekerjaan yang membuatnya sibuk itu tak bisa membiarkannya pulang lebih cepat, wanita yang telah di tinggalkan suaminya itu memiliki semangat hidup yang patut di contoh bagi setiap wanita. Paman Theo meninggal akibat serangan jantungnya yang berhasil membuat istrinya itu sangat terpukul karena telah kehilangannya untuk selamanya. Namun Daisy adalah wanita yang tangguh dalam menghadapi setiap masalah yang menghampirinya, satu-satunya keluarga yang ia miliki adalah Sierra si anak yatim piatu yang tak pernah merasakan pelukan hangat ayah dan ibunya. Sierra tak tahu apa-apa tentang kedua orangtuanya yang di renggut dari suatu kecelakaan saat usianya delapan bulan. Maka dari itu Daisy sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri, sama halnya dengan suaminya yang sangat menyayangi Sierra yang mereka besarkan bersama sejak ia masih bayi. Setelah beranjak dewasa Sierra pun tak mau terus bergantung pada bibinya itu, dengan tekadnya gadis itu kini memiliki pekerjaan yang sesuai untuk usianya. Ia mengasuh dan menjaga bayi dari keluarga kaya, itu juga jika ia mendapatkan perintah dari pusat pekerjaannya. Dan malam ini ia akan pergi ke kediaman Wilson yang sudah mempercayainya untuk menjaga bayinya yang berusia satu tahun, mereka memiliki jadwal penting dalam pekerjaannya.
__ADS_1
"Kami akan kembali besok pagi." Ucap Mr. Wilson yang baik hati padanya. "Jangan khawatir, aku akan menjaganya." Sierra menggendong bayi yang masih belum tidur itu. "Jika sesuatu terjadi, jangan ragu untuk menghubungi kami!" Mrs. Wilson mengingatkannya. Sierra melambaikan tangannya, mobil yang mereka naiki itupun melaju cepat. Gadis itu masih berdiri di depan pintu karena matanya melihat seseorang yang duduk di trotoar jalan sedang mengamatinya, tepatnya di sebrang rumah itu, tak mau berlama-lama berdiam di luar dengan Richard yang kini berada di gendongannya, Sierra pun masuk ke dalam rumah bayi itu dan mulai mengerjakan tugasnya untuk menidurkan Richard.
__ADS_1
Suatu mimpi yang entah indah ataupun buruk itu membawanya ke suatu tempat gelap yang tak ada satu orangpun selain dirinya sendiri. Sierra merasa kesepian di dalam mimpinya itu, ia berteriak memanggil bibinya, "Dz!!!" Begitulah ia memanggil Daisy di dunia nyata. Tak ada respon apapun dari teriakannya, hanya kegelapan yang menemaninya. Tapi kemudian terlihat tiga cahaya yang menghampirinya dan membantunya untuk melihat di dalam kegelapan itu, dan Sierra pun melihat dua orang lelaki di kedua sisi tubuhnya yang mengulurkan tangan mereka. "Raihlah tanganku." Suara dari sisi kanan, dan lelaki di sisi kirinya pun mengajaknya juga, "Genggamlah tanganku." Yang di rasakan gadis itu hanyalah sebuah kebingungan.
__ADS_1
Richard menangis di tengah malam itu, karena waktunya untuk mendapatkan jatah susunya. Sierra bangkit dan menggendongnya menggunakan gendongan bayi berwarna biru muda, gadis itu membuatkan susu hangat untuk bayinya terlebih dahulu. Setelah itu ia pun memberikannya, "Oh Richard kau menghentikan kebingunganku di dalam mimpi itu." Gumamnya selagi menguap. Dengan rasa kantuknya ia harus bertahan sebelum bayi yang di jaganya itu kembali tidur. Terkadang Sierra turun ke dapur Mrs. Wilson dan memakan banyak makanan yang ada di lemari esnya dengan keadaan menggendong Richard kemana pun ia melangkah, terkecuali kamar kecil, ia harus menidurkan bayi itu dulu di ranjangnya.
__ADS_1