Pahit Dan Manis

Pahit Dan Manis
Episode 35 - Mimpi itu lagi


__ADS_3

Masalah dari orang-orang terdekatnya telah selesai dan keadaan mereka mulai membaik. Kasus bibinya yang sudah berakhir sesuai dengan kebenaran itu mengembalikan hidup normalnya, seperti kaki Luke yang mulai pulih perlahan bersamaan dengan Alex yang menyebarkan perdamaian, kemudian Scott kini menjadi teman dekatnya dengan masalah keluarga yang telah teratasi. Semua itu berkat dengan bantuannya juga, namun gadis itu tak berbangga hati karena telah melakukan apa yang memang harus di lakukan olehnya.


Tetapi kali ini sedikit lebih sulit, karena sesuatu yang belum di ketahuinya itu masih membuatnya tak bisa melakukan apa-apa.


Sierra tak mau menceritakan hal yang sedang ia alami pada bibinya saat ini, karena seperti biasa ia akan memberitahu Daisy saat semua masalahnya berakhir, cukup teman-temannya saja yang mengetahui masalahnya kali ini.


Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, mengatur nafas dengan baik sambil memejamkan matanya. Mengharapkan suatu mimpi yang bisa membawanya jauh dari masalahnya ini sejenak, "Tidurlah." Ucapnya sendiri.

__ADS_1


Sierra melihat dua orang lelaki di kedua sisi tubuhnya yang mengulurkan tangan mereka. "Raihlah tanganku." Suara dari sisi kanan, dan sisi kirinya pun bersuara "Genggamlah tanganku." Yang di rasakan gadis itu hanyalah sebuah kebingungan.


Kemudian tiga cahaya itu memiliki suara yang tak asing di telinganya, mereka memintanya untuk memilih salah satu pemuda yang mengulurkan tangan mereka itu. "Pilihlah salah satu sayang, tak perlu merasa takut ataupun salah, kau akan mengerti nanti." Itu seperti suara wanita yang telah melahirkannya. "Ibu? Kaukah itu?" Sierra mencoba untuk menyentuh cahaya itu. "Sierra, kau bisa melakukan apapun yang kau mau, hanya perlu berusaha dan terus semangat menjalani hidup." Dan kini salah satu cahaya disana terdengar seperti suara ayahnya. "Ayah?"


"Jika kau kalah, berarti kau harus mampu untuk menerimanya dan belajar untuk mengorbankan sesuatu yang sudah bukan menjadi milikmu, itu untuk kebahagiaanmu sendiri, jangan terlalu memikirkan orang lain." Dan suara yang terakhir itu adalah suara yang sangat akrab baginya. "Paman Theo?"


Tiga cahaya yang bersuara itu selalu terdengar di setiap mimpinya, maka dari itu ia pasti mengenali suara dari orang-orang tersayangnya itu.

__ADS_1


"Sierra? Ada dua orang deputi ingin menemuimu sayang," Mendengar apa yang di katakan Daisy membuatnya terguling ke bawah lantai. "Kau baik-baik saja?"


Gadis itu segera bersiap dengan cepat kilat, bergerak cepat pula menuruni tangga tanpa rasa takut. Dengan gemetar ia langsung menemui dua pria besar yang sedang berbicara dengan Mr. Erwin.


"Dia sudah siap." Ujar Mr. Erwin pada dua petugas itu.


"Baiklah, ayo nak ikut dengan kami." Ajak salah satu pria itu yang membuatnya terkejut ketakutan. "Sierra ikuti saja mereka, aku akan menyusulmu nanti bersama Dz dan Timothy." Pinta Mr. Erwin dengan baik.

__ADS_1


Tak bisa berkata apapun lagi, gadis itu langsung menuruti perintahnya. "Aku akan segera menyusulmu sayang, tak perlu takut." Gumam bibinya untuk membuatnya tenang.


Di luar rumah terlihat Scott berdiri menunggunya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, "Ada apa ini?" Ucapnya tanpa bersuara. Sierra hanya memasang wajah kebingungan dengan mengangkat bahunya. "Aku juga tak mengerti." Balasnya yang sama halnya tak bersuara.


__ADS_2