Pahit Dan Manis

Pahit Dan Manis
Episode 39 - Hubungan baru


__ADS_3

"Terimakasih sayang," Mrs. Lucy mengecup pipinya karena telah baik menjadi teman bagi anaknya. "Pintu ini akan selalu terbuka untukmu." Tambahnya lagi.


"Ayolah bu jangan lakukan itu padanya, kau membuatnya tidak nyaman." Gerutu Scott. Sierra hanya tersenyum.


Suasana damai yang memberikan ruang bagi keduanya itu sangat mendukung untuk melanjutkan bahasan masalah mereka yang belum sempat mereka selesaikan dengan pemahaman.


"Maaf, hanya itu yang bisa ku katakan padamu." Mulainya. "Kau tak perlu merasa bersalah lagi, itu sudah berlalu dan aku baik-baik saja." Balas gadis itu sedikit canggung.


"Kau tak marah padaku tentang ciuman itu?" Scott menatapnya. "Tidak, untuk apa aku marah?"

__ADS_1


"Terimakasih Sierra, kau sudah berbaik hati padaku." Scott teringat akan saat dimana ia sedang bersedih hati karena masalah kedua orangtuanya, dan hanya gadis itu yang membuatnya lupa akan hal tersebut. "Hanya kau yang membuatku tenang, kau yang membuatku sadar akan banyak hal yang lebih parah dari masalah yang kupunya, kau memberitahuku tentang semua orang juga memiliki masalah." Jelasnya dengan tersenyum. "Terimakasih."


Sierra hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah Scott, "Yeah, dan akhirnya sekarang kau memahami semua hal itu." Suaranya dengan nada lembut.


Dua remaja itu duduk di ayunan yang terletak di taman bermain yang tak jauh dari rumah mereka, "Aku sangat marah sebenarnya, tapi biarkan saja dia." Gumam Sierra membicarakan tentang Bryan, karena Scott yang memberitahunya perkelahian antara Nick dengan junior itu kemarin.


"Setidaknya kau harus memberinya tendangan mautmu." Pemuda itu memberinya saran negatif yang terdengar lucu di pendengaran Sierra. "Jahat sekali otakmu itu." Tawanya.


Perawat muda itu membuatnya heran, "Masuk saja, bibimu sepertinya ingin mengatakan sesuatu yang penting." Katanya dengan tertawa kecil. "Ada apa dengamu? Kenapa kau ceria sekali?" Bingungnya terhadap Timothy yang mendorong tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Malam ini Daisy terlihat gugup saat ingin mengatakan sesuatu padanya, "Katakan saja, aku akan mendengarmu." Sierra terus meyakinkan bibinya itu. "Aku sangat ragu, dan merasa gugup menjelaskan semua ini." Daisy membuatnya sangat penasaran. "Oh ayolah Dz, untuk apa menyembunyikan sesuatu pada keponakanmu ini, katakan saja kumohon." Pinta gadis itu.


Tak lama kemudian Mr. Erwin bergabung dengan mereka berdua, "Nak, bibimu adalah wanita yang membuatku jatuh hati sejak pertama kali aku menjaganya disini." Hal yang di ucapkan pria besar itu sungguh membuat Sierra tercengang. Tak ada rasa marah sama sekali di dalam hatinya, bahkan gadis itu merasa senang mendengarnya. Hanya saja itu sangat mendadak dan secara spontan membuatnya terkejut.


"Sierra sayang? Mohon katakan sesuatu." Daisy terlihat gelisah melihat ekspresi keponakannya itu dengan mulutnya yang terbuka. "Hey nak?" Mr. Erwin menepuk bahunya.


Gadis itupun menutup mulutnya dan sejenak mengumpatkan senyumannya, mengatur pernafasannya. "Pantas saja kau gugup seperti ini, ya ampun..." Ia pun tak bisa menahan tawanya. "Kenapa kau tertawa???" Daisy heran melihat apa yang sedang di tertawakannya itu.


"Dz, aku senang mengetahui ini." Ucapnya sambil menggenggam tangan bibinya. "Dan Mr. Erwin, aku tak sabar untuk memanggilmu paman sebenarnya." Dengan ucapan gadis itu membuat dua orang dewasa yang bersamanya pun tertawa kecil. "Oh astaga, aku sangat takut sebenarnya Sierra." Daisy menghembuskan nafasnya lega.

__ADS_1


"Apakah ini waktunya untuk berpesta???" Timothy mulai membuat lelucon konyolnya dengan mengangkat satu botol minuman anggur.


__ADS_2