
"Bagaimana harimu nak?" Sebenarnya Sierra sangat senang dengan sikap ramah Mr. Erwin padanya. Terdengar mirip seperti paman Theo yang selalu bertanya padanya akan hal yang telah ia lewati di sekolah, "Baik, sangat baik sir." Jawabnya tersenyum.
"Apa boleh jika aku memintamu agar memanggilku paman???" Pria itu benar-benar memiliki sifat perasa sehingga meminta izin seperti itu padanya. "Astaga tak usah meminta seperti ini, tenanglah saja paman." Sierra memberinya kedipan mata yang terlihat konyol, Mr. Erwin tertawa melihatnya bertingkah seperti itu.
Daisy mengamati kedua orang itu, dan berpikir tentang mereka yang akan menjadi hal paling berharga di hidupnya kini.
Mr. Erwin menjaganya dengan baik selama ini, dan ia merasa nyaman jika pria itu berada di dekatnya. Karena memiliki sifat yang lembut terhadapnya, perasaan keduanya berawal dari tatapan penuh kasih mereka seperti mengungkapkan kalimat indah yang menuntun mereka untuk berbagi hidup bersama-sama.
__ADS_1
Pria itu adalah seorang duda yang sudah lama bercerai dengan wanita yang tak mencintainya sama sekali sejak dari awal mereka di perjodohkan, maka dari itu ia lebih memilih untuk memutus hubungannya daripada harus mengorbankan cintanya yang sia-sia.
Kini datanglah balasan yang lebih baik padanya untuk berbahagia bersama Daisy yang menjadi wanita tepat yang pantas untuk di cintai dan lindungi olehnya. Dan usia mereka memang sudah tak muda lagi untuk kebebasan yang tak seharusnya menjadi tujuan hidup mereka untuk menyendiri, ini sudah menjadi waktu yang sangat tepat bagi keduanya melanjutkan kehidupan agar lebih baik lagi.
Sierra teringat akan ucapan paman Theo di dalam mimpinya, "Belajar untuk mengorbankan sesuatu yang sudah bukan menjadi milikmu, itu untuk kebahagiaanmu sendiri, jangan terlalu memikirkan orang lain." Gadis itu tersenyum sendiri melihat bibinya yang merelakan paman Theo dan kini sudah siap untuk menjalani kehidupan di dampingi seorang pria.
Gadis itu berjalan menuruni tangga ruang bawah tanah dengan membawa beban berat pakaian kotornya, mesin cuci yang besar dan mesin pembersih lainnya di tempat itu terlihat seperti masih baru karena jarang sekali ia berkegiatan di ruangan bawah tanah itu.
__ADS_1
Satu persatu pakaian yang sering ia gunakan untuk sekolah itu ia masukan ke dalam lubang besar mesin cuci milik bibinya, tak ada yang menarik satu pun dari semua baju itu di matanya. Sejenak ia terdiam karena teringat akan pesta prom di acara puncak kelulusannya lusa nanti. "Apa yang harus ku kenakan nanti? Oh astaga!" Jeritnya.
Telepon genggamnya bergetar dan membuatnya sangat kaget, benda yang tak akan pernah lepas itu selalu aman di dalam kantong celananya. Sierra langsung mengangkat panggilan itu dan merasa heran, "Anne???" Ia mengabaikan cucian kotornya.
"Hanya kau dan Jill yang sepertinya akan memahamiku, tambah lagi kau terlihat memiliki gaya sepertiku, apa kau mau membantuku? Mencarikan gaun yang cocok untuk tubuhku ini." Sejujurnya Anne merasa malu harus mengatakan hal-hal yang berbau tentang para gadis seperti itu. Sierra tersenyum mendengarnya karena Anne menelpon di waktu yang tepat sekali, "Uhuh, aku ikut karena sama halnya denganmu Anne, aku masih kebingungan harus mengenakan apa," Jawabnya.
"Baguslah, kalau begitu kita pergi bersama besok usai sekolah." Anne membuat perjanjiannya, "Baiklah, aku setuju."
__ADS_1
"Dan ajaklah Pooja agar kita bisa pergi bersama-sama sebagai para gadis yang sebenarnya." Tambahnya lagi. "Yeah, terserah apa katamu saja Anne." Sierra tertawa kecil.