Pahit Dan Manis

Pahit Dan Manis
Episode 26 - Menghargai hidup


__ADS_3

"Padahal dia cantik saat tertidur." Kata Aaron dengan matanya yang tak henti mengamati perempuan terbaring di sofa dengan makanan yang banyak dan berserakan di sekitar tubuhnya.


Kemudian seorang remaja lelaki menuruni tangga dengan menggendong ranselnya, "Hey bung! Ayo kita pergi ke sekolah." Bryan terlihat semangat menghadapi harinya di sekolah yang terdapat para pengecut dengan kekayaan mereka dan selalu meremehkan orang miskin seperti remaja biasa itu. "Apa yang membuatmu bersemangat huh?" Tanya Aaron dengan tawa kecilnya.


Kemudian Bryan terkejut setelah melihat kakak perempuannya yang tengah tertidur itu, "Jangan berisik, ayo."

__ADS_1


Aaron membawa mobil hitam kesayangannya yang akan selalu ia andalkan untuk berpergian kemanapun, "Apa yang terjadi padanya hingga ia terlihat kacau?" Sambil menyalakan mesin mobil yang ia beri nama Blackie itu. "Kekasihnya meninggalkannya, dan dia hamil." Mendengar apa yang di katakan kawannya itu Aaron terkejut. "Sial bung!" Ucapnya dengan menatap wajah Bryan. "Dan aku tahu siapa kekasihnya yang brengsek itu." Ingatan Bryan tertuju akan pemuda yang tak merasa menyesal karena melakukan kesalahan terhadap kakaknya yang kini sedang depresi. "Ya ampun, ini sungguh mengerikan Bryan." Aaron tak pernah menduga hal itu akan terjadi pada temannya yang satu ini. "Apa lagi yang bisa kulakukan sebagai adiknya huh? Kau bisa membantuku bung???"


Sangat sulit baginya untuk hidup berdua dengan kakak perempuan yang tak pernah mengurusinya sama sekali, Bryan Wilder bersama kakaknya Teressa Wilder adalah anak-anak yang tak di pedulikan oleh kedua orangtua mereka yang sibuk dengan kehidupan masing-masing. Ibu mereka adalah wanita yang tak mempedulikan apapun selain uang, wanita itu menikah lagi dengan pria kaya setelah bercerai dengan ayah dari kedua anak yang ia lahirkan. Perceraian itu terjadi karena Wilder adalah seorang pemabuk dan penjudi payah yang tak memberikan nafkah untuk keluarga kecilnya, pecundang itu pada akhirnya pergi berkelana meninggalkan kedua anaknya dan hanya meninggalkan sebuah rumah untuk mereka berdua tinggali.


"Yeah kau memang benar sobat, semoga saja semuanya berjalan dengan baik."

__ADS_1


Gerbang sekolah yang terbuka lebar itu memberi jalan akses untuk semua kendaraan yang terlihat hebat, termasuk Blackie walaupun memiliki banyak kekurangan.


"Hey kawan-kawan!" Sapa Elle dengan berteriak sangat keras pada mereka yang membuat anak-anak lain menertawakannya karena terlihat bodoh. "Hentikan itu Elle, kau membuat dirimu sendiri di permalukan." Gumam pelan Summer dengan gayanya yang tenang. "Hey apa kau ingat senior yang menatapmu dengan bodoh itu? Jika kalian menjadi sepasang kekasih itu akan sangat cocok." Ejek Summer padanya tentang Luke. "Kau! Dan apa yang akan kau lakukan pada gadis india itu huh? Apa kau berani berkenalan dengannya?" Balas gadis itu. "Jangan membentakku seperti itu, lihat saja nanti, aku akan mengetahui siapa gadis india yang memiliki rambut indah itu sayang." Summer semakin membuatnya kesal. "Terserah." Elle berjalan ke arah dua temannya yang baru saja tiba itu.


"Hey kalian sudah menunggu kita disini huh?" Aaron langsung merangkul Elle dengan tangan nakalnya, "Kau!" Marah gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2