Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Nikahnya bulan depan


__ADS_3

...🏵️🏵️🏵️...


"Loh kamu? Kirain aku udah pulang!" cicit Aulia, yang baru menyadari kalo di meja makan ternyata ada Radit.


"Aulia, ga sopan kaya gitu, apa lagi Radit ini kan calon suami kamu, yang nantinya juga akan menjadi bagian dari keluarga ini kan!" ujar papa Jaya dengan tegas.


Papa Jaya memberi kode lewat lirikan matanya, agar Aulia duduk di samping Radit.


Aulia menelan salivanya dengan sulit, dan duduk di sebelah Radit dengan perasaan yang jengkel.


Aulia melirik sekilas ke arah Radit, kenapa sih ko seharian ini ada dia terus, gak cape apa di rumah aku terus. Gak mau pulang apa ya dia itu.


"Aulia, ambilin dong nasi sama lauknya buat Radit." titah mama Nami, sambil tangannya menuangkan nasi dan lauk ke piring papa Jaya.


"Apa sih mah, Radit bisa ko mengambilnya sendiri. Iya kan Radit?" tanya Aulia, dengan kakinya yang ada di bawah meja, sengaja menyenggol kaki Radit.


Radit yang mengerti maksud Aulia pun hanya mengiyakannya saja. Dari pada panjangkan urusannya.


"Iya mah... Radit bisa ko mengambil sendiri nasi dan lauknya." ujar Radit, dengan menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Gak gitu dong Radit, Aulia ini kan calon istri kamu, Aulia itu harus belajar untuk menjadi istri yang baik mulai dari sekarang." celetuk mama Nami.


Akhirnya terjadi lah peran yang di inginkan mama Nami dan papa Jaya. Setelah Aulia di desak oleh papa dan mamanya.


Aulia belajar menjadi istri yang baik untuk Radit nantinya dengan di mulai saat ini, menuangkan nasi beserta lauk yang ingin di makan oleh Radit.


Aulia pura pura tersenyum di depan Radit, sekarang aja bisa lo senyum gitu!


Radit tersenyum puas, melihat Aulia yang tidak bisa lagi menolak ke inginan orang tuanya, begini rasanya, makan di layanin calon istri. Gimana kalo udah nikah ya?


Aulia mendudukkan dirinya kembali di kursinya, dengan sesekali memutar malas bola matanya, awas kamu Radit.


"Sayang, Aulia?" tanya papa Jaya dengan suara yang sengaja naik 1 oktaf, pasalnya Aulia melamun.


"Karena kamu tidak menjawab... papa anggap kamu setuju ya, sayang." ujar papa Jaya lagi, yang tidak ingin di bantah.


Aulia mengerutkan keningnya, jari telunjuknya menggaruk keningnya yang tidak gatal, "Setuju untuk apa, pah?"


Radit mendekatkan kepalanya ke arah telinga Aulia dan berkata dengan pelan, "Papa mau kita nikah di saat kita naik kelas 3 nanti, tepat pada hari libur menjelang."


Aulia membola, "Apa pah?"


Cling.


Bunyi sendok yang terjatuh dari genggaman Aulia, membentur lantai.


"Kenapa harus menunggu lagi sih, pah? Kenapa gak bulan depan aja sih." protes mama Nami.


Dengan kata lain, mama Nami ke beratan. Jika harus menunggu 1 tahun lebih untuk bisa mendapat menantu, untuk bisa menyaksikan putrinya menikah.


Mama Nami yang belum selesai dengan makannya, langsung beranjak dari duduknya, "Pokonya mama mau Aulia dan Radit nikahnya bulan depan, pah!" kekeh mama Nami sambil berjalan meninggalkan ruang makan.


Mama Nami menyeringai, pokonya kali ini... aku harus berhasil membuat Radit dan Aulia menikah bulan depan.


Aulia menoleh ke arah Radit, meminta pendapat dari pria yang sedari tadi, hanya mendengarkan ocehan orang tuanya.


"Bagai mana ini?" tanya Aulia.


"Iya mah, Radit dan Aulia setuju nikah bulan depan." ucap Radit dengan tegas, berhasil membuat mama Nami menghentikan langkah kakinya.


Sreeek sreek.


Aulia menarik lengan kemeja Radit.

__ADS_1


"Kamu apa apaan, si Radit?" tanya Aulia dengan penuh penekanan.


Sementara mama Nami, terpaku di tempatnya, memasang ke dua telinganya untuk memastikan pendengarannya tidak lagi terganggu.


"Kamu serius kan Radit dengan ucapan mu itu, Radit?" tanya mama Nami dengan kening yang mengkerut, hatinya harap harap cemas.


Radit menatap Aulia dengan ke sungguhan, "Iya mah, bulan depan Radit akan menikahi Aulia. Seperti yang mama Nami inginkan."


Mendengar penjelasan Radit, membuat mama Nami sangat senang. Sampai sampai ia melompat lompat kegirangan. Seperti anak kecil, yang bahagia setelah mendapatkan mainan yang di inginkannya.


Papa Jaya menepuk keningnya, "Astaga maaah, ingat usia mu mah!"


Mama Nami langsung menghentikan aksi konyolnya, "Hehehehe, mama terlalu bahagia pah! Ini baru calon mantu mama."


Mama Nami tampak berfikir, aku harus mengabari jeng Sita.


"Kamu serius, Dit?" tanya Aulia, yang masih tidak menyangka dengan keputusan yang Radit ambil.


"Maaf mah, pah, sepertinya Aulia perlu bicara 4 mata dengan Radit."


Aulia yang tidak tahan lagi, dengan tingkah aneh mama Nami pun langsung menarik tangan kanannya Radit, dan membawanya ke taman belakang rumah.


Mama Nami dan papa Jaya sama sama mengerdikkan bahu, tidak tahu apa yang akan Aulia dan Radit bicarakan.


Taman belakang rumah.


Radit menatap tangannya yang di genggam Aulia, pasti Aulia kali ini bakal marah besar sama gwe. Dengan keputusan yang udah gwe ambil.


Aulia menghempaskan tangan Radit dengan kasar, "Kamu itu apa apaan, si Dit! Aku tuh belum mau nikah. Kamu ingat gak sih kata kata aku tadi?" Aulia bicara dengan penuh emosi pada Radit.


Grap.


Ke dua tangan Radit menggenggammm bahu Aulia. Sepasang mata milik Radit, menatap Aulia dengan penuh kasih sayang, ke tulusan.


"Percaya sama aku ya Aulia sayang, tidak ada yang perlu di ragukan lagi dengan hubungan kita ini." Radit berusah menenangkan Aulia dengan suara lembutnya.


"Aku itu belum siap Dit buat nikah, apa lagi dalam waktu 1 bulan. Kenapa gak nunggu kita lulus aja sih! Kita juga masih butuh waktu buat saling mengenal satu sama lain. Nikah lo ini, jangan di buat mainan, Dit!" Aulia menepis tangan Radit dari bahunya.


"Kita nikah itu buat kebahagiaan orang tua kita Aulia, aku janji setelah kita nikah, aku ga akan menyentuh kamu sampai kamu siap jadi istri aku seutuhnya Aulia. Kita bisa saling mengenal satu sama lain, setelah kita menikah. Itu akan jauh lebih indah." Radit mencoba untuk meruntuhkan kerasnya dinding yang ada di hati Aulia.


"Tapi aku emmmmmph ---"


Aulia tidak lagi melanjutkan perkataannya, saat bibir Radit membungkam bibir Aulia dengan bibirnya.


Aulia membola, sedangkan Radit tampak memejamkan ke dua matanya, menikmati sentuhan lembut bibir Aulia.


Cup.


"Radit ---" Aulia belum selesai bicara, bibirnya di cium lagi oleh Radit.


Cup.


Radit mencium lagi bibir Aulia, yang terlihat menggoda saat marah marah.


"Kamu, ---"


Belum selesai Aulia bicara, kali ini Radit menghentikan ucapan Aulia, dengan menaruh jari telunjuknya ke depan bibir Aulia, sebagai tanda untuk menyuruh Aulia diam.


Aulia memandang Radit dengan hati yang tidak karuan. Perlakuan manis Radit, sedikit demi sedikit meruntuhkan hatinya, meski Aulia sendiri belum menyadari jika ia sudah jatuh cinta dengan perlakuan manis Radit.


Grap.


Radit memeluk erat tubuh Aulia

__ADS_1


Sedangkan di balik pintu menuju taman, papa Jaya dan mama Nami yang sedang asik mengintip Aulia dan Radit di buat geli dengan sikap manis Radit.


"Untung aja kita ngikutin mereka, pah." ucap mama Nami dengan suara yang pelan.


"Iya kamu benar, sayang." papa Jaya membenarkan perkataan istrinya, sedangkan tangannya masih mengarahkan hapenya dalam mode on video ke arah Radit dan Aulia.


Flashback


Saat Aulia membawa Radit ke arah taman belakang rumah untuk bicara 4 mata dengan Radit, papa Jaya dan mama Nami memutuskan untuk mengikuti langkah ke duanya.


"Apa yang akan putri mu katakan, pah?" tanya mama Nami.


"Mana papa tau, mah. Kan tadi mama dengar sendiri, Aulia ingin bicara 4 mata dengan Radit."


Mama Nami menghampiri papa Jaya.


Puk puk puk.


Tangannya mendarat dan menepuk nepuk di bahu sang suaminya.


"Kita ikutin mereka, pah!" mama Nami menarik lengan papa Jaya.


"Tapi, mah!"


Mama Nami dan papa Jaya, melihat Radit dan Aulia yang sedang berdebat. Tampak Aulia yang selalu dominan dalam berbicara.


Mama Nami melakukan video call dengan mama Sita lewat teleponnya.


Mama Sita menyunggingkan senyumnya, dengan keputusan yang Radit buat.


Flashback off.


Mereka bertiga, manusia yang sudah paruh baya di usianya, masih asik mengintip Aulia dan Radit yang masih berpelukan.


"Gak nyangka saya jeng, Radit bisa bersikap semanis itu dengan Aulia." ucap mama Nami yang berbicara dengan mama Sita.


[ "Saya punya ide mam." ] Ucap mama Sita dengan antusias.


"Apa itu, jeng?" tanya mama Nami yang penasaran.


[ "Konciin pintunya mam, biar mereka tetep berada di dalam taman selama semalam." ] ujar mama Sita dengan ide konyolnya.


"Jangan jeng, di luar kan dingin." protes mama Nami.


[ "Gak apa apa mam, biar putri kamu itu Aulia gak nolak lagi buat nikah sama Radit." ] pikir mama Sita.


"Papa setuju mah dengan saran yang di berikan Sita." papa Jaya yang menyetujui saran dari mama Sita.


"Tapi pah, ----" mama Nami tidak lagi melanjutkan kata katanya, saat kecupan mesra sang suami, papa Jaya mendarat di pipi sang istri.


Cup


Papa Jaya mencium mama Nami, agar ikut setuju dengan saran dari Sita.


Akhirnya dengan perdebatan yang cukup panjang, antara mama Nami dan papa Jaya. Papa Jaya mengunci pintu taman belakang.


Radit mengelusss punggung Aulia, membuat perasaan Aulia semakin lama semakin menghangat.


"Apa yang membuat kamu yakin dengan rencana mama dan papa?" tanya Aulia yang masih berada dalam pelukan Radit.


...❤️❤️❤️...


bersambung......

__ADS_1


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅


Menghalu itu gak mudah say 😅


__ADS_2