Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Melihat sisi lain Aulia


__ADS_3

...🏵️🏵️🏵️...


"Pagi sayang." sapa Radit dengan senyum yang tersungging.


Aulia membuka matanya lebar lebar, mengikuti arah tangannya yang ternyata memeluk tubuh Radit, "Kamu?" kenapa bisa ada Radit di sini? Aku meluk Radit?


Radit membungkam mulut Aulia dengan tangannya, "Gak usah kaget gitu kali. Gak inget semalam kita terkunci di sini?" ucap Radit dengan dingin.


Aulia diam dan mengingat kembali ke jadian tadi malam, setelah mengingatnya ia langsung menganggukkan kepalanya seolah mengerti.


Radit melepaskan tangannya dari mulut Aulia dan dari pelukannya juga. Radit lantas berjalan ke arah pintu taman yang semalam tidak bisa di buka.


Aulia pun mengikuti langkah Radit dengan berjalan di belakang tubuh Radit.


"Bagai mana Dit, apa sudah bisa di buka?" tanya Aulia, saat Radit meraih gagang pintu.


Kreeeek.


Pintu di buka oleh Radit dengan mudahnya.


"Akhirnya, sekarang jam berapa Dit?" tanya Aulia lagi dengan senang.


"Setengah 7."


Mendengar kata setengah 7, Aulia langsung berlari ke kamarnya, dengan jaket Radit yang masih berada di badan Aulia.


"Dasar bocah." gumam Radit yang melihat tingkah konyol Aulia, tapi bagi Radit itu menggemaskan.


Sebelumnya, jam 5 subuh itu pintu taman sudah tidak di kunci, karena mama Nami sudah membuka kuncinya, hanya saja pintunya masih tertutup rapat.


"Radit, ayo sini nak duduk. Kita sarapan dulu." kata papa Jaya yang sudah terlihat rapi dengan kemeja panjang yang tengah duduk manis di ruang makan.


"Radit, mandi dulu pah." kata Radit.


"Di kamar itu Dit, seragam sekolah kamu juga sudah mama siapkan di atas ranjang ya!" terang mama Nami, sambil menunjuk pintu sebelah kanan yang ada di bawah anak tangga.


"Iya mah, terima kasih ya mah sudah di siapkan." ucap Radit dan berlalu ke arah kamar yang di tunjukkan mama Nami tadi.


Di kamar tersebut Radit langsung mandi kilat, dan tidak berapa lama sudah rapi dengan seragam sekolah yang di siapkan oleh mama Nami, serta mengecek isi tasnya.


"Benar dugaan ku, ini ulah mama Sita dan mama Nami." Radit tersenyum puas. Pasalnya isi tasnya sudah berubah menjadi buku pelajaran hari ini.


Radit mengecek ponselnya, mama Sita sama sekali tidak menelepon atau pun mengirim pesan untuk sekedar menanyakan ke beradaannya.


Di sisi lain.

__ADS_1


"Pah, rencana kita berhasil." ujar mama Nami di telinga papa Jaya dengan suara yang pelan.


"Bukan rencana papa kali mah, tapi rencana mama dan jeng Sita." papa Jaya meralat perkataan mama Nami.


"Iiissh, papa ini." ucap mama Nami dengan gemas.


"Radit sini, sayang!" mama Nami, melambaikan tangannya saat melihat Radit sudah rapih.


Radit berjalan mendekati meja makan. Tidak lama Aulia juga tengah berjalan mendekati meja makan.


"Eh sayangnya mama juga udah cantik, sini sayang." mama Nami menyambut Aulia.


Aulia duduk di kursi sebelah Radit, melihat Radit yang juga sudah rapi dengan seragam yang sama dengan Aulia.


"Aulia, ayo dong siapin juga roti tawar buat Radit, jangan lupa tanya Radit mau pakai slei rasa apa!" ujar mama Nami yang melihat Aulia hanya menyiapkan sarapan untuknya sendiri.


"Kamu mau pake apa?" tanya Aulia dengan canggung, setelah meletakkan roti di atas piring milik Radit.


"Coklat." jawab Radit.


Mereka menyantap sarapan pagi dengan hikmat. Mama Nami terus saja tersenyum menyaksikan Radit dan Aulia.


"Kalian semalam itu kemana? Mama cari cari tapi gak ketemu." tanya mama Nami, pura pura tidak tahu.


"Iiih mama, kami itu ada di taman belakang, terus kenapa ya mah ko pintu taman bisa ke kunci ya? Kan biasanya juga gak di kunci." cicit Aulia dengan bawel.


"Kapan Nyonya suruh saya ngonci pintu taman ya? Perasaan semalem Nyonya sendiri sama Tuan yang ngonci pintu taman!" gumam bi Ida dari dapur, saat dirinya mendengar Nami menyebut namanya.


"Sejak kapan rumah kita ada nyamuk mah?" tanya Aulia polos.


Radit menoleh sesat ke arah Aulia, astaga Aulia, lo itu bodoh apa pinter sih! Gitu aja masih di tanyain. Gak cukup jelas kali ya... apa yang udah gwe ucapin kemarin.


"Mah, Radit sudah selesai." Radit beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri Nami dan papa Jaya, tidak lupa menyalami ke duanya.


"Sayang, kamu juga udah sana berangkat bareng Radit." titah mama Nami.


"Iya." Aulia tidak membantah.


Radit memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi di saat jalan sepi. Beberapa kali Radit menyalip mobil yang ada di depannya. Aulia hanya diam sambil sesekali melihat ke arah Radit. Berharap Radir berkata apa saja.


"Maaf." cicit Radit, memecah keheningan di dalam mobil.


Aulia mengerutka keningnya, "Untuk apa?"


"Semalam atas sikap kasar, ku." ujar Radit dingin.

__ADS_1


"Aku yang salah, aku minta maaf karena sudah membentak, mu." pandangan Aulia melihat ke arah jendela mobil.


"Apa kamu bisa... tidak bersikap ketus dan jutek pada, ku?" pinta Radit.


"Akan ku usahakan." kata Aulia.


Mobil berhenti di lampu merah. Aulia membuka jendela mobil, dan memberikan uang pada pengamen cilik.


"Makasih kakak cantik." ucap gadis cilik yang merupakan seorang pengamen.


"Sama sama sayang, kamu juga cantik. Ini untuk kamu." Aulia mencubit gemas pipi anak pengamen itu, setelah memberikan ikat rambut dan coklat.


"Makasih banyak, kaka." ucapnya lagi dengan senang, pengamen pengamen cilik itu berlalu ke pintu mobil yang lainnya.


Radit yang melihat sisi lain Aulia di buat takjub, tanpa sadar bibirnya terus tersenyum menatap Aulia.


"Kamu gak takut terkena kuman dari anak kecil tadi?" tanya Radit.


"Engga." jawab singkat Aulia.


"Kamu biasa melakukan hal tadi?" Radit melajukan kembali kendaraannya.


"Apa?"


"Memberikan uang, coklat dan ikat rambut pada anak tadi." jelas Radit.


"Aku sudah terbiasa, kita itu harus berbagi. Kasian juga kan anak sekecil itu sudah harus mencari uang. Ikat rambut dan coklat itu kalo lagi ada di dalam tas." ujar Aulia menjelaskan panjang lebar.


Radit mengerutkan keningnya, "Kamu menyiapkan sendiri ikat rambut dan coklat itu?"


"Iya lah... tidak hanya ikat rambut saja, aku juga membeli permen, susu kotak, biskuit, roti dan yang lainnya deh, tapi itu barang terakhir yang ada di tas. Aku lupa untuk membelinya lagi." cicit Aulia, yang tanpa sadar kini mulai banyak bicara pada Radit.


"Kamu suka anak kecil?" tanya Radit lagi.


"Suka dong." Aulia terus mengamati jalan yang mereka lewati.


"Berarti kita harus punya anak banyak." gurau Radit.


"Hah?" Aulia menoleh ke arah Radit dengan wajah yang bingung.


"Gak usah bingung sayang, ingat kan dengan apa mau mama dan papa inginkan?"


...❤️❤️❤️...


bersambung......

__ADS_1


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅


Menghalu itu gak mudah say


__ADS_2