Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Pengakuan Lusi


__ADS_3

...🏵️🏵️🏵️...


"Apa maksud kamu, Seli! Apa Lusi sudah mengakuinya?" tanya Radit dengan sorot mata yang memburu.


Seli bingung harus memulai cerita dari mana.


Arya yang melihat raut wajah Seli, segera menjelaskan apa yang terjadi pada Aulia.


"Biar saya yang menjelaskannya, tan." ujar Arya pada mama Mami.


Mama Nami masih memegang erat tangan Aulia sambil duduk di bangku yang ada di sebelah kanan Aulia. Sedangkan telinganya di tajamkan untuk mendengarkan penjelasan dari Arya.


Sedangkan Radit duduk di tepian ranjang sebelah kiri Aulia, seolah tidak ingin meninggalkan tunangannya itu.


Papa Jaya yang berdiri di sisi istrinya langsung berjalan untuk duduk di dekat Arya, untuk mendengarkan penuturan Arya.


Sedangkan Seli masih tidak habis fikir dengan pernyataan Lusi tadi di sekolah. Lia yang belum tau alasan Lusi pun menyimak penuturan Arya.


Arya pun menceritakan apa yang tadi Lusi katakan.


"Jadi begini, tan ..."


Flashback di sekolah.


Sesaat setelah Aulia di larikan ke rumah sakit oleh Radit dan Lia.


Seli bersama Arya kembali ke toilet putri, yang di mana di sana masih ada Lusi yang masih terduduk lesu dengan tatapan mata kosong.


Arya yang melihatnya langsung menarik tangan Lusi dengan kasar, Lusi di serettt ke kantor kepala sekolah.


"Lepas ka, sakit!" Lusi berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Arya.


Arya terus mengayunkan langkah kakinya, tidak memperdulikan teriakan dan rintihan Lusi yang tangannya ke sakitan.


Semua mata siswa melihat ke arah Lusi yang sedang di tarik tangannya oleh Arya, ketua osis mereka.


Sebagian dari mereka mengikuti langkah kaki Arya dari belakang, kepo dengan apa yang akan terjadi pada Lusi. Dengan asumsi mereka sendiri sendiri.


"Kira kira Lusi dapat hukuman apa ya?" Devi teman segengnya Lusi yang ikut di kerumunan siswa.


"Mana gwe tau, untung kita gak terlibat." jawab Nindi pada Devi.


"Kalo Aulia sampe mati, Lusi bakal di penjara dong!"


"Hus, kalo ngomong lo."


"Lo mikir gak si apa yang udah lo perbuat ke Aulia, lebih dari ini!" bentak Arya dengan sorot mata tajam ke Lusi, mengingat tadi Aulia pinsan di gendongan Radit.


Sampai lah Arya di depan ruang kepala sekolah, bersama dengan Seli dan juga Lusi.


Tok tok tok


Arya mengetuk ruang kepala sekolah.


"Masuk!" seru kepala sekolah dari dalam ruang ke besarannya.


Kreeek.


Arya membuka pintu kantor kepala sekolah.


Arya masuk dengan menarik tangan Lusi, Seli menutup segera pintu kantor kepala sekolah. Sedangkan murid yang tadi mengikuti langkah kaki Arya, hanya bisa mengintip dari balik kaca jendela kantor kepala sekolah.


Pak Didi menatap ke tiga murid didiknya dengan tatapan bingung, "Ada apa ini, Arya?"

__ADS_1


"Maaf pak, saya rasa saat ini yang bisa menjelaskan hanya, Lusi." ujar Arya dengan melepasss tangan Lusi dengan kasar.


Pak kepala sekolah menatap Lusi, "Ada apa ini, Lusi?" tanya kepala sekolah pada Lusi.


"Jawab Lusi, jangan diem aja lo!" sungut Seli yang mulai kesel, hanya melihat Lusi tetap diam mematung.


Suasana di dalam kantor kepala sekolah menjadi menegang, karena Lusi masih menutup mulutnya dengan rapat.


Tok tok tok


Lagi lagi pintu kepala sekolah di ketuk dari luar.


"Masuk." Kata pa Didi.


Bu Rita muncul saat pintu di buka, sambil berujar, "Maaf pak... ini terjadi pada mata pelajaran, saya."


Lusi membatin dengan mata menatap lantai, ke dua tangannya mengepal, sialannn kenapa jadi begini sih! Gwe harap lo mati, Aulia!


"Ada apa ini sebenarnya? Apa ada di antara kalian yang bisa menjelaskan ini pada, saya?" cecar pak Didi.


Seli menunjuk Lusi dengan jari telunjuknya, "Pak, Aulia teman saya sampai harus di larikan ke rumah sakit karena dia pak, Aulia tidak sadarkan diri gara gara dia, pak. Ini tindak penganiayaan, pak!" ujar Seli dengan kesal.


Lusi menatap Seli dengan tatapan tajam, sialannn ini anak, tunggu giliran lo, Seli! Lo juga bakal gwe habisin.


Deg.


Pak Didi nampak diam berfikir keras, apa mungkin yang di maksud Seli ini adalah Aulia Anastasya, putri dari pak Jaya Permana. Bisa gawat ini kalau benar dia orangnya.


"Siapa nama lengkap teman mu itu, Seli?" tanya pak Didi.


"Aulia Anastasya, pak!" jawab Seli.


Deg.


"Lusi!" Seru pak Didi dengan suara yang menggelegar.


Lusi langsung tersentak kaget mendengar bentakan dari Pak Didi, kepala sekolah yang terkenal baik, lembut bisa jadi seperti ini saat mendengar nama Aulia masuk rumah sakit.


Tanpa sadar Lusi mengatakan yang sejujurnya, apa yang ia rasakan pada Aulia, ia curahkan isi hatinya, iri hatinya selama ini, perasaan yang sudah ia pendam selama ini. Ke luar begitu saja dari bibirnya tanpa penyesalan.


Lusi mengatakannya dengan tatapan kosong, "Saya hanya iri Pak, Aulia selalu merebut apa yang saya mau, dia merebut perhatian dari setiap orang yang saya suka. Aulia memiliki sahabat yang selalu ada untuknya, pak. Arya yang selalu bersikap manis pada Aulia. Radit anak baru di sekolah ini, terus selalu terlihat bersamanya dan dengan perlakuannya pada Aulia membuat saya semakin membenci Aulia, hingga Farel anak yang selengean pun suka sama dia, pak." ujar Lusi panjang lebar dengan sesegukan.


"Apa yang sudah kamu perbuat pada, Aulia?" tanya pak Didi.


"Sa- saya mendorong Aulia ke dinding, pak. Dan menampar Aulia, sa- saya juga mencekiknya." ucap Lusi dengan ragu.


"Apa lagi? Kenapa Aulia bisa memar dan pinsan?" tanya Arya.


Lusi menatap Arya dengan tatapan benci, "Sa- saya ti- tidak me- melakukan apa apa padanya. Benar pak, saya tidak melakukannya! Dia sendiri yang terjatuh di lantai, karena tidak melihat jalan." ucap Lusi dengan menggelengkan kepalanya.


Pok pok pok.


Arya menepuk tangan dengan sinis, menatap Lusi dengan tatapan tidak suka.


"Wah wah wah... hebat banget lo, Lusi! Tadi lo sendiri yang mengakui kalo lo yang udah nampar Aulia, lo juga mencekiknya! Apa lagi sekarang? Kenapa pada tubuh Aulia sampai memar? Apa lo bakal seneng kalo masalah ini sampe terendus pihak kepolisian?" ujar Arya panjang lebar.


Lusi menatap Arya dengan tatapan yang sulit di artikan, bisa gawat kalo sampe masalah ini melibatkan polisi. Bisa hancur masa depan gwe, gwe gak mau di penjara.


Lusi mengatupkan ke dua tangannya, "Jangan ka, jangan laporkan saya ke polisi!" ucap Lusi dengan memelas.


"Makanya lo harus jawab dengan jujur, apa yang udah lo lakuin ke Aulia!" tanya Arya dengan tegas.


"Benar apa yang di katakan Arya, lebih baik kamu jujur Lusi. Bapak yakin, Aulia dan keluarganya memiliki hati yang besar untuk memaafkan, kamu! Asal kamu juga berjanji tidak akan mengulanginya kembali." ujar pak Didi dengan bijak.

__ADS_1


"I- iya... sa- saya menampar ke dua pipinya, mencekiknya dan saat Aulia sudah terjatuh di lantai, sa- saya memukulinya dengan gagang sapu." Lusi dengan wajah menunduk tidak berani melihat tatapan dari Pak Didi.


"Astaghfirullah hal aziiiiiim." Seli menggelang gelengkan kepalanya, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Arya berusaha meredam amarahnya, tangannya terus mengepal dengan keras, saat mendengar pengakuan Lusi.


"Kamu bapak Skorsing 1 bulan tidak boleh mengikuti pelajaran di sekolah. Sebagai gantinya, kamu akan mendapat tugas dari setiap guru mata pelajaran secara online. Kamu juga harus meminta maaf pada Aulia. Bapak juga akan memanggil orang tua kamu, harus ada hitam di atas putih, dan jika hal ini terulang kembali, bapak tidak akan segan untuk mengeluarkan kamu dari sekolah."


Dengar itu Lusi!" ucap pak Didi dengan segala ke putusannya.


Lusi mengatupkan ke dua tangannya ke arah pak Didi, "Pak, tolong orang tua saya jangan sampai tahu. Bagai mana perasaan orang tua saya pak, jangan pak, saya mohon!"


"Apa kamu juga memikirkan perasaan orang tua Aulia, sebelum kamu menyakiti Aulia, Lusi?" tanya pak Didi dengan tegas, pak Didi meraih gagang telepon yang ada di meja ke besarannya.


"Maaf pak... saya dan Seli izin pulang cepat untuk melihat kondisi Aulia." ujar Arya yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Pak Didi mengibaskan tangannya, memberikan izin pada Arya dan Seli.


"Kamu akan ibu berikan tugas untuk kamu kerjakan di rumah, selama kamu menjalani hukuman." ujar bu Rita pada Seli.


Flashback and.


"Jadi begitu ceritanya tan, om." ujar Arya.


Radit mengepalkan tangannya, lo tunggu pembalasan dari gwe, Lusi. Lo akan rasain apa yang udah lo perbuat pada Aulia.


Saking fokus mendengar dan memperhatikan cerita dari Arya, sampai tidak ada yang menyadari kalau Aulia sudah membuka matanya.


Aulia memperhatikan tempat saat ini ia berada, baunya sudah bisa di pastikan kalau ini ada di rumah sakit, tangan kirinya tertancap selang infus.


"Mah!" seru Aulia dengan lemah, saat matanya melihat mama Nami yang tengah menggenggam tangan kanannya.


"Kamu sudah sadar, sayang?" mama Nami langsung mencium punggung tangan kanan Aulia, ada tangis haru di ke dua matanya, saat melihat putri tunggalnya kini sudah siuman.


Radit juga ikut mencium punggung tangan kiri Aulia, Alhamdulillah ya Allah, terima kasih sudah membuat Aulia membuka ke dua matanya kembali.


Arya, Seli, Lia, dan papa Jaya langsung menghampiri ranjang Aulia, melihat lebih dekat keadaan orang yang di sayanginya.


Papa Jaya langsung memencet tombol yang ada di atas kepala Aulia untuk memanggil suster.


Aulia mencoba mengingat ke jadian sebelum ia pinsan, terakhir ia berada di toilet putri dan ada Lusi.


"Akkkhhh, sakit." ke dua tangan Aulia memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Jangan di paksakan untuk mengingatnya, sayang." mama Nami mengelusss lembut lengan kanan Aulia.


"Aulia, mulai saat ini... kemana pun lo pergi, gwe pasti bakal ikut serta!" seru Radit dengan senyum terlukis di bibirny.


Aulia menatap Radit dengan tatapan yang sulit di artikan, Aulia mengangguk, apa kamu menghawatirkan aku, Dit?


"Maaf kan aku, lalai dalam menjagamu." cicit Radit.


Aulia menggelengkan kepalanya. seolah tidak setuju dengan apa yang di katakan Radit.


Kreeeeek.


Pintu di buka oleh dokter Lukman di ikuti oleh suster yang berjalan di belakangnya.


...❤️❤️❤️...


bersambung......


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅

__ADS_1


Menghalu itu gak mudah say 😊


__ADS_2