
...🌹🌹💔💔...
"Ke putusan ku tidak salah kan, bang David!" tanya Aulia saat ke duanya berada di dalam kotak besi, menuju lantai atas, ruang kerja Aulia berada.
"Keputusan anda sudah tepat Nona, kalo melihat dari cara berfikirnya Tuan Kevin. Tinggal kita hanya menunggu ke nyataan, apakah setelah terjun ke dunia bisnis. Tuan Kevin bisa menuangkan ide idenya, membawa nama perusahaan semakin di kenal orang banyak. Atau nama perusahaan akan tenggalam dengan ke rugian." cicit David.
Saat melangkah ke luar dari lift. Aulia memukul lengan David dengan cukup keras.
Bugh.
David meringis menahan hawa panas di lengannya, bujuk busettt, Nona seorang wanita tapi pukulan nya layaknya pria.
"Jangan bicara sembarangan kamu, bang! Aku tidak akan membiarkan usaha Radit menjadi sia sia. Jangan kamu pikir aku akan membiarkan perusahaan Radit hancur!" gerutu Aulia dengan tatapan kesal pada David.
Bagh.
Aulia menutup pintu ruang kerjanya dengan keras, membuat David yang berada di belakangnya terperanjat kaget.
David menggelengkan kepalanya di depan pintu ruang kerja Aulia, astaga Nona, apa anda sedang palang merah? Aku rasa ini efek dari sudah lamanya hati mu tidak tersentuh dengan tangan pria.
Aulia sendiri di dalam ruang kerja nya terus menggerutu, mengumpat David. Dengan terus berjalan mondar mandir, sesekali menendang angin dengan kesal.
"Bodyguard kurang ajarrr, enak aja kalo bicara. Aku tidak akan membiarkan perusahaan Radit ini hancur. Hanya ini peninggalan Radit satu satunya, Radit memberi kan ini untuk aku kelola. Dari sini pula, rumah singgah semakin berkembang hingga tidak butuh donatur dari luar. Dari sini pula, aku bisa menyekolah kan anak anak yang ada di rumah singgah.
Dengan di pandu Dava, Kevin mengelilingi perusahaan Prasetyo grup. Ia tampak takjub dengan setiap detail sudut ruang, dengan sentuhan modern.
"Ini adalah ruang meeting, yang sering di gunakan Tuan Radit untuk mengadakan evaluasi hasil kerja, selama satu bulan dengan para kepala devisi." terang Dava.
"Bagai mana dengan sikap Radit saat mengambil keputusan? Apa ia terlihat tegas, datar, atau kurang tegas terhadap bawahannya?" tanya Kevin.
"Tuan Radit tampak dingin dari luar, tapi jika sudah mengambil keputusan, ia akan bersikap tegas, ia juga adil. Tapi jika sudah berurusan dengan hati, ia akan melunak di hadapan Nona Aulia, apa lagi dengan Nyonya Sita, Tuan tidak bisa menolak apa yang di katakan Nyonya Sita padanya." ujar Dava.
Kevin tampak melamun saat memasuki ruang yang akan menjadi ruang kerjanya, ruangan yang tampak bersih dan rapih, terdapat sebuah figura terpajang di atas meja kerjanya.
Nampak foto Aulia dan Radit yang sedang duduk di sebuah sofa, Aulia tampak bersandar di dada Radit dalam ke adaan terpejam. Dengan sebuah jaket yang menyelimuti tubuh atasnya.
Kevin membatin, lucu sekali mereka, tapi di mana foto itu di ambil? Radit sepertinya mengambil foto itu secara sembunyi sembunyi.
"Apa anda tahu Tuan, kenapa bisa ada foto itu?" tanya Dava.
__ADS_1
Kevin menatap kesal Dava, "Mana aku tahu, coba ceritakan pada ku, ada cerita apa di balik foto itu?"
"Itu hasil perbuatan jahil dari Nyonya Nami dan Nyonya Sita. Mereka dengan sengaja membuat Nona Aulia dan Tuan Radit berada di taman belakang yang ada rumah Nyonya Nami selama semalaman." terang Dava.
Kevin tampak terkejut mendengar nya, "Apa? Bagai mana bisa? Itu terlalu kekanak kanakan bukan, untuk seseorang yang umurnya bah kan sudah paruh baya!"
Kavin menggelengkan kepalanya, tidak bisa ku bayangkan... bagai mana hidup Radit mengahadapi ke konyolan mama dan calon ibu mertuanya dulu. Semoga aku tidak akan pernah mengalaminya.
Dava menyunggikan senyumnya melihat Kevin yang menggelengkan kepalanya, "Apa anda membayang kan berada di posisi Tuan Radit, Tuan?" ledek Dava.
Kevin melirik tajam Dava, "Kurang ajarrr kau, tante Nami tidak akan mungkin bisa bertindak konyol pada ku!" ia mendudukkan dirinya di kursi ke besarannya kini.
"Itu kan baru pikiran mu Tuan, coba saja kita lihat. Aku rasa Nyonya Nami dan Tuan besar Jaya, tidak akan merasa ke beratan... jika Tuan Kevin melanjutkan niat baik dari ke dua almarhum orang tua anda, Tuan." ucap Dava yang berdiri di depan meja kerja Kevin.
"Banyak bicara kau! Ke luar kau dari ruang kerja ku! Mengganggu waktu ku saja!" gerutu Kevin.
"Hehehe, saya yakin. Dalam hati Tuan Kevin, pasti sudah tertanam benihhh benihhh cinta untuk Nona Aulia, dan saya juga yakin... dengan berjalannya waktu, kalian pasti bisa saling dekat dan saling memahami satu sama lain, hingga timbul lah rasa untuk saling memiliki." cicit Dava dengan senyum mentejek Kevin.
Kevin memutar kursi yang ia duduki, hingga membelakangi ke beradaan Dava.
"Sok tau kau!" gerutu Kevin dengan menahan senburat di pipinya.
Kevin senyum senyum sendiri, mendengar penuturan Dava padanya.
Dava terkekeh melihat tingkah laku Kevin, "Kalo begitu saya permisi ke luar dulu, Tuan. Jika anda butuh sesuatu, saya ada di luar?"
"Hem!" Kevin hanya berdehem, membayangkan senyum manis yang tersungging di bibir Aulia, dengan tatapan teduhnya.
Kevin melangkah masuk ke ruang kerja Aulia, tanpa mengetuk pintu.
Ceklek.
Tak tak tak.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" omel Aulia, yang masih fokus dengan laptop yang menyala di atas meja kerjanya.
"Maaf, kalo begitu aku ke luar lagi!" cicit Kevin dengan wajah datarnya, namun kakinya tetap melangkah masuk, dan mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan Aulia, dengan meja kerja yang menjadi jarak ke duanya.
Aulia mengerutkan keningnya, menatap Kevin dengan tanda tanya di hatinya, "Kau? Mau apa?"
__ADS_1
"Aku ingin mengajak mu makan siang. Aku hanya mengenal mu, bang Dava dan bang David di sini. Sedangkan mereka berdua entah sedang menghilang ke mana." ujar Kevin dengan wajah memelas.
Aulia membuang nafasnya dengan kasar, "Baik lah, aku temani kau makan siang." Aulia beranjak dari duduknya, setelah mematikan laptop miliknya.
Ke duanya berjalan melangkah bersama menuju lift.
Kreek.
"Akhh." pekik Aulia dengan tubuh yang oleng, saat salah satu sepatu tinggi yang ia kenakan patah.
Sreek.
Tangan Kevin menahan pinggul Aulia, ke duanya saling bertatapan dengan jarak yang cukup dekat.
Deg.
Aulia membatin dengan sulit menelan salivanya, astaga... ada apa dengan ku, kenapa hati ku jedag jedug gak karuan gini? Tatapan Kevin begitu teduh, tatapan yang pernah di berikan Radit dulu pada ku.
Kevin menelan salivanya dengan sulit, astaga ingin sekali aku menyentuh bibir tipis ini, apa aku bersalah jika ingin memilikinya seutuhnya? Ingin ku jadikan ia permaisuri dalam hidup ku? Berdosa kah aku pada mu Radit? Saudara kembar ku!
Bugh.
Dengan usilnya tangan Dava mendorong punggung Kevin yang sedang condong pada tubuh Aulia.
Sreeek.
Dengan gerakan cepat, Kevin merubah posisi ke duanya, hingga Aulia yang berada di atasnya dengan tangannya yang merekat pada pinggang Aulia.
"Akkhhh."
Bagh.
Tubuh Aulia menimpa tubuh Kevin, yang mendarat di atas lantai.
Aulia mengerjapkan matanya, "Apa itu sakit?" tanya Aulia dengan polosnya.
Bersambung...
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
Menghalu itu gak mudah say 😊