
...🏵️🏵️🏵️...
"Apa yang akan kamu lakukan padanya, Radit?" tanya Aulia dengan tatapan menyelidik.
"Apa ya, emmm hanya memberikan peringatan yang tidak mungkin bisa di lupakan oleh Lusi." Radit menyunggingkan senyum pada Aulia, lalu kembali fokus pada jalannya.
"Jangan berbuat kejammm, Radit! Aku tidak suka. Kamu juga jangan bermain kekerasannn, aku benci seseorang yang bermain dengan kekerasan hanya untuk mendapatkan suatu hal. Kita kan bisa bicarakan baik baik tanpa menggunakan kekerasan dan kekuasaan." ujar Aulia panjang lebar.
Maaf Aulia, aku harus berbohong pada mu, aku akan menggunakan sedikit kekerasan untuk menghadapi Lusi. Ini semua aku lakukan hanya untuk mu, Aulia.
Ke duanya turun dari dalam mobil, Radit menggenggammm jemari Aulia menyusuri selaras gedung sekolah.
"Apa yang sebenarnya akan kamu lakukan pada Lusi, Dit?" tanya Aulia kembali tatapan yang menyelidik.
"Tidak ada sayang, aku tidak akan menyakitinya." Aku hanya akan menyingkirkan Lusi dan keluarga nya dari hadapan kita, aku ingin kehidupan kita nantinya akan berjalan dengan damai tanpa ada yang mengusiknya.
Sampai di dalam kelas, Aulia dan Radit langsung duduk di kursi mereka masing masing. Kelas sudah mulai ramai, karena dalam hitungan kurang dari lima menit, bel sekolah berbunyi.
Seli melihat jam yang terpajang di dinding kelasnya, "Tumben lo telat, kemana dulu lo, Aulia?"
"Mojok dulu lo ya sama Radit! Hehehe!" ledek Lia yang ikut nimbrung.
"Gak, kalian kalo bicara asal ngoceh aja. Kalo di denger sama anak lain gak enak. Pasti mikirnya yang abeh aneh." gerutu Aulia.
"Ah lo, ngomong ngomong lo mau ikut tanding gak buat ramein acara 17 Agustus nanti?" tanya Seli.
"Lo ikut apa? Kita bareng aja apa!" seru Aulia.
"Kaya biasa, basket aja yuk!" seru Seli.
"Ya udah masukin nama gwe, pake nanya lagi lo!" sungut Aulia.
"Yeee, lo. Emang lo gak mau minta izin dari calki lo itu?" Seli menyenggol lengan Aulia dengan sikunya.
Aulia mengerutkan keningnya, "Maksudnya apaan nih? Calki?" tanya Aulia dengan tatapan menyelidik.
Bugh.
Lia mendaratkan tangannya di bahu Aulia.
"Awwhhh, sakit dodol, tangan lo udah kaya tangan kuli Lia!" Aulia mengusappp usappp bahunya yang di geprak Lia.
__ADS_1
Hingga bel masuk sekolah pun berbunyi, menandakan jam pelajaran pertama di mulai, dengan di iringi datangnya seorang guru yang akan mengisi jam pelajaran di kelas Aulia.
"Selamat pagi, anak anak!" seru pak Asep dengan membawa buku materi yang akan ia ajarkan pada muridnya.
"Pagi, pa!" seru yang lain.
"Apa semuanya masuk kelas hari ini?" tanya pak Asep lagi.
"Lusi doang yang gak hadir pak, masih jalanin hukuman dari sekolah." ujar Sofian.
"Kita mulai pelajaran hari ini ya, ke luar kan buku tulis kalian, dan kalian salin bab wiraswasta. Desi, maju sini! Kamu catat ini di papan tulis!" seru pak Asep, dengan membuka lembar demi lembar buku paket yang ada di atas mejanya.
"Wuuuuu, pak... dikit dikit nyalin mulu. Sekali kali apa gak usah nyalin! Pegel tau pak ini tangan nyalin tulisan mulu!" gerutu Nindi.
"Kamu baru di suruh nyalin aja udah mengeluh! Gimana kalo kamu udah terjun ke dunia kerja? Mau jadi apa kamu, Nindi?" oceh pak Asep.
"Ya saya mau jadi bos aja pak, saya gak mau jadi kacunggg. Saya maunya memberi perintah sama orang!" cicit Nindi.
"Alah lo, mau jadi bos... lagu lo pera. Kalo ada Lusi aja lo yang di perintah perintah mulu sama temen lo!" sungut Deri.
"Ahahaha mimpi di siang bolong lo Nindi!" cicit Farel.
"Sudah sudah, sekarang kalian salin saja... apa yang di tulis Desi ke buku kalian masing masing!" titah pak Asep yang tidak ingin di bantah.
"Diem deh, lo dan yang lain... sama aja!" celetuk Nindi.
Kelas mulai sepi, yang lain sudah mulai menyalin apa yang Desi tulis di papan tulis. Sementara itu dari meja lain, dua pasang mata terus mengawasi Aulia, dengan sesekali mata dan tangan mereka fokus pada papan tulis.
"Lo tau gak sih, apa yang bakal Lusi lakuin ke Aulia dan Radit?" cicit Nindi dengan suara yang pelan.
Devi mengerdilkan bahunya, "Mana gwe tau apa yang bakal Lusi lakuin ke itu orang berdua. Yang gwe tau, Lusi mau kasih pelajaran yang setimpal dengan apa yang udah ia terima saat ini. Lusi ngerasa apa yang ia terima itu gak sepadan dengan apa yang udah ia lakuin ke Aulia." terang Devi.
Nindi mengerutkan keningnya, "Gak sepadan gimana sih? Itu anak gak mikir apa ya, dia tuh udah hampir buat Aulia ke hilangan nyawa, apa yang Lusi perbuat itu udah termasuk ke dalam tindak kriminal." oceh Nindi.
Devi mengerdilkan bahunya, "Gak tau lah gwe, jalan pikiran temen lo itu!" cicit Devi.
"Temen gwe, sahabat lo juga keles!" sungut Nindi.
Waktu terus bergulir, hingga tiba saatnya bel istirahat membuyarkan ruang yang sepi menjadi teriakan gembira.
Aulia, Seli dan Lia berjalan bersama menuju kantin dengan Farel, Danu dan Radit yang berjalan mengekori ke tiganya.
__ADS_1
"Kali ini lo mau makan apa, Aulia?" tanya Seli.
"Mau makan apa ya, emmm somay kayanya enak." cicit Aulia.
Dreet dreet dreet.
Radit merogoh hapenya yang ada di saku celananya, melihat siapa yang melakukan panggilan telepon padanya.
Radit mengerutkan keningnya, ini pasti ada hubungannya dengan Prasetyo. Aku harap mereka berhasil membuatnya menyingkir dari ke hidupan ku dan Aulia kelak!
"Kalian duluan aja ke kantin, gwe ada yang ketinggalan nih di kelas!" ucap Radit pada Farel dan Danu.
"Jangan lama, bro!" sungut Farel.
"Kaya cewek aja, pake ada yang ketinggalan!" gumam Danu yang menoleh ke belakang, menatap ke pergian Radit, kali ini apa lagi yang Radit sembunyikan dari gwe dan yang lain? Tapi kenapa juga gwe jadi kepo gini ya?
Radit menjawab panggilan teleponnya di dalam kelas yang nampak sepi, ia juga menatap waspada pada lingkungan sekitarnya.
"Ada kabar apa?"
[ "David sudah berhasil mengakuisisi perusahaan Prasetyo, bos. Keluarga Prasetyo sekarang sudah tidak ada lagi dalam dunia bisnis." ] terang David dari sebrang sana.
Radit menyeringai, "Bagai mana dengan Lusi? Apa kalian sudah berhasil membuatnya menyerah?"
[ "Dari yang saya dengar, bos dan Nona harus tetap was pada. Di mana pun kalian berada, Lusi masih belum menyerah atas apa yang terjadi pada dirinya dan keluarganya. Malah saya takut Lusi bisa saja mengancam nyawa Nona." ]
"Kalo begitu, kalian urus ke pindahan keluarga Prasetyo dari kota ini! Kalo perlu sampai ke luar negeri. Aku tidak ingin melihatnya lagi berkeliaran di sekitar Aulia."
[ "Siap bos, bos tunggu saja kabar baik dari kami." ]
Radit kembali menuju kantin, setelah menyudahi pembicaraan nya dengan David.
Tanpa Radit sadari, sepasang mata indah mendengar semua pembicaraannya itu.
"Gwe gak nyangka, cowok cool kaya dia bisa berbuat ini sama Lusi!"
Bersambung...
🌹🌹🌹
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
__ADS_1
Menghalu itu gak mudah say 😊