
...π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ...
"Apa yang membuat kamu yakin dengan rencana mama dan papa?" tanya Aulia yang masih berada dalam pelukan Radit.
"Kamu." ucap Radit.
"Kenapa aku?" Aulia menjarak tubuhnya dari Radit.
"Dengan berjalannya waktu, nanti juga kamu akan tau." ucap Radit dengan menatap sepasang mata indah milik Aulia.
"Kita coba jalani ini bersama." ucap Radit lagi dengan tatapan penuh keyakinan.
Aulia diam, seolah sedang berfikir keras, untuk menjawab perkataan Radit. Meski berat untuk berkata, Aulia harus jujur pada Radit akan perasaannya.
"Tapi aku emmmmmph."
Belum selesai Aulia bicara, Radit mencium dan melumattt bibir mungil Aulia. Mengunci ke dua tangan Aulia dengan cengkramannya.
Radit melepas ciumannya saat di rasa Aulia ke habisan nafas. Saat itu pula, di manfaatkan Aulia untuk berlari menjauh dari Radit, dan meraih gagang pintu dan membukanya.
Saat gagang pintu sudah di raih, "Kenapa ini, pintunya tidak bisa di buka!"
Ceklek ceklek ceklek.
Radit menghampiri Aulia yang masih memegangi gagang pintu, satu satunya jalan untuk menuju taman.
"Kenapa?" tanya Radit saat sudah berada di belakang tubuh Aulia.
Aulia menjawab pertanyaan Radit dengan perasaan cemas, "Pintunya gak bisa di buka."
"Biar aku yang coba buka." ujar Radit.
Aulia menggeser tubuhnya 2 langkah dari pintu, agar Radit bisa membuka pintu.
"Gimana, Dit?" tanya Aulia yang melihat ekspresi wajah Radit, saat mencoba membuka pintu.
"Sepertinya di kunci dari dalam." ucap Radit dengan santainya.
Aulia membola, "Apa? Di kunci dari dalam?"
"Ada pintu lain tidak, untuk memasuki taman ini?" Radit bertanya sambil matanya memperhatikan sekitar taman, seolah mencari sesuatu.
"Cumi ini satu satunya pintu yang ada untuk masuk ke sini." ujar Aulia.
Radit membuang nafasnya dengan kasar, lalu mengayunkan langkah kakinya, mendekati sofa yang ada di pojok ruang.
Radit mendaratkan bobot tubuhnya di atas sofa empuk, sambil tangan kanannya menepuk nepuk sofa, berharap agar Aulia duduk di sana juga.
"Kenapa kamu malah duduk, Dit? Ayo di coba lagi buka pintunya!" Aulia berusaha membuka pintunya lagi dengan tenaganya.
"Percuma, sepertinya memang sengaja di kunci." ucap Radit.
Aulia menatap tajam pintu yang kini terkunci, apa mungkin ini ulah, mama?
Aulia menggeleng gelengkan kepalanya, seolah tidak mau mempercayainya. Radit yang melihat tingkah Aulia jadi senyum senyum sendiri.
Lama Aulia mencoba untuk membuat pintu itu terbuka, namun hasilnya nihil. Radit hanya diam, melihat Aulia bersusah payah untuk membuka pintunya.
Radit sudah menduga kalau ini perbuatan mama Nami dan mama Sita. Tidak ada yang akan berani berbuat seperti ini, selain ke dua wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Pada hal tidak lah sulit untuk Radit ke luar dari taman belakang rumah Aulia ini. Hanya dengan sekali tendangan, pintu akan terbuka.
Radit hanya sedang menikmati waktu kebersamaan seperti ini dengan Aulia, bisa puas memandang, dan jika Radit mau, bisa berbuat lebih pada Aulia. Mengingat reaksi mama Nami di kamar Aulia tadi.
"Mau berapa lama kamu akan seperti itu Aulia?" tanya Radit yang melihat Aulia, belum menyerah dengan masalah pintu taman.
"Sampai pintunya terbuka lah. Aku gak mau kita semaleman di sini." sungut Aulia.
Radit yang tidak menyangka dengan jawaban Aulia, beranjak dari duduknya dan langsung berjalan menghampiri Aulia.
Sreek.
Radit menarik lengan Aulia.
Bugh
Mendorong tubuh Aulia ke tembok, dan mengunci tubuh Aulia dengan ke dua tangannya yang menyentuh tembok.
Deg deg deg.
Jantung Aulia berdebar dengan kencang, terkejut dengan apa yang baru saja Radit lakukan padanya.
Aulia mengerjapkan matanya, menatap Radit dengan takut, suaranya terbata bata, "Ka- ka- kamu ma- mau apa?"
Radit tidak menjawab, sorot matanya yang tajam, kini memandang lekat wajah Aulia yang terlihat tegang.
Dengan perlahan, Radit mendaratkan bibirnya di leher Aulia yang jenjang dan mulusss, lalu menyesapnya dengan kasar. Membuat Aulia memberontak, mencoba melepaskan diri dari Radit.
"Dit, lepas Dit!" seru Aulia meski usahanya untuk lepasss dari Radit seakan percuma. Radit tidak mekepasakan Aulia.
Radit memberikan beberapa tanda kepemilikannya di leher Aulia, setelah puasss Radit baru menjauhkan bibirnya dari leher Aulia.
Radit menarik tangan Aulia dan mendudukkannya di sofa. Radit juga menutupi tubuh depan Aulia dengan jaket yang tadi ia kenakan.
Aulia menatap Radit dengan tatapan yang sulit di artikan, ini orang apa bukan si? Manusia apa iblis si? Ko bisa mama Sita punya anak model Radit?
Radit ikut duduk di sebelah Aulia, Radit menyandarkan kepala Aulia pada dada bidangnya sambil tangan kanannya memeluk erat pinggang Aulia. Tangan kirinya merapikan rambut Aulia yang menutupi wajahnya.
"Maaf atas sikap ku, Aulia." ucap Radit penuh penyesalan.
Aulia tidak menjawab perkataan Radit, sekarang aja minta maaf, tar aja lo ngulangin lagi!
"Maaf kan aku Aulia, aku hanya ingin kamu tau, kamu adalah milik ku. Tidak seharusnya kamu membantah ku!" Radit menghujani kepala Aulia dengan kecupan, dan mengelusss elusss rambutnya seolah sedang menidurkan anak kecil.
Karena merasa nyaman dengan pelukan dan sentuhan yang Radit berikan, membawa Aulia pada dunia mimpi. Aulia tertidur pulas dalam pelukan Radit.
Radit menyenderkan tubunya ke sofa dan ikut tertidur bersama dengan Aulia, setelah sebelumnya mendengar dengkuran halus dari Aulia.
Radit dan Aulia melewati malam ini di luar taman belakang rumah, dengan langit malam bertabur bintang sebagai hiasan alam.
πππ
Di sisi lain.
Di dalam kamar papa Jaya yang mulai mengantuk dan lelah dengan pekerjaannya di kantor, lelah bertanding catur dengan Radit, yang hasilnya papa selalu kalah telak. Membuat papa lebih dulu tertidur dan terbuai dalam mimpinya.
Sedangkan mama Nami, tengah berbicara di telepon bersama dengan mama Sita.
"Halo jeng, apa kita gak keterlaluan nih... mengunci mereka di taman belakang rumah saya?" cicit mama Nami.
__ADS_1
[ "Ga apa apa mam, justru itu baik untuk anak anak kita. Biar mereka cepat nikah,Β terus kasih saya cucu hahaha." ] mama Sita tergelak.
"Bukan situ aja jeng, saya juga mau cucu. Hahaha, jadi gak sabar nunggu besok pagi jeng." mama Nami yang menimpali mama Sita.
"Itu anak sekarang lagi pada ngapain ya jeng?" tanya mama Nami.
"Halo jeng, kamu udah tidur ya jeng?" tanya mama Nami lagi, karena mama Sita tidak juga menjawab.
Setelah diam beberapa saat, akhirnya mama Sita memberi ide pada mama Nami.
[ "Kenapa tidak di intip aja mam!" ]
"Ide bagus itu jeng. Saya matikan dulu ya panggilan telponnya." mama Nami dengan semangat 45, langsung berjalan ke arah taman.
[ "Jangan mam, video call lagi aja dong mam." ] usul mama Sita.
"Untuk apa jeng?"
[ "Saya juga kan mau melihatnya, mam." ]
"Maaf maaf jeng, saya lupa hehehe."
Saat mama Nami sudah berada di depan pintu yang menuju taman belakang, mama Nami mengintip di balik tirai jendela yang berada dekat dengan pintu.
"Aiiiiih soswit banget si jeng anak kamu itu." mama Nami berseru senang, dengan tangannya tetap mengarahkan layar ponsel pada Radit dan Aulia berada.
[ "Putri mu juga mam, manisnya."Β ] mama Sita memberi pujian pada Aulia.
Ke duanya melihat Radit dan Aulia yang sedang tertidur di atas sofa, dengan tubuh depan Aulia yang di selimuti jaket milik Radit. Aulia masih berada dalam pelukan Radit.
"Romantis banget si jeng putra mu tuh hihihi." mama Nami tergelak melihat ke duanya.
[ "Jangan lupa di videoin mam. Buat kenang kenangan mereka." ] usul mama Sita.
"Oke."
Mama Nami memutuskan panggilan teleponnya dengan mama Sita, lalu memvideokan Radit dan Aulia yang tengah tertidur pulas di sofa.
Karena takut aksinya ketahuan oleh ke duanya, mama Nami pun langsung meninggalkan taman.
Jika sepanjang malam, Radit dan Aulia terpaksa harus tidur di sofa taman belakang rumah Aulia, dengan fasilitas angin malam sebagai ac alam, langit gelap sebagai atap, dengan bertabur bintang sebagai lampu alam.
Kini langit berganti terang, dengan cahaya matahari yang seolah sedang menyapa, 2 insan ini untuk segera meninggalkan dunia mimpi dan kembali beraktivitas ke dunia nyata.
Cahaya matahari yang menyilaukan mata, lebih dulu membangunkan Radit dari tidurnya.
Radit memandang Aulia dengan lekat, tangannya terulur menyentuh dan mengelusss pipi Aulia, "Seperti sedang bermimpi bisa sedekat ini dengan mu Aulia, aku bisa melihat mu di saat bangun tidur ku. Dengan melihat wajah polos mu saat sedang tertidur."
Aulia yang merasa tidurnya terusik pun akhirnya terbangun, dengan mata terpejam, Aulia merenggangkan urat urat pada tangannya.
"Engggghhh." Aulia sedikit demi sedikit membuka ke dua matanya, ke dua tangannya dengan nyaman memeluk tubuh Radit.
"Pagi sayang." sapa Radit dengan senyum tersungging.
...β€οΈβ€οΈβ€οΈ...
bersambung......
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo π π
__ADS_1
Menghalu itu gak mudah say π