
...π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ...
Radit menghapus air mata yang membasahi pipi Aulia, "Kamu kenapa malah nangis?" tanya Radit, yang di buat bingung dengan suara lembutnya.
Dengan terisak, Aulia mencoba untuk mengatakan alasannya pada Radit, "A- aku aku terharu mendengar perkataan mu barusan."
Aulia menatap sepasang mata tajam Radit, yang kini terpancar ke hangatan, aku takut ke hilangan kamu, Dit. Sikap kamu belakangan ini amat berbeda dari hari hari sebelumnya.
Radit membawa Aulia ke dalam pelukannya, "Udah gak usah nangis." Radit mengelusss punggung Aulia, berusaha memberikan rasa tenang untuk tunangannya itu.
"Emang kamu mau aku bicara kasar sama kamu? Aku memiliki wanita selain, kamu?" tanya Radit.
Mendengar kata kata Radit barusan, membuat Aulia mengerutkan keningnya, lalu i ia mendorong tubuh Radit hingga menjauh dari dirinya.
Radit mengerutkan keningnya, "Ada apa lagi, Aulia?"
Aulia menyapu air matanya dengan kasar, "Kamu tega sama aku? kamu mau punya wanita lain, selain aku? Hah! Jawab Dit?"
Radit menyunggikan senyumnya, melihat Aulia yang tampak menggemaskan di matanya, "Ya gak mungkin, sayang."
Radit menangkup wajah Aulia dengan ke dua tangannya, "Denger perkataan ku sekali lagi. Cuma kamu satu satunya wanita yang ada dalam hati dan hidup ku, selamanya dan tak akan pernah tergantikan, ingat itu Aulia." ucap Radit dengan tegas tanpa ada ke raguan di matanya.
Aulia pun menganggukkan kepala nya, sebagai jawaban jika ia mengerti.
Cup.
Radit mengecup kening Aulia, dan tangannya meraih tissue yang ada di dalam mobilnya. Lalu menghapus air mata Aulia, dan mencubit gemas hidung Aulia dengan di lapisi tissue.
"Lain kali, jangan seperti ini." Radit membuang bekas tissue yang ia gunakan, untuk Aulia tadi ke tempat sampah yang memang ia sediakan di dalam mobilnya.
"Mau lanjut ke sekolah atau kamu mau bolos?" tanya Radit dengan memainkan alisnya naik turun.
Aulia membola, sedetik kemudian mencubittt pinggang Radit, "Kamu gimana sih... malah ngajarin yang gak bener!" kata Aulia cemberut.
Radit meraih tangan Aulia yang mencubit pinggangnya, "Aku cuma bercanda, sayang! Tapi kalo kamu mau, aku gak ke beratan hehehe."
"Dasar nakal!" Aulia mengerucutkan bibirnya.
"Makanya jangan nangis lagi. Lihat tuh, hidung kamu merah, udah kaya tomat rebus." ledek Radit, dengan tangannya yang kini melajukan kembali mobilnya menuju sekolah.
"Karena, kamu." sungut Aulia.
"Iya karena aku, karena aku terlalu mencintai mu dan menyayangi diri mu, Aulia."
"Dasarrr gombal!"
"Gombal sama kamu mah, gak apa kali, sayang! Sayangnya Radit! Kisss dong!" Radit mendekatkan pipinya ke arah Aulia.
Aulia mendorong bahu Radit dengan tergelak, "Ahahahha udah sana Radit, fokus sama kemudi!"
Aulia menatap Radit dengan pandangan yang sulit di artikan, aku tidak tahu bagai mana hidup ku ke depannya, jika tanpa kamu, Raditia Prasetyo. Yang pasti saat ini hati ku tidak karuan karena mu.
Sesampainya di sekolah, Aulia dan Radit berjalan menuju kelas mereka. Sepanjang perjalanan Radit tidak melepaskan genggamannn tangannya dari tangan Aulia.
"Ciyeeeeeh pasangan paling romantis."
"Mau dong yang kaya, Radit."
"Enak ya kalo punya pacar satu kelas, bisa nempel teruuuus."
"Ihs, bosen gwe... yang di liet dia lagi, dia lagi!"
Masih banyak lagi kalimat yang terucap dari pasang mata yang melihat Radit dan Aulia, baik itu kata kata yang terucap terdengar iri, hujatan atau pun yang suka dengan melihat hubungan ke duanya.
"Bikin iri aja sih." gerutu Danu dengan kesal, lalu berjalan mendahului ke duanya.
"Makanya cari pacar, Danu." teriak Radit.
"Gwe juga kan pengen ngerasain gandeng tangan pacar." Danu mendaratkan bobot tubuhnya di atas kursi.
"Berisik." sentak Nindi yang sudah berada di dalam kelas dengan suara yang meninggi.
"Ngapa lo, mulut juga mulut gue ini. Ngapa juga lo yang sewot." oceh Danu dengan suara yang tidak kalah tinggi.
"Ember lo." ledek Nindi. "Gue lagi ngehafal nih, gak inget lo tar ada ulangan." kata Nindi lagi mengingatkan Danu.
"Mati gue." Danu menepuk jidatnya sendiri.
"Lupa lo ya?" tanya Nindi dengan sinis.
"Diem lo." Danu mengambil buku catatan dari dalam tas ransel miliknya.
"Ribut aja lo pada, cinta baru tahu rasa lo." ledek Radit, saat kakinya melangkah memasuki kelas bersama dengan Aulia.
Gimana gak, suara Danu dan Nindi terdengar jelas dari luar kelas, saking kerasnya suara Danu dan Nindi, sama sama ngebas.
Radit dan Aulia duduk di kursi mereka masing masing.
Teng teng teng.
Bel masuk sekolah berbunyi, tanda jam mata pelajaran pertama akan di mulai.
"Pagi anak anak." sapa bu Rita, dan berjalan menuju tempat duduknya.
Kelas yang tadinya riyuh dengan suara canda tawa pun berubah menjadi sepi.
"Pagi buuuu." jawab satu kelas serempak.
__ADS_1
Bu Rita menaruh buku yang ia bawa ke atas meja. Lalu berdiri di depan kelas.
"Ke luarkan buku catatan kalian ya!" perintah bu Rita.
"Iya buuuu." jawab sebagian murid dengan semangat.
"Serius nih, ada ulangan?" cicit Danu pada Farel.
"Hari ini kita ulangan." ucap bu Rita tegas, seolah menjawab pertanyaan yang di ajukan Danu pada Farel.
"Yaaaah buuu." keluh beberapa anak.
Bu Rita mendudukkan dirinya di kursi ke besarannya yang ada di dalam kelas.
"Nindi, Danu!" seru bu Rita.
"Iya bu." jawab Nindi dan Danu berbarengan.
"Tolong kumpulkan semua buku catatan teman kalian." pinta bu Rita.
Nindi dan Danu berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menghampiri setiap meja temannya, guna mengambil buku catatan teman satu kelas.
"Letakkan di meja ibu kalo sudah." terang bu Rita.
Sesuai instruksi dari bu Rita, Nindi dan Danu pun setelah selesai mengambil buku catatan dari setiap siswa yang ada di kelas, lalu menaruhnya di atas meja bu Rita.
"Bagikan ini pada teman kalian." titah bu Rita.
Bu Rita menyerahkan lembaran foto copy pada Nindi dan juga Danu.
Danu mengerutkan keningnya, saat ke dua matanya mengarah pada soal yang terpajang di atas kertas yang ia bawa.
Aduh, mati nih gue. Mana ulangan kali ini laporan penjualan lagi.
Nindi yang melihat raut wajah Danu berusaha menahan tawanya, "Phuff sukurin lo, gak bisa jawab tuh pastinya!"
Bu Rita mengerutkan keningnya, lihat wajah Nindi, "Kamu kenapa, Nindi?"
"Ah gak bu... gak ada apa apa, bu." Nindi berlalu meninggalkan meja bu Rita, lalu mulai membagikan lembar kertas foto copy pada teman temannya.
"Rese itu Nindi, pasti ngetawain gue yang belum siap ulangan." gerutu Danu.
"Kalian sudah pegang lembar soal masing masing kan?" tanya bu Rita.
"Sudah bu." jawab murid serempak.
"Kerjakan sekarang dan jangan berisik." kata bu Rita.
"Bu, boleh nyontek kan?" tanya Danu dengan pertanyaan bodohnya.
" Sudah sudah jangan ribut. Dimana mana, ulangan gak ada yang nyontek, Danu." sanggah bu Rita.
"Dit, gue liet dong!" pinta Danu dengan berbisik dan dengan suara sepelan mungkin.
Radit yang biasanya pelit dalam memberikan contekan, kali ini membiarkan Danu melihat dan mencontek hasil jawaban yang di kerjakan Radit.
Aulia, Seli dan Lia mengerjakan soal lembar ulangan dengan tenang, karena tanpa ada ulangan pun mereka tetap belajar karena mata pelajaran ini lah yang paling mereka senangi. Hitung uang, padahal uangnya gak ada.
Beberapa jam kemudiaan.
"Yang sudah selesai, boleh di kumpulkan ke depan." titah bu Rita.
Aulia bangun dari tempat duduknya, dan berjalan ke arah meja bu Rita sambil membawa lembaran soal yang di berikan tadi.
"Ini, bu." kata Aulia.
"Kamu langsung istirahat ajah ya." ucap bu Rita.
"Makasih, bu." jawab Aulia dengan senyum manisnya. Lalu Aulia berjalan ke luar dari dalam kelas.
Kali ini Aulia tidak langsung berjalan ke arah kantin, tapi Aulia mendaratkan bokongnya duduk di sofa panjang yang ada di depan kelas. Sambil menunggu Seli, Lia dan tunangannya Radit.
Setelah Aulia mengumpulkan soal latihannya, Seli dan Lia serta Radit dan juga Danu ikut menyerahkan lembaran soal latihannya secara bergantian.
Lalu berjalan ke luar kelas, untuk menuju kantin menyusul Aulia.
"Kalian bisa barengan gitu?" tanya Aulia, yang melihat ke dua sahabatnya ke luar bergatian.
"Kan kita sehati." ucap Seli, lalu duduk di sofa dekat Aulia.
"Ayo, kita langsung ke kantin aja." Radit mengulurkan tangannya, saat sudah berdiri di depan Aulia.
"Beres sayang." Aulia beranjak dari duduknya, menggenggammm tangan Radit lalu melangkah beriringan.
"Kita di tinggal nih?" tanya Danu, yang masih berdiri di depan Seli.
"Mau ikut gak?" tanya Radit.
"Mauuuu." ucap Seli, Lia dan Danu serempak.
Seli, Lia dan Danu berlari mengejar langkah kaki Radit dan juga Aulia yang sudah berjalan di depan mereka.
Sampai di kantin, mereka semua duduk di meja yang sama. Mang Dadang datang menghampiri meja Radit, karena kantin masih sepi.
"Kita pesen bakso aja yah, biar samaan dan kompak." ujar Radit, saat mang Dadang sudah berdiri di samping Radit.
"Lo yang teraktir." ucap Danu dengan semangat.
__ADS_1
"Iya, gue yang teraktir. Tapi pesenan gue,Β yang atur." jawab Radit.
"Beres booos." ucap Seli, Lia, Danu kompak.
Dalam diam, Aulia memperhatikan wajah Radit yang tampak berbinar, entah apa yang ada pandangan Aulia, yang pasti Radit tampak berbeda.
Radit, bisa gak sih lo biasa aja, dengan lo kaya gini, dengan lo berubah, malah buat gwe semakin takut, takut ke hilangan lo, semoga ini bukan pertanda buruk.
"Baksonya 5 porsi, yang 2 porsi gak pake mi kuning ya, Mang." kata Radit.
"Beres atuh, aden. Minumnya apa atuh?" tanya mang Dadang, dengan ramah dan sopan.
"Minumnya, es teh manis 5." jawab Radit.
"Oke, di tunggu atuh pesenannya." ucap mang Dadang yang berlalu meninggalkan meja Radit.
"Btw ada angin dari mana nih, tumben lo teraktir kita." tanya Danu dengan menumpukan ke dua tangannya di atas meja, tatapannya fokus pada Radit.
Prak.
Lia menepak bahu Danu.
"Salah ege! Yang bener itu ada angin apaan! Dodol lo, pake bahasa yang lo ngerti bae udah!" ralat Lia.
"Sama bae, itu bahasa yang gwe ngerti odol!" ejek Danu.
"Ihs kalo di bilangin lo! Kadal curut!" gerutu Lia.
"Kenapa jadi lo berdua yang ribut si? Awas lo, tar jadi cinta segitiga, bahaya!" ledek Seli.
"Anjiiir kalo ngomong lo, suka bener, ahahah." Timpal Danu dengan tergelak.
"Gak ada acara apa apa, gwe cuma lagi pengen traktir kalian aja." ucap Radit dengan datar.
"Permisi aden, baksonya siap meluncuuur." mang Dadang kembali, dengan ke dua tangannya membawa sebuah nampan berisi 5 mangkok bakso yang di pesan Radit.
"Selamat makan." ucap Radit.
"Yeee, di traktir Radit." seru Lia.
"Eh Li... cowok lo mana? Dari tadi belum juga nongol tuh bocah batang idungnya?" tanya Seli, sambil menungkan saus dan sambal ke dalam mangkuk baksonya.
"Sebodo lah, yang penting makan di traktir Radit." ucap Lia, sambil menyantap baksonya.
"Aaaa!" Radit mengarahkan sendok, berisi bakso kecil yang sudah di belah dua sebelumnya ke depan mulut Aulia.
Aulia pun membuka mulutnya untuk menerima bakso yang di suapi oleh Radit.
"Emmm, sweet deh kalian." Lia berbinar senang, melihat sikap Radit pada Aulia.
"Biasa ajah." elak Danu dengan ketus, jiwa jomblonya meronta ronta.
"Yeeeh lo, yang jomblo iri." ledek Seli.
"Rese lo, Sel." keluh Danu.
"Gantian kamu, yank!" Aulia menyuapkan bakso ke dalam mulut Radit.
"Eeet ya, gini amat nasib jomblo ngenesss." keluh Danu.
"Ahahaha, makanya cari pacar." ledek Seli dan Lia berbarengan.
"Kocak lo pada." sungut Danu kesal.
"Mau gue kenalin gak sama cewek jomblo ngenes juga?" kata Radit.
"Mang ada, cewek jomblo ngenes kaya gue?" tanya Danu dengan polosnya.
"Noh si Nindi, kan jomblo ngenes juga. Sama kaya lo." ucap Radit.
"Ahahaha." Seli dan Lia tertawa puas dengan perkataan Radit.
"Emang lo pada, gak solid ama gue." ucap Danu lirih.
"Gue deketin lo sama Nindi. Mau gak?" tawar Radit.
"Ogah, udah pasti di tolak gwe." jawab Danu.
"Kalo lo, di terima jadi pacarnya. Gimana?" tantang Radit.
"Mana mungkin?" jawab Danu.
"Yakin aja udah, sama gue ini." ujar Radit, dengan senyum yang sulit di artikan.
Nindi dan Devi melangkah menuju kantin, tatapan Nindi mengarah pada Radit yang sedang tertawa dengan yang lainnya.
"Sekarang lo bisa aja ketawa terbahak bahak, tapi setelah ini... entah harus berapa banyak air mata yang akan ke luar dari sepasang mata indah Aulia itu buat menangisi lo, Radit!" gumam Nindi dengan suara pelan.
Devi yang samar samar mendengar ucapan Nindi, mengerutkan keningnya, "Lo ngomong apaan, Nin?" tanyanya dengan polos.
Bersambung...
...πΉπΉπΉ...
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo π π
Menghalu itu gak mudah say π
__ADS_1