
...πΉπΉππ...
Kevin menganggukkan kepalanya, ia menjawab panggilan telponnya.
"Iya halo! Siapa ini?" tanya Kevin pada si penelpon, tanpa basa basi.
Terdengar suara seorang wanita yang tergelak dari sebrang sana, wanita itu berkata dengan santainya.
[ "Hahahha anda tidak perlu tahu siapa saya, justru saya penasaran. Apa anda tidak ingin tahu⦠apa nyawa kekasih anda ini masih ada atau dia sudah mati hehehe!" ]
Kevin mengepalkan tangannya, keningnya mengkerut, bearti dia yang menculik Aulia, dan Aulia pasti saat ini ada bersama dengannya.
"Jangan berani kau sentuh Aulia, kemana kau membawa Aulia!" tanya Kevin dengan penuh amarah.
[ "Sabar bung, di sini yang menjadi bosnya adalah saya, jadi hidup matinya Aulia, ada di tangan saya! Kau mengerti itu!"]
"Katakan pada ku, apa mau mu!" tanya Kevin dengan tidak sabaran.
Terdengar hembusan nafas berat dari si penelpon, ["Saya ingin nyawa wanita ini di tukar dengan nyawa mu, apa kau keberatan dengan penawaran saya ini? Sayangnya anda tidak bisa memilih hehehe."]
"Penawaran bodoh macam apa yang kau sebutkan itu! Itu bukan penawaran bagi ku! Sekarang kau katakan apa mau mu! Lima puluh juta, seratus juta, atau 1 m! Kau pasti menginginkan uang bukan!" ucap Kevin dengan entengnya.
["Kau pikir aku miskin, hingga membutuhkan uang dari mu dengan cara menculik wanita tidak berguna ini? Heh! Jika kau mau, aku bisa saja menghabisi nyawa wanita mu ini!"] cicitnya dengan emosi.
"Lalu dengan alasan apa kau melakukan ini pada Aulia? Punya masalah apa kau dengan Aulia?" cecar Kevin dengan penuh emosi.
["Wah ternyata kau termasuk pria pintar ya! Tapi kepintaran mu tidak akan berguna bung! Datang lah kau ke jalan xxx nanti malam jam 9, nanti di sana ada gedung tua, kau ikuti saja jalan setapak yang akan membawa mu pada wanita mu itu!"]
"Aku ingin bicara dengan Aulia, apa benar Aulia ada bersama dengan mu? Atau jangan jangan kau hanya segelintir orang yang mengaku ngaku saja, hanya demi uang!" tuduh Kevin.
Sementara di sebuah bangunan tua yang terbengkalai, nampak dinding dan area sekitar sudah di tumbuhi pohon liar yang entah apa nama nya, dengan coretan tangan manusia yang memenuhi dinding bangunan yang semula adalah gudang.
Sani melangkah menghampiri di mana ia menyekap Aulia, "Baik lah, untuk meyakinkan mu, tidak hanya suaranya yang akan kau bisa dengar... melainkan teriakannya kau juga akan dengar hahaha!"
["Dasar wanita gila, berani kau menyakiti Aulia, kau tidak akan pernah bisa lolos dari tangan ku! Lihat apa yang akan aku lakukan jika aku berhasil menemukan mu!" gerutu Kevin dengan amarah.
__ADS_1
Sani berkata dengan pura pura takut, "Aaahhh a- aku takut!" lalu Sani berkata dengan tegas dan datar, "Itu yang ingin kau dengar dari bibir ku? Sayang sekali, aku bukan wanita yang lemah seperti apa yang kau dan saudara kembar mu bayangkan!" ucap Sani.
[ "Aku tahu sekarang, jadi kau ini salah satu dari wanita yang di tolak oleh saudara kembar ku!" ] ucap Kevin dengan nada suara yang menyepelekan dan merendahkan.
Kreek.
Sani membuka salah satu pintu, yang terdapat Aulia di dalamnya.
Aulia membola, saat melihat siapa yang melangkah masuk, pandangannya seakan sulit untuk mempercayainya dan mengartikannya.
Dia kan Sani, temannya Radit. Gak mungkin jika wanita itu adalah dalang dari penculikan ku kan? Mau apa pula ia membawa ku ketempat seperti ini?
Srek.
"Akkhh!" pekik Aulia menahan rasa perih di sekitar bibirnya, saat lakban yang menutupi mulutnya, kini berhasil di lepas oleh Sani.
"Sani, aku mohon Sani lepaskan aku!" gumam Aulia dengan pandangan penuh harapan pada wanita yang berdiri di hadapannya.
Prak.
"Aku belum menyuruh mu untuk bicara! Jadi kau tidak usah membantah ku!" gertak Sani dengan tatapan tajam pada Aulia.
"Ayo bicara, ada seseorang yang ingin bicara dengan mu!" titah Sani dengan menempelkan benda pipih miliknya pada daun telinga Aulia sebel kanan.
[ "Halo Aulia, Aulia... ini aku, apa kau baik baik saja di sana?" ]
"Kevin, apa ini kau?" tanya Aulia dengan bulir bening menerobosss ke dua mata indahnya.
[ "Aulia... ini sungguh kau? Apa kau baik baik saja sayang? Wanita gila itu tadi menampar mu kan? Kau pasti merasa sakit!" ] cicit Kevin.
[ "Nak, putri papa, apa kau baik baik saja sayang? Katakan pada kami nak, kamu sekarang berada di mana? Biar kami bisa ke sana untuk mencari ku?" ] ujar papa Jaya yang tidak sabar ingin bicara dengan putri ke sayangannya.
"Aku baik pah! Sani membawa ku ke salah satu gudang yang ada di puncak pah!"
Bugh.
__ADS_1
Sani menendang kaki kursi yang di duduki Aulia, dengan tubuh Aulia yang terikat pada sandaran kursi. Hingga kursi itu terjungkal
"Akkkhh!" pekik Aulia.
"Itu hukuman untuk mu, sudah berani mengatakan yang tidak perlu!" gerutu Sani.
Sani mengayunkan langkah kakinya, ke luar dari kamar itu.
"Kau sudah dengar kan suara wanita kesayangan mu itu? Jadi sekarang tunggu apa lagi? Aku tidak ingin kau datang ke tempat ini bersama dengan polisi. Kau harus datang seorang diri!" cicit Sani memperingati Kevin.
[ "Baik, aku akan turuti apa pun permintaan mu, asal kembalikan Aulia pada kami!" ] Kevin menyanggupi apa yang di inginkan Sani.
Sani menyeringai, "Aku tunggu kehadiran mu, sayang!" tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Sani memutuskan sambungan telponnya.
Sani senyum senyum sendiri, dengan memainkan hapenya yang ada di tangannya, "Aku harus mempersiapkan diri, bagaimana pun aku tidak akan membuang waktu ku lagi, aku akan buat pria itu meniduri ku. Dengan begitu Aulia tidak akan mendapatkan kebahagiaannya kembali hahahha! Hanya aku yang pantas untuk mu Kevin."
Malik memasang telinganya dengan tajam, berusaha mengertikan apa yang sedang di rencanakan kekasihnya itu pada pria lain.
Malik mengepalkan tangannya, kurang ajar Sani, jadi selama ini ia tidak benar benar tulus mencintai ku? Jadi Sani ingin menjebak Kevin dengan menculik Aulia ke tempat ini? Sani tidak terima jika Aulia bahagia dengan Kevin? Apa mungkin di balik tewasnya Radit dan keluarga Prasetyo, ada campur tangan Sani di dalamnya?
Malik melangkah menghampiri Sani dengan wajah datar dan berdehem.
"Ehem, apa yang sedang kau lakukan di luar sayang?" tanya Malik, bersikap seolah ia tidak mengetahui rencana yang sedang di atur Sani.
Sani berjingkat kaget, "Ka- kau? Kau mengagetkan ku saja sayang. Jelas aku sedang menunggu mu!" Sani memeluk manja Malik.
"Apa ada yang kau sembunyikan dari ku, sayang?" tanya Malik dengan datar.
Bersambung...
πΉπΉπΉ
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo π π
Menghalu itu gak mudah say π
__ADS_1