
...🌹🌹🌹💔...
Brak.
Sreeek.
Tiiiiiiin.
Duar.
Aulia yang merasa tenggorokan nya kering, berjalan dengan perlahan ke arah meja yang terdapat segelas air, yang memang selalu tersedia di kamarnya.
Prang.
"Astaghfirullah, kenapa perasaan ku gak enak gini!" gumam Aulia.
"Kenapa Aulia?" tanya Seli yang menghampiri Aulia dengan wajah cemas.
"Kamu gak apa apa Aulia?" tanya Lia.
"Gak apa ko, ini tadi gelasnya jatuh!" gelas yang jatuh itu membuat gaun pengantin yang di kenakan Aulia jadi basahhh terkena airnya.
Lia menyentuh bagian gaun pengantin yang basahhh dengan tangannya, "Gimana ini, basahhh Aulia!" seru Lia dengan panik, sesekali ia melihat jam yang terdapat di dinding kamar Aulia.
"Lo ganti aja gaun yang lain. Kan masih ada 2 gaun lainnya buat hari ini, sambil nunggu gaun yang ini kering. Gimana saran gwe? Cemerlang kan?" ledek Seli, memecah kepanikan di antara ke dua sahabatnya.
"Ide bagus." Lia melangkah ke luar.
"Mao ke mana lo? Bukannya bantuin di mari!" gerutu Seli saat Lia sudah di ambang pintu.
"Gwe mau panggil mbak MUA dulu, buat batuin Aulia ganti gaun." ujar Lia dengan memegang hendle pintu.
"Gak usah dodol, kita aja yang bantuin Aulia! Ribet banget si lo, Lia!" Seli mengambil gaun pengantin yang ada di kamar itu, hendak membantu Aulia mengganti gaun pengantin yang ia kenakan.
Ceklek.
Nampak mama Nami yang masuk ke dalam kamar putrinya, masih terlihat sisa sisa tangisnya di pipi wanita paruh baya itu. Ia melangkah dengan, hati menguatkan diri sendiri.
Nami menatap Aulia dengan nanar, apa yang harus aku katakan pada Aulia? Seketika aku mematahkan hatinya!
Aulia yang melihat mama Nami pun berseru, ia takut mamanya itu akan marah karena sudah mengganti gaun pengantin yang tidak seharusnya ia kenakan saat ini.
"Mama? Maaf ya mah, aku ganti gaun yang ini. Gaun yang putih pasahhh terkena tumpahan air saat aku ingin minum, mah!" terang Aulia dengan mata berbinar, berharap mamanya mengerti.
Grap.
__ADS_1
Mama Nami membawa Aulia ke dalam dekapannya, "Maafkan mama nak, maafkan mama. Pernikahan ini tidak mungkin terjadi!" seru mama Nami dengan terisak, bulir bening kembali membanjiri ke dua kelopak matanya dan tumpah di pipinya.
Lia dan Seli saling pandang, saling bertanya satu sama lain dengan mulut yang komat kamit tanpa mengeluarkan suara.
Dengan gerakan bibir, Seli seolah bertanya pada Lia, 'Apa yang terjadi? Kenapa tante bilang begitu?'
Lia mengerdikkan bahunya, menjawab pertanyaan Seli tanpa suara juga, "Gwe juga gak tau. Mending kita dengerin dulu biar jelas."
Aulia menjarak tubuhnya dengan sang ibu, menatap sang ibu dengan tatapan yang penuh tanda tanya di kepalanya, jemarinya yang sudah di hias dengan hena, menyapu bulir bening yang membasahi pipi sang ibu.
Aulia membatin, apa yang sebenar nya terjadi, Tuhan? Ada apa dengan semua ini? Radit pasti akan datang untuk menikahi ku, dia sudah janji pada ku!
"A- ada apa mah?" tanya Aulia dengan bibir yang kelu, lidahnya seakan berat untuk bertanya. Seakan ada hal buruk yang sedang ia hadapkan saat ini.
"Ikut mama ya nak!" mama Nami merangkul Aulia, membawanya menuruni anak tangga.
Tatapan iba dan nanar sanak saudara mengarah pada Aulia, terdengar desas desus dari beberapa mulut yang terus mengawasi ke dua wanita yang kini menuruni anak tangga.
"Kasihan ya Aulia!"
"Baru juga mau menikah, sudah harus ke hilangan."
"Untung saja, pernikahannya belum berlangsung, jika tidak... bisa jadi janda muda belia itu si Aulia!"
Ocehan demi ocehan sampai juga pada telinga Aulia, meski hanya samar samar. Sementara beberapa pelayan membereskan dan merapihkan kembali dekorasi yang ada di rumah megah itu. Sebagian saudara juga sudah ada yang meninggalkan kediaman orang tua Aulia.
Tampak sang ayah tengah berbicara dengan serius bersama dengan pak penghulu, pak ustad, dan RT setempat.
"Kamu yang tabah ya, nak!" ucap bu Rita yang kini berada di hadapan Aulia.
"Bu guru ngomong apa? Aku tabah untuk apa?" tanya Aulia dengan menatap bingung bu Rita.
Arya, Farel san Danu juga ikut menghampiri Aulia dan mama Nami, setelah bu Rita meninggalkan nya, tangis bu Rita tak terbendung, ia memilih berlari ke luar meninggalkan Aulia dengan tanya.
"Bu Rita aneh banget, apa kalian tahu bu Rita kenapa?" tanya Aulia, yang memungkiri apa yang ia dengar dengan samar samar.
"Gwe harap lo tabah Aulia, ini pasti jalan yang terbaik buat lo dan Radit." ujar Arya dengan mengeluss lembut pipi Aulia.
Aulia berkata dengan sesak di dadanya, berusaha menahan tangis meski pada akhirnya ia terisak dengan mengguncang lenggan sang ibu yang ia genggam.
"Radit pasti baik baik aja, ka! Kalian jangan pada ngaur, kalian tunggu di sini kan! A- a- aku dan mama pasti akan bawa Radit ke sini! Ra- Radit pasti akan datang, ia kan mah? Radit pasti akan datang mah! Radit akan menikahi ku, ia akan menjalankan perjodohan ini!"
Grap.
Lia memeluk tubuh sahabatnya dari belakang dengan terisak, "Sabar Aulia, meski ini berasa mimpi buat kita juga! Radit pasti baik baik aja."
__ADS_1
"Yangg? Radit udah almarhum, Radit udah ninggalin kita semua bersama dengan orang tuanya." ujar Farel pada kekasihnya, yang tidak lain adalah Lia.
Seli memeluk Aulia dari samping, "Sabar ya Aulia, gwe tau... ini berat buat lo, tapi lo harus kuat Aulia, kuatin hati lo! Radit pasti gak suka liet lo nangis kaya gini!"
Arya yang mendengarnya ikut memberi kekuatan untuk Seli dan Aulia. Menatap ke dua wanita itu dengan sedih
Setelah hasil otopsi ke luar, Radit dan ke dua orang tuanya langsung di makamkan.
Aulia tampak kacau dengan tatapan kosong, ia terduduk di sisi pusara Radit, jemari mungilnya mengelusss batu nisan Radit, seolah ia sedang mengelusss wajah Radit. Tatapan Aulia itu bukan lah pusara Radit, melainkan tubuh Radit yang berbaring di atas tanah dengan luka parah di tubuhnya.
"Kamu bangun Radit, aku menunggu mu! Lihat aku, aku masih mengenakan gaun pengantin yang kamu pilihkan. Kamu tahu, aku kesulit untuk mengenakan nya sendiri... aku di bantu Lia dan Seli untuk mengenakan gaun pengantin ini, Dit."
Bulir bening dari ke dua mata indah Aulia terus mengalir deras, suara isakannya semakin terdengar lirih dan menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
"Bangun Dit, kamu sudah janji sama aku. Jika kita sudah menikah, kamu akan bawa aku untuk tinggal di apartemen mu. Bangun Dit! Radit!" ucap Aulia dengan isak tangis.
Gaun pengantin yang melekat di tubuhnya, sudah bercampurrr dengan warna tanah merah, tanah pusara Radit di makamkan. Di sisi kanan adalah pusara Sita dan Wiko, ke duanya di makam kan dalam satu liang lahat.
David dan Dava terus berdiri tidak jauh dari Aulia berada. Penyesalan tampak dari ke dua orang kepercayaan Radit itu.
"Andai saat itu bos tidak meminta ku untuk membawa mobil yang lain. Semua ini tidak akan pernah terjadi." ujar David.
"Ini juga salah ku, jika saja aku tahu bahaya mengincar bos, tidak akan aku biarkan supir itu melalui jalan itu!" ucap Dava.
"Sekarang kita harus temukan, siapa dalang di balik tewasnya bos, serta orang tuanya. Karena sejujurnya gwe gak yakin kalo ini murni kecelakaan." ucap David.
"Lo bener, Vid! Ini pasti masih ada sangkut pautnya dengan wanita gila, teman satu kelasnya Nona! Karena itu cewe bisa bertindak di luar akal pikiran kita!" terang Dava.
David mengerutkan keningnya, "Nekad maksud lo?"
"Bisa di bilang begitu!" ujar Dava.
"Sabar ya nak! Biarkan Radit beristirahat dengan tenang di sana! Kita pulang ya, nak!" mama Nami membujuk Aulia untuk kembali ke rumah, mengingat hari sudah sore, bahkan perut Aulia masih kosong, belum makan apa apa.
"Mama aja yang pulang, aku akan menunggu Radit. Radit pasti akan bangun dari tidurnya, Radit tidak akan tega membiarkan aku menunggunya sampai lama. Iya kan Radit?" Aulia bertanya pada batu nisan Radit.
"Putri ku, pah!" mama Nami menangis di pelukan Jaya, melihat nasib putri semata wayangnya.
"Biarkan kami yang menjaga Nona Aulia, Nyonya!" ucap David setelah berdiri di dekat mama Nami.
Pak Jaya menganggukkan kepalanya, pada mama Nami. Sepasang suami istri itu kembali ke rumah mereka, dan membiarkan Aulia dengan di temani 2 orang bodyguard Radit.
Bersambung...
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
Menghalu itu gak mudah say 😊