Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Tidak mengerti


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Radit, Radit, Radit kamu di mana?" seru Aulia dengan menyusuri kamar rawatnya, nampak berbeda dari yang sebelumnya, aku di mana lagi ini?


Kreeeeek.


Pintu kamar mandi terbuka, Radit muncul dari balik pintu kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar.


Radit mengayunkan langkah kakinya, menghampiri Aulia, "Aku tidak kemana mana, sayang."


Aulia memandang Radit dengan penuh pesona, astaga apa ini Radit, tunangan ku? Kenapa terlihat berbeda, ia terlihat tampak dewasa dari usianya sekarang ini. Astaga... apa aku benar tertarik padanya?


Radit menyeringai saat mendapat tatapan dari Aulia, sedangkan Aulia masih bungkam tanpa berkata.


Radit mendudukkan dirinya di tepian ranjang rawat Aulia, tangannya terulur menyentuh pipi Aulia, "Apa yang kau lihat, sayang?" tanya Radit dengan nafas segar menyeruak di wajah Aulia.


Aulia mengerjapkan ke dua matanya, menatap wajah tampan Radit, astaga sejak kapan Radit duduk di dekat ku?


"Ki- kita di mana, Dit?" tanya Aulia dengan gugup.


"Ruang rawat mu yang baru."


Aulia mengerutkan keningnya, "Kapan pindah? Kenapa aku harus pindah kamar, Dit?"


"Saat kamu terlelap, tentu saja untuk keamanan mu. Ruang dan lantai ini, akan jauh lebih aman untuk mu." cicit Radit.


"Terus kapan kamu ganti baju?" kini Aulia mempermasalahkan baju yang di kenakan Radit.


"Semalam juga... udah gak usah banyak mikir. Apa kamu mau nonton televisi?" Radit menggenggam tangan kiri Aulia.


Tok tok tok.


Pintu di ketuk dari luar.


"Masuk." seru Radit.


Kreeek.


Suara pintu di buka.


Masuk lah seorang pria berkaos hitam dengan celana hitam menghampiri Radit.


"Ada apa?" tanya Radit dingin dengan tatapan yang datar.


David membungkuk hormat pada Radit, "Ada suster Rina yang ingin membawakan sarapan dan obat untuk Nona Aulia, bos."


Aulia menatap pria yang tidak ia itu dengan tatapan yang menyelidik, siapa pria itu? Apa hubungannya dengan, Radit? Kenapa pria itu tampak begitu menghormati Radit, memang siapa sih Radit ini?


"Bodoh... begitu saja pakai izin, cepat bawa masuk. Mau berapa lama lagi tunangan ku, kau buat menahan laper heh!" ucap Radit dengan kesal.


"Maaf, Tuan." David langsung ke luar.


"Pria tadi siapa Dit?" tanya Aulia.


"David." Radit menjawab dengan singkat.


Suster Rina masuk dengan mendorong troli yang berisi sarapan untuk Aulia dan juga Radit. Suster Rina meletakkan nampan yang berisi sarapan untuk Aulia, dan nampan yang berisi sarapan untuk Radit.


"Maaf Nona, nanti kalo sudah sarapan, jangan lupa obatnya di minum." ujar suster Rina, ia meletakkan beberapa obat di atas meja sebelah kanan Aulia.


"Iya suster." ucap Aulia.


"Kalau begitu saya permisi Nona, Tuan." pamit suster Rina.

__ADS_1


"Terima kasih, suster." ucap Aulia dengan senyum mengembang di bibirnya.


Sedangkan Radit hanya menganggukkan kepalanya.


Astaga berbeda sekali dengan Nona Aulia yang tampak ramah, Tuan Radit sedingin es, bagai mana mereka bisa punya hubungan, "Sama sama, Nona." suster Rina langsung ke luar dari ruang perawatan.


Radit melepas genggaman tangannya dari Aulia, lalu bangun dari duduknya.


Radit mengatur ke tinggian pada tempat tidur Aulia, dan berhenti mengatur posisi pada saat Aulia dalam posisi menyandar, lalu Radit mengambil mangkuk berisi bubur nasi, dan duduk di tepian ranjang Aulia sebelah kanan.


"Aaaaaa." Radit menyuapi bubur ke dalam mulut Aulia.


"Aku bisa makan sendiri!" cicit Aulia.


Radit menghembuskan nafas dengan kasar, "Tidak perlu, ada aku kan di sini. Ayo buka mulut mu!"


Mau tidak mau, Aulia membuka mulutnya dan memakan bubur yang di suapi oleh Radit.


Kreeeeek.


Suara pintu di buka.


Radit dan Aulia berbarengan melihat ke arah pintu, untuk melihat siapa yang masuk.


"Sayangnya mama!" seru mama Nami dengan hebohnya.


"Sayangnya papa juga, mah." ujar papa Jaya yang mengekori sang istri.


"Sayangnya mama papa." ralat Aulia.


Aulia dan Radit mencium punggung tangan kanan mama Nami dan papa Jaya secara bergantian.


Papa Jaya duduk di sofa sambil menyenderkan punggungnya ke dinding.


Sebenarnya aku ingin yang menyuapinya, tapi ya sudah lah, "Iya mah." dengan berat hati Radit menyerahkan mangkuk bubur pada mama Nami.


Radit berjalan dengan membawa nampan yang berisi sarapan untuk dirinya, dan membawanya ke meja.


Sedangkan mama Nami menggantikan Radit duduk di sisi ranjang kanan Aulia.


Radit mendudukkan dirinya di sofa, "Mama, papa, apa sudah makan?" tanya Radit.


"Sudah dong, tadi sebelum berangkat ke sini, mama sama papa sudah makan, Dit." ucap papa Jaya.


"Dit, yang di depan itu orang suruhan kamu?" Tanya mama Nami sambil tangannya menyuapkan bubur pada Aulia.


"Iya mah." jawab Radit dengan singkat.


Mama Nami mengerutkan keningnya, "Untuk apa, Dit?


Radit menoleh ke arah mama Nami, aku tahu, mama Nami pasti akan menanyakan hal ini, "Untuk ke amanan aja mah, biar Aulia bisa istirahat dengan nyaman."


"Mama sama papa ko tau aku di kamar ini? Aku aja baru tau kalo di pindah kamar." tanya Aulia dengan penuh selidik.


"Ya tau lah sayang, orang Radit yang kasih tau semalam." celetuk papa Jaya.


"Kamu curang, Dit." protes Aulia.


Radit selesai dengan sarapannya. Lalu meletakkan nampan yang berisi piring kotor ke meja yang ada di depan ranjang Aulia. Radit menghampiri meja yang ada di sisi kanan ranjang Aulia, mengambilkan obat yang akan di minum Aulia.


"Kamu gak berangkat sekolah, Dit? Biar Aulia nanti mama yang nemenin." ujar mama Nami.


"Gak lah mah, kelas gak asik mah gak ada, Aulia." tolak Radit dengan tangan kanannya memberikan obat pada Aulia.

__ADS_1


Aulia pun meminum obatnya, sedangkan Radit duduk kembali di bangku yang ada di dekat sofa.


Kreeeeek.


Suara pintu di buka.


Muncul mama Sita dan papa Wiko dari balik pintu dengan membawa parsel buah.


"Hai mam, kita kaya janjian ya!" seru mama Sita sambil meletakkan parsel buah ke atas meja.


"Iya ya jeng, sini jeng kita bahas anak anak." seru mama Nami.


"Kamu udah enakan, sayang?" mama Sita membelai rambut panjang Aulia.


Calon mertua rasa ibu kandung ini mah, "Udah ko, mah." jawab Aulia.


Setelah mendengar itu, mama Sita duduk di bangku yang ada di sebelah kiri ranjang Aulia.


"Heh anak nakal, gak berangkat kamu?" Tanya papa Wiko sambil duduk di meja yang sama dengan Radit.


"Berangkat ke mana, pah?" Radit balik bertanya dengan mencium punggung tangan kanan papanya.


"Berangkat ke neraka!" gerutu papa Wiko.


"Nanti papa nyesel kalo aku ke neraka sekarang!" ledek Radit.


"Apa yang harus papa sesalkan dari kamu anak nakal!" ketus papa Wiko.


"Aku kan belum kasih papa penerus." ledek Radit.


Bugh.


Papa Wiko melayangkan kepalan tangannya pada lengan Radit.


"Dasarrr anak nakal, papa menyuruh kamu sekolah!" sungut papa Wiko.


"Ga lah pah, aku ini udah pinter. Gak perlu sekolah." ujar Radit dengan santai.


"Dasarrr bocah tengik." sungut papa Wiko.


Papa Jaya menggelengkan kepalanya, melihat perdebatan papa dan anak.


"Gimana ini rencana kita?" tanya papa Jaya pada papa Wiko.


"Mau di percepat atau di undur?" Bukannya di jawab, papa Wiko malah memberi pertanyaan balik.


"Di percepat aja lah, pah!" seru mama Nami yang tidak di ajak bicara, justru ikut angkat suara.


"Iya pah di percepat aja." kini mama Sita ikut menimpali.


Papa Wiko menatap Radit, mulutnya berkicau memberikan pertanyaan pada putranya itu, "Kamu setujukan, Dit?"


"Tunggu sampai kondisi Aulia pulih lah, pah, mah." usul Radit sambil melihat ke arah Aulia.


Aulia menatap sekilas semua orang yang ada di dalam ruang dengan bungung, apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan sih! Kenapa aku sendiri yang seolah tidak mengerti ke mana arah pembicaraan mereka ini?


"Apa yang di percepat Dit?" tanya Aulia dengan polosnya.


...🌹🌹🌹...


bersambung......


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅

__ADS_1


Menghalu itu gak mudah say 😊


__ADS_2