
...🌹🌹🌹...
Radit tidak menjawab pertanyaan Aulia, ia diam membisu dengan senyum misteriusnya. Radit terus melangkah dengan ke dua tangan yang membawa barang belanjaan Aulia.
"Kok belanjaan aku di bawa sih Dit! Radit, iiiih jawab dong, aku tuh lagi bertanya sama kamu!" Aulia menghentakkan kakinya dengan kesal, melihat tingkah Radit yang kali ini benar benar membuatnya naik darah.
Radit menghentikan langkah kakinya, dan menoleh ke arah Aulia yang masih setia berdiri di tempatnya.
"Mau sampai kapan kamu berdiri di situ, sayang?" tanya Radit dengan senyum mengembang.
"Kamu tuh ya, aku nanya bukannya di jawab malah di cuwekin." ucap Aulia mengerucutkan bibirnya.
"Sini sayang ku, manis ku, cinta ku, hidup ku." Radit merayu Aulia dengan kata kata yang mrmbuat aulia merasa terbang, dengan suara manja, "Ada yang sudah lama menunggu ke datangan kamu di dalam rumah ini!" katanya lagi.
Aulia mengerutkan keningnya, dengan tatapan yang bingung, "Menunggu ku?" cicit Aulia menunjuk dirinya sendiri.
"Di sini gak ada orang lain selain kita berdua, Aulia."
Berdebat dengan Radit pun tidak ada hasilnya, sejak tadi Radit masih kekeh dengan pendiriannya, yang tidak ingin memberi tahu Aulia tentang rumah siapa yang akan ia kunjungi.
Akhirnya dengan langkah yang berat, dengan perasaan gondokkk dan kesal. Aulia mengalah dan ikut menyusul langkah kaki Radit yang sudah berdiri di depan pintu.
"Nah gitu dong." Radit senang karena Aulia mau mengikuti langkah kaki Radit, dan menyusul nya berjalan ke arahnya.
"Ini terpaksa loh, Dit." Aulia mengerucutkan bibirnya kembali.
"Jangan cemberut gitu, Aulia. Nanti cantiknya ilang loh." ledek Radit.
"Bodo amat, suka suka aku." Aulia menyilangkan ke dua tangannya di depan dadanya.
Radit yang di buat gemes dengan tingkah Aulia, langsung mendekat kan kepalanya saat Aulia sudah berdiri di samping Radit.
Cup
Radit menempelkan benda kenyal miliknya, pada benda kenyal pink milik Aulia yang tampak menggoda.
Aulia membola, astagaaa Radit! Aulia mengepalkan tangannya, menatap tajam Radit.
Radit menggeliat, "Aaauuuuhh, sakit Aulia." keluh Radit, saat Aulia mencubittt dengan gemasss samping pinggang Radit.
"Biarin, emang enak. Siapa suruh berani cium bibir aku!" sungut Aulia.
"Berani dong, lebih dari bibir pun aku berani." tantang Radit dengan menyeringai.
"Iiih, kamu tuh ya." Aulia kembali mencubittt dengan kesel samping pinggang Radit, bahkan kali ini Aulia membiarkan jarinya tetap merekattt pada pinggang samping Radit.
"Aulia, sakit. Udah jangan cubit lagi." Radit yang mengeluh sakit karena Aulia belum melepas cubitannya dari pinggang Radit.
"Janji dulu."
"Janji apa, Aulia?" tanya Radit dengan tatapan memohon, agar Aulia menjauhkan jarinya dari pinggangnya.
"Jangan aneh aneh kamu. Gak boleh mesum." titah Aulia.
"Aku aneh aneh juga cuma sama kamu, Aulia. Kamu kan tunangan aku, dikit lagi juga kita nikah." ledek Radit.
Radit membatin, aku akan tunggu kamu, sampai kita halal Aulia. Halal karena pernikahan di mata agama dan negara.
"Ya udah, aku pulang aja kalo gitu." Aulia ngambek.
__ADS_1
Sejurus kemudian pintu rumah yang tadinya tertutup rapat, kini terbuka perlahan.
Kreeek.
"Kalian kenapa gak masuk sih?" tanya si pembuka pintu rumah dengan ramah.
Seorang wanita yang umurnya tidak lagi muda, dengan mengena kan jilbab, ke luar menyambut ke duanya dengan ramah.
Aulia mengerutkan keningnya, menatap wanita itu dengan tatapan menyelidik, "Maaf ibu ini siapa ya?"
"Saya ---"
Belum selesai di jawab, muncul dari dalam anak kecil perempuan yang umurnya 6 tahun, bocah itu berlari dan memeluk erat ke dua kaki Aulia.
"Kakaaaa, akhirnya kaka sudah datang!" serunya dengan riang, saat ke dua tangan mungilnya melingkar di ke dua kaki jenjang Aulia.
Aulia terkejut dengan haru, saat tahu anak perempuan yang kini tengah memeluk ke dua kakinya.
Hap.
Aulia menggendong bocah kecil itu dengan tangannya.
"Kamu kenapa bisa ada di sini, sayang?" tanya Aulia.
"Sekarang Nur tinggal di sini ka, sama temen temen yang lain." ucap Nur dengan polosnya.
"Ini rumah siapa, Nur?" tanya Aulia sambil memperhatikan Nur. Tidak bertemu dengannya selama aku di rawat, terlihat sekali jika Nur sekarang lebih terurus.
"Tanya tanyanya lanjut di dalam aja ya, sayang." ucap Radit membuyarkan pemikiran Aulia.
"Ayo nak." ajak sang ibu berjilbab dengan tangannya yang mengibas, meminta Aulia dan Radit untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Baik lah, kakak masuk ya." jawab Aulia.
"Kakak bawa coklat?" tanya Nur pada Radit.
"Bawa dong sayang." Radit mendekatkan kepalanya pada wajah Nur.
Nur yang mengerti maksud Radit, langsung mendekat dan mencium pipi Radit.
"Kakaaaaaa!"
Semua anak yang ada di dalam rumah, menyambut ke datangan Aulia dan Radit.
"Kalian apa kabarnya?" tanya Radit, dengan meletakkan ke dua plastik besar yang berisikan snack di atas meja.
"Udah sayang, biar kakaknya duduk dulu ya." ujar si ibu berjilbab.
Radit dan Aulia, serta si ibu yang berjilbab pun akhirnya bisa duduk di bangku ruang keluarga.
Anak anak masih berdiri di belakang bangku yang Aulia duduki. Ada yang memijat bahu Aulia, ada juga yang meminta di pangku oleh Radit.
"Makasih kakak." cicit bocah laki laki berumur 6 tahun, yang duduk di atas pangkuan Radit.
"Iya, sama sama sayang."
"Ibu buatkan minum dulu ya nak!" Bu Soraya beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah dapur, yang berhadapan langsung dengan tempat yang sedang di duduki oleh Aulia dan Radit.
"Ibu, maaf jadi merepotkan." ucap Radit.
__ADS_1
"Kami yang selama beberapa hari ini, sudah merepotkan nak Radit." ucap Bu Soraya, senyum tipis selalu tersungging di sudut bibir nya.
"Radit!" Aulia berseru, menyebut nama Radit dengan mata penuh selidik, bahkan suaranya sangat lah pelan. Radit mengerti dengan tatapan yang di berikan Aulia padanya.
"Ini rumah singgah untuk mereka, sayang. Aku beli rumah ini khusus untuk kamu." terang Radit.
Aulia mengerutkan keningnya, "Rumah singgah untuk mereka?"
Aulia menatap satu persatu anak anak yang berdiri di belakang sofa yang sedang Aulia duduki. Ada beberapa anak yang Aulia kenal, pengamen yang biasa ia temui di lampu merah.
Bu Soraya yang sudah selesai membuat minum untuk Radit dan Aulia, kembali ke tempat di mana Aulia dan Radit duduk.
Aulia membatin, apa maksud Radit? Apa tujuan ada rumah singgah ini? Apa benar Radit membeli rumah ini untuk anak anak? Apa aku tidak salah dengar?
"Rumah ini sengaja di beli oleh nak Radit, untuk anak anak yang tidak memiliki tempat tinggal." bu Soraya seolah menjawab pertanyaan yang ada di dalam benak Aulia.
Aulia menatap Radit, antara terharu dan tidak percaya dengan apa yang di lakukan Radit saat ini.
"Di minum dulu nak, teh hangat nya." bu Soraya meletakkan secangkir teh hanget di depan Aulia dan Radit.
"Terima kasih, bu." Aulia meraih secangkir teh hangat buatan bu Soraya.
"Kamu bisa panggil ibu dengan sebutan, bu Soraya. Sama seperti anak anak, biasa memanggil ibu dengan sebutan itu." ujar bu Soraya, memberi tahu namanya.
"Ibu Soraya ini, aku tugaskan untuk membantu kamu dalam mengurus rumah singgah ini, Aulia." ucap Radit dengan serius.
Nur yang sejak tadi duduk di atas pangkuan Aulia pun mengeluarkan suaranya, "Makasih ya kaka cantik, Nur jadi punya rumah sekarang." Nur memeluk tubuh Aulia dengan penuh kasih sayang.
"Iya, makasih ka Aulia, makasih ka Radit." serentak anak anak yang lain ikut bersuara, mengucapkan terima kasihnya pada Aulia dan Radit.
"Sama sama sayang." ucap Radit dan Aulia.
Radit membatin dengan menatwp Aulia yang tersenyum padanya, aku senang saat melihat mu bahagia Aulia. Apa pun itu, pasti akan aku lakukan untuk mu.
Aulia membatin dengan tatapan bangga pada Radit, aku beruntung memiliki pria seperti mu, Radit. Laki laki yang tidak mengutama kan ego, laki laki yang berusaha berbuat baik untuk sesama, meski kamu dan anak anak ini pasti tidak saling mengenal.
Beberapa hari setelah Radit membawa Aulia ke rumah singgah untuk para anak anak jalanan, pengamen dan anak jalanan yang tidak memiliki tempat tinggal.
Aulia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung, meski kadang datang sendiri tanpa bersama Radit.
...🌑🌑🌑...
Malam hari di rumah Radit, malam yang tampak gelap dengan sedikit sinar dari bintang yang bertabur di langit.
Tidak jauh berbeda dengan kamar yang kini di tempati Radit, kamar dengan nuansa hitam, dengan cahaya lampu kristal yang ada di atap kamar.
Nampak dua buah bingkai foto menghiasi dinding kamar Radit, foto Aulia yang tengah tersenyum, dan sebuah bingkai yang terdapat potret ke duanya, nampak sedang memamerkan cincin yang melingkar di jari manis ke duanya.
Radit tengah duduk dengan memangku laptop di atas tempat tidurnya. Radit meraih ponselnya yang di letakkan tidak jauh dari ia duduk.
"Gimana pergerakan nya, David?" tanya Radit, saat sambungan teleponnya kini di jawab oleh seseorang yang ada di sebrang sana.
Bersambung...
...🌹🌹🌹...
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
Menghalu itu gak mudah say 😊
__ADS_1