
...🌹🌹💔...
Ke duanya makan bersama di rumah makan Padang, menu yang di hidangkan juga khas masakan Padang.
Prang.
Terdengar suara piring jatuh ke lantai. Yang di susul dengan suara seorang wanita yang tengah marah marah dengan suara yang tinggi.
"Kamu gimana sih! Kerja hati hati dong! Pake mata kalo kerja tuh! Lihat, pakaian ku jadi kotor begini!" cicit wanita dengan pakaian yang elegan, berdiri dengan tatapan angkuh.
Tidak jauh dari tempatnya berpijak, nampak seorang karyawan wanita yang tengah berjongkok, memunguti pecahan piring di atas lantai, nampak juga nasi serta lauk yang berserakan di dekatnya dengan perasaan yang tidak karuan.
"Dit!" Aulia menggenggammm tangan Radit, saat melihat Radit yang beranjak dari duduknya.
"Tidak apa Aulia!" ujar Radit mencoba membuat Aulia tenang.
"Maaf Nona, ada apa ini?" tanya Rudi, yang menghampiri wanita muda itu, tangannya memberikan kode pada bawahannya untuk bangkit dari posisinya.
Wanita itu menatap tajam, pria yang bertanya padanya, ia memperhatikan pria itu dari atas sampai ke bawah, mudah mudahan ini orang gak liet kalo gwe yang salah. Bisa malu kan gwe, gagal dapet duit, dapat malu iya! Gak bisa di biarin.
"Ehem ehem anda tanyakan sendiri pada anak buah anda ini! Kerja ko gak becus! Saya minta rumah makan ini untuk ganti rugi! Baju saya ini mahal lo! Gaji anda sebulan aja gak akan cukup untuk mencuci baju saya ini!" wanita itu menunjuk jari telunjuk tangan kanannya, pada karyawan wanita yang tadi memunguti pecahan piring.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja. Lagi pula ini bukan salah saya sepenuhnya, Nona juga ambil andil di sini. Nona berbalik dengan tergesa tesa hendak meninggalkan resto." kilah sang karyawan wanita.
Sang wanita tampak geram mendengar penuturan karyawan itu, tangannya mengepal hendak melayangkan pukulan pada karyawan itu, kurang ajarrr ini karyawan, minta di beri pelajaran rupanya!
Grap.
Tangan kekar seseorang, mencekal dan menghentikan tangan si pengunjung wanita, yang sudah mengudara. Sementara si karyawan wanita sudah memejamkan ke dua matanya, ya Allah... mimpi apa aku, dapet pengunjung yang model mak lampir, astagaaa seseorang tolong selamatkan aku!
Wanita itu tampak marah, namun ucapannya yang meninggi menggantung begitu saja, saat sepasang mata tajamnya melihat pria yang mencekal tangannya.
"Heh, berani ya an----- " Raditia Prasetyo? Apa aku tidak salah lihat? Raditia ada di hadapan ku?
"Sani, untuk apa kamu ada di sini? Apa yang sudah di perbuat karyawan ini pada mu? Apa kamu tidak malu, marah marah seperti itu, banyak yang melihat mu di sini!" ujar Radit, dengan melihat ke arah wanita yang ada di hadapan nya, lalu melihat ke arah karyawan nya secara bergantian.
Wanita yang tidak lain adalah Sani, langsung melangkah mendekati Radit, tangannya melingkar di lengan kekar Radit, Sani hendak menggelayut manja pada Radit.
Sreek.
Radit langsung menepis tangan Sani, Radit mundur beberapa langkah dari Sani dengan tatapan yang sukit di artikan.
Sani membatin, sialll, kenapa Raditia menjauhi ku! Apa aku sudah tidak cantik lagi? Gak ah, aku masih cantik, gak ada yang berubah pada diri ku.
Radit menatap Sani dengan malas, aku harus menjaga perasaan Aulia, dari dulu hingga sampai kapan pun, aku dan Sani tidak ada hubungan. Aku tidak ingin Aulia salah mengartikan aku nantinya.
"Aku tidak salah Raditia, wanita ini yang salah pada ku! Aku selalu memperhatikan jalan ku, jadi bukan aku yang salah!" cicit Sani dengan suaranya yang kini lembut.
"Kamu minta maaf pada Nona ini!" ujar Rudi pada karyawannya.
Radit mencegah pelayan wanita untuk minta maaf pada Sani, "Tidak perlu!"
Sani membola, berkata dengan gusar, "Apa? Tidak perlu? Tidak perlu kata mu, Raditia? Kamu tahu, pakaian ku kotor karena ke cerobohannya!"
"Kamu juga salah, cerobah dan tidak menggunakan ke dua mata mu! Ini umum, bukan rumah mu!" ucap Radit dengan datar.
__ADS_1
"Aku minta maaf, ini salah ku!" cicit Sani dengan ketus.
"Saya juga minta maaf Nona." cicit karyawan wanita.
"Dit!" seru Aulia dengan tangannya menggenggam jemari Radit, Radit balas menautkan jemarinya.
Sani menatap tajam wanita yang berada di samping Radit, Sani semakin geram, saat melihat jemari mereka yang saling bertautan, siapa wanita ini?
"Sayang, dia adalah teman ku di sekolah lama ku dulu! Namanya Sani... Sani, oni adalah Aulia, tunangan ku!" ujar Radit, memperkenal kan ke duanya.
Aulia mengulurkan tangannya, dengan senyum merekah di bibirnya, "Hai, senang berkenalan dengan mu!"
Sani dengan malas, membalas uluran tangan Aulia, "Sejak kapan kalian bertunangan? Apa kamu sedang membohongi ku, Radit?"
Radit tersenyum mendengar pertanyaan Sani, tanpa bicara lagi, Radit memperlihatkan cincin yang terpasang di jemari manis dirinya dan Aulia.
"Jadi ini, alasan mu pindah dari Bandung, Radit?" tanya Sani dengan tatapan kecewa.
Setelah dari rumah makan Padang, Radit mengantar Aulia pulang ke rumah.
"Apa kamu marah pada ku, sayang?" tanya Radit, sejak meninggal kan rumah makan Padang, Aulia tampak diam, tidak mengajak Radit bicara.
"Apa aku terlihat sedang marah pada mu, Raditia Prasetyo?" ucap Aulia yang menyebut lengkap nama Radit.
Radit menggelengkan kepalanya, "Apa yang membuat mu marah pada ku, sayang? Katakan pada ku! Aku bukan cenayang, yang tahu saat kamu marah meski kamu hanya diam saja!"
Aulia menatap Radit dengan tatapan yang menyelidik, "Kenapa wanita itu, sepertinya tahu tentang mu lebih banyak dari apa yang aku tahu! Aku terlihat tidak tahu apa apa tentang mu di matanya!" cicit Aulia dengan menggebu gebu.
Radit tersenyum tipis, menanggapi pertanyaan Aulia, "Wajar saja sayang, kami dulu satu sekolah saat di sekolah menengah pertama. Hingga akhirnya aku bersekolah di sekolah mu, aku satu kelas dengan mu."
"Aku yakin, Sani menaruh rasa pada mu, Radit! Sani tampak marah saat kamu memperkenal kan aku sebagai tunangan mu!" cicit Aulia, dengan tangan menyilang di depan dada.
Cup.
"Jangan kamu ragukan perasaan ku ini pada mu sayang, hanya ada kamu yang ada di hati ku. Jika kamu meminta ku untuk terjun dari atas gedung, aku rela melakukan nya untuk mu." ujar Radit.
Aulia langsung meletakkan jari telunjuk tangan kanannya di depan bibir Radit, "Jangan katakan itu, aku tidak butuh nyawa mu! Karena kalo kamu mati, aku gak ada temennya!"
Radit tergelak mendengar ocehan Aulia.
Setelah melewati masa pingitan, datang juga hari yang paling di nanti semua orang. Aulia tampak cantik dengan gaun pengantin yang membalut tubuhnya, riasan tipis yang di poles MUA, tampak semakin membuat wajah cantik Aulia di usianya saat ini.
Dengan di temani Seli dan Lia di dalam kamar, menunggu rombongan dari keluarga Radit yang tengah dalam perjalanan menuju rumah Aulia.
Acara akad nikah yang di gelar secara tertutup, dengan mengundang keluarga inti dari ke dua belah pihak mempelai.
Dengan di hadiri ke dua sahabat dari ke dua mempelai, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Seli, Lia, Danu dan Farel yang mengetahui hubungan ke duanya. Sedangkan dari pihak sekolah, ada pak Asep dan bu Rita.
Sementara di tempat lain.
"Ayo dong nak, cepet sedikit. Gak enak lo nanti kita sama jeng Nami dan pak Jaya, masa datang telat!" sungut mama Sita, dengan tangannya yang bergerak merapih kan sanggul yang ada di kepalanya.
Radit melangkah menuruni anak tangga, dengan setelan jas pengantin yang membalut tubuh kekarnya.
"Wow, lihat itu mah! Putra ku ganteng sekali!" puji papa Wiko dengan tatapan yang takjub, saat melihat Radit yang kini berada di hadapannya.
__ADS_1
Mama Sita menjewerrr telinga papa Wiko dengan tangannya, "Bukan putra mu saja pah! Tapi putra ku juga, ingat ya pah... kalo bukan aku, tidak akan ada putra segagah dan sepintar Raditia Prasetyo!" ucap Sita dengan bangga.
"Awwwhhhh sakit mah! Daun telinga ku pasti sudah merah, jari mu itu sudah seperti kepiting yang sudah beberapa hari tidak makan!" ejek papa Wiko.
Radit membuang nafasnya dengan kasar, sepasang mata tajamnya melihat David yang melangkah masuk ke dalam rumah menghampiri Tuannya.
"Maaf bos, mobil sudah siap. Mobil rombongan juga sebagian sudah ada yang meluncur lebih dulu ke tempat Nona." ujar David, memberi tahu pada Radit, papa Wiko dan mama Sita.
"Ayo pah, mah!" Radit menggandeng ke dua orang tuanya menuju mobil sedan hitam mewah, yang sudah di hias bunga pada bagian depan body mobil.
Mobil yang akan membawa mereka ke rumah orang tua Aulia, tempat yang di gunakan untuk acra pernikahan serta pesta pernikahan ke duanya.
Deg deg deg.
Jantung Radit berdetak dengan cepat, Radit menyembunyikan perasaan gelisahnya dari ke dua orang tuanya.
Astagaaa ada apa dengan jantung ku? Rasanya tidak nyaman, tapi ini hari bersejarah dalam hidup ku dan Aulia.
Bugh.
Kaki kanan Radit, ke serimpet dengan kaki kirinya sendiri. Hampir Radit terhuyung ke depan, namun dengan gerakan yang cepat, papa Wiko menarik lengan putranya itu.
Sreek.
"Ada apa nak? Apa kamu baik baik saja?" tanya papa Wiko.
"A- aku baik pah, mah! Ayo kita lanjutkan, kasihan pengantin ku pasti sudah menunggu lama." cicit Radit.
"Tau deh, yang udah ngebet pengen nikah! Biar cepat halal ya tong?" ledek mama Sita dengan memain kan alisnya naik turun.
Mobil melesat dengan kecepatan sedang, memecah kepadatan jalan raya yang di laluinya.
Hingga tanpa mereka sadari, mobil dari arah lain melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mobil yang mereka tumpangi, dan saat di pertigaan jalan, terdengar suara hantaman keras.
Brakkk.
Sreeek.
Tiiiiiiin.
Duar.
Aulia yang merasa tenggorokan nya kering, berjalan dengan perlahan ke arah meja yang terdapat segelas air, yang memang selalu tersedia di kamarnya.
Prang.
"Astaghfirullah, kenapa perasaan ku gak enak gini!" gumam Aulia.
"Kenapa Aulia?" tanya Seli yang menghampiri Aulia dengan wajah cemas.
"Kamu gak apa apa Aulia?" tanya Lia.
Bersambung...
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
Menghalu itu gak mudah say 😊