Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Ada kemungkinan geger otak


__ADS_3

...🏵️🏵️🏵️...


Radit membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai di rumah sakit. Yang ada di pikirannya hanya ke selamatan Aulia.


Sesekali Radit melirikkan matanya pada kaca spion mobil, melihat keadaan Aulia yang kepalanya di pangkuan oleh Lia.


Aulia harus baik baik saja, batin Radit.


"Dit, cepet Dit!" cicit Lia, dengan tatapan sedih melihat kondisi Aulia.


Radit membawa mobilnya menuju rumah sakit Permata, rumah sakit yang paling lengkap alat medisnya dan juga tempat papanya menanamkan modal.


Maka tidak heran jika Radit langsung menelpon kepala rumah sakit, untuk menyiapkan ruang IGD dan memberi tahu keadaan Aulia, agar dokter tahu tindakan apa yang akan di berikan pada Aulia.


Di dalam perjalanan, Radit terus memperhatikan Aulia yang tengah pinsan melalui kaca spion tengah mobil.


Dengan rasa khawatir dan gelisah menjadi satu, "Kamu pasti akan baik baik saja Aulia." gumam Radit dengan suaranya yang pelan.


Radit juga tidak lupa untuk memberi tahu papa Jaya, dan papa Wiko mengenai keadaan Aulia.


"Halo, pah!"  Radit bicara dengan papa Jaya, dengan memasang earphone di telinga kirinya.


[ "Iya nak, ada apa? Kamu bukannya lagi di sekolah? Atau jam pelajaran sudah selesai, nak?" ] cecar papa Jaya, saat Radit menghubunginya.


"Papa lagi di mana?" tanya Radit, sebelum memberi tahu keadaan Aulia.


[ "Papa lagi di kantor, kenapa nak?" ]


"Aulia kecelakaan pah, ini Radit lagi di perjalanan menuju rumah sakit Permata."


[ "Apa? Aulia kecelakaan? Bagai mana dengan lukanya nak?" ]


"Belum tau pah, yang jelas Aulia tidak sadarkan diri." cicit Radit.


[ "Kamu hati hati, papa akan ke rumah sakit setelah menjemput, mama Nami." ] ujar papa Jaya, sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


Radit langsung menghubungi papa Wiko, dengan mengabarkan hal yang sama.


[ "Iya, Dit. Kamu mau bermalam lagi di rumah Aulia?" ] tebak papa Wiko, saat sambungan teleponnya ia jawab.


Radit mengerutkan keningnya mendengar ocehan papanya, "Bermalam di rumah sakit, pah!"


[ "Siapa yang sakit, Dit? Kamu sakit? Sakit rindu?" ]


Radit membuang nafasnya dengan kasar, "Pah! Radit sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, Aulia kecelakaan di sekolah, pah!"

__ADS_1


[ "Apa? Papa akan langsung ke sana, Dit! Kamu harus jelaskan pada papa apa yang terjadi! Kamu dengar kan, Dit!" ]


"Iya, pah!" Radit langsung mengakhiri sambungan teleponnya.


"Jangan sampai terjadi apa apa sama kamu, Aulia." Radit melirikkan kembali matanya pada kaca spion mobil.


"Aulia pasti kuat Dit, Aulia gak akan apa apa. Bangun Aulia, ini gwe sahabat lo." Lia terus mengusap kepala Aulia dengan air mata yang tak henti.


Perjalanan menuju rumah sakit seakan sangat jauh, membuat Radit begitu gusar.


"Aulia bangun Aulia, Aulia lo pasti kuat. Lo harus bangun, Aulia." ucap Lia di tengah isak tangisnya.


...💔💔💔...


Di sekolah


Lusi yang saat ini berada di ruang kepala sekolah. Dengan wajah takut dan entah ada rasa sesal atau tidak, atas apa yang sudah ia perbuat pada Aulia.


Tidak ada yang pernah menyangka baik itu guru atau pun siswa lain, jika Lusi bisa senekat itu pada Aulia. Lusi yang sudah di kenal ringan tangan dan suka menampar pada anak yang tidak dia sukai.


Tindakan yang di lakukan Lusi pada Aulia benar benar mencoreng nama baik sekolah. Kali ini pihak sekolah harus mengambil tindakan tegas atas perbuatanya.


Setibanya di rumah sakit. Radit langsung turun dari mobil, dan membuka pintu penumpang yang di dalamnya ada Aulia yang tengah tidak sadarkan diri.


Radit menggendong dan menidurkan Aulia di bangkar, dengan di dorong oleh suster dan dokter kepala rumah sakit untuk membawa Aulia ke UGD, untuk memeriksa keadaan Aulia.


"Gak apa apa Dit, ada dokter yang akan menangani Aulia." Lia menepuk nepuk bahu Radit untuk menyemangati, bahwa Radit tidak seorang diri di sana.


Lia duduk di bangku yang sudah tersedia di depan ruang rawat IGD sambil terus terisak, "Coba saja tadi gwe langsung nyusul Aulia ke toilet, mungkin gak akan seperti ini." terang Lia penuh penyesalan.


Sedangkan Radit terus berjalan, mondar mandir di depan pintu UGD sambil menunggu dokter ke luar untuk memberi tahu keadaan Aulia.


"Gwe juga salah Li, harusnya gwe ikutin ke mana pun Aulia pergi." ujar Radit.


"Li, Aulia gimana?" tanya Seli yang ikut menyusul Radit ke rumah sakit, setelah menjelaskan apa yang ia tahu pada pihak sekolah.


Seli dan Arya menyusul Radit yang membawa Aulia ke rumah sakit. Arya pun sama cemanya dengan Radit. Bagi Arya, Aulia itu sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.


Arya berdiri dengan menyandarkan tubuhnya ke dinding, dengan harap harap cemas menunggu kabar dari dokter yang tengah merawat Aulia.


Papa Wiko dateng dengan berlari dari parkir sampai ruang UGD, tempat di mana Aulia berada.


"Gimana keadaan mantu papa, Dit?" tanya papa Wiko saat sudah berdiri di depan Radit, dengan nafas tersengal sengal.


"Masih di periksa dokter di dalam, pah." jawab Radit apa adanya.

__ADS_1


Kreeeeek.


Pintu di buka oleh dokter Lukman.


Radit menghampiri dokter Lukman, "Gimana keadaan Aulia, dok?" tanya Radit dengan cemas..


"Kita tunggu sampai Aulia sadar ya, karena ada benturan keras di kepala, ada kemungkinan geger otak, hanya saja saya sendiri belum bisa memastikan ringan atau berat. Untuk luka luar sudah di obati oleh suster." ujar dokter Lukman, menjelaskan keadaan Aulia.


"Apa saya sudah bisa menjenguknya, dok?" Tanya Radit.


"Nanti ya! Setelah kami pindahkan dulu Aulia ke ruang perawatan. Nanti jika pasien sudah sadar, langsung kabari suster biar bisa langsung di periksa." cicit dokter Lukman lagi.


"Baik dok." ucap papa Wiko.


"Kalau begitu, saya permisi dulu pak. Saya masih harus memeriksakan pasien yang lain." ujar dokter Lukman dan langsung berlalu meninggalkan yang lainnya.


Setelah di pindahkan ke ruang perawatan, ruang rawat Aulia di lengkapi dengan berbagai fasilitas seperti televisi, lemari es, lemari baju, sofa super empuk, satu ranjang rawat serta satu ranjang berukuran sedang.


Radit yang duduk di bangku sebelah ranjang rawat Aulia, terus menggenggang tangan Aulia, memperhatikan pujaan hatinya terbaring tak berdaya dengan selang infis, memar di tangan, kaki, bekas cekikan di leher serta kepala yang di perban.


Sedangkan papa Wiko sedang menelepon mama Sita untuk mengabari keadaan Aulia. Arya, Lia dan Seli tengah duduk di sofa.


Kreeeeek.


Pintu di buka oleh papa Jaya yang baru saja tiba di ruang rawat Aulia.


"Aulia anak mama, kenapa begini sayang." mama Nami melihat Aulia berbaring tak berdaya di atas ranjang.


"Duduk mah." Radit mempersilah kan mama Nami untuk duduk di kursi yang tadi ia duduki.


"Bagai mana ceritanya, Radit?" mama Nami mengelusss pipi Aulia dengan jemarinya, ke dua matanya memperhatikan bagian tubuh Aulia yang luka, tega sekali orang itu nak, melakukan ini pada mu!


"Untuk jelasnya Radit juga belum tau, mah. Yang Radit tau, saat Radit, Lia dan Seli sampai di toilet sekolah putri, Aulia sudah tidak sadarkan diri mah, dan pada saat itu ada Lusi yang tengah terduduk di lantai." ujar Radit panjang lebar pada mama Nami.


Mama Nami mengerutkan keningnya, nama yang tidak asing di indra pendengarannya, "Siapa itu, Lusi?"


"Pelakunya Lusi, tan." ucap Seli dengan tangan yang mengepal.


Semua mata orang yang ada di dalam ruang rawat, tertuju pada Seli dengan penuh tanda tanya.


"Apa maksud kamu, Seli! Apa Lusi sudah mengakuinya?" tanya Radit dengan sorot mata yang memburu.


...❤️❤️❤️...


bersambung......

__ADS_1


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅


Menghalu itu gak mudah say 😊


__ADS_2