
...🏵️🏵️🏵️...
"Gwe gak nyangka, cowok cool kaya dia bisa berbuat ini sama Lusi!"
Nindi langsung beranjak dari kolong meja tempat duduknya, setelah memastikan Radit sudah meninggalkan kelas.
"Gwe harus segera kabarin Lusi... biar gimana juga kan Lusi masih sohib gwe. Gak bisa diem aja dong gwe." gumam Nindi dengan mengeluarkan hapenya dari dalam saku roknya. Ia langsung mendiel nomor kontak Lusi.
Tuuut tuut tuuut.
[ "Nomor yang anda tuju, sedang berada di luar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi." ]
"Sialll... kenapa pake di luar jangkauan sih! Ke mana lagi itu anak! Gak tau lagi genting apa ya!" gerutu Nindi dengan gusar.
Di kantin sekolah.
Radit yang melihat Aulia tengah memakan somaynya, langsung mendudukkan dirinya di samping Aulia.
"Enak ya?" tanya Radit.
Aulia menganggukkan kepalanya, "Kamu mau cobain punya aku?"
"Boleh."
Aulia menggeser piring somaynya ke depan Radit, membuat Radit yang melihatnya langsung mengerutkan keningnya.
"Tunggu apa lagi? Katanya mau cobain somay punya aku. Ayo makan! Enak tau!" ujar Aulia, yang malah mengharapkan Radit, untuk menyuapkan sendiri somaynya dari piringnya.
"Aku nyuap sendiri?" Radit menunjuk dirinya sendiri, dengan jari telunjuk kanannya.
"Ia lah, jangan bilang kamu ngarep aku suapin! Gak lucu kan, di sekolah malah minta di suapin. Apa kata yang lain ngelietnya." kelakar Aulia.
"Aku memang mengharapkan kau menyuapi ku, sayang!" ujar Radit terus terang.
Aulia bersemu merah, mendengar ucapan Radit.
"Cie cie yang minta di suapin ayang embeb." ledek Lia.
"Udah suapian aja Aulia!" ujar Farel.
__ADS_1
"Apa sih kalian... udah lanjut makan lagi! Nanti dingin lo makanannya!" celetuk Aulia.
Radit menggelengkan kepalanya, percuma ngarepin di suapin, yang ada gak bakal mau dia nih.
Radit berinisiatif untuk menyuapkan somay ke mulut Aulia, "Ayo makan ini!" ucap Radit.
Aulia menoleh ke sekitar, tampak Farel, Lia, Seli, Danu yang satu meja dengan mereka, menatap Aulia dengan menganggukkan kepalanya mereka dengan kompak.
Dengan malu, Aulia menerima suapan somay dari tangan Radit. Bunga bunga cinta mulai bermekaran di hati Aulia dan Radit. Ke duanya saling mengisi satu sama lain. Membuat hari di sekolah semakin berwarna.
...🌹🌹🌹...
Hingga beberapa hari berikutnya, panggilan Radit untuk Aulia berubah, Radit ke luar dari dalam mobilnya, saat melihat Aulia ke luar dari dalam rumah dengan tas ransel yang ada di punggungnya.
"Silahkan masuk, Nyonya Aulia Raditia Prasetyo." ucap Radit sambil membukakan pintu mobil bagian depan samping kemudi, dengan senyum secerah matahari pagi yang baru terbit.
Semburat merah nampak di pipi Aulia, "Apa sih, kamu."
Aulia duduk manis, meletakkan tas di belakang punggungnya. Radit duduk di belakang kemudi.
"Udah siap, sayang?" tanya Radit dengan lembut, tangannya membelai pipi kanan Aulia.
"Udah gih jalan, nanti telat aja." kata Aulia lagi.
Radit mengerutkan keningnya, saat melihat Aulia belum mengenakan sabuk pengamannya. Radit pun mencondongkan tubuhnya mendekati tubuh Aulia, hingga tubuh mereka hanya berjarak beberapa centimeter, sangat dekat.
Aulia dengan spontan langsung menutup ke dua matanya melihat tingkah Radit, dengan degup jantungnya yang kembali tidak normal, seakan ikut bertalu talu dengan riang, "Ka- kamu ma- mau a- apa sih, Dit?"
Radit nenyunggikan senyumnya, "Emang kamu pikir aku mau ngapain? Aku cuma mau memakai kan kamu ini, sayang." ujar Radit di telinga Aulia, dengan tangannya yang memasangkan sabuk pengaman di tubuh tunangannya itu.
Hembusan nafasnya membuat Aulia bergidik, entah apa yang ia rasa.
"Kamu kenapa, Aulia?" tanya Radit, saat melihat Aulia masih memejamkan ke dua matanya.
Aulia membuka satu matanya, melihat Radit yang sudah pada posisi duduknya semula. Aulia membuang nafasnya dengan lega.
"Syukur Alhamdulillah." Aulia menguruttt dadanya yang tadi berdebar.
"Ah, kamu mah. Kan bisa ngomong langsung gitu. Nanti aku juga bisa pakai sendiri." Aulia menggerutu sebel pada Radit.
__ADS_1
"Kamu kecewa yaah?" ledek Radit sambil mendekatkan kembali wajahnya dengan wajah Aulia, ia memainkan alisnya naik turun.
"Apa sih... udah sana jalanin mobilnya." kata Aulia dengan ketus, lalu membuang muka ke arah jendela mobil.
Tangan kanan Radit menyentuh dagu Aulia dan membawanya untuk melihat ke arah Radit. Tanpa ba bi bu be bo, Radit menempelkan bibirnya dengan bibir pink milik Aulia cukup lama.
Ke dua mata Aulia membola tidak percaya dengan yang Radit lakukan. Ia dapat melihat Radit yang tampak menikmati sentuhan bibirnya.
Tanpa canggung lagi, Radit pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan pintu utama rumah Aulia.
Aulia membuang pandangannya ke arah jendela, dengan ekor mata yang sesekali melirik ke arah Radit. Hati gue kenapa gini ya, gak karuan gini. Ini kan bukan kali pertama Radit cium bibir gue.
Radit fokus dengan kemudinya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tapi sesekali mata Radit ikut melirik wajah Aulia dari spion depan, tampak jelas Radit melihat ke gugupan dan salah tingkah Aulia.
Radit meraih tangan kanan Aulia dan menariknya hingga menyentuh dada bidang milik Radit.
"Kamu akan terbiasa dengan sikap ku yang seperti ini, jika kita sudah resmi menikah. Percaya sama aku, cuma kamu satu satunya wanita yang ada dalam hati dan hidup ku, selamanya dan tak akan tergantikan." ujar Radit panjang lebar.
Cup
Cup
Cup
Radit mengecup berkali kali punggung tangan kanan Aulia yang ia genggam sedari tadi.
Tes.
Bulir bening jatuh membasahi tangan kiri Radit, tangan yang ia gunakan untuk menggenggammm tangan kanan Aulia.
Radit menepikan mobil yang tengah ia kemudikan dan menghentikannya.
Radit menghapus air mata yang membasahi pipi Aulia, "Kamu kenapa malah nangis?" tanya Radit, yang di buat bingung dengan suara lembutnya.
Bersambung...
...🌹🌹🌹...
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
__ADS_1
Menghalu itu gak mudah say 😊